Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Kelahiran Tuan putri


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu, bulan pun sudah datang silih berganti. Sudah tak terasa mereka berdua telah menikah selama 7 bulan dan sampai saat ini Senja belum kunjung hamil. Melihat Senja yang belum hamil juga membuat Rian kalah taruhan dengan Ken. 


Setiap mereka bertemu Ken akan selalu menyindirnya dengan mengatakan bahwa ternyata Andrian tak setokcer dirinya. Malu iya, tetapi hubungan Senja dan Andrian tetap romantis. 


Awalnya mereka memang ingin sekali segera mempunyai momongan, tetapi setelah seringkali di php oleh tespek membuat Senja sudah tak mau berharap lebih. Ia menjadi lebih mengikuti alur saja, jika belum hamil memang belum di beri kepercayaan oleh Allah untuk memiliki bayi. Apalagi Senja yang masih sibuk dengan kuliahnya membuat ia lebih mudah lupa dengan hal itu. 


Sedangkan Aron juga telah menemukan wanita yang mampu membuatnya berubah menjadi seorang pria yang hanya bertahan dengan satu wanita. Saat ini Aron masih menikmati berbulan madu di berbagai negara bersama istrinya.


Melihat Aron yang terus. Memposting momen romantis mereka saat berbulan madu di berbagai negara, membuat Senja terkadang merasa iri.  


"Kamu kenapa manyun begitu sih? Habis lihat postingan Aron lagi? Yasudah selesaikan dulu kuliahnya nanti kalau udah selesai kakak akan bawa kamu keliling dunia,"ujar Rian sambil mengusap kepala senja. 


Senja menoleh kearah Rian." Kakak serius … gak bohong kan? " tanya Senja untuk memastikan lahi.


Melihat ekspresi Senja yang begitu menggemaskan membuat Rian mencubit hidung Senja." Serius ... Lagian bukankah kemarin-kemarin kakak sudah ingin ajak kamu bulanmadu ke berbagai negara. Tetapi, terhalang dengan jadwal kuliah kamu yang padat! Jadi, jangan salahkan kakak dong. Selesaikan kulaihnya dulu, nanti kalau udah selesai terserah kamu deh mau kemana ... "pungkas Andrian.


"Janji lho ya … gak boleh diingkari, dan janji itu adalah-," Senja belum selesai mengucapkan perkataannya tetapi Andrian sudah lebih dulu membungkam bibirnya dengan bibir Andrian.


"Sudah di stempel! Puas ..." kata Andrian dengan mengulas sebuah senyum.


Senja tiba-tiba memeluk Andrian dengan erat, dia merasa bahagia melihat Andrian selalu sabar menghadapi tingkahnya yang seperti anak kecil. Bahkan Andrian tak pernah berubah, meskipun banyak badai yang menerpa pernikahan mereka.


Mereka bagaikan air dan api tak bersatu, tetapi bisa saling melengkapi satu sama lain.


***


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, banyak cerita yang mereka lewati bersama dalam suka maupun duka. Saat ini keluarga Fabio tengah menanti kelahiran bayi yang sebentar lagi hadir di tengah-tengah mereka.


Selama ini bayi yang dikandung Dira selalu saja menutupi jenis kelaminya sehingga mereka bingung ingin menyiapkan pakaian laki-laki atau perempuan. Padahal Carol sudah tidak sabar ingin mendekorasi kamar, membelikan pakaian, dan peralatan bayi lainnya. Tapi, Ia tahan sampai bayi yang dikandung Dira lahir. 


Mengingat sudah hamil tua, Dira sering sekali keluar masuk kamar mandi karena ingin buang air kecil. Saat berada didalam kamar mandi tidak sengaja Dira jatuh  terpeleset sampai membuat air ketubannya pecah dan darah segar mengalir dari jalan lahir bayi.

__ADS_1


"Mas …" teriak Dira dari dalam kamar mandi. 


Mendengar dira yang berteriak, Ken segera bangun dari duduknya dan bergegas menuju kamar mandi. 


"Astagfirullah hal Adzim …" Ken segera menghampiri Dira yang duduk dilantai dengan darah yang mengalir ke kaki.  


Ken mencoba menggendong Dira dengan sekuat tenaga. Berhubung badan Dira yang semakin besar membuat Ken sedikit kewalahan saat menggendongnya, tapi Ken tetap berusaha menggendongnya keluar dari kamar. 


Nafas Ken mulai ngos-ngosan saat menggendong Dira turun ke lantai bawah sambil berteriak memanggil Kean dan lean untuk memberitahukan supir segera menyiapkan mobil untuk pergi ke rumah sakit. 


Mendengar ada ribut-ribut Carol yang sedang berada di dalam kamar segera keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi. 


"Astagfirullah Dira kenapa Ken?" tanya Carol yang juga ikut cemas. 


Ken tak bisa menjawab karena energinya ia simpan untuk menggendong Dira menuju mobil. Di luar Rumah, Pak Salaman sudah menyiapkan mobil dan Ken segera membawa Dira masuk kedalam mobil. 


Darah, air ketubannya terus keluar, serta rasa sakit di perutnya sudah tidak bisa ia tahan lagi sampai membuat Dira tak sadarkan Diri . Melihat Dira yang sudah tak sadarkan Diri, membuat Ken semakin cemas. 


Ken memeluk Dira yang sudah tak sadarkan diri, Ia terus mengecup kening Dira. "Sayang … kamu harus bertahan ya … sebentar lagi kita sampai rumah sakit. Kamu harus kuat jangan tinggalin aku dan juga anak-anak sayang …" lirih Ken dengan wajah yang telah di banjiri oleh airmata. 


Di sisi lain, Carol, Kean, Lean juga menyusul dengan mobil yang lain serta membawa satu tas perlengkapan bayi yang memang sudah disiapkan jauh-jauh hari. 


" Mama sama adik bayi tidak apa-apa kan, Oma?" tanya Lean yang ikut cemas. 


"Doakan saja ya, semoga mama dan adik bayi selamat," papar Carol. Sedangkan Kean terdiam dengan mata tertutul serta bibir yang terus melafalakan berbagai doa untuk keselamatan mama dan adiknya. 


Sesampainya di rumah sakit, Ken segera menggendong Dira dan meletakkanya diatas brankar. Para dokter dan juga perawat ikut mendorong brankar itu masuk kedalam ruang IGD. Melihat kondisi Dira yang sudah parah, Dokter memberitahukan perawat untuk segera menyiapkan ruangan operasi karena air ketubanya sudah kering dan Dira juga sudab kehilangan begitu banyak darah. 


Saat akan melakukan operasi, tiba-tiba stok darah di rumah sakit habis dan untungnya darah ken dan Dira sama sehingga Ken harus melakukan transfusi darah terlebih dahulu. 


Melihat kondisi Dira yang semakin kritis membuat Ken tidak bisa ikut masuk kedalam ruang operasi. Lampu ruang operasi sudah menyala sekitar 15 menit yang lalu, Ken terus saja berjalan mondar-mandir gak jelas didepan ruangan operasi karwna merasa cemas dan khawatir.

__ADS_1


Melihat wajah Ken yang begitu cemas, membuat Carol, Kean dan lean juga ikut cemas. Tak lama kemudian, keluarlah seorang suster dengan memdorong inkubator bayi keluar dari ruangan operasi. 


"Dok, bagaimana keadaan istri saya didalam?" tanya Ken dengan melihat bayinya. "Apa yang terjadi dengan bayi saya? Kenapa tubuhnya membiru dan tak ada suara tangisan? " cecar Ken dengan pertanyaan  bertubi-tubi. 


"Iya dokter, Kenapa adik kita tubuhnya membiru?" sahut Lean yang terus menatap tubuh adiknya yang begitu mungil dan sedikit membiru. 


"Dia sempat meminum air ketuban, sehingga tubuhnya membiru. Jadi, perlu penangan yang lebih lagi. Kalau kondisi ibunya saya kurang pasti, yang jelas dokter masih menanganinya di dalam , jadi Anda berdoa saja agar ibunya juga selamat. Kalau begitu Saya permisi untuk membawa bayinya ke ruang pemeriksaan dulu," pungkas suster itu.


Disaat mendengar perkataan dari perawat itu, tubuh Ken langsung terkulai lemas dilantai.npikiranya semakin cemas saat belum mengetahui bagaimana kondisi Dira saat ini. Dadanya terasa sesak seperti tertimpa batu besar. Tubuh yang sudah lelah sehabis menggendong istrinya,  melakukan transfusi darah, serta belum mengetahui kondisi Dira membuatnya sudah tak mampu lagi mennopang tubuhnya.


Carol berusaha untuk menenangkan ken dan memberikan dia kekuatan. Melihat Ken yang belum memikirkan bayinya karena masih khawatir dengan Dira, terpaksa Carol dan Lean yang pergi untuk melihat keadaan tuan putri keluarga Fabio. Sedangkan Kean menemani Ken menunggu Dira didepan ruangan operasi.


"Kita doakan aja ya pa, supaya mama juga selamat didalam," ucap Kean.


Mendengar ucapan Kean, Ken segera memeluknya untuk mendapatkan kekuatan dari anaknya. Dalam kondisi seperti ini, bahkan anaknya jauh lebih kuat darinya.


2 jam telah berlalu, lampu operasi akhirnya padam. Melihat seorang dokter yang keluar dari ruang operasi membuat ken segera menghampirinya. 


"Dok bagaimana kondisi istri saya?" tanya Ken. 


"Alhamdulillah kondisi bu Dira sudah stabil, tapi masih harus berada di ruangan observasi. Nanti setelah sadar baru akan dipindahkan ke ruangan rawag inap. 


" Alhamdulillah … " seru Ken dan Lean.


Ken langsung sujud syukur karena Allah masih menyelamatkan Dira. Raut wajah Ken dan Kean juga terlihat lebih lega dari sebelumnya.


Akhirnya, dua bidadari keluarga Fabio selamat.


...****************...


Semoga suka ... Doakan author bisa crazy up. Sepertinya season satu sudah akan tamat. Di tunggu saja kejutan dari author buat kalian ya...

__ADS_1


__ADS_2