
Dari kejauhan aku melihat anak kecil berjalan sembari membawa bunga matahari ditangannya. Dia pun mengenakan baju berwarna oranye, dia cantik dan berkulit putih bersih.
"Esteh. Berhenti, Bu," Celetukku.
Ibu pun mengikuti kemauanku, beliau memberhentikan kursi rodanya. Anak itu berjalan sembari membawa bunga tampak wajah yang bahagia.
"Kenapa, Dek?" tanya ibu.
Aku pun hanya menunjuk ke arah anak kecil itu. Sontak ibu dan nenek melihat ke arahnya.
"Kenapa? Keyla mau bunga matahari?" tanya nenek.
"Bukan, Nek. Anak kecil itu, dia persis teman gaibku waktu dalam mimpi, si Esteh," ujarku.
Nenek melihat ke arah ibu dengan penuh pertanyaan.
"Dia Emely, rumahnya tak jauh dari sini kok. Dia satu desa sama Wulan, dia berkunjung ke sini di rumah neneknya di gang depan itu. Semenjak Tantenya meninggal dia sering ngajak ke rumah neneknya," ujar nenek.
Ibu pun kembali mendorong kursi rodaku menuju rumah, agar aku bisa istirahat dan sekedar berbaring.
"Tante?" tanyaku penasaran.
Kami sembari masuk ke dalam rumah nenek tetap mencoba menjawab pertanyaanku.
"Iya, Esther namanya. Dia salah satu korban yang meninggal waktu bukit pinggiran jalan ke pantai longsor," jawab nenek dengan santai.
Aku pun terperangah mendengar jawaban nenek.
"Jadi ini yang di maksud, Esteh?" ucapku bertanya pada diri sendiri.
"Bukannya yang meninggal itu Pak Ahmad atau siapa itu, Bu?" sahut ibu.
"Iya, keluarga Esther aslinya di desa sebelah. Tetapi semenjak kematiannya itu, ibunya gampang nangis histeris gitu. Jadi pihak keluarga membelikan rumah di jalan gang depan, agar tak selalu mengingat anaknya," jawab nenek lagi.
Aku bingung dengan penjelasan nenek apa hubungannya berkunjung dengan kematian Esther?
"Terus apa hubungannya kematian Esteh sama Emely berkunjung?" tanyaku tampak bingung.
"Jadi gini, orang dulu itu percaya kalau kerabat yang meninggal dan ada bayi atau balita, kemungkinan besar sukma orang meninggal itu ikut ke anak itu. Jadi mereka percaya, kalau Emely seperti itu karena sukma Esther kangen mengunjungi mamanya," jelas nenek.
Aku hanya mengangguk-anggukan kepala, aku mencoba memahami walaupun sulit untuk kunalar dengan baik.
"Paham, Nak?" tanya ibu.
Aku hanya mengedikkan bahuku. Setelah itu, ibu kembali mendorong kursi roda menuju kamarku.
"Istirahat dulu, nanti kalau ashar ibu bangunin," ujar ibu.
__ADS_1
Aku mencoba menggerak-gerakan kakiku, aku ingin turun sendiri dari kursi roda. Benar saja, kakiku dapat aku gerakkan lagi.
"Bu, kakiku," ujarku sembari mengangkat perlahan kakiku sebelah kanan.
"Ya Allah, Alhamdulilah. Ayah ... Yah!" teriak ibu memanggil ayah dengan senyum merekah di wajahnya.
Ayah pun dengan cepat masuk ke dalam kamar. Saat ini juga ibu memberitahukan ke ayah tentang kakiku dan aku pun menunjukkannya.
Ayah membantuku untuk berdiri, dengan cara menopang badanku menggunakan tangannya di bawah ketiakku.
"Dek coba jalan," ujar ayah.
Dengan kaki terasa sedikit bergemetar, aku tetap berusaha untuk berjalan. Satu langkah, dua langkah mulai bisa walaupun terasa tertatih.
"Yah, aku bisa," ujarku, tak aku sadari meneteskan bulir air mata ke pipiku.
Ibu dengan cepat memelukku, beliau menciumi keningku sembari meneteskan air mata.
"Keajaiban lagi, Dek. Kamu wajib bersyukur," ujar ibu.
Dalam hatiku terasa bahagia tak terkira. Kejadian tadi pagi perihal aku tak di ajak sendiri itupun musnah di dalam ingatanku karena rasa bahagiaku terlalu besar. Serasa aku ingin melompat-lompat jika aku mampu.
"Bu, aku pernah janji kalau Keyla pulih untuk buat syukuran. Ini dilakukan nanti kalau sudah pulih seperti sedia kala atau dekat-dekat ini?" tanya ayah.
Ayah sembari menggendongku menuju kasur, karena beliau paham aku sudah merasa lelah.
"Nanti coba minta usulan ke yang lain aja, Yah. Kalau Ibu inginnya ya dekat-dekat ini," jawab ibu.
Serasa dunia memihak kembali kepadaku, aku tak menyangka akan mampu berjalan dalam waktu dekat-dekat ini.
"Kamu istirahat ya, Dek. Besok pagi setelah salat subuh, kita coba belajar berjalan di halaman depan. Coba terapi pakai bebatuan," ujar ayah.
Aku hanya mengangguk, ayah dan ibu menciumku sebelum mereka berdua pergi keluar kamar ini. Terlalu bahagianya aku, sehingga waktu yang sebentar lagi menjelang ashar tak kugunakan untuk tidur, namun memilih untuk berdiam diri di kamar.
Untuk mencoba belajar sendiri aku pun tak berani, takut jatuh dan nambah parah keadaanku.
Aku memutuskan untuk menonton televisi walaupun sendirian. Aku mencari channel televisi kesukaanku.
Tok tok tok!
"Keyla." Terdengar suara Jeje memanggil.
"Iya, masuk," jawabku.
Jeje yang masih mengenakan seragam sekolah menghampiriku.
"Kamu nggak tidur?" tanya Jeje.
Aku menggelengkan kepala, sembari sesekali melihat ke arah tv.
__ADS_1
"Keyla, aku boleh bicara?" tanya Jeje.
"Boleh, kenapa?" tanyaku.
Aku menatap Jeje sembari menunggu pertanyaan yang ingin ia lontarkan. Namun di wajahnya seolah-olah ragu untuk mengutarakannya.
"Kenapa, Je?" tanyaku
"Kamu merasa kemampuan penglihatanmu mengganggu kesembuhanmu nggak?" tanya Jeje.
Aku mengernyitkan dahi, aku bingung apa yang dimaksud Jeje.
"Maksudnya bagaimana?" tanyaku mencoba memastikan.
"Gimana sih?" ucap Jeje sembari menggaruk kepalanya.
Mungkin dia bingung cara yang tepat untuk mengutarakannya. Dia cukup lama untuk bertanya lagi dan aku hanya menunggu tanpa tanya lagi apa maksud dia.
"Nggak jadi deh," ucapnya sembari tersenyum.
Aku memicingkan mata ke arahnya. Aku merasa ada yang di sembunyikan oleh Jeje. Dalam hatiku penuh dengan dugaan yang berkaitan dengan kejadian tadi pagi. Apa yang sudah aku lupakan karena merasa bahagia, saat ini seakan-akan kembali diingatkan dengan tingkah laku Jeje yang mencurigakan.
"Kalau ngomong yang bener! Maksudnya apa!" bentakku serius.
Jeje terperangah saat mendengar ucapanku, karena selama ini tak pernah sekalipun aku berkata dengan menggunakan nada tinggi, walaupun hanya sekali terhadapnya.
"Kok bentak-bentak sih! Ngomong baik-baik dong," ujar Jeje dengan ketus.
Aki menundukkan kepalaku, aku merasa menyesal dengan nada ucapanku.
"Je, maaf bukannya bermaksud bentak kamu. Habisnya kamu ditungguin malah bilang nggak jadi." Ujarku sembari menjulurkan tangan untuk mengajaknya bersalaman.
Dia pun membalas salamanku, dengan melemparkan senyuman ke arahku.
"Kamu tadi pagi dengar yang di omongin orang tuaku?" tanyaku.
Dia menganggukkan kepalanya.
"Mereka ngomong apa?" tanyaku lagi.
"Nenek nyuruh orang tuamu untuk menutup penglihatanmu, mereka takut penglihatanmu menghalang-halangi untuk kamu sembuh," jawab jeje sedikit terbata-bata.
Aku lagi-lagi mengernyitkan keningku.
"Apa hubungannya dengan kesembuhanku?" tanyaku yang kesekian kali.
"Seperti kamu mau ajak mereka ngurusin masalah siapa tuh, aku lupa. Ya maksudnya biar kamu banyak istirahat, nggak keganggu sama makhluk itu," jawab Jeje.
"Si Kevin? Tapi nggak perlu ditutup kan bisa, aku juga merasa baik-baik saja dengan penglihatanku," ujarku.
__ADS_1
Bersambung ....