
Dua minggu sudah berlalu.
Tepat hari ini awal aku masuk sekolah pertama kali menjadi kelas 3 SMP. Hari bahagiaku cukup lama tidak bertemu dengan teman-temanku akhirnya sekarang bisa bertemu.
"Dek, ayo sarapan sayang mumpung masih pagi," ucap Ibu dari luar kamarku.
"Iya Bu, masih nyiapin alat sekolahku," jawabku.
Aku hampiri Ibuku yang sudah menungguku di dapur.
"Pagi Bu, akhirnya dedek sudah kelas 3 SMP, pengen cepat-cepat jadi anak SMA Bu," kataku
"Ada saja kamu Dek, hari pertama saja belum terlaksana kok pengen buru-buru SMA sih sayang, ayo makan dulu," ucap Ibu.
"Hehe, iya Bu," jawaku sambil tertawa.
Sarapan pun sudah selesai, aku pun berpamitan ke Ibu untuk pergi ke sekolah. Ku kayuh sepeda kesayanganku menuju sekolah. Ku parkirkan sepedaku, aku mulai melangkah menuju kelasku.
Aku melangkah dengan cepat agar bisa bertemu dengan teman-teman baikku.
Aku lihat Dinar sudah memilih bangku untuk menjadi tempat duduk kami.
"Hai Din, belum pada dateng si Bella, Dewi dan Selly?" tanyaku.
"Sudah Key, pada ke kantin, kalau Dewi mah sudah biasa berangkatnya lebih siang dari guru-guru," jawab Dinar sambil tersenyum.
Aku duduk di samping Dinar dan menunggu temanku yang lain memasuki kelas.
Tak begitu lama mereka pun datang termasuk si Dewi.
Sebelum bel masuk sudah biasa kami sebagai anak sekolah bercerita-cerita apa yang telah kami lalui.
Bel pun berbunyi tandai pelajaran pertama akan di mulai.
Pelajaran pertama, kedua dan ketiga pun sudah berlalu, bel jam istirahat pun sudah berbunyi.
Teeet Teeeeet!
Suara bel jam istirahat berbunyi.
Anak-anak berlalu lalang untuk pergi ke kantin sedangkan aku dan teman-temanku masih di kelas.
"Hari pertama saja sudah di kasih tugas ya kita, buru-buru banget gurunya gak pengen apa, kitanya agak santai dulu," ucap Dewi.
"Iya, nanti belajar kelompok yuk," sahut Dinar.
"Maaf, nanti aku tidak bisa teman-teman, aku nanti bantuin Ibuku soalnya lagi ada hajatan di rumah saudaraku," ucap Selly.
"Aku juga tidak bisa ya soalnya Mamaku dapat pesanan catring banyak banget hari ini, ya itu ke keluarga Selly," ucap Bella.
"Kalau kamu bagaimana Wi?" tanyaku.
"Aku bisa kok, terus di rumah siapa kita belajarnya?" tanya Dewi.
"Ke rumah kamu saja, hitung-hitung kita main ke sana soalnya belum pernah ke rumahmu," kata Dinar.
"Agak sorean bagaimana, kita ngerjainnya? aku mau belanja bulanan dulu sama mamaku sepulang sekolah," tanya Dewi.
"Oke, jam berapa?" tanyaku.
"Bagaimana kalau jam tigaan, kan sudah tidak terlalu panas cuacanya," ucap Dinar.
"Oke, nanti aku tunggu di rumah ya, oh iya rumahku tahu kan?" tanya Dewi lagi.
"Tahu kok, rumahmu ada dua berdampingan itu kan?" tanyaku memastikan.
"Hehe iya, tetapi yg sebelah kiri tidak terpakai itu dulu punya Nenekku,"
__ADS_1
"Kata orang-orang sih ada penunggunya, tetapi aku yang punya rumah alhamdulilah tidak pernah di ganggu tuh," ucap Dewi.
"Apa iya Wi ada penunggunya?" tanya Selly ikut berbicara.
"Tidak tahu juga sih kalau aku soalnya selama ini tidak ada apa-apa, kata orang-orang sih iya," jawab Dewi.
Bel masuk kelas sudah berbunyi jam pelajaran hari ini sudah terlewati.
Aku dan Dinar pergi ke parkiran untuk pulang bersama. Entah mengapa aku bertemu Dewi kok tidak mengingatkan lagi soal belajar kelompok.
Dewi itu tergolong anak pelupa. Aku dan Dinar mengayuh sepeda menuju jalan pulang, kami mengobrol di sepanjang jalan.
"Lho Din, mengapa tadi kita tidak ingatkan lagi si Dewi?" tanyaku ke Dinar.
"Oh iya Key, dia kan pelupa kayak Nenek-nenek apalagi nanti kita ke sana sore pula," jawab Dinar.
"Mungkin dia sudah berada di rumah kali ya jam segitu," ucapku.
"Iya Key, semoga nanti si Dewi di rumah waktu kita ke sana," sahut Dinar.
Aku pun sampai di rumah terlebih dahulu. Aku lambaikan tanganku ke Dinar tanda kita berpisah.
Aku masuki halaman rumahku.
Tok tok tok..
"Assalamu'alaikum," salamku sambil mengetuk pintu rumahku.
"Wa'alaikumsalam," Ibu membukakan pintu.
Aku berjalan masuk rumah menuju kamarku.
Aku mengganti pakaianku lekas menghampiri Ibu yang sedang duduk santai menonton sinetron kesukaan beliau.
"Bu, nanti aku sama Dinar mau kerja kelompok ke rumah Dewi bolehkan?" tanyaku.
"Iya Bu, terima kasih selalu mengingatkan Dedek," kataku sambil mencium Ibu.
"Iya Dek, kan sudah kewajiban Ibu jadi orang tua, oh iya Dedek makan dulu ya baru berangkat," kata Ibu.
"Masih nanti jam 3 kok Bu, di sini dulu nemenin Ibu nonton tv," ucapku.
Aku pun nonton tv bersama Ibu, aku tidak tahu dari kapan aku tertidur, ibu membangunkan ku.
"Dek, ayo salat dulu terus makan ya," Suruh Ibu.
"Iya Bu," jawabku.
Aku berlalu pergi melaksanakan perintah dari Ibu. Selesainya aku melihat jam baru menunjukan pukul dua.
Aku menunggu Dinar sambil menyiapkan buku yang perlu aku bawa.
setengah jam berlalu, aku mulai mendengar Dinar mengetuk pintu rumahku.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum," ucap Dinar.
"Waalaikumsalam, Bu aku berangkat ya Dinar sudah datang," jawabku sembari berpamitan dengan Ibu.
Aku membuka pintu.
"Ayo Din berangkat," ajak ku.
"Mana Ibumu aku mau berpamitan juga?" tanya Dinar.
Aku menunjuk ke dalam rumahku, Dinar pun berlalu memasuki rumah hendak berpamitan dengan Ibu.
__ADS_1
Tidak begitu lama dia keluar, aku dan Dinar menuju rumah Dewi.
Rumah Dewi di desa sebelah. perjalanan cukup lama karena rumah Dewi agak jauh.
Dewi kalau ke sekolah sering kali di antar sama orang tuanya.
Akhirnya aku dan Dinar sampai di depan rumah Dewi.
"Kamu Bel deh Key, kok kelihatan sepi ya, apa dia tidak ada di rumah?" tanya Dinar.
Aku pun memencet bel, belum ada sahutan dari dalam.
"Key, ini kan yang di maksud Dewi kata tetangganya rumah dia yang sebelah ada penunggunya," kata Dinar.
Aku masih tetap memencet bel hingga berkali-kali, tetapi masih tidak ada sahutan.
"Iya Din, ini ke mana si Dewi sih? beneran lupa deh kayanya ini anak," Ucapku
"Kamu lihat dari itu jendela ada orang tidak di dalam," Suruh Dinar.
"Kenapa harus aku sih kok tidak kamu saja Din?" ucapku menggerutu.
"Kamu kan biasa temenan sama hantu barang kali tiba-tiba dia muncul hii serem," ucap Dinar.
Aku pun mulai mengintip dari jendela untuk memastikan ada orang atau tidak.
Ketika aku melihat ke arah jendela aku melihat ada Dewi di dalam hanya memakai handuk dia tersenyum ke arahku dengan senyuman yang kelihatan seram, dia memasuki kamar mandi.
Aku masih berpikir positif mungkin dia lagi mandi.
"Ada kok di dalam aku waktu ngintip dia lagi mau mandi, dia melihat ke arahku dengan senyuman tetapi lihatnya kok seram sih," ucapku dengan menggaruk kepala.
"Merasa aneh tidak sih kamu Key, bagaimana Dewi tau kalau kamu lagi mengintip hayoo, dia saja tidak membukakan pintu?" tanya Dinar.
"Iya-ya Din, sudahlah di tunggu saja mungkin mau mandi dulu," jawabku.
Cukup lama aku dan Dinar menunggu, sampai setengah jam Dewi pun tak kunjung keluar.
"Pulang yuk Key, ini lama banget loh, perasaanku kok tidak enak gini, kita kerjakan di rumah kamu saja terburu sore juga kita pulang nanti," usul Dinar.
"Iya ayo pulang kalau begitu," jawabku.
Aku dan Dinar pun kembali mengayuh sepeda menuju jalan pulang.
Cukup lama perjalan kami, akhirnya tiba di rumahku.
Ibu yang melihatku sudah pulang pun bertanya, "Kok sudah pulang dek, apa sudah selesai?"
"Tidak jadi tante, kayaknya Dewi tidak ada di rumah," jawab Dinar.
"Kok kayaknya? kaya ragu aja kamu Din jawabnya," tanya Ibu.
"Bagaimana tidak ragu Tante, si Keyla saja tadi aku suruh mengintip dari jendela dia melihat ada Dewi, tetapi anehnya dia menatap Keyla dari dalam tetapi tak kunjung membukakan pintu," Dinar bercerita.
Aku pun sebenarnya merasa aneh, bagaimana si Dewi tahu kalau aku mengintip.
Kalau dia benar-benar mau mandi ya jalan saja.
Kalau ini tidak sih dia kayak sudah berdiri di sana dari tadi sengaja mau lihatin senyumnya ke aku.
"Kok ada yang janggal ya," sahut Ibuku.
"Dedek aja merasa aneh kok Bu, dia itu kaya sudah sedari tadi berdiri di situ loh Bu,"
"Besok kalau sekolah di tanyakan lagi ya ke Dewi, sekarang belajar dulu," ucap Ibu.
Aku dan Dinar pun mematuhi kata-kata Ibu.
__ADS_1
Besok akan aku tanyakan ketika sudah masuk sekolah.