
Matahari diluar sangat panas sampai menyilaukan mata dengan desiran angin yang berlalu lalang masuk melalui jendela. Suasana ruangan dengan nuansa putih itu sangat hening, hanya terlihat empat manusia yang sudah terlelap dalam mimpinya. Terlihat ada sepasang mata mungil yang mulai mengerjapkan matanya, setelah matanya terbuka ia melihat ke sekelilingnya ternyata semuanya sudah tidur terlelap.
Pelan - pelan ia mulai menyingkirkan lengan kekar yang sejak tadi memeluknya, ketika merasa aman dia mulai turun dari ranjang dengan pergerakan yang sangat hati-hati agar seseorang yang ada disampingnya tidak terbangun oleh gerakanya. Kaki mungil itu mulai berjalan dengan pelan tanpa menimbulkan suara sedikitpun, untuk keluar dari ruangan itu.
Akhirnya dia bisa keluar dari ruangan itu dengan aman, tanpa ada yang mengetahuinya. Dari kejauhan sudah terlihat seorang pria dewasa dengan kacamata yang bertengger di matanya sedang berdiri menunggunya. Segera ia berjalan menghampiri pria itu.
"Bagaimana dengan pesanan saya? Apa sudah ada semua? " tanyanya kepada Rendi.
"Sudah! dengan memberikan paper bag kepada Lean. " Memangnya itu untuk apa sih? "tanya Rendi kepada Lean yang sejak tadi penasaran kenapa lean menyuruhnya membelikan hewan-hewan dan mainan yang menggelikan itu.
Lean tidak menjawab pertanyaan Rendi, dia masih sibuk mengecek semua yang ia pesan dalam paper bag yang diberikan oleh Rendi.
"Nanti om akan tahu sendiri, yang jelas om harus bantuin Lean untuk menjalankan misi ini, " ujarnya.
Rendi menghela nafas panjang tak mengerti dengan maksud . Sebenarnya apa yang sedang direncanakan dengan bocil ini ya...! Batin Rendi
Dari kejauhan Lean memperhatikan meja resepsionis rumah sakit yang sepi pengunjung karena waktu istirahat siang, hanya ada dua perawat yang tadi pagi bergosip tentang Ken sedang berjaga disana. oke, So perfect! batin Lean.
"Om tugasnya mengalihkan pandangan para suster wanita yang ada disana, oke! Apa om bisa?"tanyanya menantang.
" Tentu saja bisa! "dengan wajah yang tak mau dianggap remeh.
" Oke, kalau begitu kita mulai! "
Rendi mulai berjalan menghampiri para suster yang ada di ruang informasi rumah sakit/biasa disebut resepsionis. Melihat siapa yang datang, dua perawat itu langsung terpesona dengan pria taman yang berdiri didepan meja resepsionis.
Meskipun Rendi hanya seorang Asisten, dia juga seorang pria yang tampan dengan tubuh tinggi dan bidang. Mula-mula Rendi mulai mengajak mereka berbicara dengan bertanya-tanya tentang banyak hal. Sedangkan Lean mulai mengendap-endap masuk ke dalam, dengan pergerakan yang pelan tanpa menimbulkan suara sedikitpun.
Pertama Lean mulai meletakkan kotak makan yang berisi ulat dan cacing di meja perawat itu, lalu meletakkan tikus elektrik dibawah meja. Ketika melihat perawat dengan lipstik merah yang bernama mawar itu fokus berbicara dengan Rendi, Lean mempunyai ide untuk memasukkan mainan ular-ularan kedalam saku bajunya. Selesai melakukan misinya, Lean keluar dengan pelan-pelan tanpa ada yang menyadarinya.
Melirik Lean yang sudah pergi menjauh, Segera Rendi ingin memberhentikan pembicaraanya. Tapi masih saja tertahan, karena mawar dan Lisa terus saja mengajaknya berbicara. Mereka juga menyuruh Rendi untuk menyimpan no teleponnya. Sial... Kenapa juga gue nurutin tantangan dari bocil itu! Sekarang gue sendiri kan yang susah. Andai saja mereka cantik-cantik gak terlalu masalah... Tapi ini, perawan tua yang keganjenan sekali dengan penampilan yang sedikit norak lagi!. Benar-benar sial.... Rendi bergumam sendiri sambil menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal, karena sedang memikirkan cara agar bisa pergi.
Dari kejauhan, Lean menyadari gerak gerik Rendi yang mulai aneh. Akhirnya dia memanggil Rendi...
__ADS_1
"Uncle... Ayo cepetan.." terima Lean.
Rendi menoleh kearah Lean, printer juga tuh anak manggil gue, kenapa gak dari tadi sih...
"Eh... Keponakan saya sudah memanggil. jadi, saya permisi kesana dulu ya, " pamit rendi dengan senyuman palsu.
"Oh... Itu keponakan kamu, iya silahkan. Jangan lupa telepon aku ya ganteng..." ucap Perawat itu dengan nada yang dibuat seimut dan seseksi mungkin.
Rendi hanya tersenyum palsu, dan bergidik geli mendengar ucapan perawat itu. Lalu melenggang pergi menuju dimana Lean berada.
Lisa yang melihat Rendi sudah melenggang pergi menjauh, melangkah kembali ke mejanya. Sedangkan mawar masih saja berdiri dengan menatap punggung Rendi dari kejauhan sambil tersenyum sendiri.
"Loh... Ini kotak makan siapa?" ujar Lisa perawat dengan rambut pendek.
Mawar yang masih menatap kepergian Rendi, tak memperdulikan ucapan Lisa.
"Mawar....lo tau gak, Ini kotak makan siapa?" panggil Lisa karena mawar masih tidak menjawab.
Karena merasa kesal Lisa yang terus memanggilnya, akhirnya mawar membalikkan badan menata Lisa.
Lisa mengikuti saran yang diberikan Mawar untuk membuka kotak makan itu dan ternyata isinya....
Aaaaa....
Teriaknya dengan melempar kotak makan itu, dan tanpa sengaja mengenai wajah mawar.
Seketika mawar ikut berteriak Aaaaaa....
Lean yang melihat dari kejauhan menahan tawarnya. Segera dia meremot tikus elektrik yang ada di bawah meja dari kejauhan..
Mereka yang masih terkejut dan membuang para cacing dan ulat, di kejutkan lagi dengan tikus yang berlari kesana kemari. Melihat hal itu mereka langsung berteriak historis dengan meloncat-loncat untuk menghindari para tikus itu, teriakan mereka membuat banyak orang yang berbondong-bondong datang melihat. Disaat ingin mengambil handphone yang ada di sakunya, Mawar dikejutkan lagi dengan...
Ular..... Teriak Mawar yang spontan melemparkan ular itu ke arah Lisa, membuat Lisa terkejut dan mereka saling lempar ular itu, sampai akhirnya mawar pingsan...
__ADS_1
Lean yang melihat hal itu, segera melenggang pergi agar tidak ketahuan, dengan terus tertawa sampai memegang perutnya yang mulai sakit karena terlalu banyak tertawa.
Rendi hanya menatap Lean dengan rasa yang bingung.
"Eh... Bocil... Tunggu! Sekarang om mau tanya. Kenapa kamu melakukan hal itu?" tanyanya dengan mengkerutkan keningnya.
Lean masih terus berjalan. "Hanya memberi pelajaran saja, bagi orang yang gak bisa menjaga mulutnya dengan menjelek-jelekkan orang lain di belakang,"paparnya.
Rendi mengejar Lean yang mulai menjauh. " Maksud kamu apa? Siapa yang menjelek-jelekkan orang dibelakang?" tanya Rendi yang semakin bingung dengan jawaban Lean.
Lean tidak menjawab pertanyaan Rendi, dan masuk ke ruangan Ken. Di dalam ruangan masih terlihat Ken, dan Kean yang masih tertidurm
Mendengar suara pintu terbuka, Dira terbangun. Dilihatnya Lean yang baru saja masuk ke kamar yang disusul oleh Rendi di belakangnya.
"Kalian dari mana?" tanya Dira.
"Habis cari angin di luar ma!" jawab Lean yang langsung duduk di sofa dan mengambil botol air minum ya, lalu meneguk air itu sampai tandas.
"Oh ya... Kenapa seperti orang yang kehausan begitu, sampai minum banyak sekali!" pungkas Dira.
"Habisnya cuaca di Luar sangat panas, jadi Lean keharusan!" jawabnya dengan ekspresi begitu santai, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Wah... Bocil ini, jago sekali aktingnya... Memang benar-benar.....
...****************...
Maaf ya.... Up ya telat, karena author lagi ngeblenk ini...
Semoga suka dengan part ini.
Semoga part ini bisa tembus 40 komentar dan 250 like. Kalau tembus Author akan up lagi.
Ini bonus untuk kalian semua para reader kesayangan author
__ADS_1
Visualnya Rendi asisten Ken. Di ambil fotonya aktor china yalkun merxat