
Melihat Senja dan Nala kembali akur saling bekerjasama dalam membersihkan barang-barang Nathan, membuat Rian merasa bahagia.
"Apa yang sudah terjadi dengan mami, Pi?" tanya Nathan.
Rian mengerutkan keningnya ketika mendengar pertanyaan Nathan. "Papi juga tidak tahu, mungkin Mami sudah sadar kalau kalian lebih penting dari pekerjaannya," jawabnya dengan tersenyum.
"Selesai!" seru Nala dan Senja setelah selesai packing barang Nathan.
"Ayo kita pulang." Nala sudah siap dengan barang-barangnya.
"Sebelum pulang kita bertemu dengan seseorang dulu, ya. Kebetulan dia ada di rumah sakit ini juga."
"Siapa, Pi?" tanya Nala yang di angguki Senja.
"Nanti kalian akan tahu sendiri, yang jelas ini akan jadi kejutan bagi Mami," pungkas Rian.
Senja dan Nala saling pandang, mereka berdua sama-sama penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Rian. Kejutan apa yang ada di rumah sakit?
Setelah itu mereka berjalan bersama, Rian mendorong kursi roda Nathan. Sedangkan Senja dan Nala berjalan sambil bergandengan tangan. Nala merasa bahagia melihat keluarganya kini sudah kembali hangat seperti dulu.
"Kita mau ketemu kak Lean, Pi?" tanya Nala ketika melihat mereka berhenti di ruang istirahat milik Lean.
Rian hanya tersenyum, lalu mengetuk pintu ruangan Lean. Tak lama kemudian, terlihat Lean membukakan pintu.
"Om Rian, Tante Senja, Nala, Nathan, kalian sudah datang?" sapa Lean yang segera membuka pintu lebih lebar lagi agar kursi roda Nathan bisa masuk.
Di dalam ruangan, sudah ada Dira yang duduk di sofa. Mengetahui bahwa Dira sedang berada di rumah sakit, serta melihat bagaimana dekatnya Senja dan Dira dulu, membuat Rian ingin segera mempertemukan mereka berdua.
"Rian," sapa Dira yang segera bangun dari duduknya.
Mendengar suara yang tak asing baginya, membuat Senja penasaran dan ingin segera melihat siapa yang menyapa Rian.
Ketika melihat dua orang wanita yang baru saja masuk, membuat Dira tersenyum kepada mereka. Saat melihat siapa orang itu, membuat Senja terdiam sejenak. Dia benar-benar terkejut dengan apa yang di lihatnya saat ini, sampai membuat tas dalam genggamanya terjatuh.
Bagaikan mimpi di pagi hari, ketika bisa melihat sosok wanita yang dulu sangat dia kagumi, sekarang berdiri di depannya. Sosok wanita yang menjadi kakak, sahabat, sekaligus salah satu panutan selain ibunya.
Ketika mendengar Dira meninggal dunia, Senja juga termasuk orang yang sangat kehilangan sosok Dira.
"Mbak Dira ...," Senja berjalan menghampiri Dira dengan wajah yang masih terlihat terkejut.
"Hai Sen?" sapa Dira dengan tersenyum.
Sebelumnya Lean mengatakan bahwa Rian akan datang bersama kedua anak dan istrinya ingin bertemu dengan Dira. Melihat Brian juga yang masih belum bisa di jenguk, membuat Dira menyetujui pertemuan itu.
Sebelum bertemu, Dira juga banyak bertanya-tanya tentang kedekatannya dengan Senja dulu seperti apa, dan Lean menceritakan apa yang dia ketahui.
Tanpa menjawab sapaan dari Dira, Senja justru memeluk Dira dengan erat. Dira menerima pelukan itu, pelukan Senja sama seperti pelukan dari chika. Pelukan rindu yang begitu dalam kepada seseorang.
Nathan yang tak tahu apa-apa hanya bisa terdiam, dan sedikit bingung. Sedangkan Rian dan Lean ikut terharu saat melihat reaksi Senja sama seperti mereka saat pertama kali bertemu dengan Dira. Terkejut! Satu kata yang mereka rasakan.
__ADS_1
Bagaimana tidak terkejut, tiba-tiba bisa bertemu lagi dengan seseorang yang telah di anggap meninggal selama belasan tahun lamanya. Apalagi orang itu adalah seseorang yang penting dalam hidup kita, tidak pingsan dan serangan jantung saja itu sudah cukup.
"Ini beneran mbak Dira?" tanya Senja ketika sudah melepaskan pelukannya.
"Iya, ini aku," jawabnya.
Tanpa permisi, buliran putih nan hangat itu jatuh membasahi pipinya. Senja kembali memeluk Dira.
"Mbak, aku kangen banget ...," lirihnya.
"Mbak juga," jawabnya.
Saat mendengar jawaban Dira, Senja segera melepaskan pelukannya.
"Mbak bohong! Kalau mbak kangen, kenapa mbak pergi begitu lama? Kemana saja mbak selama ini!" cerca Senja sambil mengusap air matanya.
Dira tersenyum ketika melihat wajah Senja seperti anak kecil yang sedang merajuk, padahal usianya sudah tak lagi muda.
" Kita duduk dulu, ya. " ajak Dira yang di ikuti oleh Senja.
Ketika melihat semuanya sudah duduk, Senja kembali bertanya dengan Dira.
"Mbak, sekarang jawab pertanyaanku tadi!" pinta Senja yang sudah tak sabar.
"Mbak, ada di Negeri orang yang sangat jauh," pungkas Dira.
"Terus, Mas Ken kemarin nikah, mbak tahu?"
Rian, Nala, dan Lean tertawa ketika mendengar pertanyaan Senja. Melihat semuanya tertawa, membuat Senja memicingkan matanya. Dia mencoba memikirkan apa yang membuat mereka semua tertawa, padahal tak ada yang lucu.
"Jangan bilang___" Senja mulai menebak dan langsung di angguki oleh Dira.
"Papi!" teriak Senja yang membuat Rian tersedak. Minumannya.
Senja menatap Rian dengan tajam, dia tak habis pikir suaminya telah menyembunyikan ini semua darinya.
"Maaf." Hanya satu kata itu yang bisa keluar dari mulutnya, karena tak tahu harus berkata apalagi.
Senja berdecak kesal karena hanya dia yang tak tahu masalah ini. Setelah itu mereka saling bercerita satu sama lain.
***
Di sisi lain, terlihat lelaki tampan tengah sibuk dengan pekerjaannya yang begitu menumpuk. Jika dulu dia hanya di sibukkan dengan koding, mengecek sistem keamanan, mengawasi proyek, sekarang bertambah mengurus masalah yang terjadi dengan perusahaan juga.
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar.
"Masuk," seru suara berat dari dalam ruangan.
Tak lama kemudian, pintu telah terbuka. Memperlihatkan seorang pria paruh baya yang sangat dia kenal.
__ADS_1
"Papa," sapa Kean.
Awalnya Kean merasa biasa saja, tetapi selang beberapa detik kemudian, Kean mengerutkan keningnya saat melihat Ken tak hanya datang sendiri. Melainkan bersama seorang gadis yang sudah tak asing baginya.
Adinda, Kenapa Papa bisa datang bersama gadis itu? Apa ada sesuatu yang terjadi lagi? batin Kean.
"Masuk Din," ajak Ken saat melihat Dinda masih berdiri di depan pintu.
"Eh, Iya Pak," jawab Dinda sedikit gugup.
Saat ini, detak jantung Dinda berdetak tak menentu. Dia sangat gugup sekali saat berdiri di samping idolanya, di tambah rasa penasaran karena tak mengerti kenapa dia bisa di bawa ke ruangan ini oleh pemilik PT Fabio grup.
Kean berjalan menghampiri Ken, lalu mencium tangannya.
Melihat hal itu, Adinda sedikit terkejut.
Pria Arogan dan dingin itu, ternyata begitu sopan sekali dengan ayahnya! batin Dinda.
"Papa ada urusan apa?" tanya Kean.
"Papa kesini mau memberitahukan bahwa mulai hari ini, Adinda akan magang menjadi asistenmu," pungkas Ken.
"Asisten!" seru Adinda dan Kean bersamaan. Mereka berdua sama-sama terkejut saat mendengar ucapan Ken.
Sebelumnya Adinda tidak tahu kalau pekerjaan yang akan dia lakukan adalah menjadi asistennya Kean. Karena setahu Dinda dia mengajukan magang ke perusahaan perangkat lunak milih PT Fabio, bukan menjadi asisten direktur utama.
"Apa Kean tidak salah dengar, Pa? Bukankah sudah ada Aksa, jadi buat apa asisten lagi?" tanya Kean.
"Kamu tidak salah dengar, Adinda juga akan menjadi asistenmu membantu Aksa," jelas Ken.
"Tapi, Pa. Bagi Kean Aksa saja sudah cukup, tak perlu orang lain lagi. Apalagi seorang gadis ceroboh seperti dia!" elak Kean.
Adinda sedikit kesal ketika mendengar Kean menolaknya, serta menghina dirinya dengan sebutan gadis ceroboh.
"Apa yang di katakan Pak Kean ada benarnya, beliau tidak mungkin membutuhkan GADIS CEROBOH seperti saya sebagai asistennya," ucap Adinda dengan penuh penekanan.
"Lagi pula Saya juga mengajukan magang sebagai programer di perusahaan perangkat lunak PT Fabio grup, bukan menjadi seorang asisten Pak Kean." Adinda mencoba menjelaskan bahwa dia juga sebenarnya tidak ingin menjadi asisten.
"Betul, Kamu memang mengajukan hal itu. Tapi setelah melihat kemampuanmu tempo hari, membuat Saya berpikir kalau Kamu lebih cocok bekerjasama dengan Kean, dan kemampuanmu juga akan jauh lebih terasah lagi, " pungkas Ken.
Melihat Ken yang terus berusaha meyakinkan Adinda, membuat Kean curiga kalau ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Ken.
...****************...
Author mau mengucapkan Terimakasih banyak untuk yang sudah mendoakan serta memberi saran. Doa baik, akan kembali baik untuk kalian. ๐๐
Apalagi buat kalian yang sudah setia menunggu novel ini untuk up. Terima kasih banyak๐, tanpa kalian author bukanlah siapa-siapa.
Semoga tidak bosan dengan karya receh author ini๐
__ADS_1