Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Pengganggu! (S2)


__ADS_3

Setelah pintu terbuka, terlihat wajah Anne yang tak merasa bersalah sedikitpun berdiri di depan pintu kamar Ken .


"Papa baru selesai sholat?" tanya Anne ketika melihat Ken masih memakai pakaian sholat.


"Iya, ada apa, Anne? Kamu gak tidur siang?"


"Anne gak biasa tidur siang." Tanpa permisi Anne langsung menyelonong masuk ke kamar Ken untuk mencari Dira.


"Anne ...," panggil Ken yang tak di hiraukan oleh Anne.


"Mama ..." seru Anne seraya memeluk Dira. Dira pun membalas pelukan Anne.


"Ada apa sayang? Anne gak tidur siang?" tanya Dira.


"Enggak! Oh, Iya. Anne mau bilang kalau baksonya udah datang. Jadi, kita makan bersama di bawah yuk," ajak anne.


Ken mengerutkan dahinya, ketika mendengar Anne datang hanya karena mau mengajak Dira makan bakso.


"Oh, ya? Yaudah kita turun ke bawah." Dira melepaskan pelukan Anne, lalu melipat mukenahnya.


"Sayang ...," panggil Ken.


"Iya mas, ada apa?" tanya Dira.


"Kamu mau kemana?"


"Mau turun ke bawah, makan bakso sama Anne," jawab Dira.


"Terus ... Mas, gimana?"


Anne dan dira saling pandang ketika melihat sikap Ken seperti anak kecil yang tak tahu harus bagaimana. Mungkin Ken sedang mengalami puber kedua.


"Ya, kalau mas mau makan bakso ya ikut turun juga," jawab Dira.


Ken terperangah ketika melihat istrinya tak paham dengan kode yang dia berikan. Padahal maksud Ken bagaimana dengan quality time mereka yang tertunda jika Dira turun ke bawah.


"Sudahlah, kalian turun saja duluan," pungkas Ken yang sudah memalingkan wajah.


"Papa kenapa, Ma? Apakah Marah?" bisik Anne yang hanya di jawab gelengan kepala oleh Dira. Karena dia juga tak tahu dengan maksud dari suaminya itu.


Setelah itu, Dira dan Anne turun ke lantai bawah untuk makan bakso yang telah di pesan Anne di meja makan. Sebelumnya Dira memang ingin memakan bakso karena dalam perjamuan tadi tak ada makanan itu.

__ADS_1


Melihat berbagai macam bakso tersedia di atas meja membuat Mata Dira bersinar, entah kenapa sejak makan bakso pertama kali bersama Ken tempo hari. Dia menjadi sangat menyukai makanan ini, tapi gara-gara sibuk, dia tak bisa memakannya. Dan akhirnya, hari ini dia bisa kembali memakannya kembali.


"Oh, ya. Apakah hanya kita berdua yang memakannya?" tanya Dira saat melihat hanya ada mereka berdua di meja makan.


"Oh, Nggak kok ma. Sebentar lagi juga semuanya datang," jawab anne.


Dan tak lama kemudian, apa yang dikatakan Anne benar. Tiba-tiba Kean, Lean, Jessy, dan Brian datang.


"Siang, Ma," sapa Kean dan Lean.


"Halo, Mom," sapa Brian.


Dira hanya tersenyum membalas sapaan mereka yang berbeda.


"Makanan apa ini namanya?" tanya Jessy yang penasaran karena ini adalah pertama kalinya dia memakannya.


"Meatball," jawab Anne. Kemudian menyuruh Jessy dan Brian untuk mencicipi baksonya.


Sedangkan Kean dan Lean sudah mengambil bakso sesuai selera mereka. Di meja makan, banyak sekali bakso berbagai topping serta masakan. Ada bakso original, beranak, bakso iga, bakso bakar, bakso mercon, bakso isi keju, dan lain sebagainya.


Hari ini semacam pesta bakso di kediaman Fabio karena Anne memesan bakso banyak sekali, tetapi orang yang ada di rumah memang semuanya menyukai bakso. Jadi, yang memakan bukan hanya mereka, tetapi para maid dan pegawai di rumah Fabio juga akan ikut makan bakso.


"Bagaimana Jess? Apakah sesuai dengan seleramu?" tanya Anne.


"Ini luar biasa enak." Jessy kembali memakan baksonya, raut wajahnya terlihat begitu bahagia dan menikmati apa yang sedang dia makan saat ini.


"Papa kemana, Ma? Kenapa belum turun?" tanya Kean saat melihat tak ada ken di meja makan.


"Oh, Papa ada di kamar," jawab Dira.


"Kok tumben Papa gak turun ketika ada bakso Favoritnya?" Lean sedikit curiga karena Ken juga termasuk pecinta bakso.


"Entahlah, dari sejak membukakan pintu, wajah Papa sudah terlihat aneh. Terus di tambah Aku mengajak mama pergi, wajahnya jauh lebih aneh seperti ... terlihat kesal begitu!" jelas Anne.


Lean mengerutkan keningnya dan tersenyum. "Sepertinya Kamu datang di waktu yang tak tepat, Anne."


Khuk ... Khuk ...


Dira tersedak saat mendengar ucapan Lean yang mengatakan kalau Anne datang di waktu yang tak tepat. Tiba-tiba Ia teringat kalau Anne memang datang di waktu Dira dan Ken masih ...


" Mama kenapa?" kalau makan hati-hati Ma," ucap Anne yang sudah menyodorkan segelas air putih di depan Dira.

__ADS_1


Dira segera mengambil air minum yang di berikan oleh Anne, dan meminumnya. Sedangkan Lean mencoba menahan senyumnya karena ternyata tebakannya benar. Meskipun Lean belum pernah menikah, dia masih ingat betul bagaimana sikap Ken kepada Dira.


Mungkin waktu itu, Lean masih terlalu kecil. Jadi, dia tak paham dan juga sering mengganggu. Tapi, setelah dewasa dan sering mendengar cerita dari teman-temannya yang sudah menikah, Ia jadi tahu bagaimana sikap seorang pengantin baru. Apalagi melihat Ken dan Dira yang sudah berpisah begitu lama, pasti Ken sudah tak tahan lagi untuk menumpahkan rasa rindunya.


Semua terlihat bingung, ketika melihat Dira tiba-tiba tersedak. Sepertinya hanya Jessy dan Lean saja yang paham dengan situasi yang terjadi.


Wajah Dira terlihat memerah akibat tersedak dan malu karena ketahuan oleh Lean. Dira segera menghabiskan makannya, dan pamit untuk kembali ke kamar dengan alasan membawakan Ken bakso.


"Mama kenapa ya, Kak? Kok tiba-tiba terlihat aneh juga," tanya Anne.


"Sudah, anak kecil gak usah banyak berpikir yang aneh-aneh. Makan aja yang banyak! Lain kali kalau gak ada sesuatu yang penting, jangan asal mengetuk pintu kamar Papa dan Mama sembarangan," pungkas Lean yang memberikan bakso lagi ke mangkok makan Anne.


"Kakak! Kok di tambahin lagi, sih! Anne nanti kalau gemuk gimana?" Anne memanyunkan bibirnya, lalu mencoba mengembalikan bakso itu ke mangkok Lean.


Setelah itu, terjadilah saling mengembalikan bakso antara Lean dan Anne. Sedangkan Brian tersenyum melihat interaksi mereka yang terlihat menggemaskan.


" Sudah, cukup! Lean, yang besar ngalah!" bentak Kean yang sudah tak tahan mendengar perdebatan mereka. Sedangkan Anne menjulurkan lidahnya saat melihat Kean memarahi Lean dan membelanya.


"Ah ... Gak seru! Kebiasaan, deh Jadi orang jangan serius mulu dengan memasang wajah datar! Sekali-kali bercanda napa, nanti cepet tua loh!" ledek Lean yang kembali memakan baksonya.


Kean menjitak kepala Lean yang sudah bersikap tak sopan denganya.


"Au, sakit tau!" protes Lean dengan memasang wajah tak suka.


"Mangkanya jangan bersikap tidak sopan dengan orang yang lebih tua!" pungkas Kean yang sudah bangun dari tempat duduknya.


"Dasar! Tua beberapa menit aja, bangga!" teriak Lean yang tak di hiraukan oleh Kean.


Jessy hanya bisa mengerutkan keningnya saat melihat interaksi mereka yang terlihat seperti anak kecil. Sikap mereka ketika di rumah jauh berbeda dengan image mereka ketika bekerja.


Lean yang terlihat serius dan tegas saat bekerja, ternyata sangat jahil ketika berada di rumah bersama keluarganya. Begitupun dengan Kean yang terlihat cuek, ternyata begitu peduli dan sangat menyayangi adiknya ketika melihat Anne di tindas dengan sikap coolnya.


Keluarga ini terlihat penuh dengan warna-warni kebahagiaan, batin Brian.


Entah kenapa dia merasa senang ketika melihat interaksi keluarga ini, mungkin karena tidak monoton seperti kehidupannya. Selama ini Brian tak pernah memiliki saudara, sehingga tak ada saudara yang berdebat dengannya seperti Kean, Lean dan Anne.


...****************...


Maaaf ya... Baru up karena kemarin lagi kurang enak badan, dan malam mau ngetik ketiduran dulu. Jadi, baru bisa up sekarang. Gimana? Suka gak dengan part ini.


Kalau suka jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya...

__ADS_1


__ADS_2