Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Sikap manis Lean


__ADS_3

Hari semakin malam, kean dan Lean juga sudah mulai lelah bermain. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang, dalam perjalanan pulang kean dan Lean tertidur di mobil.


"Biar saya bantu gendong mb si kembar," tawar pak Salman.


"Iya ... Makasih ya pak..." ucap Dira yang sudah meng gendong Lean di tanganya. Sedangkan Kean di gendong oleh pak Salman.


Setelah menidurkan Kean dan Lean. Pak Salman pamit pulang kembali ke RS. Besok pagi akan datang lagi menjemput Dira, tapi ditolak dengan Dira.


Suara langkah berjalan mendekat ke kamar Dira. Nisa yang datang menghampirinya. Melihat kedatangan Nisa, Dira langsung mencium tangan Nisa.


"Kok malam sekali pulangnya Dir?" tanyanya kepada Dira.


"Iya mi' tadi Kean sama Lean minta main dulu di Alun-alun" jawabnya.


"Oh.... Terus bagaimana kabarnya Nak Ken? Apa operasinya berjalan lancar?."


"Alhamdulillah lancar mi',"


"Ya sudah kalau begitu, kamu ikut istirahat juga sudah malam!." Yang dibalas dengan anggukan oleh Dira. Setelahnya Nisa melenggang pergi keluar dari Kamar Dira.


...----------------...


Malam yang gelap gulita telah pergi menyisakan kenangan yang terjadi kemarin. Sekarang hari baru telah tiba lagi untuk melukiskan kenangan baru yang akan dilalui hari ini.


Pemandangan fajar shodiq yang sangat indah pun telah muncul. Suara senandung adzan berkumandang saling sahut menyahut dari masjid ke masjid. Para umat muslim sudah berbondong-bondong untuk datang ke masjid untuk melaksanakan sholat subuh. Karena terlalu capek, Dira juga baru bangun dari tidurnya. Dibangunkanya dua malaikat kecil itu dengan pelan dan sabar.


Dengan rasa kantuk yang masih melekat, mereka tetap bangun untuk mengambil air wudhu. Selesai mengambil air wudhu mereka berjalan menuju mushola yang ada di dekat rumah.


Banyak para warga yang menyapa Dira dan si kembar yang di balas dengan senyuman ramah. Semua warga di desa itu memang sangat ramah dan baik kepada Dira. Karena yang mereka tahu Dira bercerai saat mengandung, jadi Mereka menjadi iba dan mengucilkan Dira. Ditambah Dira tinggal bersama orang yang cukup disegani di kampung itu.


Selesai sholat subuh, Dira sudah disibukkan berbelanja ke pasar dan memasak makanan yang akan dibawanya ke rumah sakit.


Semuanya sudah matang dan juga beres, jam menunjukkan pukul 7 pagi. Dira pamit untuk ke Rumah sakit bersama Kean dan Lean.


Sesampainya di rumah sakit. Dira langsung berjalan menuju ruang rawat inap Ken. Selama perjalanan menuju kamar Ken, Dira mendengar desas desus para perawat sedang bergosip.


"Eh kalian tahu tentang gosip yang lagi beredar di rumah tentang seorang pasien yang tampan, tinggi, gagah ternyata sangat takut dengan jarum suntik. Terus disaat mau masuk ruang operasi, sempat-sempatnya melamar seorang wanita dan sepertinya tidak di terima. Ada yang lebih parah lagi dia minta bius sepenuhnya saat operasi"ucap seorang perawat dengan lipstik merah Di bibirnya.


Lean yang mendengar hal itu, merasa sangat kesal. Apa mereka tidak ada kerjaan, pagi-pagi sudah bergosip tentang papaku! Awas aja ya... Aku akan memberikan kalian semua pelajaran. Dengan mengangkat sudut bibirnya, seperti sedang merencanakan sesuatu.

__ADS_1


Dira hanya mengambil nafas panjang, dan terus berjalan tanpa memperdulikan ucapan mereka.


Akhirnya dira sampai di depan kamar VVIP. Karena tidak sabar Lean langsung membuka pintu tanpa mengetuk dulu.


Melihat Ken yang sudah siuman, Lean langsung berlari menuju ranjang Ken.


"Papa....."panggil Lean yang membuat semua terkejut sampai Dira menghentikan langkahnya. Karena mendengar Lean memanggil Ken dengan sebutan papa.


Apa Lean sebegitu inginya memiliki seorang papa! Batin Dira.


Ken tersenyum lebar mendengar panggilan Lean seperti ada desiran halus yang membuatnya merasa bahagia. Ken ingin memeluk Kean, tapi bekas operasinya sangat sakit, ketika dipakai untuk bergerak. Melihat Ken yang seperti itu, Lean berinisiatif untuk naik keranjang dan memeluk Ken.


"Papa sudah baikan?" tanyanya yang masih bergelantungan di leher Ken.


"Lean... Kamu ngapain, nanti kalau bekas operasi om Ken kesenggol kamu gimana? Turun sayang" tutur Dira yang masih meletakkan makanan dan buah-bahan yang ia bawa.


Lean hanya menggeleng, tanda tidak mau.


"Aku gapapa kok Dir, itu Kamu bawa apa?" tanya Ken.


"Oh... Ini makanan dan buah-buahan"jawab Dira yang masih mengeluarkan semua makanan yang dibawanya dari dalam paper bag agar Rendi dan pak Salman bisa segera memakannya.


" Oh... Ini ada Ayam kecap, tumis brokoli, tahu tempe goreng, bubur dan sop daging."


" Wah ... Banyak sekali, pasti itu enak sekali. Rasanya perutku langsung meronta-ronta" ucap Rendi yang tak kalah kelaparanya.


Ken langsung mengkerutkan keningnya, melihat Rendi yang seantusias itu.


"Anda kenapa bos! Apa ada yang sakit?" tanya Rendi tanpa merasa bersalah.


"Kamu gak pulang ke hotel saja! Kan Dira sudah datang."


"Habis makan saya baru pulang. Kasihan kan Dira sudah masak banyak kalau tidak dimakan," tungkasnya.


Mendengar Rendi yang memanggil nama Dira yang sesantai itu, membuatnya semakin merasa kesal. Tapi, tidak ada yang memperhatikan wajah kesal Ken.


"Apa pak Ken mau saya ambilkan sarapan?" tawar Dira.


Rendi yang sudah Asyik makan, mendongakkan kepalanya.

__ADS_1


"Boss belum bisa makan Dir, karena belum bisa buang angin," cetus Rendi yang kembali menyantap makanannya.


Lean yang sudah berganti posisi duduk di samping Ken, langsung menoleh kearah Ken.


"Papa belum kentut!" tanyanya spontan.


Ken hanya berdiam, rasanya sangat malu sekali saat membahas soal Ken yang belum bisa buang angin. Melihat Ken yang hanya berdiam saja Lean langsung mengeluarkan permen karet bebas gula yang sudah di belinya tadi.


Lean membuka permen karet itu dan menyuruh Ken untuk membuka mulut, dan memasukkan permen karet kedalam mulut Ken. Ken ingin membantah...


"Papa makan saja, itu bisa membuat papa bisa cepat kentut, terus kalau sudah merasa ingin kentut jangan di tahan!" Cetusnya dengan wajah serius.


Ken hanya bisa mematuhi perkataan putranya itu.


"Kean... Gak mau duduk disamping papa juga?" tanya Ken yang melihat Kean yang tidak mau mendekati nya sejak kemarin, hanya duduk di sofa dan fokus dengan handphonenya.


Mendengar namanya dipanggil Kean menoleh.


"Tidak... Kean lebih suka duduk disini. Oh ya Om itu belum resmi jadi papa Kean, jadi gak perlu menyebut om sebagai papa Kean!" tungkasnya dengan wajah datar.


Dira menatap Kean yang duduk disampingnya. "Kean... Kalau ngomong sama orang tua yang sopan!" ucap Dira lirih.


Kean tidak memperdulikan ucapan Dira, dia kembali fokus dengan game yang sedang dimainkannya.


Rendi ingi tertawa, tapi ditahan. Boss... Ternyata anda masih harus berjuang lebih keras. Sepertinya dua orang itu lebih sulit ditaklukan. Gumam ya dalam hati.


Sedangkan Ken hanya terdiam setelah mendengar jawaban dari Kean. Ada rasa canggung, malu, dan sedikit sakit karena telah menganggap bahwa dia sudah mendapatkan lampu hijau.


Lean menatap Ken dengan rasa iba, dan kesal dengan ucapan kakaknya.


"Papa gak usah di ambil hati ya... Ucapan kak Kean, dia itu memang seperti itu, Keras kepala!" bisik Lean untuk menghibur Ken, yang dibalas senyuman oleh ken.


...****************...


Gimana guys.... Tembus 200 like dan 20 komentar aku akan up lagi.


Happy Reading dan happy weekend guys....maaf telat.


Jangan luPa Like, komen, vote dan klik Favoritnya ya..

__ADS_1


Kalau kalian suka dengan novel genre perjodohan bisa mampir ke novelku satunya. Judulnya Antara Jodoh dan Cinta. Terima kasih 🙏


__ADS_2