Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Si Gunung es kembali.


__ADS_3

Sebuah kotak kosong itu telah terisi kembali. Seperti ingatan yang hilang telah kembali lagi seperti semula. Rasa sakit yang begitu  dalam, serta penderitaan yang pernah dia alami sebelumnya telah tergambar sangat jelas dalam ingatanya.


Bagaimana perlakuan kejam yang telah mereka lakukan kepadanya. Sehingga membuat Dirinya memiliki rasa trauma yang begitu dalam, serta menjadikanny seorang wanita yang dingin dan tertutup. Tapi, Dira juga merasa sangat bersyukur bisa keluar dari kehidupan yang seperti neraka itu.


Ternyata Allah masih begitu baik kepadanya, setelah dia pernah melakukan dosa yang sangat besar. Allah masih memberikan sebuah kekuatan dan kebahagiaan lewat anak kembarnya.


Sejak ingatanya kembali Dira hanya diam seribu bahasa, Akankah Dia sanggup untuk menjalani hidup dengan ingatan itu, atau sebaliknya? Hanya Dia dan sang pencipta yang tau apa yang sebenarnya ada dalam hati dan pikiranya saat ini. 


Dira Terus mengemudikan mobilnya melesat di jalanan yang macet ini, untuk menjemput Kean dan Lean. Awalnya Rian menawarkan untuk mengantar Dira, tapi Dira menolaknya. Sampai Akhirnya dia sampai di sekolah Kean dan Lean. 


Di saat Dira bertemu Kean dan Lean Dia masih bisa memberikan sebuah senyuman yang mengembang, tapi sebenarnya senyuman itu menyimpan seribu arti di dalamnya. Meskipun Dira tersenyum tapi Kean dan Lean tahu bahwa itu bukanlah senyuman yang bahagia. Melainkan senyuman terpaksa untuk menyembunyikan arti yang sebenarnya. 


Dira mengajak Kean dan Lean untuk segera masuk ke dalam mobil, karena cuaca diluar begitu panas dan menyengat. Kean dan Lean hanya menurutinya tanpa berkomentar apapaun.


Dira terus mengemudikan mobilnya dengan pelan. Sejak masuk kedalam mobil, raut wajah Dira berubah menjadi datar dan diam seribu bahasa. Ini tidak seperti Dira yang biasanya, selalu banyak bertanya tentang apa yang Kean dan Lean lakukan di sekolah hari ini. 


Kean dan Lean juga ikut terdiam dengan saling pandang satu sama lain di kursi penumpang. Dira yang memperhatikan sikap anaknya dari  kaca spion depan yang saling senggol dan tatap membuatnya membuka suara. 


"Kalian kenapa? Kok saling senggol begitu? Apa ada yang salah? " tanyanya yang masih terus fokus mengemudi. 


Mendengar Dira yang bertanya, Kean dan Lean berhenti dari aktivitas mereka dan memberanikan Diri untuk bertanya.


"Apa mama ada masalah? Kenapa sejak tadi diam terus?" tanya Lean. 


"Oh…. Mama tidak apa-apa!"


"Seriously!" imbuh Kean. 

__ADS_1


Dira hanya mengangguk. "Kalian ingin makan siang apa? Biar sekalian kita beli?" 


"Bukankah sop buntut di rumah masih ada? Kita bisa makan itu saja!" celetuk Kean. 


"Apa kalian yakin? Tidak ingin makan yang lainya? Atau mau main ke mall dulu untuk bermain?" tawarnya kepada Dua anak kembar itu. 


Kean dan Lean mengerutkan kening mereka, dan saling pandang satu sama lain lagi. Tidak mengerti dengan sikap mamanya yang begitu Aneh menurut mereka. Apa matahari terbit dari barat? Kenapa mamanya tiba-tiba mengajak makan di mall dan bermain? Tidak biasanya mama seperti ini! . Biasanya mama akan mengajak kita main, hanya di hari weekend saja, pasti ada sesuatu yang mama sembunyikan deh!. Batin Kean dan Lean. 


"Kenapa kalian hanya diam saja?" 


"Em … Lean mau main di mall mah, dan luch makanan jepang favorit Lean. Boleh gak?" pungkasnya. 


"Baiklah…" Dira masih terus mengemudikan mobilnya menuju mall. Selang beberapa menit, akhirnya mereka sampai juga di parkiran sebuah mall yang cukup besar.


Sesampainya di arena bermain, Mereka bertiga bermain sepuasnya. Dira memang ingin mengalihkan pikiranya dengan bermain-main bersama anak-anaknya, agar mereka tidak curiga kalau saat ini Dira dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. 


Selesai sholat dzuhur, mereka melanjutkan pergi ke restoran Jepang untuk makan siang. Selesai makan siang mereka langsunh pulang ke Apartemen. 


Sesampainya di Apartemen, Dira langsung masuk ke Kamarnya untuk merebahkan badanya yang terasa lelah sekali. Dira mulai memejamkan matanya, untuk mengistirahatkan pikiranya tapi dia tidak bisa tertidur. Bayangan masa lalu yang pahit itu terus menari-nari di pikiranya. Membuat Dira terbangun dan ingin mandi.


Setelah masuk kedalam kamar mandi, Dira menyalakan shower dan duduk meringkuk di bawah air shower yang terus mengalir seperti dahulu kala. Ternyata aku adalah wanita kotor dan pengecut!, bisa-bisanya aku melupakan dosa yang begitu besar itu. Ternyata Kenzo adalah pria yang sudah merenggut kehormatanku! Kenapa aku bisa bertemu lagi dengan dia. Karena tidak mengingat kejadian itu, membuat aku berpikir bahwa dia memang benar-benar tulus dan cinta kepadaku serta anak-anak. Pantas saja dia melakukan itu semua, karena dia tahu kalau dia adalah ayah si kembar. Kenapa kamu bodoh sekali Dira ... Dira terus saja merutuki dirinya dan menangis di bawah air shower yang terus mengalir. 


Setelah berada di kamar mandi selama berjam-jam. Akhirnya Dira keluar karena kulitnya sudah keriput semuanya, akibat terlalu lama  mandi di bawah shower. Dira juga mulai bersin-bersin karena kedinginan, lalu dia melangkah ke dapur untuk memasak air panas untuk membuat air madu hangat agar tubuhnya lebih terasa hangat. 


Suara ketukan sandal dan lantai terus berbunyi dan semakin lama semakin mendekat. Lean terus melangkah menuju dapur  untuk menghampiri Dira. 


Dilihatnya Dira sedang berdiri menggigil dengan tubuhnya yang terlilit selimut, sedang memasak air. 

__ADS_1


"Mama Kenapa? Apa mama sakit?" tanya lean yang berjalan semakin mendekat. 


Mendengar suara Lean datang, Dira membalikkan badanya. 


"Mama gapapa kok?" jawabnya dengan menahan dingin dengan tersenyum lebar. 


Melihat wajah Dira yang begitu pucat, menandakan bahwa wanita itu sedang tidak baik-baik saja. 


"Mama gak usah bohong sama Lean, coba mama menunduk!" dengan tatapan yang mengatakan bahwa perintah itu tidak boleh di tolak. 


Dira mengerutkan kening saat melihat tatapan anaknya yang seperti itu, hal itu membuat Dira terpaksa harus mengikuti perintah Lean. Kalau tidak, bisa panjang urusannya. 


Setelah menunduk untuk menyetarakan tinggi tubuh mereka. Lean mulai memeriksa dahi Dira yang sedikit demam serta tangannya yang begitu dingin dan pucat. 


"Mama habis ngapain sih? Kenapa tangannya begitu dingin? Perasaan tadi siang gapapa!" tanyanya beruntun. 


Pertanyaan itu, membuat Dira bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin dia mengatakan kalau habis menangis di bawah shower selama berjam-jam. Bisa-bisa Lean semakin banyak tanya dan curiga. Untung saja teko air panas berbunyi, sehingga bisa membuat Dira bisa mengalihkan pertanyaan Lean. 


Lean masih terus menatap mamanya yang memasukkan air panas itu ke tumbler termos. Dira juga membuat air madu hangat untuk menghangatkan tubuhnya. 


"Mama belum jawab pertanyaan Lean!" 


"Mama gak habis ngapa-ngapain kok. Udah dulu ya… mama mau kembali ke kamar. Lean juga  kembali ke kamar lagi ya…" ujar Dira yang hanya mengusap rambut Lean dan pergi melenggang masuk kedalam kamarnya. 


...****************...


Oke guys.... Di part ini, kondisi Dira masih terbawa dengan rasa yang pernah dia lalui dulu.... Sehingga Dira masih perlu waktu untuk mencerna dan melihat bahwa Ken memang benar-benar tulus. Karena tidak mudah untuk menerima salah satu orang yang pernah merebut kehormatan yang ia jaga selama ini. Jadi tunggu terus bab selanjutnya.... Di bab Selanjutnya kita akan lihat bagaimana perjuangan Ken untuk bisa meyakinkah Dira dan melelehkan gunung es ini.... Author berharap kalian tidak akan kecewa oke....

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.... Biar author semangat lagi ngetiknya


__ADS_2