
Pagi menyapa, aroma harum masakan tercium menusuk relung hidung. Membuat perut ikut bergoyang dan berdendang kelaparan.
"Mama masak apa?" tanya Lean yang tiba-tiba muncul dan memeluk manja kaki Dira dari belakang.
"Mama masak sop buntut!"
Lean langsung menelan Lidah, perutnya semakin keroncongan saat mamanya mengatakan sedang memasak sop buntut. Karena sop buntut buatan Dira sangatlah lezat.
"Apa mama masak banyak?" tanyanya lagi.
Dira langsung menoleh ke arah Lean. "Lumayan, memangnya kenapa?"
"Apa papa boleh ikut sarapan bersama?" dengan memberikan kerlingan mata.
Dira hanya mengangukkan permintaan Lean,agar anaknya itu senang. Kebetulan Dira juga memasak banyak, karena Kean dan Lean sangat suka sop buntu buatanya.
Mendengar jawaban Dira, Lean segera menghubungi Ken untuk sarapan bersama. Tapi Ken tidak bisa di hubungi sama sekali, hal itu membuat Lean sedikit kesal. Akhirnya mereka sarapan tanpa kehadiran Ken, Lean pun tidak makan banyak karena sedang bad mood.
Selesai sarapan Dira segera mengantar mereka berangkat ke sekolah dengan menggunakan mobil baru dari Kean.
Honda brio kuning yang di kemudian oleh Dira, terus melaju menerobos jalanan menuju sekolah Fabio Internasional School. Sesampainya di parkiran sekolah Fabio Internasional School, Lean dan Kean berpamitan untuk masuk kedalam kelas. Wajah Lean masih terlihat ditekuk, suasana hatinya sedang badmood Karena Ken tidak bisa di hubingi. Hal itu membuat Dira merasa kasihan, tapi Dira juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah melihat Kean dan Lean masuk ke dalam Kelas, Dira segera mengemudikan mobilnya lagi menuju tempat praktek Andrian. Jalanan Jakarta sudah sangat macet, membuat Dira Lebih lama sampai ke tempat praktek Andrian.
......................
Di kantor PT Fabio grup.
Sejak pagi Ken sudah sangat sibuk dengan rapat dan pekerjaan yang menumpuk, karena di tinggal beberapa hari. Melihat Ken yang sudah sangat sibuk sejak pagi, membuat Rendi geleng-geleng kepala melihatnya.
Bos... Bos... Sampai Jakarta, sudah kembali menjadi workaholic lagi!. Melihat hal itu, segera Rendi membawakan Ken sarapan dan juga obat yang harus diminumnya.
"Bos... Sebaiknya anda berhenti untuk sarapan dan minum obat anda dulu," ujarnya sambil meletakkan nampan yang berisi sandwich, air putih dan juga obat.
__ADS_1
"Iya nanti dulu," jawab Ken yang masih sibuk dengan komputernya.
Rendi menghela nafas panjang, memutar otak memikirkan cara agar Ken segera sarapan dan meninggalkan pekerjaannya.
"Bos... Kalau anda tidak segera memakan sarapan dan obat anda, saya akan mengatakan kepada bu Dira bahwa anda....
Mendengar ucapan Rendi, Ken langsung meninggalkan pekerjaannya dan memakan sarapanya. Hal itu membuat Rendi menahan ketawa. Ternyata boss tipe suami takut istri!.
Sebelumnya Dira sudah mengingatkan kepada Rendi untuk selalu mengawasi kerja, makan dan minum obat Ken. Ketika Ken masih tidak bisa menjaga kesehatan tubuhnya lagi, Dira tidak akan perduli dan mau merawatnya lagi seperti di jogja.
Perkataan itu membuat Ken takut, kalau Dira akan menilai dirinya sebagai lelaki yang tidak bisa bertanggung jawab dan bisa melindungi Dira serta anak-anaknya. Karena sebelumnya Dira pernah mengatakan bahwa lelaki yang bertanggung jawab adalah laki-laki yang harus bisa bertanggung jawab kepada dirinya terlebih dulu, baru bisa bertanggung jawab untuk orang lain. Jika dia belum bisa menjaga dirinya sendiri, maka lelaki itu pasti tidak akan bisa menjaga orang lain.
...----------------...
Perjalanan yang memakan waktu sekitar satu jam lebih , akhirnya Dira baru sampai ke tempat praktek Rian. Selesai memarkirkan mobilnya, Dira masuk kedalam. Seperti biasanya Rian akan menyambutnya di depan pintu, yang membuat para kariyawati disana langsung menatap Dira dengan sorot mata yang tajam. Dira hanya bisa menghela nafas saja, berpura-pura tidak perduli.
Ketika Dira datang ke tempat ini, selalu saja sepi seperti tidak ada pengunjung. Hal itu membuat Dira merasa heran dan juga penasaran. Akhirnya setelah masuk kedalam ruangan Rian, Dira memberanikan Diri untuk bertanya.
Rian yang masih membuka kulkas untuk mengambilkan minuman untuk Dira , langsung membalikkan badan menoleh kearah Dira yang duduk di sofa.
"Boleh, mau tanya apa?" jawabnya yang kembali melanjutkan mengambil air minum.
"Sebelumnya aku minta maaf kalau sedikit lancang. Apa tempat prektek kamu tidak ada pasien? Soalnya setiap aku kesini, selalu sepi!" tanya Dira hati-hati takut kalau pertanyaannya bisa menyinggung Rian.
Andrian hanya tersenyum mendengar pertanyaan Dira. Ia melangkah berjalan menuju sofa dengan membawa dua botol Orange jus favorit Dira. Dira yang melihat Rian yang hanya tersenyum membuatnya kikuk dan merasa canggung.
"Dir... Ini itu bukan tempat praktek dokter umum, tapi dokter psikiater. Jadi, setiap pasien yang akan konsultasi pasti buat janji terlebih dahulu. Ketika kamu sudah membuat janji, maka tidak akan ada pasien lain hanya kamu"paparnya.
Dira hanya bisa tersenyum saja. Bener juga ya ... kenapa pertanyaanku konyol gini ya ... Batin Dira.
"Oh ya Dir ... Apa bener kamu udah punya anak?"
Dira menganggukkan kepalanya. "Aku sudah punya anak kembar dua laki-laki, mereka baru berumur 6 5 tahun."
__ADS_1
Rian hanya terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. Saat ini dia hanya terkejut mendengar bahwa ternyata Dira benar-benar sudah mempunyai anak. Bukanya Rian tidak suka jika Dira punya anak. Tapi, kalau Dira punya anak, berarti Rian juga harus bisa mengambil hati anak-anaknya juga jika ingin bersama mamanya.
"Kamu kenapa hanya diam saja Ri?
Rian tersentak," Oh... Aku hanya sedikit terkejut saja, ketika mendengar kamu sudah mempunyai anak yang sudah besar. Berarti kamu menikah sudah lama? "
" Iya,... Apa kita bisa langsung mulai terapinya? Soalnya aku juga harus menjemput Mereka lagi nanti!.
" Baiklah ... Kita bisa Langsung mulai terapinya."
Setelah itu, Dira mulai merebahkan tubuhnya di sofa dengan posisi yang sangat rileks. Sedangkan Rian mulai memberikan sugesti kepada Dira, sampai akhirnya Dira tertidur dan sudah berada dalam alam bawah sadarnya. Dira mulai melihat kembali kehidupan pernikahanya di masa Lalu.
Sejak pulang dari Apartemen Darren dan selingkuhanya , Dira terus saja menangis meratapi bagaimana nasib pernikahanya kedepan. Apakah dia harus tetap bertahan dan membuat Darren bisa jatuh cinta denganya atau mengakhiri pernikahan ini. Ya Allah... Apa yang harus ku lakukan saat ini... Aku tahu engkau membenci sebuah perceraian. Tapi, apakah aku sanggup harus hidup seperti ini ... Di saat cintaku mulai dalam kepada suamiku, engkau langsung menunjukkan sebuah kenyataan yang begitu menyakitkan. Sehingga Memberikan luka yang begitu dalam, hiks... Hiks....
Setelah kejadian itu, Dira terlihat lesu, murung dan wajahnya pucat. Sampai akhirnya Darren pulang ke rumah dengan melihat penampilan Dira yang begitu acak-acakkan dan tidak seperti Biasanya.
"Kamu kenapa Dir? Apa kamu sakit?" tanya Darren memastikan.
Dira hanya terdiam. Iya... Hatinya sangat sakit sampai membuat tubuhnya ikut sakit. Mumpung Darren ada di Rumah, Dira memberanikan Diri untuk berbicara.
"Kak... Kamu HABIS darimana?"
"Dari kerja lah, kenapa pertanyaan kamu aneh begitu!"
Dira menyeringai, membuat Darren semakin bingung dengan sikapnya. "Kamu baru pulang kerja, apa habis pulang dari Apartemen selingkuhanmu? !"
Pertanyaan Dira membuat Darren terbelalak dan terkejut.
...****************...
Halo guys....author minta maaf karena akhir-akhir ini sering telat upnya..
Semoga suka ya... , jangan lupa like, komen yang keren, vote serta hadianya ya... Itu sebagai bentuk apresiasi kalian terhadap karya author.. Biar author lebih semangat untuk up dan karya ini biar lebih melejit lagi.
__ADS_1