
Aron menyeret Angel keluar dari klub itu dan memaksanya untuk masuk kedalam mobil. Aron segera menginjak pedal gasnya melaju dengan kecepatan tinggi.
"Ron … Lo mau bawa gue kemana sih? Kenapa gak pelan-pelan aja bawa mobilnya? Kalau lo mau tidur sama gue kenapa gak di hotel dekat klub aja!" teriak Angel yang tak di hiraukan oleh Aron.
Angel benar-benar merasa takut, melihat wajah Aron yang seperti sedang marah dan kecepatan mobil ini membuat Angel semakin takut. Ia tak tahu kalau misalnya mereka kecelakaan lalu meninggal, tapi kalau mereka kecelakaan dan tidak meninggal justru lumpuh atau cacat. Bukankah itu semakin membuat hidupnya menderita.
Tak lama kemudian, Aron memberhentikan mobilnya di tepi jalanan yang cukup sepi.
"Kenapa kita berhenti disini? Lo mau ngelakuin hal itu di dalam mobil? !" Angel mulai menebak-nebak.
Aron menoleh kearah Angel dengan sorot mata yang tajam. "Gak usah mikir yang aneh2 deh! Gue gak sudi makek cewek bekas orang banyak!" cetus Aron.
Perkataan Aron seperti seribu jarum yang menusuk hati Angel. "Kalau lo gak mau tidur sama cewek bekas orang banyak, lalu kenapa lo datang ke tempat itu? Bukankah sudah jelas kalau lo datang ke tempat itu untuk memuaskan na*** lo berarti lo siap dong makai wanita bekas orang banyak! Karena di tempat itu sudah gak ada yang namanya perawan! " pungkas Angel yang ikut merasa kesal.
Aron menaikkan sudut bibirnya." Jadi kenapa lo bisa ada di tempat itu! Sudah berapa lama Ngel? "tanya Aron dengan nada yang sedikit lirih.
" Buat apa lo tanya seperti itu? Itu bukanlah urusan lo! "ketus Angel.
" Gue cuman mau tau aja, karena sampai saat ini gue masih gak percaya bahwa elo bisa jadi wanita malam seperti ini! Bukankah keluarga Elo kaya? Terus kenapa lo bisa jual tubuh lo seperti ini! "
" Kalau lo cuman mau ngebahas soal ini. Lebih baik Lo gak usah buang-buang duit lo untuk menyewa gue seperti ini! "
" Jika lo masih ada di Indonesia, berarti lo tau dong berita tentang Dira yang sempat Viral? Lo gak mau gitu minta maaf sama Dia? Atas apa yang lo sudah lakuin sama Dira. "
Angel menyeringai." Buat apa gue minta maaf sama dia. Lagian kalau dia tahu gue sekarang, jadi seperti ini bukankah dia akan menertawakan gue? "
" Kenapa lo masih membenci Dira sih Ngel? Sebenarnya apa salah Dira sampai lo membenci dia sebegitunya?"
"Kalau lo masih terus mengungkit dia. Lebih baik gue pergi." Angel ingin keluar dari mobil Tapi Aron sudah mengunci pintu mobil terlebih dahulu.
"Kenapa lo ngunci mobilnya? Bukain gak?" pekik Angel.
Aron tak menghiraukan perkataan Angel, dia justru kembali mengemudikan mobilnya kembali menuju klub itu.
__ADS_1
***
Hari demi hari telah berlalu, dan sudah waktunya untuk Dira kembali kontrol ke dokter kandungan. Saat ini Dira kontrol ditemani oleh Ken dan juga si kembar, karena Kean dan Lean juga penasaran ingin melihat adiknya yang berada didalam perut.
Tak lama kemudian, sudah giliran Dira untuk masuk kedalam ruangan dokter.
Saat masuk kedalam ruangan dokter, mereka disambut dengan ramah oleh dokter Alula. Dira disuruh berbaring di atas brankar, sedangkan dokter alula segera mengoleskan jel diatas perut Dira dan meletakkan transduser diatasnya untuk mengecek janin yang ada didalam rahimnya.
"Dok, itu anak saya yang mana ya?" tanya Ken.
"Iya, dok. Mana adik kita?" sahut Kean dan Lean bersamaan.
"Ini benda kecil yang bergerak-gerak itu adalah adik kalian sayang," papar dokter Alula dengan menunjuk bayi yang masih sangat kecil itu.
"Adiknya masih kecil sekali, Apakah kita dulu juga sekecil itu ma?" tanya Lean.
"Tentu saja sayang. Kalian dulu juga sekecil itu, tali ada dua."
"Oh… tapi itu hanya ada satu. Berarti adik kita hanya satu?" imbuh Kean.
"Apa adiknya Cewek dok?" tanya Lean.
"Em … untuk sekarang belum kelihatan adiknya cewek atau cowok karena adiknya masih terlalu kecil nanti 3 bulan lagi baru sudah kelihatan cewek atau cowoknya. Apa kamu menginginkan adik cewek?" tanya Dokter Alula dengan tersenyum. Sedangkan Lean menjawab dengan anggukan kepala. Menandakan bahwa ia memang menginginkan adik cewek.
Melihat sikap lucu Kean dan Lean membuat dokter Alula merasa sangat gemas sampai mencubit pipi gembul mereka.
Setelah melakukan pemeriksaan, mereka menyempatkan diri untuk pergi ke tempat bermain karena sudah lama sekali Kean dan Lean tak bermain di mall.
Ken menemani Kean dan Lean bermain berbagai wahana yang ada, sedangkan Dira hanya menunggu mereka sambil memotret momen kebersamaan itu. Setelah capek bermain, tiba-tiba Dira menginginkan sebuah boneka yang ada didalam mesin capit boneka.
"Ayo pa, dapetin bonekanya buat mama!" seru Kean dan Lean dengan menyeret Ken untuk memainkan capit boneka.
Ken yang tak pernah memainkan permainan itu sebelumnya, merasa sedikit bingung sampai mengamati orang yang ada di sebelahnya. Karena tak mau dianggap cemen oleh kedua putranya, Ekn mencoba untuk memainkan permainan itu.
__ADS_1
Pertama Kali ia memainkan gagal, kedua, ketiga, keempat dan tetap saja gagal. Sampai membuat ia kesal.
" Ini mesinya penipu! Masak dari tadi gak bisa dapet-dapet," gerutu ken. "Lebih baik kita ke toko boneka aja ya … nanti Mas akan borong deh kalau perlu satu toko bonekanya," bujuk Ken, tapi Dira tetap tak mau.
Kean dan Lean menghembuskan nafas panjang, serta melipat tanganya di depan dada. "Papa cemen! Masak gitu aja gak bisa, dan menyerah begitu saja!" gerutu Lean dengan wajah manyun.
"Papa gak cemen, mesinya aja itu lagi rusak," elak Ken yang tak mau dibilang cemen oleh kedua anak kembarnya.
"Oh ya?" tanya Kean dengan wajah menantang. Kean segera bergerak mendekati mesin capit, dan mulai memainkanya.
Dalam satu permainan saja, Kean sudah bisa mendapatkan boneka yang diinginkan oleh Dira. Lalu ia melanjutkan untuk mengambil beberapa boneka lagi yang diinginkan oleh Lean sebagai koleksi untuk adiknya nanti lahir.
Ken terperangah melihat keahlian Kean yang tak pernah gagal. Saat ini ia benar-benar merasa malu karena dikalahkan oleh anaknya dalam sebuah permainan ini.
"Gimana pa? Apakah permainan ini masih menipu?" tanya Kean dengan menekan telapak tanganya sambil tersenyum bangga karena bisa mengerjai papanya.
"Kenapa kalian gak bilang dari tadi kalau Kean jago?"
"Kan mama pengenya papa yang ambil!" jawab Kean dan Lean serentak yang diangguki oleh Dira.
Hari ini Ken benar-benar malu sekali karena sudah mengatakan bahwa permainan ini menipu, padahal anaknya yang baru berusia 6 tahun saja mampu memainkanya.
"Apakah aku terlalu bodoh?" lirih Ken yang diangguki oleh Dira, Kean dan Lean. Setelah itu mereka tertawa bersama, saat melihat wajah Ken yang terlihat sangat malu dan seperti orang yang benar-benar bodoh.
Selesai bermain, mereka berempat berjalan menuju lestoran jepang favorit Kean dan Lean.
...****************...
Gimana... Udah terobati belum kangen ya sama si kembar.
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya...
Selama menunggu Kean dan Lean up. Kalian bisa mampir ke novel baru Author yang judulnya : Aku tak mau dimadu.
__ADS_1
Makasih untuk yang sudah memberikan itu semua