
"Iya, enam harian. Si Rasni kan dapat kabar keesokannya Anton meninggal," ujar nenek.
Ibu terlihat mengangguk-anggukan kepala, mungkin itu tanda beliau memahami.
"Kasihan ya, Bu. Apa Mbak Rasni tinggal sendiri di rumahnya?" tanya ibu lagi.
Nenek sebelum menjawabnya, mengambil barang yang ibu beli terlebih dahulu.
"Awalnya Rasni tinggal sendiri kalau selama Anton kerja. Nah dari pihak orang tua Anton sesudah Anton meninggal, mereka menyuruh si Wulan untuk menemani," jelas nenek.
"Wulan anaknya Mbak Yola itu loh, Al. Kakaknya si Anton," sahut Tante Santi.
"Iya, aku sudah tahu Kak. Eh kok jadi gosipin orang, ayo masak aja," ujar ibu.
Aku yang mendengarnya pun sontak tertawa, kala melihat ibu-ibu berkumpul tidak luput dari gosip. Tak ada lagi dari tiga wanita terhebat itu yang mengeluarkan suara, hanya suara ketukan pisau yang mengenai talenan.
Aku hanya bisa membantu memotong-motong sayuran. Mereka dengan cepat memasaknya, hingga tak perlu waktu lama masakan pun siap di hidangkan.
Satu persatu dari kami pun menempati kursinya masing-masing, begitu pun dengan aku yang dibantu ayah untuk duduk di kursi yang biasa aku gunakan. Aku menatap ke arah Jeje yang mengenakan seragam khas dari sekolahannya.
Dia terlihat cantik menggunakan seragam berwarna hijau tosca, rambut di gerai dan ada hiasan pita kecil disebelah kanan. Tetapi sepertinya Jeje sadar kalau aku begitu memperhatikannya.
"Keyla, kenapa? Kok memperhatikannya seperti itu?" tanya Jeje.
Aku tertunduk merasa sedih, sebab dalam hatiku pun ingin segera bisa masuk sekolah lagi. Namun itu terasa tidak mungkin, sebab sekolahanku pun jauh dari sini.
"Keyla." Panggil Tante Santi yang melihatku tertunduk.
"Aku kangen sekolah, Tante. Aku pengen bisa belajar lagi," ujarku dengan suara lirih.
Ibu yang berada di sampingku pun mengelus punggungku.
"Sabar, Dek. Semoga cepat sembuh dan bisa belajar secara online dengan ibu guru," sahut ibu.
Aku menatap ibu denhan senyuman merekah di bibirku.
"Benarkah? Tapi nggak sebaiknya kita pulang saja, Bu. Kalau aku sudah sembuh, kan lebih dekat," ujarku.
Ibu tak lantas menjawabnya, namu malah menatap ayah dengan seksama. Aku semakin curiga dengan tingkah mereka, seakan-akan ada yang mereka tutupi dariku.
__ADS_1
"Ayo makan, nanti keburu siang," ujar Jeje memecahkan suasana yang terlihat canggung.
Kami pun segera melahap makan yang ada di piring kita masing-masing. Setelah makanan selesai mulai melakukan aktivitas masing-masing, Jeje berangkat sekolah dengan diantar mamanya, sedangkan ayah menyiapkan berkas untuk kerja esok lusa.
Tinggal kami bertiga, nenek, aku dan ibu. Kami memutuskan untuk pergi ke rumah Mbak Rasni karena nanti malam untuk pengajian malam tujuh hari meninggalnya suami Mbak Rasni.
Di desa memang hal yang wajar untuk tetangganya membantu menyiapkan atau pun menyumbangkan bahan makanan untuk orang pengajian seperti ini. Apalagi nenek rumahnya termasuk cukup dekat dengan Mbak Rasni.
Kami berpamitan dulu ke ayah yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Yah, kami berangkat dulu ya," ujar ibu.
"Iya, Bu," jawab ayah singkat.
Nenek mengambil barang yang sudah beliau masukan ke dalam tas belanjaan. Entah itu apa aku juga tidak mengerti. Kami pun berangkat dengan ibu yang dengan senang hati mendorong kursi rodaku.
Kami berbincang di sepanjang jalan, hingga tak terasa sudah berada di depan rumah Mbak Rasni. Rumah yang tak begitu besar, namun terlihat ramai karena ada orang mengaji dan orang bantu-bantuan untuk menyiapkan.
Terlihat Mbak Wulan sedang memberikan cemilan ke orang yang sedang membaca Al-Quran, ibu memutuskan untuk memanggilnya.
"Wulan." Panggil ibu dari depan rumah sembari melambaikan tangan ke Mbak Wulan.
"Mari masuk, lewat pintu samping saja, ya. Sebab rungan depan ada orang mengaji, nggak enak kalau mau lewat," ajak Mbak Wulan.
Mbak Wulan jalan terlebih dahulu, lalu kami bertiga mengekor di belakangnya.
"Rasninya ada Lan?" tanya nenek.
Kami pun masuk ke rumah Mbak Rasni, lalu kami berempat berjalan menuju dapur yang di sana sudah banyak tetangga sekitar membantu.
Mulai dari mengupas, memotong dan memasak pun mereka lakukan. Aku tak tahu mana yang di sebut Mbak Rasni itu, sebab aku tak pernah melihat sebelumnya.
"Eh, Bu Rahma dan Mbak Alifia. Ini anaknya yg sakit itu, ya?" tanya salah satu dari mereka sembari menatap ke arahku.
Ibu dan nenek pun ikut duduk jadi satu dengan mereka, aku hanya melihat mereka yang sedang sibuk dengan yang dilakukan masing-masing.
"Iya, Bu. Alhamdulillah lagi masa pemulihan," ujar ibu menjawab pertanyaan dari mereka.
Ibu teto ramah menjawabnya, dengan senyuman yang merekah dari bibirnya
__ADS_1
"Nggak nyangka ya, Mbak. Adeknya bisa sembuh, padahal koma hampir satu bulan lamanya, semoga cepat sembuh ya, Dek," ujar salah satu Mbak-mbak yang ada di sana sembari memegang lututku.
Mbak Wulan pun sibuk dengan akivitasnya di depan, kami hanya sibuk di belakang menyiapkan makanan yang akan digunakan untuk pengajian.
"Makasih ya, Kak," ujarku sembari tersenyum.
"Aku Anita. Nama kamu siapa?" tanya Mbak-mbak yang tadi mengajakku bicara.
"Aku Keyla, Kak," jawabku.
Nenek terlihat celingukan di sini seperti mencari sesuatu yang tak terlihat.
"Rasni ke mana? Kok nggak lihat ya," tanya nenek.
Tiba-tiba ibu-ibu yang ada tepat di samping nenek mendekatkan wajahnya ke telinga nenek.
"Itu Mbak Rahma, si Rasni duduk di bawah pohon asem di belakang rumahnya," ujar ibu itu sembari tangannya menunjuk ke arah belakang rumah.
Nenek pun mencoba menoleh ke arah yang ibu itu tunjuk.
"Eh iya, Kom. Ngapain dia di sana? Kan kita ke sini untuk membantu, kenapa dia malah menyendiri?" telisik nenek.
Aku mencoba melongok ke arah belakang rumah, namun pandanganku tak mampu menjangkaunya.
"Keyla mau tahu yang di ucapin ibuku?" tanya Kak Anita.
Aku menatapnya dengan penuh pertanyaan.
"Ini Bu Kokom, Ibuku. Yang di bilang itu Mbak Rasni yang punya rumah ini," jelas Kak Anita.
"Iya, Dek Keyla. Si Rasni sejak suaminya meninggal jadi aneh, ada orang mengaji dan bantu menyiapkan makan malah dia duduk sembujung di tanah sendirian, di bawah pohon asem lagi," ujar Ibu Kokom dengan wajah julidnya.
Aku menatap Bu Kokom dengan mengernyitkan dahiku.
"Eh iya, padahal pohon asem rumahnya genderuwo loh. Kok nggak takut kalau di ganggu genderuwo." Ibu-ibu yang satunya juga ikut bicara sembari mengedikkan bahunya.
"Eh, apaan ini. Kok jadi gosipin yang punya rumah," ujar Nek Rahma.
"Abisnya yang punya rumah gitu, Bu. Dia dibantuin kok malah ngilang sendirian di belakang rumah," sahut Bu Kokom.
__ADS_1
Bersambung ....