Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Meninggalnya Danang dan Niken


__ADS_3

~Bertaubatlah sebelum ajal menjemputmu karena sesungguhnya azab Allah sangat pedih~


Ketika mendengar Niken yang mengatakan bahwa Ayah Dira sedang kritis di rumah sakit, Ken menjadi terdiam membisu. Meskipun ia tahu bahwa Dira telah di buang oleh keluarganya,  Ken tahu kalau sebenarnya Dira masih sangat peduli dengan keadaan keluarganya. 


Bagaimana reaksi Dira ketika mengetahui ayahnya yang kritis? Batin Ken.


"Anda tidak berbohong kan?" tanya Ken untuk memastikan lagi.  


Niken menaikkan sudut bibirnya. " Buat apa saya berbohong, kalau kamu gak percaya kamu boleh ikut saya ke rumah sakit untuk memastikan kebenarannya," tawar Niken yang percaya diri.


Setelah memikirkan nya Ken memutuskan untuk ikut bersama Niken tanpa Dira, karena dia ingin memastikan terlebih dahulu bahwa omongan wanita ini benar bukan tipuan. Akhirnya Ken menyuruh Rendi yang berangkat ke kantor terlebih dulu, sedangkan Ken pergi bersama Niken serta dua pengawal yang mendampinginya. 


Awalnya Ken tak ingin membawa pengawal, tetapi Rendi memaksa agar Ken tetap membawa pengawal sebagai bentuk antisipasi.


"Ren saya bukan anak kecil yang kemana-mana harus bawa Bodyguard!"


"Boss kita tidak pernah tau watak seseorang, jadi lebih baik sedia payung sebelum hujan. Lagian kalau misalnya anda kenapa-kenapa, saya juga yang repot serta akan kena omel sama dua nyonya itu," keluh Rendi, akhirnya terpaksa Ken menuruti permintaan Rendi karena dia tidak ingin Dira mengetahui hal ini terlebih dahulu. 


Selang beberapa menit kemudia, mereka sampai di rumah sakit kecil yang dimaksud Niken. Mereka berjalan beriringan menuju kamar rawat Danang, ketika mereka sampai disana terlihat seorang pria tengah terlelap di ranjang pasien. 


Pria paruh baya, dengan rambut yang telah beruban, wajah keriput serta tubuh yang begitu kurus kering. Melihat kondisi pria tua yang terkulai lemas dengan hembusan nafas yang tidak begitu teratur membuatnya merasa iba. 


"Bagaimana, saya tidak bohong kan sama kamu," ujar Niken yang puas karena sudah membuktikan bahwa dia tidak berbohong. Tiba-tiba dia merasa perutnya mulas sekali, akhirnya Dia pergi meninggalkan Ken sendiri di dalam kamar itu. 


Danang yang berpura-pura tidur, ketika mendengar langkah kaki Niken yang sudah menjauh ia berusaha membuka matanya. Ketika ia membuka mata yang pertama dilihat adalah wajah seorang pria tampang yang terus memperhatikan lekat-lekat.


"Anda sudah banguh yah? Apa perlu saya panggilkan Dokter?" tawar Ken. 


"Tidak perlu, saya sebenarnya sudah bangun sejak tadi. Apa kamu suaminya Dira?" tanya Danang dengan suara yang begitu lirih. 


"Iya, Saya suaminya Dira. Perkenalkan nama saya Kenzo, Ayah bisa memanggil saya Ken," pungkas Ken. 


"Kamu tidak perlu memanggil saya dengan  sebutan ayah karena saya bukanlah ayah Dira, dan Silahkan kamu pergi dari sini dan jangan pernah datang kesini atau memberitahu Dira bahwa kita bertemu," papar Danang. 


Ketika mendengar Danang yang tetap tak mengakui Dira, membuat Ken merasa kasihan dengan istrinya. 


" Sebenarnya Apa Salah Dira  sampai Anda masih belum mengakuinya sebagai anak? Bukankah anak tetaplah anak karena tidak ada istilah mantan anak di dunia ini."


Bibir pucatnya mengulum senyum ketika mendengar ucapan Ken. "Dira tak pernah salah, justru saya yang banyak salah sama dia dan saya memang benar-benar bukan ayahnya," pungkas Danang. 


Melihat sorot mata danang  yang terlihat serius dengan ucapannya membuat Ken mengerutkan kening karena bingung antara percaya atau tidak. 


" Lebih baik kamu pergi dari sini dan jangan pernah percaya dengan ucapan wanita licik itu, jangan pernah memberikan sepeser uang kepadanya karena itu akan membuatnya terus ketagihan dengan pemberian kamu."


Di saat Ken ingin menanyakan sesuatu, tiba-tiba teleponnya berdering dan Danang menyuruh agar Ken mengangkat teleponnya terlebih dulu karena berisik takutnya mengganggu pasien yang lain. 

__ADS_1


Ken yang menyadari bahwa ruangan itu ada beberapa orang yang sakit, akhirnya dia mengikuti saran Danang untuk mengangkat teleponnya terlebih dahulu di luar. 


Di saat  Niken kembali dari kamar mandi, Ken sudah  tidak ada di dalam ruangan itu. Seketika Niken membangunkan Danang. 


"Suami Dira tadi kemana?" tanya Niken kepada Danang. 


"Suami Dira siapa?" bukanya menjawab pertanyaan Niken, Danang justru bertanya balik. 


"Ayah gak usah bohong sama ibu, ibu tahu kalau ayah tadi pura-pura tidur kan ? Jadi jawab pertanyaan ibu, apa ayah mengatakan sesuatu sama dia sampai dia pergi?" 


"Buk, tolong suaranya dikecilkan jangan bertengkar di dalam ruangan, kasihan pasien yang lainnyaz terganggu," tegur keluarga pasien yang lain. 


"Iya ayah yang mengusir untuk pergi dari sini. Kan ayah sudah bilang sama ibu untuk jangan pernah ganggu keluarga Dira yang sekarang, tapi kenapa ibu tidak mendengarkan perkataan ayah. Ingat bu, kita itu bukan siap-siapanya Dira justru kita yang sudah mengambil semua harta keluarganya sampai habis tak tersisa. Ja-di … to-long… " seketika Danang kejang-kejang dan …. 


Melihat Danang yang sudah tak sadarkan Diri, bukanya memanggil Dokter Niken justru pergi untuk mencari Ken. Siapa tahu dia masih bisa menemukanya dan ternyata Ken masih ada di depan pintu mendengarkan percakapan mereka tadi. 


Melihat Ken yang masih berdiri di depan pintu dengan sorot mata yang tajam membuat Niken melotot serta tegang bersamaan. Tubuhnya terasa kaku, mulutnya tercekat tak bisa mengatakan apapun, sedangkan bernafas saja ia tak berani. 


"Anda urusi dulu suami anda yang ang sudah meninggal itu, dan jangan pernah mengganggu kehidupan istri saya lagi!" peringati Ken dan segera pergi meninggalkan Niken yang masih diam mematung. 


Melihat Ken yang melenggang pergi tanpa memberikan dia apapun, ingin mengejarnya tapi tangannya segera dicekal oleh keluarga pasien yang ada di dalam ruangan itu. 


" Anda mau kemana? Silahkan urus suami anda terlebih dulu!" ujar salah satu keluarga pasien yang lain.


Setelah tragedi itu, suasana rumah sakit menjadi sangat ramai dan banyak orang yang berkumpul. Entah kenapa tiba-tiba Ken mempunyai perasaan yang tak enak dan berbalik ke belakang. Di saat ia membalikkan badan, ia sudah tak melihat keberadaan Niken yang sejak tadi terus memanggilnya justru ada kerumunan. karena merasa penasaran  Ken mencoba menghampiri kerumunan orang-orang itu daripada ia penasaran. 


Sesampainya di kerumunan, Ken melihat seorang wanita paruh baya yang sudah kejang-kejang serta mata yang melotot dibantu oleh petugas medis untuk di angkat ke atas brankar. 


Melihat bahwa wanita itu adalan Niken, ken terkejut dan segera menghampirinya. 


"Wanita ini kenapa?" tanya Ken kepada perawat laki-laki. 


" Beliau tertabrak brankar dan tiba-tiba sudah seperti ini pak. Terlihat seperti sedang sakaratul maut …" jawabnya yang segera mendorong brankar pasien menuju ruang pemeriksaan. 


Orang-orang yang melihat kondisi Niken yang seperti itu banyak yang berbisik.


"Kasihan ya … kenapa seperti di film - film azab ya… "


"hush gak usah ngomongin orang!"


" yaelah maunya juga gitutapi terlanjur lihat apa mungkin memang kena azab beneran ya? , " sahut orang yang lain. 


Ketika mendengar bisikan para orang-orang itu, Ken jadi teringat oleh Dira. Apa jangan-jangan yang dikatakan oleh orang-orang itu benar,? segera Ken menghubungi Dira. 


......................

__ADS_1


Di atas kasur king size terlihat seorang wanita cantik masih meringkuk dibawah selimut, mendengar handphonenya yang terus berbunyi membuatnya meraba-raba mencari dimana keberadaan handphone itu. Setelah mendapatkanya dengan mata yang terbuka sedikit ia mengangkat panggilan itu. 


Dira : Halo Assalamualaikum. Jawabnya dengan nada serak khas bangun tidur. 


Ken : Sayang kamu belum bangun? Sekarang kamu cepat bangun terus ke rumah sakit pelita, cepetan ya sayang … soalnya darurat, kamu kesini biar diantar oleh pak salaman. 


Mendengar ucapan Ken yang begitu cemas dan khawatir Dira segera bangun dari tidurnya dan masuk ke kamar mandi. Dira mandi dengan cepat kilat serta hanya mengganti pakaiannya tanpa memakai riasan sedikitpun lalu pergi turun kebawah dengan terburu-buru. 


Di sisi lain Ken tengah menunggu kehadiran Istrinya di depan lobi rumah sakit, melihat mobil Dira sudah sampai Ken segera menghampiri istrinya. 


Melihat Ken yang sudah menghampirinya, Dira segera membuka pintu mobil.


"Mas baik-baik saja? Kenapa ada di rumah sakit?" tanya Dira dengan memastikan tubuh suaminya yang tidak apa-apa. 


"Mas tidak apa-apa, tapi ada seseorang yang sepertinya membutuhkan kehadiran kamu," ujar Ken yang segera menggandeng Dira menuju ruangan dimana Niken berada. 


Jujur sebenarnya Ken berat untuk memberitahu Dira tentang hal ini, tapi dia juga tidak tega melihat orang yang sedang sakaratul maut tapi tetap tak bisa meninggal karena dosanya. 


Mereka berdua mempercepat langkahnya, sampai akhirnya mereka sampai di ruangan Niken. Di saat ingin  memasuki ruangan itu aroma yang keluar dari ruangan itu sungguh menyengat sampai tak ada orang yang mau ada di dalam ruangan itu. Tinggal seorang wanita paruh baya yang terus kejang-kejang dengan bola mata melotot sedang terbaring di atas brankar. 


"Dia siapa mas?" tanya Dira yang sudah menutup hidungnya dengan tangan. 


"Ibu tiri kamu!" jawab Ken yang seketika membuat Dira terbelalak dan menatap wajah suaminya Lekat-lekat.


Ada rasa tak percaya juga terkejut, tapi Melihat kondisi Niken yang begitu mengenaskan, Dira segera menghampirinya untuk melihat apakah itu benar Niken atau bukan. Ketika melihat bahwa wanita itu benar-benar Niken Dira segera menutup mulutnya karena terkejut dan tak terasa air matanya menetes.


"Sayang tuntun dia dan maafkan semua kesalahanya ya. Kasihan dia sudah hampir satu jam mengalami sakaratul maut seperti ini tapi tetap tidak bisa meninggal," papar Ken.


Tanpa berpikir panjang Dira memegang tangan Niken. "Bu Dira ada disini, sebenarnya apa yang terjadi sampai ibu bisa seperti ini. Sebenarnya Dira sudah memaafkan ibu sejak lama dan tidak ada dendam sedikitpun. Jika ibu ingin pergi, pergilah dengan tenang. Ibu ikuti Dira ya …. 


أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ


"Asyhadu an laa ilaaha illallaah," tuntun Dira. "wa asyhadu anna muhammadar rasulullah." meskipun Niken tak sempat bisa mengikuti apa yang diucapkan Dira, tapi setelah bunyi syahadat yang terakhir Niken telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. 


إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ


Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun," ucap serentak Ken dan Dira ketika melihat Niken yang sudah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Setelah itu Dira mengusap wajahnya untuk menutup mata Niken yang masih melotot.


...****************...


Akhirnya.... Part ini sangat panjang sekali semoga kalian tidak bosan membacanya ya karena terlalu panjangg.


Jangan lupa like, komen, vote, hadiah serta klik favorit.


Maaf Author belum bisa crazy up karena sambil revisj tulisan cerita awal

__ADS_1


__ADS_2