Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Brian sakit (S2)


__ADS_3

Setelah itu, Brian menyuruh Jessy untuk menelpon Agatha karena dia sangat rindu dan ingin tahu bagaimana kondisinya saat ini. Jadi, Jessy mencoba untuk menelpon Agatha, sedangkan Brian mencoba merapikan pakaiannya agar Agatha tidak curiga kalau dia sedang sakit.


Bunyi ponsel Dira terus berdering, dan Dira masih berada di dalam kamar mandi sehingga Anne terpaksa mengangkatnya. Siapa tahu hal yang penting jadi nanti Ia bisa mengatakan kepada Dira untuk lebih cepat lagi . Ketika melihat wajah seorang gadis muda mirip sekali dengan Dira berada di layar ponsel ponselnya, membuat Brian terdiam menatapnya.


Dia pasti anak momy, cantik, dan sangat mirip sekali dengan momy.


Anne : Halo ...


Sapa Anne, tetapi tidak mendapatkan respon dari Brian. Hanya ada senyuman mengembang di wajah pucat itu, saat Anne mencoba memanggil Brian kembali, panggilannya justru terputus.


"Kenapa dimatikan? Tapi siapa ya? Apa anak mama yang di New York?" gumam Anne.


Sebelumnya, Dira memang sudah pernah cerita ke Anne tentang dia juga mempunyai anak di New York. Usianya di atas Anne, anak itu adalah anak yang membuat Dira bisa bertahan hidup bersama Samuel selama 16 tahun. Jika tidak ada Brian, mungkin dia sudah pergi meninggalkan Samuel sejak lama.


Bagi Dira, Brian merupakan sumber cahaya untuknya yang saat itu sedang kosong.


Ketika melihat Dira keluar dari kamar mandi, Anne segera menghampirinya untuk memberikan ponsel Dira.


"Sepertinya anak mama telepon," ucap Anne.


"Oh ya?" tanya Dira yang hanya di jawab senyuman oleh Anne.


Setelah itu, Dira segera mencoba menelfon kembali nomor Jessy. Namun, tak kunjung di angkat sampai beberapa kali tetap saja tidak diangkat justru di matikan.


**"


Di sisi lain, terlihat para dokter khusus sibuk melakukan pertolongan untuk Brian. Setelah melihat Anne, entah tiba-tiba Brian menjadi collapse lagi,. Hal itu ra merasa cemas takut terjadi apa-apa dengan Brian.


Tuhan, selamatkan Brian. Berilah dia kesempatan hidup lebih lama lagi, dia anak yang baik dan masih terlalu muda untuk menjalani ini semua. Semoga kamu kuat mengalahkan kanker yang ada di tubuhmu, Bri.


Saat Jessy merasa cemas, ponselnya masih saja terus saja berdering. Di layar ponselnya bertuliskan Nama Agatha yang memanggil. Dia bingung harus menjawab apa ketika Agatha nanti menanyakan dimana Brian karena sebelumnya Bri sudah berpesan untuk tidak memberitahukan penyakitnya ini ke siapapun.

__ADS_1


Brian takut kalau Agatha tahu dia sedang sakit, Agatha akan merasa sangat cemas, dan hal itu nanti bisa mengganggu waktu kebersamaan Agatha dengan keluarganya. Bri tidak mau terus-menerus mengambil sesuatu yang bukan miliknya lagi.


Tiba-tiba Agatha mengirim pesan.


Agatha : Jessy tolong angkat teleponku, Aku ingin bicara dengan Bri.


"Aduh, gimana ini? Aku angkat atau tidak?" gumam Jessy yang masih bingung.


Sebenarnya jika Agatha tahu, dia bisa menyemangati Bri untuk sembuh. Karena Jessy tahu kalau Agatha adalah cahaya bagi Brian, meskipun dia bukan ibu kandungnya. Selama ini Agatha tulus menyayangi Brian, begitupun sebaliknya.


Jessy menghembuskan nafas panjang, semoga keputusannya ini adalah benar. Setelah itu, Jessy kembali menelpon Agatha.


Jessy : Hallo, Mrs.


Agatha : Halo Jess, akhirnya kamu menelponku! Mana Brian Jess, Saya ingin bicara denganya.


Jessy tidak menjawab pertanyaan Dira, tetapi Dia justru memutar Kamera ponselnya untuk memperlihatkan dimana Brian berada lewat jendela transparan di depannya saat ini.


Dira terkejut dengan apa yang dia lihat saat ini sampai membuat tubuhnya lemas dan terjatuh di atas kasur. Buliran bening nan hangat tak terasa sudah jatuh membasahi pipi, Ia menyentuh layar ponsel yang memperlihatkan seorang pria tengah mendapatkan pertolongan dari dokter.


Anne mengerutkan keningnya saat melihat pria yang tadi masih terlihat tersenyum, sekarang sudah tak sadarkan diri. Anne mencoba menenangkan dira yang terus menangis sesegukan, Ia tahu kalau mamanya juga sangat menyayangi pria itu.


"Mrs, apa kamu baik-baik saja?" tanya Jessy ketika melihat Agatha terus menangis tanpa henti.


Dira mencoba menahan rasa sedihnya. "Apa yang telah terjadi, Jess? Bukankah sebelumnya Bri sehat-sehat saja," ungkap Agatha yang memang tidak pernah merasa curiga kalau Bri tengah sakit.


Jessy geleng-geleng kepala. "Sebenarnya Bria sudah sakit sejak tiga bulan yang lalu, tetapi Ia mencoba menutupi dari kita semuanya. Bahkan Aku baru tahu dua minggu yang lalu kalau ternyata Bri sakit kanker otak stadium 2," jelasnya.


"Apa? Kanker otak stadium 2?"tanya Dira dengan nada tinggi.


Dadanya terasa sesak bagaikan tertimpa batu besar sampai membuatnya sulit bernafas. Ia merasa sudah gagal menjadi Ibu karena sampai tidak tahu kalau anaknya sedang sakit separah itu.

__ADS_1


" Apakah Sam, tahu? " tanyanya lagi dan di jawab gelengan kepala oleh jessy karena Samuel memang juga tidak tahu tentang penyakit Brian.


Dira menutup mata dan mencoba menstabilkan nafasnya, Ia hirup oksigen banyak-banyak agar bisa bernafas kembali. Setelah itu, Jessy menceritakan apa alasan Brian menyembunyikan penyakit ini dari semua orang. Hal itu dilakukan Bri karena tidak mau membuat Dira cemas dan khawatir.


Brian tidak mau terlihat lemah di mata orang lain sehingga Ia mencoba menjalankan pengobatan secara sembunyi. Bahkan saat ini mereka tidak berada di rumah sakit, melainkan berada di tempat tersembunyi yang memiliki pemandangan yang sangat indah.


Brian memindahkan semua alat medis lengkap, serta dokter khusus untuk mengobati penyakitnya di tempat itu.


Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan Brian, membuat Jessy segera berlari menghampiri dokter itu.


"Gimana kondisi Brian, dok?"


"Iya dokter, bagaimana kondisi anak saya?" tanya Dira yang masih tersambung panggilan Vidio bersama Jessy.


"Oh, untuk saat ini Brian sudah melewati masa kritisnya, tetapi Tumor yang ada di dala. otaknya masih terus berkembang. Jadi, kita harus segera melakukan operasi, tetapi selama ini Brian selalu saja menolak menggunakan metode itu," pungkasnya.


Selama ini, Brian memang menolak untuk melakukan operasi karena dia takut kalau operasinya gagal, Ia akan pergi meninggalkan dunia ini dengan cepat. Disaat masih banyak yang masih ingin dia lakukan, terutama menyatukan Dira dengan keluarganya.


Tanpa berpikir panjang, Dira segera bangun dari dusuknya, berjalan keluar dari kamar Anne. Dia ingin menemui Ken untuk meminta izin pulang ke New York melihat kondisi Brian.


Jika tidak kesana, dira akan terus kepikiran dengan kondisi Brian. Dalam hati Dira, Brian juga merupakan anaknya meskipun tidak ada ikatan darah, tetapi selama ini dia yang mengurus Brian sejak umur 4 tahun.


"Mama mau kemana?" panggil Anne saat melihat Dira tiba-tiba pergi keluar dari kamar begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Mama mau menemui, papa!" pungkasnya. Lalu segera melanjutkan langkanya kembali.


Sesampainya di depan kamar Ken, Dira segera mengetuk pintu. Tak lama kemudian pintu itu terbuka, dan Dira langsung memeluk Ken dengan erat sambil menangis seperti sedang menumpahkan semua beban pikirannya.


Melihat Dira yang menangis sambil memeluknya seperti ini, membuatnya menjadi bingung harus berbuat apa. Jadi, Ia mencoba mencari jawaban itu dari anne, tetapi Anne hanya menaikkan kedua pundaknya yang mengartikan bahwa Ia tidak tahu.


"Kamu kenapa, Dir? Apa ada masalah? Kamu bisa Cerita sama, mas," ucapnya dengan menepuk punggung Dira mencoba untuk menenangkannya.

__ADS_1


...****************...


Maaf ya baru up karena lagi banyak pekerjaan di dunia nyata. Semoga suka. Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya.


__ADS_2