Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Lunch


__ADS_3

Sesampainya di ruang makan khusus klien, sudah tersedia berbagai menu makanan khas Indonesia. Ada bakso berbagai toping, Mie ayam, dan masakan padang berbagai menu.


Melihat begitu makanan tertata rapi seperti prasmanan, membuat Agatha menelan salivanya. ingin rasanya Ia memakan semuanya, tetapi Ia ingat bahwa usianya sudah tak muda lagi dan tidak dapat memakan terlalu banyak makanan.


Menu pertama, Agatha mengambil bakso dan mie ayam karena itu adalah makanan pertama yang Ia inginkan. Tak lupa pula Ia mengambil soo buah yang terlihat segar di cuaca yang begitu panas.


"Apakah ini sudah cukup Mrs. Agatha? Atau mau saya pesankan menu yang lain?" tawar Ken.


"Oh ... Tidak perlu, ini saja saya tidak bisa menghabiskannya," jawabnya lalu duduk di kursi untuk segera mulai makan.


Pertama, Agatha memakan sop yang terdapat berbagai macam buah di dalamanya. Saat Ia memakannya terasa sangat manis dan menyegarkan. Perlahan Agatha menikmati sop buah itu, lalu mencicipi bakso yang langsung bergoyang dalam mulutnya.


Agatha makan perlahan tanpa berkomentar sedikitpun, hanya tergambar sebuah kebahagiaan dalam wajahnya saat menyuap makanan demi makanan yang masuk kedalam mulut.


"Apakah Anda menikmatinya Mr. Samuel?" tanya Ken saat melihat Samuel juga sama seperti Agatha diam tanpa kata.


" Yes, The food is very good and I enjoy it, (Makanannya sangat enak dan saya menikmatinya)," pungkas Samuel.


"Oh ya, Mr. Ken. Apakah saya boleh bertanya sesuatu?" tanya Agatha.


"Silahkan," jawab Ken.


" Sebelumya Saya minta maaf kalau pertanyaannya lebih mengarah ke privasi. Kenapa Anda tidak membawa Istri Anda? Andai—"


Khuk .... khuk ..


Suara Ken tersedak saat mendengar Agatha menanyakan soal istrinya.


"Sorry ..." Ucap Agatha saat melihat Ken tersedak saat mendengar perkataanya. Padahal ucapannya belum selesai, tetapi menlihat Ken tersedak, Agatha tidak melanjutkan ucapannya.


"Tidak apa-apa, Saya hanya sedikit kaget saja saat mendengar Anda menanyakan tentang Istri Saya. Sebenarnya Istri Saya sudah lama meninggal," pungkas Ken.


Saat mendengar Ken mengatakan bahwa Istrinya telah lama meninggal dengan raut wajah yang berubah, membuat Agatha merasa bersalah.


" Saya minta maaf Mr Ken karwna Saya tidak tahu kalau—


"Iya, tidak masalah," ucap Ken dengan mengulas senyum sedikit.


Senyuman yang di berikan Ken, terlihat begitu menyakitkan seakan Ia mencoba menahan rasa sedih dengan menampilkan sebuah senyuman.

__ADS_1


Agatha menanyakan hal itu karena biasanya Klien-klien Samuel yang mempunyai istri pasti akan membawa istrinya ketika Agatha ikut datang agar tidak sepi dan ada temannya mengobrol.


Terkadang Samuel mendapatkan kontrak kerja sama karena istri Klien menyukai pribadi Agatha dan yakin bahwa Samuel juga akan menjadi mitra kerja sama yang baik.


Kehadiran Agatha juga membuat Samuel bisa sukses seperti sekarang karena sering memberikan ide-ide kreatif serta membantunya memecahkan sebuah masalah.


Selesai makan siang, Agatha dan Samuel pamit untuk pulang terlebih dahulu. Mereka akan bertemu kembali di acara ulang tahun perusahan PT Fabio grup sekaligus peresmian kerja sama mereka dalam sebuah proyek baru yang akan di umumkan saat acara ulang tahun perusahaan.


***


"Kak Lean ..." panggil Sabrina dengan suara cemprengnya.


Mendengar suara yang sudah amat Ia kenal, Lean segera membalikkan badan untuk melihat siapa yang datang berkunjung.


Sabrina menghambur memeluk Lean, sudah lama sekali mereka tidak bertemu dan bermain bersama akibat Lean yang terus saja sibuk dengan urusan rumah sakit. Maklumlah namanya juga dokter muda, tampan serta memiliki kemampuan yang handal dalam mengobati serta melakukan sebuah operasi.


Untuk bisa ikut jadwal operasi Lean, harus sabar menunggu antrian yang tak kunjung habis. Ditambah Ia juga tidak hanya mengoperasi pasien saja, tetapi juga mempunyai jadwal praktek dan konsultasi dengan pasien.


Banyak para perawat banyak merasa iri dengan Brina yang bisa seenaknya memeluk Lean di tempat umum seperti ini, tetapi Lean hanya menganggap Brina sebagai adik tak lebih.


" Apa yang kamu bawa, Anne?" tanya Lean saat melihat Anne membawa sebuah paper bag.


Lean mengambil Paper bag yang di bawa oleh Anne, lalu melihat apa makanan yang di bawa oleh Anne.


"Rantang makanan? " ujar Lean sambil menautkan kedua alisnya.


"Itu makanan dari Momy buat Kakak, dan Momy juga titip salam," Sabrina mencoba mengikuti gerakan Chika saat memberikan rantang bekal makanan itu.


"Ini kasih sama calon mantu Momy ya, salamin juga walaupun banyak pekerjaan gak boleh sampai telat makan dan jaga kesehatan!" ucap Sabrina dengan mengikuti nada suara Chika saat mengatakannya.


Lean dan Anne hanya tertawa melihat Chika memparodikan suara Momy Chika saat berbicara.


" Yaudah salamin buat Momy, terimakasih banyak atas makanannya dan Kakak akan ingat pesan Momy untuk jaga makan dan pola hidup sehat," pungkas Lean.


"Oh, ya Kalian jam segini kok udah pulang?" tanya lean yang hampir lupa bahwa ini masih jam makan siang dan biasanya mereka juga masih berada di sekolah.


"Hari ini kita pulang pagi," lontar Sabrina.


"Oh, ya? Kalian gak lagi bolos sekolah, kan?" tanyanya yang sedikit curiga kalau mereka sedang berbohong.

__ADS_1


"Gak mungkin, lah ... Mana ada Brina bolos sekolah! Kita kan sudah insaf dari hal begituan," elak Sabrina saat mendengar tuduhan dari Lean kalau mereka sedang bolos sekolah.


"Alhamdulillah ... Kakak bersyukur kalau kalian sudah berhenti untuk tidak bolos sekolah lagi, semoga bisa istiqomah!" lontarnya yang di jawab Amin serentak oleh Sabrina dan Anne.


Setelah mengantarkan makanan, Anne dan Sabrina pamit pulang. Setelah dari rumah sakit, Mereka berdua pergi ke mall untuk berbelanja pakaian yang akan di pakai di hari acara ulang tahun Anne besok.


***


Sesampainya di mall ... Mereka datang ke beberapa toko untuk memilih beberapa pakaian sambil menunggu kedatangan Nala yang masih sekolah.


"Anne ... Ini cocok gak sama Gue?" tanya Nala sambil memperlihatkan dress berwarna baby blue yang Ia letakkan diatas badannya.


Anne menepuk jarinya di bibir seperti sedang menilai. " Kalau dari segi warna kulit sih cocok, tapi modelnya sepertinya terlalu feminim untuk kamu yang—" Anne tak melanjutkan ucapannya saat melihat Sabrina mengerucutkan bibirnya dan mengembalikan dress itu, lalu pergi. Keluar dari toko dengan wajah kesal.


Anne tersenyum, lalu mengambil gaun itu tadi dan memberhentikan langkah Sabrina.


" Jangan ngambek gitu dong ... Nanti makin jelek loh!" ucap Anne sambil menarik hidung Sabrina gemas.


Ia mengajak Sabrina ke kasir untuk membayar gaun yang di inginkan Sabrina.


"Loh, Anne kok lo ngambil gaun tadi? Ih... Jangan-jangan ... Lo suka ya ... Makanya bilang ke gue kalau jelek! Ternyata mau di pakai sendiri!" gerutu Sabrina dengan melipat kesua tangannya di depan dada.


"Ini mb, bajunya," ucap petugas kasir itu.


"Makasih ya ..." ucap Anne.


"Nih ... Buat Lo pakai, hadiah dari gue!" pungkas Anne dengan memberikan pape bag itu ke Sabrina.


Sabrina mengerutkan dahinya dan masih tidak mengerti maksud dari Anne. Melihat Sabrina yang hanya diam saja, membuat Anne semakin tertawa.


"Ini ambil! Kalau gak mau ... Gue kasihkan ke orang aja ..." Anne menarik paper bag itu, tetapi Sabrina segera menahannya.


"Enak aja ... Tapi, ini seriusan buat Gue!?" tanya Sabrina lagi untuk memastikan kembali kalau Anne tidak bohong.


"Iya, buat Lu. Masak buat Gue! Gak mungkin lah, gue pakai baju pendek kayak gitu! Dasar, Aneh!" tandas Anne yang berlalu pergi.


...****************...


Done bab ke 3. Besok lagi ya... Semoga suka.

__ADS_1


Udah di crazy up. Jadi harus like, komen, vote dan hadiahnya yang banyak ya...


__ADS_2