Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Seutas tali (4)


__ADS_3

Bibi dengan wajah yang terlihat cemas, memperhatikan Kevin. Aku melihat mungkin bibi ingin jadi satu-satunya orang yang membela Kevin untuk saat ini.


"Kevin!" bentak papanya.


"Terserah, aku tetap ingin kuliah seperti apa yang aku mau dan satu lagi, aku tetap berada di sini," ujar Kevin.


Kevin untuk saat ini membentak papa dan mamanya untuk segera pergi meninggalkannya. Tetapi tidak untu Pak Joko dan bibi, Kevin bersikap baik bahkan dia memeluk mereka berdua.


Papa dan mamanya pun segera lenggang keluar dari kamar ini. Isak tangis terdengar dari bibi, entah apa yang sekarang ia rasakan dan seolah-olah menjadi beban pikirannya.


Kevin melepaskan pelukannya, lalu duduk di atas kasur. Kevin lemparkan senyuman ke arah mereka berdua, begitu tulus yang aku lihat dari sorot matanya.


"Bi Asih, Pak Joko. Sini," ujar Kevin.


Mereka berdua bergegas mendekat ke arah Kevin.


"Pak, Bi. Makasih ya, selama ini kalian berdua yang sabar merawat aku," ucap Kevin.


Mereka hanya mengangguk, lalu tersenyum ke arah Kevin.


"Bu, mana makanannya?" tanya Pak Joko.


Bibi pun kembali beranjak dari tempat duduknya, lalu keluar kamar.


"Den, kenapa jadi seperti ini?" tanya Pak Sopir.


"Aku kecewa sama Papa, Pak. Kenapa lebih memilih wanita itu, dari pada Mamaku?" ucap Kevin dengan wajah yang tampak bersedih.


Kevin menunduk, dia memperlihatkan rasa sedih itu ketika berada di depan pak sopir dan bibi. Tapi anehnya, malah sebaliknya enggak memperlihatkan kala di depan papanya sendiri.


"Harusnya Den Kevin tunjukan ke Nyonya kalau Den Kevin lebih baik, jangan seperti ini. Beliau malah terlihat bangga kala Den Kevin terlihat hancur," nasihat pak sopir.


Kevin melihat ke arah pak sopir, dia tersenyum. Lalu, datang bibi dengan membawa makanan di atas nampan. Terlihat piring yang berisi makanan dan dua gelas berisi susu.


"Ini, Den makanannya," ucap bibi sembari meletakkan di atas meja.


Pak sopir dan Kevin terlihat bingung kala melihat dua gelas susu itu.


"Kok dua Bi, susunya?" tanya Kevin.


Bibi terlihat celingukan, sebelum menjawab pertanyaan Kevin.


"Jadi gini, tadi Nyonya yang menyiapkan satu gelas itu. Nah, Bibi kan merasa curiga dan aneh kalau tiba-tiba dia berubah jadi baik sama Den Kevin," jelas bibi dengan nada berbisik.

__ADS_1


"Bibi takut aku diracuni?" tanya Kevin lagi.


Bibi mengangguk.


"Tapi, Nyonya nggak tahu kalau Bibi buat satu gelas lagi untuk menggantikannya, cepat adan minum susu yang sebelah kanan saja, biar yang satunya bibi buang," ujar bibi.


Kevin mengangguk sembari tersenyum ke arah mereka berdua. Aku di sini melihat ketulusan dari dua orang ini terhadap Kevin.


____________


Malam begitu cepat berlalu ke pagi. Kevin yang tertidur pulas tiba-tiba kembali dibangunkan dengan gedoran di pintu kamarnya.


"Kevin!" teriak mamanya.


Tapi Kevin tak menggubris wanita itu, dia hanya menggeser posisi tidurnya saja. Pagi yang seharusnya dilewati rasa suka cita, tetapi di rumah ini hanya amarah yang tampak terlihat jelas.


"Orang kok nggak ada tentram hidupnya, heran aku." Aku menggelengkan kepala, merasa heran dengan kehidupan keluarga ini.


Pintu pun di buka dari luar, terlihat judes di wajah wanita yang di panggil mamanya itu ketika masuk ke dalam kamar. Kevin yang tertidur pulas dihampirinya, lalu di tarik tangan Kevin yang sedang memeluk guling.


Kevin menghempaskan tangan wanita itu dengan kuat, sehingga badan wanita itu terhuyung hendak terjatuh.


Kevin pun beranjak duduk dari tempat tidurnya, dia menatap dengan tajam ke arah wanita ini.


"Bisa nggak sih sekali saja nggak usah ganggu aku," ujar Kevin dengan nada ketus.


"Cepat turun, ditunggu papamu di ruang makan," ucap wanita itu dengan ketus.


Wanita itu membalikan badan hendak pergi dari kamar ini.


"Oh iya, kalau nggak Papamu, aku juga males ngurusin anak bandel kaya kamu. Mending kamu keluar deh dari rumah ini," ucap wanita itu lagi, sembari berlalu pergi.


Aku yang melihatnya entah kenapa begitu geram.


"Nih orang kebanyakan makan cabe deh kayanya, sengak terus ucapannya," ucapku sembari menggelengkan kepala.


Tak begitu lama dari sepeninggalnya wanita culas itu, si Kevin beranjak dari tempat duduknya lalu pergi ke kamar mandi sebelum turun ke lantai dasar.


Aku yang memiliki jiwa penasaran akut pun lebih dahulu melesat turun ke lantai dasar. Wanita itu duduk di sebelah Papa Kevin, dengan mulut yang berucap lembut dan manis ketika berada di hadapannya.


"Ya Allah, ini wanita cantik berbisa mulutnya," ucapku.


Aku melihat dan mendengar, jika wanita itu bersilat lidah kalau dia dengan sabar dan lembut memperhatikan Kevin. Tetapi katanya lagi, si Kevin tampak tak menyukainya sehingga selalu berperilaku kasar dengannya.

__ADS_1


"Sabar, Ma. Mungkin butuh waktu untuk Kevin menerimamu, aku yakin kamu bisa menjaga dan mendidik Kevin dengan baik dari pada wanita gila itu," ucap Papa Kevin sembari mengecup keningnya.


Lagi-lagi aku dibuat tidak habis pikir dengan papanya. Beliau tampak sangat tergila-gila dengan rayuan setan si wanita ini. Aku sontak marah-marah tak jelas di sini.


"Hey Bapak yang terhormat, istrimu itu pembohong. Ih geram aku melihat wanita itu, kukarungin deh anakmu nanti ku bawa pulang," ucapku merasa gemes ke mereka.


Andai aku tidak bayangan semu, sudah aku siram air ke muka mereka. Aku tak dapat mengontrol emosiku, apalagi kalau dalam posisi Kevin. Dia yang selalu disalahkan dan tidak di percaya oleh papanya sendiri.


Dari lantai atas, aku melihat Kevin turun dengan rasa malas yang tampak di wajahnya Dia menghampiri meja makan ini. Dia duduk di kursi tepat di depan papanya.


"Pagi, Pa," ucapnya.


"Pagi, gantengnya Papa," ucap papanya.


Kevin tak banyak basa-basi, dia bergegas mengambil makanannya. Dia dengan cepat melahap makanan itu.


"Mau ke mana, kok buru-buru?" tanya Papa Kevin.


"Ke rumah Mamaku, Pa," jawabnya, lalu melanjutkan makanannya.


Hening kembali terasa, hanya terdengar suara piring dan sendok yang saling beradu ketika mereka gunakan.


****


Selesainya makan, Kevin bergegas keluar. Dia tak sopan kepada kedua orang tuanya, sebab dia langsung beranjak dan berlalu tanpa memberikan salam atau apapun.


"Lihat tuh, Pa. Anak kesayanganmu, tak punya sopan santun," ucap wanita itu.


Papa Kevin hanya menggeleng secara perlahan ketika melihat tingkah laku putranya.


"Sudahlah, Ma. Papa berangkat dulu," ucap Papa Kevin


Wanita itu terlihat mencium tangan suaminya ketika bersalaman.


"Iya, Pa. Hati-hati, Oh iya, Mama mau ke salon ya," ucap wanita itu.


"Oke," jawab wanita itu.


Aku yang tak ingin kehilangan jejak Kevin pun, segera mengikutinya. Aku kembaki melesat masuk ke dalam mobil itu.


Dag dig dug ....


Detak jantungku terasa berdegup lebih cepat, kala kembali masuk ke dalam mobil Kevin ini. Aku takut mati dalam alam mimpiku.

__ADS_1


Dalam hatiku berkata, Keyla ingin hidup Ya Allah, jangan matikan aku di alam mimpi.


Bersambung ....


__ADS_2