
Selesai meeting Dira dan Ken pergi ke kantor PT Fabio grup. Berhubung sudah waktunya jam kerja, lobi kantor terlihat sepi. Mereka berdua segera berjalan menuju ruangan Ken.
Rendi yang melihat Diran dan Ken sudah datang, terperangah karena seharusnya meeting belum selesai.
"Pagi, bos." Sapa Rendi dengan menundukkan kepalanya.
"Pagi juga," jawab Dira dan Ken bersamaan.
"Oh, ya Ren. Tolong buatkan surat pembatalan kontrak kerjasama dengan perusahan xx karena saya tidak mau bekerjasama dengan perusahan itu lagi. Kalau bisa blacklist!" pinta Ken yang dijawab dengan sebuah anggukan oleh Rendi.
Setelah memberikan perintah itu, Ken dan Dira masuk kedalam ruangan kerjanya. Sesampainya di dalam ruangan, Dira segera merebahkan tubuhnya diatas sofa karena merasa capek. Sedangkan Ken, langsung duduk di kursi kerjanya.
Ken mulai membuka dokumen-dokumen yang sudah menumpuk diatas meja kerjanya. Sedangkan, Dira mengeluarkan camilan yang ia bawa dalam paper bag. Saat bepergian, Dira tidak akan lupa membawa camilan dan juga jus karena selama hamil dia mudah sekali lapar.
Melihat wajah Ken yang begitu serius dalam bekerja, membuatnya terlihat semakin tampan. Dira terus saja menatap wajah Ken, sampai ia tertidur di sofa. Mendengar tak ada pergerakan atau suara kunyahan, membuat Ken mengedarkan pandangannya.
Ia tersenyum, ketika melihat wajah polos istrinya tengah tertidur di sofa sambil memeluk toples camilan. Ken bangun dari duduknya, lalu berjalan menuju sofa.
"Bisa-bisanya kamu tertidur saat makan sayang," lirih Ken dengan menggelengkan kepalanya karena tak percaya melihat Dira tertidur disaat sedang makan.
Ken mengambil toples camilan itu dan meletakkannya di atas meja. Lalu, perlahan ia mengangkat tubuh Dira yang mulai bertambah berat menuju ruangan pribadinya. Ken membaringkan Dira perlahan agar ia tak bangun dari tidurnya.
"Sepertinya berat kamu sudah bertambah cukup banyak sayang!" Ken tersenyum melihat Dira tertidur tengah menggertakkan giginya seperti sedang makan.
Mendengar ada suara ketukan pintu dari luar, Ken bangun dari tempat duduknya berjalan untuk membukakan pintu.
" Kamu, Ren! Ada apa? "tanya Ken yang berlalu pergi meninggalkan Rendi setelah membukakan pintu.
" Saya mau melaporkan informasi terkait pencarian tentang ayah nyonya Dira bos, "papar Rendi dengan menyodorkan sebuah perekam suara kepada Ken.
__ADS_1
Ken mengambil perekam suara itu, dan duduk di bangkunya. Ken memencet tombol on dan terdengar suara lelaki yang tengah menceritakan kejadian 17 tahun lalu.
Hari dimana pak Danang dan Daniel bertengkar, dia datang mencari saya. Sebelumnya dia memang sudah mencaritahu informasi para pegawai yang sempat bermasalah dengan pak Daniel, datanglah ia mencari saya dengan menawarkan sebuah kerjasama dan bayaran yang cukup menggiurkan buat saya yang pengangguran.
Keesokan harinya saya pergi bersama dengan pak Danang untuk terus memantau mobil yang dikendarai pak Daniel. Setelah melihat pak Daniel keluar dari pabrik, Kita berdua mengikutinya sampai di tempat yang sepi kami menghadang jalan.
Dengan wajah yang ditutup oleh topeng hitam, kami mengancam pak Daniel untuk keluar dari mobil. Saat pak Daniel keluar, saya mengira bahwa pak Danang hanya ingin mengambil mobil itu dan menjualnya, tapi ternyata tidak. Ia menusuk pak Daniel dengan pisau yang ia bawa, awalnya saya terkejut melihat hal itu karena apa yang terjadi tidak sesuai dengan rencana awal yang ia bicarakan dengan Saya.
Setelah kejadian itu, pak Danang juga mengancam saya agar tidak memberitahukan kejadian ini dengan siapapun kalau tidak, dia akan membunuh saya. Saya takut dengan ancamannya sehingga sampai saat saya tetap menyimpan rahasia itu rapat-rapat. Setelah kejadian itu, pak Danang juga menyamar menjadi pak Daniel. Hanya itu yang saya tahu.
Di dalam kamar, terlihat Dira yang mulai membuka matanya. Ia mengedarkan pandangan ke seisi ruangan.
"Kok, aku ada disini? Bukanya tadi di sofa ya?" gumam Dira dan mencoba untuk turun dari ranjang.
Saat ia berjalan keluar untuk menemui Ken, ia tidak sengaja mendengarkan pembicaraan Ken dan Rendi.
"Siapa yang palsu Mas? " tanya Dira yang sudah berjalan keluar dari ruangan privat.
"Kenapa kalian diam saja? Siapa yang palsu!" desak Dira yang sudah penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
Ken bangun dari tempat duduknya, mendekati Dira untuk menenangkanya. "Sayang, Kamu tenang dulu ya. Setelah ini mas akan ceritakan semuanya ke kamu." Ken mengajak Dira untuk duduk di sofa.
Setelah Dira dan Ken duduk disofa, Ken mulai menceritakan apa yang sedang mereka bicarakan tadi. Setelah mendengar cerita dari Ken, wajah Dira berubah menjadi pucat. Tatapnya nanar, ia merasa sedih, kecewa, tetapi seperti ada rasa lega juga.
Selama ini ia mengira bahwa ayahnya berubah menjadi pria jahat yang kasar. Tetapi ternyata tidak karena pria yang selama ini kasar dan jahat bukanlah ayah kandungnya. Ayah dalam ingatan masa kecilnya adalah seorang ayah yang sabar, baik, sangat menyayangi dia dan bundanya, serta pria bijaksana.
"Darimana Mas tahu semua ini?" tanya Dira dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia benar-benar belum bisa mengerti dengan apa yang telah diceritakan oleh Ken.
Setelah itu Ken menunjukkan semua bukti yang sudah ia dapat. Serta memutarkan rekaman para saksi yang menceritakan masalah ini. Selama mendengarkan semua rekaman itu, Dira tak henti-hentinya meneteskan air mata karena merasakan sakitnya telah ditipu dan di bohongi. Ia juga tidak habis pikir kenapa Niken dan Danang begitu tega dengan saudaranya sendiri. Mereka juga tak segan-segan membuat Nadia dan Dira juga ikut menderita selama ini.
__ADS_1
"Bagaimana sayang, Apa selama ini kamu tidak menyadari kalau dia bukan Ayah kandung kamu?" tanya Ken memastikan kepada Dira.
"Dulu, Aku sempat merasa bahwa dia tidak seperti Ayah. Namun, Bunda selalu mengatakan bahwa dia adalah Ayah sehingga Aku menepis pikiran itu. Aku juga tidak tahu kenapa bunda ikut menutupi identitas pria itu? Apakah bunda memang tak menyadarinya, Mas?" Dira mulai menerka-nerka.
Melihat Dira yang masih bertanya-tanya, Ken memutarkan satu rekaman lagi dari seorang wanita yang merupakan sahabat mamanya.
Untuk Dira, saat ini kamu pasti sudah tumbuh jadi wanita yang sangat cantik dan baik seperti ibumu. Tante juga merasa lega karena saat ini kamu sudah hidup bahagia serta memiliki suami yang baik dan peduli dengan kamu.
Dir, maafkan Tante ya ... jika selama ini tante ikut merahasiakan hal ini. Tapi Tante melakukan ini juga ada alasannya, semoga kamu bisa memaafkan Tante. Jika kamu bertanya Apakah ibumu tak menyadarinya.
Jawabannya Adalah, dia menyadari dan tahu bahwa pria itu bukanlah suaminya. Bahkan dia juga yang mencari tempat Danang mengubur ayahmu, lalu memindahkanya ke kuburan yang jauh lebih layak.
Saat itu Danang mengancamnya akan membunuh kamu, jika ibumu berani melawannya. Sehingga dia menyimpan semuanya sendiri dalam lubuk hatinya paling dalam karena ia tidak mampu, jika harus kehilangan kamu. Semua masalah itu ia tanggung dan simpan sendiri sampai membuatnya jatuh sakit sampai meninggal. Sebelum ibumu meninggal, dia sempat berpesan sama tante untuk membawa kamu pergi dan meninggalkan Danang. Tapi, lagi-lagi Danang membuat berita palsu mengatakan bahwa Tante adalah seorang penculik sampai membuat tante tak bisa menemui kamu lagi. Hal itu ia lakukan karena kamu adalah pemilik warisan itu.
Sebelum Ibumu meninggal, ia sempat datang ke notaris untuk membuatkan surat pernyataan kalau kamu adalah satu-satunya orang yang bisa menggunakan harta warisan ayah dan ibumu sehingga tanpa Izin kamu, Danang tidak akan bisa mengambil sepeserpun harta itu.
Pasti kamu akan bertanya, Kenapa mama tidak melaporkan tindakan Danang ke pihak berwajib? Dia sudah berusaha melakukannya, tapi Dia tak mempunyai bukti yang kuat untuk melaporkan tindakan Danang sampai nafas terakhirnya.
Sekali lagi Tante minta maaf Dir, semoga kehidupan kamu jauh lebih baik lagi. Jangan pernah menyalahkan diri kamu atau membenci Ayah ibumu. Mereka melakukan itu semua karena menyayangimu dan ingin melindungi kamu, tetapi pada akhirnya kamu tetap menderita.
Hati dira terasa sangat sakit, dadanya terasa sesak seperti ada batu besar yang berumpu pada tubuhnya. Ia benar-benar tak mengira bahwa Danang dan Niken begitu kejam.
"Bagaimana sayang, apakah sekarang kamu sudah mengerti semuanya? Lalu Kenapa mereka bisa memiliki semua harta kamu?" tanya Ken.
"Dulu, setelah Bunda meninggal tiba-tiba ada seorang pria datang yang mengaku sebagai seorang pengacara. Pengacara itu mengatakan bahwa sebelum aku berumur 17 tahun semua harta peninggalan Bunda akan dijaga oleh hukum, tapi aku harus menandatangani sebuah surat. Saat itu aku masih terlalu polos sehingga percaya dan tidak membaca surat itu dengan jelas, " paparnya.
" Berarti memang mereka adalah penipu yang sudah pro boss! "ketus Rendi yang ikut kesal.
__ADS_1
...****************...