
Dentuman jarum jam terus berputar tanpa henti, siang dan malam silih berganti datang dan pergi dengan meninggalkan sebuah memori dan kenangan yang akan tercetak dalam sebuah ingatan dalam otak.
Melihat kondisinya yang terus membaik hari demi hari, akhirnya Ken sudah diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit. Sejak Ken sadarkan Diri, setiap pulang sekolah kean dan Lean selalu merengek meminta untuk datang menjenguk Ken di rumah sakit. Awalnya Dira sedikit keberatan tapi kehadiran merekalah yang membuat kondisi Ken yang selalu menjadi lebih baik lagi. Jadi mau tidak mau Dira mengizinkan mereka datang dengan catatan hanya sampai sore hari, dan ketika malam hari mereka harus pulang istirahat karena masih harus sekolah.
Setiap kali datang, Kean selalu membawakan buku-buku islami tentang sholat, agama dan lain sebagainya. Karena dia sudah bernazar jika Allah menyelamatkan papanya dia akan membantu Ken untuk menjadi seorang muslim yang lebih baik lagi, dan menunaikan semua kewajibannya kepada sang pencipta. Ken juga menerima semua itu dengan lapang dada dan tidak ada penolakan sama sekali, justru dia belajar dengan tekun tanpa mengeluh sedikitpun.
Dira dan Carol hanya bisa menjadi penonton yang melihat interaksi mereka bertiga yang semakin hari semakin akrab.
Terimakasih ya Allah … engkau telah memberikan sebongkah cahaya dalam keluarga hamba yang gelap, kehadiran mereka membuat aku tersadar bahwa selama ini aku telah melalaikan tugasku dan juga melupakanmu. Semoga kehidupan yang begitu damai ini bisa bertahan selamanya. Amin… ucap Carol dalam hati.
Setelah selesai membereskan semua barang-barang yang perlu dibawa pulang. Mereka semua pulang ke kediaman Fabio.
Mobil Alphard putih itu terus melaju menembus jalanan dengan pelan. Tidak sampai lama akhirnya mereka sampai di pelataran rumah Fabio , karena jarak rumah sakit dan kediaman Fabio memang tidak jauh sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai.
Mereka semua perlahan turun dari mobil, di depan pintu masuk sudah banyak para pengawal dan maid yang sudah berjejer rapi untuk menyambut kedatangan mereka semua.
"Selamat datang kembali tuan dan nyonya" seru mereka serentak dengan menundukkan kepala menandakan slam hormat kepada tuanya.
Suasana kediaman Fabio saat ini terlihat bak istana di negri dongeng yang sedang menyambut kedatangan pangeranya.
"Seharusnya Ucapkan salam dulu, baru selamat datang!" protes Lean kepada para pengawal dan maid.
Para pengawal dan maid bingung dan segera menjalankan perintah tuan mudanya.
"Maaf tuan muda, Assalamualaikum ... dan selamat datang kembali Tuan dan nyonya" seru mereka serentak.
"Nah ... Gitu kan enak di dengarnya, masak orang islam tidak mengucap salam dulu!" gerutu Lean lagi yang membuat Dira, Carol, dan Ken tersenyum melihat tingkah lucu anaknya ini.
__ADS_1
"Anak soleh," ucap Ken dengan mengusap puncak kepala Lean.
Kean dan Lean berjalan di sisi kiri dan Kanan Ken, sedangkan Carol berjalan dengan menggandeng tangan Dira. Meskipun Ken dan Dira belum menikah, Carol dan Dira sudah sangat cocok dan akrab, Carol juga memperlakukan Dira sudah seperti anaknya sendiri bahkan tidak seperti calon menantu.
Ketika Ken ingin memasuki rumah, tiba-tiba ada seorang wanita keluar dari rumah dengan berlari ke arahnya dan langsung memeluknya. Membuat semua mata yang ada di sana terbelalak melihat kejadian itu.
"Akhirnya kamu pulang juga Kak, aku udah kangen banget sama kamu" ungkapnya di dekat telinga Ken dan memeluknya semakin erat.
Kean dan Lean yang melihat hal itu, segera berusaha melepaskan pelukan wanita asing yang saat ini memeluk papanya.
"Lepasin papa ..." ucap Kean dan Lean yang berhasil melepaskan wanita yang memeluk papanya.
"Tante ini siapa tiba-tiba langsung memeluk papa Lean?" cetusnya dengan tubuh yang sudah menghadang di depan tubuh Ken.
"Iya, Tante ini tau aturan gak sih. Pria dan wanita dewasa yang bukan muhrim itu gak boleh saling pelukan,"imbuhnya yang tak kalah geram dengan sikap wanita itu.
"Mereka memang anakku, dan yang mereka katakan itu juga benar. Kamu sebagai wanita dewasa seharusnya punya aturan, jangan main meluk orang sembarangan dan aku juga tidak mengenal kamu," terangnya kepada wanita cantik dengan pakaian seksi yang ada di depannya saat ini.
" Masak kakak tidak mengenali aku sih. Aku kan Calista si putri kecilnya kak Ken. "
" Sebentar ya Dir, "ucap Carol dengan mencoba melepaskan gandengan tangannya.
" Ken… sudah ya kalian jangan salah paham sama Calista. Dia bukan orang asing, masak kamu tidak ingat dengan Calista putrinya tante yuanita. Kalian dulu kan sering main bareng waktu Calista masih kecil, dan sekarang Calista juga yang telah membantu mama dan Rendi untuk mengurus pekerjaan di kantor. Mungkin saat ini dia sudah senggang, makanya baru hari ini dia bisa datang untuk menjenguk kamu karena sebelumnya pekerjaan di kantor sangat sibuk! " ungkap Carol untuk menjelaskan agar tidak ada lagi kesalahpahaman di sini.
" Calista, tante minta maaf ya ... karena tante belum bilang apa-apa sama Ken tentang kedatangan kamu ke perusahaan. Tapi Tante juga tidak mengira bahwa kamu akan datang ke sini hari ini," ungkapnya dengan mengusap pundak Calista.
"Iya gapapa kok tan, Cali memang gak bilang dulu sama tante karena pengen buat surprise buat Kak Ken. Eh … tau-taunya justru Cali yang dibuat terkejut dengan perkataan kak Ken yang sudah punya anak," terangnya dengan wajah yang mulai ditekuk.
__ADS_1
Jujur Calista memang sangat terkejut saat mendengar ucapan Ken bahwa mereka adalah anak Ken, karena selama ini Calista tidak pernah mendengar bahwa Ken telah menikah dan mempunyai anak. Apa wanita yang di belakang itu adalah istrinya kak Ken? Tapi kenapa tidak pernah ada berita tentang kak Ken yang sudah menikah dan mempunyai anak? Apa mereka di Rahasia kan? Tapi kenapa? batin Calista dengan menatap kearah Dira seperti sedang menilainya.
"Yasudah kalau begitu kita masuk dulu ke dalam ya… nanti kita ngobrol-ngobrol di dalam saja," ajak Carol kepada Calista dan yang lainya.
Setelah masuk ke dalam rumah, Ken pamit untuk masuk ke Kamarnya terlebih dahulu yang di temani oleh Kean dan Lean yang terus s berada disamping Ken. Begitupun dengan Dira yang juga pamit untuk masuk ke kamar untuk menyimpan barang-barangnya terlebih dulu.
Jadi, hanya ada Carol dan Calista yang duduk di ruangan keluarga.
"Tante, Cali mau tanya. Apa benar mereka anak kak Ken? Dan wanita yang tadi itu istrinya mas Ken?" tanya Calista beruntun karena memang begitu banyak pertanyaan yang ingin diajukan saat ini.
"Mereka memang anaknya Ken, tapi kalau soal Dira dia belum sah menjadi istri Ken jadi bisa dibilang masih calon istri!"jelasnya.
Calista sedang mencerna dalam-dalam apa yang diucapkan oleh Carol. Masih calon Istri tapi kalau dua bocil itu anaknya kak ken, jadi…
" Apa kak Ken duda tan atau sebaliknya? "
Khuk …
Perkataan Calista membuat Carol tersedak saat meminum teh yang baru di sediakan oleh maid di atas meja. Wajah Carol langsung menjadi memerah karena terus batuk-batuk akibat tersedak teh. Carol masih saja terdiam, tanpa menjawab apapun kepada Calista karena dia bingung harus mengatakan apa kepada Calista tentang hubungan Ken yang sebenarnya. Sedangkan raut wajah Calista terlihat sedang harap-harap cemas ingin mendengarkan jawaban Carol.
"Kalau soal itu tante minta maaf ya sama kamu, karena tante juga bingung harus menjawab apa. Tapi ini adalah privasi keluarga tante, jadi Tante harap kamu tidak perlu bertanya lagi soal ini.
...****************...
Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya ya...
Happy Reading....
__ADS_1