Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Curhat


__ADS_3

Saat berada di dalam mobil, ponsel Ken terus saja berdering. Jadi, terpaksa Ia mengangkatnya.


"Siapa Pa yang telepon?" tanya Anne.


"Om Rian, katanya dia lagi butuh teman curhat," jawab Ken setwlah mematikan sambungannya.


"Ada Nala juga, nggak?" tanya Anne dan di jawab gelengan kepala oleh Ken karena sepertinya tidak ada.


Setelah itu, Anne mencoba menghubungi Nala untuk bertanya dimana dia sekarang.


Anne : Nal, kamu ada dimana?


Anne : Di rumah Anne, ada apa?


Anne : Kamu gak ikut papimu?


Nala : Nggak.


Melihat jawaban Nala yang singkat serta Rian yang ingin curhat membuat Anne mempunyai filling kalau sedang terjadi sesuatu dengan keluarga Nala.


"Pa, jadi sekarang Papa mau ketemu om Rian?" tanyanya.


"Nggak dong Sayang, Papa kan mau ngajak Kamu jalan-jalan. Masak mau bertemu dengan om Rian," pungkasnya.


"Papa ketemuan aja sama om Rian, biar Aku juga ajak Nala. Kasihan Om Rian kalau sedang butuh teman curhat, tapi Papa gak bisa menemaninya," tutur Anne.


"Terus, jalan-jalannya?"


"Lain kali juga bisa gapapa," pungkas Anne dengan senyuman.


Ken tersenyum ketika melihat Anne yang begitu setia kawan dan lebih mementingkan orang lain di saat kondisi seperti ini.


"Yasudah, Kita pergi ke restoran tempat biasanya Papa dan Om Rian ketemu," katanya lalu mengubah rute perjalanan menuju restoran tempat Ia biasanya berkumpul dengan Rian dan Aron.


Sedangkan Anne mengirim pesan kepada Nala untuk bertemu di sebuah restoran. Awalnya Nala menolak, tetapi Anne terus saja memohon sampai Nala setuju dan tidak memberitahukan Nala kalau ada Rian di sana. Anne juga tidak lupa mengajak Sabrina agar formasi mereka lengkap dan lebih ramai.


Tak lama kemudian mereka sampai di restoran mewah. Anne berjalan sambil menggandeng tangan Ken, tanpa malu. Kadang Ia juga akan melirik ke arah wanita yang memperhatikan Papanya dan berbisik ingin menjadi sugar baby atau ibu tirinya, tetapi Anne tidak akan membiarkan itu terjadi sehingga Ia akan menatap tajam kearah mereka.


"Eh ... Pria itu benar-benar tampan sekali, tapi cewek muda di sampingnya itu kelihatan judes sekali!"

__ADS_1


"Kira-kira dia anak atau sugar babynya, ya?"


"Kelihatannya sih, anaknya ... Soalnya warna mata mereka sama!"


Dasar Wanita-wanita genit! Suka sekali menggunjingkan orang lain tanpa tahu yang sebenarnya dan menyukai sesuatu yang instan! Batin Anne.


Biasanya Ken, Rian dan Aron akan bertemu di private room, tetapi kali ini tidak karena Anne ikut. Jadi, tidak mungkin mereka curhat di depan anak-anak sehingga Mereka memilih untuk tidak bertemu di private room.


Ketika melihat Ken yang sudah datang bersama Anne, Rian melambaikan tangan agar Ken tahu dimana keberadaannya.


Saat sampai di tempat Rian duduk, Anne menyalami Rian sebagai tanda hormat.


"Kamu masih sendirian, Ri? Aron mana?" tanya Ken sambil duduk di kursi depan Rian.


"Mungkin masih ada di jalan!" jawabnya. "Kalian mau minum atau makan apa?" tawar Rian.


Ken menanyakan kepada Anne terlebih dahulu apa yang ingin Ia makan, tetapi Anne mengatakan bahwa Ia akan duduk di tempat lain agar Rian dan Ken bisa lebih leluasa.


"Kamu yakin mau duduk di tempat lain sendirian? Gak nunggu sampai Nala datang?" tanya Ken.


"Nala? Apa Nala juga akan datang?" sela Rian saat mendengar Ken mengatakan bahwa Nala juga akan datang.


Rian menghembuskan nafas panjang saat mendengar jawaban Anne. Sepertinya Anne tahu kalau Ia sedang ada masalah sehingga tidak mengatakan kepada Nala kalau Dia sebenarnya ada di sini.


" Makasih ya, Anne, "ucap Rian.


" Sama-sama Om, yaudah kalau gitu Anne pindah tempat dulu ya ... nanti keburu Nala datang, " pamit Anne. Ia segera pergi menjauh mencari tempat kosong yang sedikit jauh dari tempat Ken dan Rian berada.


Setelah melihat Anne pergi, Rian mencoba membuka suara untuk bercerita kepada Ken tentang rumah tangganyaa dengan Senja. Ia bingung harus menggunakan cara apa agar Senja mau nurut untuk Resign dari pekerjaannya dan lebih fokus mengurus keluarga.


Rian juga ingin rumah tangganya bisa kembali harmonis seperti dulu, tidak sering bertengkar seperti sekarang. Ia tidak ingin rumah tangga yang sudah di bangun selama belasan tahun ini, kandas dengan mudahnya.


"Kamu sudah mengajaknya bicara baik-baik, Ri?" tanya Ken setelah mendengarkan curhatan Rian.


"Sudah Ken, tetapi ya begitu dia justru marah dan mengamuk," paparnya.


" Kapan waktu Kamu mengajak Senja untuk berbicara?"


"Tadi, saat dia baru pulang dari rumah sakit!"

__ADS_1


Ken menghembuskan nafas panjang saat mendengar jawaban dari Rian. "Tentu saja Senja marah, dan mengamuk karena Kamu juga tidak melihat sikon dalam membicarakannya,"pungkasnya.


Rian mengerutkan kening." Kok kamu justru menyalahkan Aku sih, Ken?"


" Tuh kan, Kamu saja emosi saat aku berbicara seperti itu disaat pikiran Kamu sedang kacau. Apalagi Senja! Dia capek-capek pulang dari kerja, sesampainya di rumah bukannya di sambut dengan pelukan hangat, justru di sodorkan dengan permintaan harus resign. Kalau itu Kamu, apakah Kamu tidak akan marah? " paparnya.


Rian mencoba mencerna perkataan Ken. Setelah di pikir-pikir lagi Rian baru sadar dan mengerti kalau dia memang salah dalam mengambil sikon (situasi dan kondisi) saat mengajak Senja berbicara.


" Gimana? Kamu sudah tahu apa yang aku maksud?" tanya Ken dan diangguki oleh Rian.


"Begitulah Ri, namanya rumah tangga kalau ingin mengucapkan sesuatu harus melihat dulu situasinya. Apalagi berbicara dengan wanita yang mudah sekali sensitif, itu butuh sabar dan tenang. Coba deh nanti, Ketika pikiran dan hatimu sudah jernih, baru Kamu berbicara lagi dari hati ke hati sama Senja," tuturnya.


Ken meminum kopi yang sudah Ia pesan. Meskipun hubungan pernikahannya tidak lama seperti Rian dan Senja, tetapi Ken lebih tahu bagaimana caranya berbicara dengan makhluk sensitif seperti wanita.


Pernikahannya yang singkat sudah mampu memberikan banyak sekali pelajaran hidup dalam memahami dan mengerti bagaimana perasaan wanita.


***


Saat melihat seorang gadis yang sempat membuat hatinya tergerak sedang duduk sendirian, membuat hati Pangeran ingin mengajaknya berkenalan. Pangeran segera berjalan menghampiri Anne yang duduk sendirian sambil memainkan ponselnya.


"Halo, permisi ... Apa Kamu sedang sendirian?" sapa Pangeran.


Melihat ada yang mengajaknya bicara membuat Anne mendongakkan kepalanya, lalu mengedarkan pandangan ke sekitarnya.


"Saya sedang menunggu teman, lagian tempatnya masih banyak yang kosong kok!" tungkas Anne dan kembali memainkan ponselnya.


Pangeran menghela nafas panjang dan mencoba memberanikan diri. "Em ... apa boleh kenalan?" Aku pangeran," ucapnya sambil menyodorkan tangan di depan Anne.


Saat Rian menoleh melihat ada seorang pria yang datang menghampiri Anne, Rian segera memberi kode kepada Ken. Ketika Ken melihat hal itu, tanpa berpikir panjang Ia segera berdiri dan berjalan menuju tempat Anne berada.


Ken tiba-tiba langsung meraih jabatan tangan seorang pria yang berdiri di depan Anne.


"Anda siapa?" pekik Pangeran saat melihat Ken datang langsung menyambut uluran tangannya untuk Anne.


"Perkenalkan nama Saya Kenzo Clarence Fabian," pungkas Ken.


Pangeran mengerutkan kening. "Saya gak tanya nama Anda. Saya bertanya Siapa Anda yang seenaknya menjabat tangan saya!" cetus Pangeran


Saat Pangeran ingin melepaskan tangannya, Ken justru semakin meremas tangan Pangeran dengan kuat serta tatapan yang tajam

__ADS_1


...****************...


__ADS_2