
Sesampainya di kediaman Fabio, Carol dan Dira segera turun dari mobil dan berjalan beriringan mesuk ke dalam rumah. Carol meminta Dira untuk segera istirahat di kamarnya serta meminum vitamin yang diberikan oleh dokter agar kondisi tubuhnya lebih vit dan Janin yang ada di dalam kandunganya juga ikut sehat.
Dira mengiyakan perinta Carol, ia berjalan menaiki anak tangga dengan perlahan, ketika sampai di depan Kamarnya Ia membuka pintu dan berjalan perlahan memasuki kamarnya. Dira meletakkan tas di atas nakas, lalu duduk bersandar diatas ranjang.
Tak lama kemudian Ken juga telah sampai di kediaman Fabio. Ia turun dari mobil dengan tergesa-gesa, lalu berlari memasuki rumah. Pikiranya sangat khawatir ketika mengingat kembali pesan yang dikirimkan oleh Carol. Carol yang baru saja mengambil air minum dari dapur ketika melihat Ken yang berjalan tergesa-gesa ingin menaiki anak tangga memanggilnya.
"Ken … kamu sudah pulang?" panggil Carol.
Mendengar suara Carol yang memanggilnya, Ken menghentikan langkahnya lalu menileh ke sumber suara. Melihat Carol yang berdiri di di depan meja makan dengan menggenggam segelas air putih, membuat Ken berjalan menghampirinya.
"Mama, Dira mana? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Mama tidak mengangkat telepon Ken?" tanya Ken beruntun tanpa jeda.
Carol tersenyum. "Dira ada di kamarnya, dan Ponsel mama tadi kehabisan baterai."
Melihat Ekspresi Carol yang biasa saja tanpa ada rasa khawatir sedikitpun membuat Ken sedikit curiga. "Kenapa ekspresi Mama begitu tenang? Mama tidak sedang ngerjain Ken kan, untuk segera pulang?" Ken menatap lekat-lekat kearah Carol.
"Kalau iya memangnya kenapa?" jawab Carol dengan wajah tanpa dosa.
Ken mengerutkan keningnya dengan mata terbelalak ketika mendengar jawaban dari Carol. "Jadi Mama ..."
" Lebih baik Kamu segera naik ke atas saja untuk melihat bagaimana kondisi istri kamu! " Sela Carol yang berlalu pergi meninggalkan Ken yang masih diam mematung tak mengerti dengan sikap mamanya. Sedangkan Carol tersenyum puas, melihat dirinya berhasil membuat anak semata wayangnya itu bingung.
" Mama! "pekik Ken yang tak di hiraukan oleh Carol.
Dwngan wajah yang sedikit kesal, Ken segera berjalan menuju kamarnya untuk melihat bagaimana kondisi Dira yang sebenarnya. Sesampainya di depan kamarnya Ken membuka pintu dengan kasar yang membuat Dira terkejut. Ken terbelalak keltika melihat Dira yang sedang memegang gelas serta ada botol obat di atas nakas, Ken segera berlari menghampirinya.
"Stop! Kamu mau minum obat apa sayang?" Ken sudah merampas obat yang ada di tangan Dira. Sedangkan Dira terdiam melihat sikap aneh suaminya.
"Mas kenapa sih? Sini obatnya!" pinta Dira.
Ken tidak memberikan obat itu, justru mengambil sebuah botol obat yang ada di atas nakas dan membacanya. Ia mengerutkan keningnya ketika membaca tulisan yang ada di kemasan botol itu. "Blackmores pragnancy?"
"Ini obat apa Sayang? Kenapa kamu meminumnya?" cetus Ken dengan tatapan marah.
"Itu vitamin buat ibu hamil!" jawab Dira.
__ADS_1
Mendengar ucapan dari Dira, ken sedikit bingung dan lola mencernanya. Ibu hamil! "Apa kamu hamil?" Ken sudah berjongkok di hadapan Dira.
Dira menjawab dengan sebuah anggukan kepala. "Iya aku hamil, " jawabnya seraya tersenyum.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Ken segera memeluk Dira erat. Ia benar-benar bahagia ketika mendengar dua kata yang di ucapkan dira, semua kekhawatiran serta amarah hilang lebur menjadi abu. Perasaanya sungguh benar-benar bahagia ketika mendengar bahwa Dira hamil sampai tak terasa air matanya menetes membasahi pipi seorang Kenzo.
"Makasih sayang," Ken melepaskan pelukanya lalu menghujani wajah Dira dengan ciuman. Kemudian ia beralih memegang perut Dira yang masih rata.
"Bukankah tadi pagi katanya negatif, lalu kenapa sekarang hamil?" tanya Ken yang masih bingung ketika Dira tiba-tiba mengatakan bahwa ia tengah hamil karena jelas tadi pagi ia ikut melihat hasil tespek yang mengatakan negatif.
Dira mengambil sebuah hasil usg yang ada di dalam tasnya lalu memberikannya kepada Ken dan menceritakan yang terjadi sebelumnya.
"Sayang, apa kamu yakin ini anak kita? Kenapa seperti biji kacang?" Ken terus memperhatikan hasil usg Dira.
Dira tertawa melihat ekspresi Ken yang tak bisa di jelaskan itu. "Tentu saja dia masih kecil, karena dia masih berusia 6 minggu!" j
"Apa Kean dan Lean juga dulu sebesar ini?" tanya Ken kembali.
" Tentu saja, tetapi dulu ada dua biji kacang di situ. Sedangkan sekarang hanya ada satu karena dia tunggal, "papar Dira.
Ken meletakkan kepalanya di depan perut Dira dan menciumnya.
" Mas sudah ah, geli tau! " protes Dira yang sudah tak tahan dengan sikap Ken yang belum saja berhenti mencium perutnya.
" Habisnya mas seneng banget, mendengar bahwa Mas akan memiliki seorang anak lagi. Meskipun ini anak kedua tapi ini seperti hal yang pertama Mas rasakan … "Ken tersenyum simpul seraya menatap nanar ke arah Dira. Dia merasa sangat menyesal Karena dulu tak ada di samping Dira saat hamil Kean dan Lean.
Ketika mendengar Kean dan Lean sudah pulang Ken ken bergegas beranjak turun dari atas ranjang, untuk keluar memanggil Kean dan Lean. Ia sudah tak sabar melihat bagaimana ekspresk Kean dan Lean ketika mendengar bahwa mereka akan punya adik.
"Kean, Lean …" Panggil Ken kepada Kean dan Lean yang berjalan menuju kamarny.
Kean dan Lean menoleh ketika mendengar ada yang memanggil mereka. Ketika melihat siapa yang memanggilnya Kean dan Lean segera menghampiri Ken untuk bersalaman. "Papa! Kok tumben jam segini sudah pulang?" tanya Kean penasaran karena tidak biasanya palanya sudah ada di rumah jam segini.
"Em... Apa kalian tidak suka kalau papa pulang cepat?"
Kean dan Lean serentak menjawab dengan gelengan kepala
"Oh ya, papa ada berita baik buat kalian," papar Ken dengan tersenyum simpul.
__ADS_1
" Ada berita apa pa? "tanya Lean antusias.
" Kalian masuk dulu ke kamar. " Ken mengajak mereka berdua berjalan memasuki kamarnya dan menghampiri Dira. Kean dan Lean segera mencium tangan Dira bergantian.
" Mama tumben sudah cantik? Habis dari mana?"
Mendengar apa yang dikatakan Lean Dira. Menautkan kedua alisnya. Ia tak mengerti kenapa anaknya berkata seperti itu. Sesangkan Kean langsung menyenggol sikut Lean.
"Apaan sih kak? Memang benar kok, akhir-akhir ini mama kan biasanya selalu tidur terus. Jadi gak salah kan kalau aku bertanya seperti itu, ketika melihat mama sudah cantik dan rapi jam segini!" cetus Lean dengan wajah datar.
Ken dan Dira hanya tersenyum ketika melihat Lean yang begitu terus terang.
" Oh ya, papa tadi bilang ada berita, berita apa? " tanya Kean yang sidah penasaran.
" Em... Papa ada berita gembira buat kalian, " Kean dan Lean langsung antusias mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh Ken. "Beritanya adalah ... Kalian akan ..." Ken tak melanjutkan ucapanya. Sedangkan Kean sudah menunggu jawaban selanjutnya.
" Kita akan apa pa? Jangan setengah-setwngah dong pa ... Kebiasaan deh ..." gerutu Lean yang sudah tak sabar.
" Kalian akan jadi kakak! "sahut Dira yang kasihan melihat mereka yang sudah penasaran tapi di gantung oleh Ken.
Mendengar perkataan Dira, ia segera menghampiri Dira.
" Mama serius? " tanya Kean dengan tersenyum simpul.
" Iya... Kalian akan jadi seorang kakak karwna di dalam perut mama sekarang ada calon adik kalian."
" Hore … Lean sekarang sudah jadi kakak bukan adik lagi." Seru Lean dengan senyum mengembang dan berloncat-loncat gembira.
Ken dan Dira melihat Lean yang begitu gembira menjadi ikut senang.
" Ma ... Nama adeknya siapa? "tanya Lean antusias.
Dira menggeleng karena dia belum memberikan nama.
" Gimana kalau nama adiknya Anne! "imbuh Kean yang sudah menyiapkan sebuah panggilan untuk adiknya.
" Bukankah itu nama kita!"sahut Kean.
__ADS_1
...****************...