
...Hello para readers setia papa bucin yang posesif, sambil menunggu novel ini up. Kalian bisa mampir ke novel teman Author ini ya... Terima kasih🙏...
Selamat membaca...
Sekelompok pria muda yang sedang bermain di time zone, saling melakukan taruhan. Siapa yang bisa berkenalan dengan wanita tercantik dari tiga cewek yang ada di depan sana akan mendapatkan uang satu juta jika ada yang bisa mendapatkan nomor ponselnya akan mendapatkan dua juta.
Semua cowok itu tertarik, selain seorang pria tampan yang hanya diam saja tanpa memberikan komentarnya.
"Gimana ... Setuju gak?" ujar seorang pria dengan rambut yang di ikat.
"Eh, Ran ... Lo kok diam aja! Gak mau ikutan?" tanya cowok dengan hoodie hitam kepada ketua gengnya, Pangeran.
"Nggak, Gue gak suka menjadikan seorang cewek itu sebagai taruhan!" ketus Pangeran dengan wajah dingin.
"Yaelah Ran ... Lagian just for fun ... jadi gak usah dianggap serius!" celetuk cowok dengan hoodie hitam sambil menepuk pundak Pangeran.
Sorot mata pangeran berubah menjadi tajam. "Kalau kalian masih melanjutkan hal itu, Gue cabut! Cewek itu di hargai, bukan buat bahan taruhan atau mainan kalian!" tutur Pangeran yang beranjak pergi dari sekumpulan temannya.
Pangeran Aditama, seorang mahasiswa fakultas hukum & bisnis yang terkenal dengan pria 99%. Selain wajah tampan, Pangeran juga terkenal sebagai pria pandai dengan IQ di atas rata-rata.
Kesempurnaan Pangeran membuat banyak sekali di sukai para wanita, tetapi tak ada satupun wanita dapat meluluhkan hati pangeran, sampai Ia bertemu dengan gadis yang dapat mengalihkan perhatiannya.
Gadis wajah blasteran, dengan memakai hijab yang terlihat sangat anggun dan menyejukkan hati. Sebenarnya Pangeran juga ingin berkenalan dengan gadis itu, tetapi Ia tidak mau berkenalan karena taruhan, melainkan berkenalan layaknya seorang pria dan wanita.
***
Di sisi lain, terlihat seorang wanita tengah menyiapkan beberapa pakaian yang akan di bawa ke Indonesia. Awalnya mereka akan berangkat besok malam, tapi tiba-tiba Samuel menelfon bahwa pertemuan diajukan besok sehingga mereka harus berangkat malam ini.
Setelah selesai menyiapkan semuanya, Agatha segera mandi dan bersiap-siap karena penerbangannya 2 jam lagi.
Ini bukanlah pertama kalinya Dia menemani Samuel untuk pergi Dinas, tetapi kali ini Ia merasa sangat bersemangat untuk pergi. Seperti ada dorongan yang sangat kuat dari hati untuk datang ke Indonesia.
Selesai mandi, Agatha akan melakukan rutinitas setiap biasanya. Meskipun usianya sudah kepala empat, aura kecantikannya belum pudar, bahkan Ia terlihat jauh lebih muda dari usianya karena Agatha sangat merawat tubuhnya.
Saat mendengar suara ketukan pintu dari luar, Agatha segera berjalan untuk membukakan pintu. Ternyata Asisten Samuel yang datang menjemputnya untuk segera berangkat ke bandara.
"Hello Madam, are you ready?" tanya Justin.
"Oh yah, could you please carry those two suitcases? ( Oh ya, bisa tolong bawakan kedua koper itu?)," pinta Agatha sambil menunjuk dua koper miliknya dan Samuel.
__ADS_1
Justin menganggukkan kepala dan segera masuk kedalam kamar untuk membawa koper itu, lalu mereka pergi bersama menuju bandara.
***
Wah ... Sepertinya sudah sore, Kita pulang yuk?" ajak Sabrina.
Anne melihat jam tangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul 17:00 yang menandakan bahwa jam maiinnya telah selesai.
" Baiklah, Kita pulang sekarang karena jam bermainku juga sudah habis, "imbuh Anne.
" Yasudah... Let's go ... "seru Nala dengan senyuman manisnya.
Akhirnya mereka bertiga pulang ke rumah bersama supir masing-masing. Saat memasuki mobil, Keheningan menyapa kehidupan Anne lagi.
" Kok wajahnya di tekuk gitu sih, Non? Apa ada masalah? "tanya Kemal.
" Gak ada kok, Pak. Oh, ya, Pak Kemal 'kan sudah sangat lama kerja di keluarga Fabio. Apakah bapak tau seperti apa kejadian meninggalnya Mama? " Imbuh anne dengan sebuah pertanyaan.
"Kenapa Anda bertanya seperti itu, Non?.
" Anne hanya ingin tahu saja!"
Selama ini memang tidak ada yang menceritakan tentang bagaimana Dira meninggal, Anne hanya tahu setiap tahun setelah acara ulang tahunnya semua akan masuk kedalam kamar. Saat Anne diam-diam mengikuti ternyata semua sedang menangis, saat anne tanyakan kenapa mereka menangis, semua pasti akan berbohong mengatakan bahwa mereka tidak sedang menangis.
"Sepertinya Saya kurang pantas untuk menjelaskannya, Non!" pungkas Kemal.
Melihat Kemal yang tak mau juga menjelaskannya, Anne hanya bisa mengalihkan pandangan ke arah jalanan. Tatapannya nanar menatap gedung- gedung yang menjulang tinggi, serta hiruk pikuknya kota jakarta.
Tak lama kemudian, mobil yang di kendarai oleh Anne sampai di pelataran keluarga Fabio. Ia segera keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah.
"Anne Kamu baru pulang?" sapa Lean yang tak di hiraukan oleh Anne.
Anne terus berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya tanpa memperdulikan panggilan Lean. Melihat wajah Anne yang terlihat sendu, Lean segera mengikutinya.
Sesaampainya di depan kamar, Anne sudah mengunci pintu kamarnya. Padahal biasanya dia jarang sekali mengunci pintu kamar.
"Anne ... Bukain pintunya dek ..." panggil Lean.
"Anne mau sendirian dulu kak," teriak Anne dari kamar.
"Anne, kalau ada masalah ... cerita sama kakak ..." pungkas Lean dari balik pintu.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa menit, Anne masih tak kunjung datang untuk membukakan Lean pintu.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Anne, ya?" gumam Lean yang kemudian pergi dari kamar Anne.
Mungkin saat ini Anne memang sedang membutuhkan waktu sendiri, nanti jika dia sudah tenang biasanya akan cerita ke Lean.
***
Saat malam tiba, Anne pergi mendatangi Lean di kamarnya. Ia mengetuk pintu kamar Lean dan memanggilnya.
Tak lama kemudian, Lean membukakan pintu untuk Anne. Melihat pintu sudah terbuka, Anne segera menylonong masuk ke kamar Lean seperti biasanya.
"Wajah kamu kenapa di tekuk begitu, dek? Apa ada masalah?" tanya Lean setelah duduk di sofa.
Anne belum berbicara, Ia hanya menjawab dengan gelengan kepala lalu menganggukkan kepala. Melihat jawaban Anne yang tidak jelas, membuat Lean menautkan kedua alisnya.
" Coba cerita sama Kakak, Kamu ada masalah apa. Masalah sekolah? Masalah cowok, atau masalaha apa?" tanya Lean dengan berbagai pertanyaan.
Anne melipat kedua tangannya sambi menatap ke arah Lean tajam.
"Anne akan cerita sama Kakak, asalkan Kakak mau jawab jujur semua pertanyaan Anne!" celetuknya.
Lean menaikkan satu alisnya. Ia sedikit mencium aroma-aroma tidak enak saat mendengar perkataan Anne seperti itu. Padahal Dia kan hanya ingin mendengarkan Anne curhat, tetapi kenapa jadi seperti ingin di introgasi gini.
" Yaudah ... Emangnya Kamu mau tanya, apa?"
"Janji dulu, kalau Kakak akan jawab semuanya dengan jujur," lontar Anne dengan menyodorkan jari kelingkingnya di hadapan Lean.
Dengan berat hati, lean menautkan jarinya ke jari Anne untuk mengikat janji bahwa Ia akan menjawab semua pertanyaan Anne dengan jujur.
Anne tersenyum dan memulai mengajukan pertanyaan.
"Pertanyaan pertama, tolong ceritakan tentang kejadian meninggalnya, Mama!" pungkas Anne.
Lean terperangah saat mendengar Anne mengajukan pertanyaan itu. Ia tidak pernah mengira bahwa pertanyaan Anne adalah tentang Dira, ingin rasanya Lean pergi saja, tetapi Ia sudah berjanji untuk menjawab semua pertanyaan Anne dengan jujur.
Mampus gue! Sudah masuk kedalam perangkap Anne! Batin Lean.
...****************...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya seperti biasa. Like, komen, vote dan hadiahnya ya....
__ADS_1
Untuk sekarang, novel ini akan up 1/2 kali sehari. Tapi akan up 3 bab mulai tanggal 8-14. Jadi, tungguin crazy up dari author ya...
Salam sayang dari Author buat kalian semua😘😘😘😘