
Selamat pagi para pembaca pecinta novel Papa Bucin Yang posesif. Aku mau perkenalkan novel terbaruku jika berkenan bisa mampir ya...
Meski Kau sudah tak lagi bersamaku, Cinta dan kenanganmu masih tersimpan rapi dalam hati ini.
~Kenzo Clarence Fabian ~
Setelah berbicara seperti itu, Kean merasa sangat bersalah kepada Ken. Apalagi Wajah Ken terlihat seperti kesal, tetapi Ia hanya ingin menanyakan permintaan Anne yang menginginkan Papa mereka menikah lagi.
Ingatan tentang bersama Dira mungkin memang tidak begitu ada di hati Anne karena dulu dia masih terlalu kecil saat Dira meninggal, tetapi berbeda dengan Kean dan Lean.
Ingatan tentang Dira begitu melekat pada hatinya, Dira merupakan satu-satunya wanita yang sangat mereka sayangi dan cinta. Bahkan di dompet dam ruangan kerja Kean dan Lean masih terpampang nyata foto Dira.
"Ma, maafkan Kean ya...karena sudah menyuruh Papa untuk menikah lagi. Semoga Mama tenang di sana, Kean rindu sama Mama... Kean rindu pelukan serta senyuman Mama..." ucap Kean sambil memegang pigura foto Dira yang tersenyum.
Sikap dingin, tak banyak bicara, dan wajah datar dari Kean tidak bisa menutupi bahwa Ia juga lelaki yang sangat rapuh ketika mengingat kembali tentang cinta pertama serta surga baginya.
Posisi Dira dalam hatinya juga tidak bisa tergantikan dengan siapapun. Melihat kisah Cinta Dira dan Ken yang berakhir dengan sad ending membuat Kean semakin takut jatuh cinta atau memiliki hubungan yang serius dengan seorang wanita.
Saat Kean masih terbuai dengan pikiranya, tiba-tiba sebuah ketukan pintu terdengar.
"Masuk," ucapnya sambil mengusap air mata yang sempat jatuh membasahi pipi serta menetralkan emosinya agar kembali tenang.
Seorang pria masuk kedalam ruanganya, dia adalah Asisten Kean, Aksara atau biasa di panggil Aksa.
"Maaf kalau mengganggu bos," ucap Aksa.
"Ada apa?" tanya Lean dengan nada beratnya.
"Ada yang mencoba membobol sistem keamanan kita bos!" pungkas Aksa dengan takut-takut.
"Apa!? Siapa yang berani mencoba menantangku?" cerca Lean yang sudah berdiri dari temlat duduknya.
Selama Kean menjabat menjadi direktur, ini adalah pertama kalinya ada seseorang berani membobol sistem keamanan yang Ia buat. Seseorang yang berani membobol sistem keamanan yang Ia buat sendiri.
__ADS_1
Aksa segera menghampiri Kean dan memberikan sistem yang di bobol. Kean menautkan kedua alisnya saat melihat seseorang itu belum berhasil membobol kode terakhir.
"Hebat juga dia bisa membobol sampai tahap ini, tapi Kamu tidak akan bisa membobolnya. Ayo kita lihat siapa yang lebih kuat dan pintar!" gumam Kean dengam seringai tipis.
Sudah lama Ia tidak merasa tertantang seperti ini. Kean dengan cepat mengetik semua tombol di dalam leptop dengan cepat.
" Sepertinya orang ini ceroboh! Kenapa dia tidak segera menghilangkan data pribadinya! Pintar tapi ceroboh!" gumam Kean yang sudah berhasil mengalahkan hacker yang ingin membobol sistem keamanan PT, Fabio Grup. Tak hanya itu, dia juga mendapatkan lokasi sang hacker.
Di sisi lain.
" Ah ... Kenapa sifat cerobohku kembali sih ... Sekarang dia pasti sudah menemukan lokasiku! Gimana kalau dia datang dan ... dasar ceroboh!" gerutu Gadis itu saat dia lupa menghapus semua jejaknya.
Gadis itu mengerucutkan bibirnya dan merasa sangat kesal. Padahal sebentar lagi, Ia bisa membobol sistem keamanan salah satu perusahaan terbesar di Indonesia.
Awalnya dia hanya iseng ingin mengetes kemampuannya dalam membobol keamanan data suatu perusahaan, tetapi ternyata orang yang Ia lawan saat ini benar-benar jauh lebih handal dan teliti darinya yang ceroboh.
"Kira-kira siapa ya ... Orang yang tadi bertarung denganku? Kenapa dia hebat sekali!"
......................
Saat sedang berbelanja, tiba-tiba Anne melihat seorang Ibu dan anak perempuannya sedang berbelanja bersama. Kekompakan mereka terlihat begitu jelas, Anne terus saja menatap mereka sambil membayangkan andai Ia masih memiliki seorang ibu, pasti Dia bisa merasakan hal itu.
"Anne!" panggil Nala kepada Anne.
"Eh ... Iya, ada apa?" tanya Anne yang sedikit kaget saat Nala memanggilnya.
"Lo, kenapa? Nglamun ya?" tebak Nala.
"Apa.an sih Nal ... Aku gak sedang melamun kok..." Elak Anne.
"Bukan melamun Nal... Tapi terus memandang Ibu dan anak itu..." kode Sabrina kearah wanita dan anak perempuan yang sedang berbelanja bersama.
"Oh ... Pantes aja Lu bengong! Lu Iri ya sama dia?" tanya Nala.
"Nggak kok, buat apa Gue ngiri sama orang lain ... Gak ada manfaatnya juga!" tandas Anne.
__ADS_1
Nala dan sabrina adalah sahabat Anne sejak kecil karena orang tua mereka juga sahabatan. Nala adalah anak dari Senja dan Andrian, sedangkan Sabrina adalah anak Aron dan Chika.
Sabrina dan Anne satu sekolah karena mereka memang sama, sama-sama tidak suka sekolah yang mementingkan nilai akademik. Namun, Nala yang pintar sekolah di sekolah Internasional dan kan melanjutkan gen dokter dari Mami dan Papinya.
Nala mempunyai kembaran bernama Nathan, tetapi mereka jarang bersama karena beda hobi. Nathan lebih suka pergi bersama teman laki-lakinya, begitupun dngan Nala yang juga lebih suka jalan bersama Sabrina dan Anne.
Nala merangkul kedua sahabatnya itu. "Gimana kalau hari ini kita bermain sepuasnya..." ajak Nala dengan menautkan satu alisnya sambil menoleh ke arah Anne dan Sabrina bergantian.
"Ide bagus!" timpal Sabrina.
"Boleh juga," sahut Anne dengan senyuman.
Setelah itu, mereka bertiga pergi bersama menuju time zone untuk bermain sepuasnya. Ide itu Nala berikan agar Anne tidak merasa sedih dan mengingat bahwa Ia tidak mempunyai Ibu yang bisa menemaninya selalu.
Sebenarnya Nala juga sama dengan Anne, meskipun mempunyai Ibu, beberapa tahun terakhir ini Senja selalu saja sibuk dengan pekerjaannya sehingga Ia juga merasa kurang perhatian dari Senja. Namun, berbeda dengan Sabrina yang selalu mendapatkan kasih sayang penuh dari Chika. Jadi, Ia tidak tahu bagaimana rasanya menginginkan kasih sayang penuh dari seorang Ibu.
Saat tiga cewek cantik itu masuk ke arena time Zone, banyak sekali sorot mata para cowok yang memperhatikannya.
Kecantikan ketiganya pasti selalu membuat mata pria terpesona dan tertarik dengan mereka, tetapi kebanyakan para pria itu akan fokus kepada wajah Anne yang terlihat paling cantik dan berbeda dari keduanya.
Wajah blasteran, tubuh tinggi kurus yang dibalut dengan pakaian tertutup dan juga hijab. Sedangkan Sabrina dan Nala tidak memakai hijab.
"Wuih ... Lihat itu, ada 3 bidadari cantik yang datang ke time zone!" seru seorang cowok kepada teman-temannya.
"Bener ... Apalagi yang berhijab itu! Caantik sekali ..." timpal teman lainnya.
"Benar-benar wanita-wanita perfect!"
Suasana ini sudah sering sekali mereka rasakan. Jadi, tidak heran bahwa Mereka tidak perduli dengan tatapan serta bisikan dari para cowok-cowok yang terus memandang mereka.
...****************...
Jangan lupa vote karya author ya...
__ADS_1