Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Cerita Wulan (4)


__ADS_3

"Iya, Kakak segera ke sana. Kalian pulang terlebih dahulu, ya," ujarku dengan lembut


Mereka berdua pun segera berlari menuju rumahnya, sedangkan aku kembali masuk ke dalam. Aku memutuskan untuk berpamitan ke Tante Rasni, aku tak mungkin hanya berdiam diri di rumah tanpa melakukan aktivitasku sendiri.


"Tante, aku ke rumah Bu Heny, ya. Aku mau ngajar Isel sama Salwa," ujarku sembari mencium tangan Tante Rasni.


Beliau hanya mengangguk mengiyakan ucapanku. Aku pun bergegas berangkat, walaupun sebenarnya di hati nggak tega, takut kenapa-napa dengan tante.


Aku pun sampai di rumah Salwa, di sana sudah ada Bu Heny dan kedua anak itu. Aku pun menyampaikan ke beliau jika tak bisa lama-lama aku, sebab khawatir dengan Tante Rasni.


Bu Heny pun menyadari dengan keputusanku, Aku meluangkan waktu untuk mengajar hanya setengah jam saja, lalu aku kembali berpamitan. Bu Heny selalu memberikan upah ketika selesai mengajar, yaitu sebesar sepuluh ribu setiap satu kali pertemuan untuk satu anak. Aku pun tak pernah menentukan seberapa banyak, aku hanya menerima pemberian dari mereka.


Setelah berpamitan aku segera untuk pulang.


"Dek Wulan, tunggu!" panggil Bu Heny lagi ketika aku sudah melangkah menuju jalanan.


Aku pun berhenti dan menoleh.


"Iya, Bu," jawabku.


Beliau menghampiriku dengan membawa satu kantong kresek di tangannya.


"Ini ada sedikit camilan, untuk kamu dan Rasni. Dek Wulan, kalau Ibu saranin sih Rasni juga di bawa ke pak kyai, takut ada setan yang mengganggu," ujar Bu Heny.


Aku pun tersenyum ke arah beliau sembari menerima pemberiannya.


"Makasih loh, Bu. Iya nanti saya coba bicarakan ke orang tua saya. Mari," ujarku dengan tetap tersenyum.


Aku kembali melangkah, namun kali ini dengan langkah cepat agar sampai di rumah tak terlalu lama.


Sesampainya di rumah, aku membuka pintu mencari keberadaan Tante Rasni. Rumah ini begitu hening seperti tak ada seorang pun yang menghuninya.


"Tante." Panggilku.


Tak ada jawaban, aku menghampiri kamarnya tak ku temukan dia di sana. Aku mencari kesetiap sudut ruangan juga masih tak menemukannya. Tiba-tiba aku teringat kejadian pagi tadi yang melihat Tante Rasni di bawah pohon.


Aku memutuskan untuk melihat ke arah belakang rumah, terlihat tante sedang duduk di atas tikar dan menyandarkan badannya ke pohon asem itu. Beliau terlihat sedang berbicara, aku perlahan menghampiri tiba-tiba dengan sorot tajam beliau melihatku.


Sorot matanya sedikit berbeda, seperti sedikit berwarna merah di bola matanya.


"Tante, sudah siang. Masuk, yuk." Ajakku menghampiri Tante Rasni.


Malah beliau terlihat marah dan mendorongku hingga terjatuh. Tante Rasni berlari menuju ke dalam rumah, aku pun bergegas mengejarnya.


Braakk!!


Tante Rasni masuk ke dalam kamar dengan membanting pintunya. Aku semakin takut hingga memutuskan untuk menghubungi keluargaku yang lain.


Aku menelepon ibuku, selaku ipar dari Tante Rasni.


"Halo, ada apa, Nak?" tanya ibu yang berada di luaran sana.


"Bu, bisa ke sini nggak sih? Aku takut," ujarku.


"Ibu masih kerja, Nak. Ada apa memangnya?" tanya ibu lagi.


"Panjang, Bu. Nggak bisa ceritain, ya sudah kalau nggak bisa," ujarku sembari mematikan panggilannya.


Aku mencoba mengetuk pintu tante, terlihat beliau mengerang seperti orang yang sedang ke surupan.


"Tante, buka pintunya," suruhku.


Tak ada jawaban, namun dari dalam terdengar seperti orang yang sedang berjalan di tembok kamarnya. Aku semakin panik, ingin keluar takut terjadi apa-apa.


"Tante, bukain pintunya," ujarku lagi.

__ADS_1


Tetapi malah suara langkah di tembok kamar terdengar sangat jelas. Aku yang panik bergegas mencari bantuan siapa saja yang berada di depan rumahnya.


Beruntungnya aku, saat keluar rumah melihat dua pemuda sedang berjalan melewati depan rumah ini.


"Kak, tolong!" teriakku.


Mereka pun segera berlari menghampiriku.


"Ada apa, Wulan?" tanya mereka.


Aku kembali masuk rumah sembari melambaikan tangan ke arah mereka. Mereka berdua pun mengekor di belakangku. Aku berdiri di depan kamar Tante Rasni.


"Tolong, Tanteku terlihat aneh nggak seperti biasanya. Dengarkan benturan seperti langkah kaki, namun terdengar di tembok," ujarku dengan panik.


Mereka sontak mendekatkan telingannya ke tembok kamar Tante Rasni.


"Eh iya, Mad. Aku mendengarnya," ujar salah satu pemuda.


Aku menatap mereka dengan penuh harap supaya dapat membantu melihat keadaan tanteku yang di dalam.


"Gimana kalau di dobrak saja pintunya, Wulan?" tanya salah satu dari mereka.


Aku oun mengangguk dan berharap mereka berhasil membukanya.


Duk duk duk!


Terdengar langkah kaki mengenai plafon rumah ini.


"Riz, kamu dengar?" tanya teman pemuda itu.


Brak brak brak!


Berkali-kali mereka berdua mendobrak pintu ini, akhirnya bisa juga. Kami bertiga tercengang saat melihat kondisi Tante Rasni yang sedang menatap kami dengan tajam.


"Wulan, Tantemu kesurupan itu. Kami nggak bisa apa-pa," ujar mereka juga terlihat panik.


Pemuda itu pun berlalu pergi keluar rumah, posisi tante Rasni saat ini berada di plafon. Beliau menempel seolah-olah film sepiderman. Posisi dia terbalik, seperti tak ada gravitasi di bumi ini.


"Tante, sadarlah," ujarku.


Dalam hatiku terus berucap ayat suci Al-Qur'an saat melihat kondisi Tante Rasni. Aku ketakutan dan panik menjadi satu, hingga aku tak menyadari memeluk satu pemuda yang di sini menemaniku.


"Baca doa, tunggu Ahmad dan pak kyai datang. Tenang aku menemanimu," ujarnya.


Aku mencoba tak cemas, namun sepertinya tak bisa.


"Kalian pergi!" teriak tante.


Tante Rasni seolah-olah merayap di plafon. Tak berselang lama pemuda bernams Ahmad datang dengan pak kyai.


Pak kyai mencoba membantu menyembuhkannya, namun malah terjadi peperangan antara mereka. Tante Rasni berteriak dan mencoba melukai pak kyai.


Cukup butuh waktu yang lama untuk menyadarkan Tante Rasni, tetapi akhirnya dengan sudah payah pak kyai dapat menyembuhkannya.


Aku bantu Tante Rasni untuk di baringkan di atas kasur, agar beliau berisitirahat. Sedangkan aku mengajak mereka untuk berbicara.


"Untuk kalian berdua dan pak kyai, makasih atas bantuannya. Saya harap jangan ada yang memberitahukan kejadian ini ke orang lain, ya," ujarku memohon kepada mereka.


Mereka pun hanya mengiyakan. Setelah kejadian itu, sudah mulai seperti biasa. Namun tante seolah-olah masih bungkam mulutnya. Beliau masih tak mau di ajak berinteraksi.


Beliau masih terlihat bengong sendirian, jika aku mencoba menemani pasti di tinggal pergi. Sehari itu, aku tetap membiarkan tante untuk beristirahat di kamarnya.


Waktu ashar pun tiba, aku kembali melihat keadaan Tante Rasni. Beliau terlihat duduk di samping tempat tidurnya, dengan tatapan kosong.


"Tante, mandi yuk. Biar segar badannya," ujarku.

__ADS_1


Beliau hanya menatapku, lalu kembali naik ke atas kasur dan berbaring lagi. Tiba-tiba beliau menangis sesegukan mengingat Om Anton kembali.


"Tante, besok kita ke dokter ya. Aku nggak rela Tante terus-terusan seperti ini," ujarku.


Setelah itu, aku memutuskan untuk segera mandi dan melakukan aktivitasku sebelum nanti aku berangkat untuk mengajar mengaji.


_____________


Senja mulai datang, tiba-tiba aku melihat Tante Rasni menggunakan kemben jarik menuju kamar mandi.


"Tante, mandi?" tanyaku dengan ramah.


Namun malah Tante Rasni menatapku dengan sorot mata yang tajam. Beliau bergegas menju kamar mandi, sedangkan aku saat itu bergegas berpamitan sebelum magrib tiba.


"Tante, akuberangkat mengajar dulu ya. Tante di kamar saja, ya. Nanti aku nggak lama kok," ujarku.


"Iya," jawabnya.


Aku mendengarkan Tante Rasni dengam santainya berdendang di kamar mandi. Lagi-lagi terlihat seolah-olah dia tak meratapi duka itu. Aku melangkahkan kaki menuju pintu utama, lalu berangkat untuk mengajar mengaji.


Aku melangkah dengan cepat, supaya saat magrib tiba sudah sampai di masjid. Tegur sampa sepanjang jalan kala bertemu orang pun selalu aku lakukan.


Sesampainya di masjid, aku melihat anak-anak kecil sudah berkumpul di sana. Ada yang berlarin ke sana dan kesini. Ada pula yang hanya duduk diam memainkan tasnya.


"Assalamualaikum." ucapku.


"Waalaikum salam." jawab mereka secara bersamaan.


Mereka yang mendengar salamku, dengan cepat bergegas menempati tempat masing-masing.


"Jangan lari-larian di dalam masjid, ya. Ayo, wudhu dulu, kita salat magrib bersama-sama," ujarku.


Mereka semua berjalan menuju tempat wudhu yang ada di samping masjid. Dengan antri tertib mereka wudhu secafa bergantian.


Adzan berkumandang, aku mengarahkan mereka untuk salat berjamaah bersama dengan yang lain. Mereka menurut dan antusias.


Salat pun di laksanakan, setelah selesai mereka berkumpul kembali menjadi satu. Aku mulai mengajar mengaji mereka, aku seakan-akan lupa akan kondisi tanteku.


Saking asiknya, hingga tak terasa adzan isya' pun berkumandang. Aku pun selesai mengajar, aku memutuskan untuk salat berjamaah lagi baru pulang.


Aku melangkahkan kaki bersama anak-anak yang rumahnya dekat dengan Tante Rasni. Mereka mengucap salam dan berpamitan saat sampai di rumah masing-masing, rumah tante yang berada di ujung, mengharuskan aku berjalan cukup jauh sendirian.


"Assalamualaikum." ujarku.


Aku melihat tante duduk di kursi ruang tamu, namun tak menjawab salamku. Aku biarkan saja, hanya aku mendekati untuk menanyakan apa dia sudah makan apa belom. Ternyata beliau pun menjawab sudah, lalu beliau beranjak dari tempat duduknya.


"Mending kamu pulang saja. Jadi aku nggak perlu nunggu kamu pulang ngajar ngaji," ucap tante dengan ketus, lalu meninggalkan aku ke kamar.


Aku memutuskan mengunci semua pintu, lalu memutuskan untuk tidur lebih awal. Sebab selama di sini, aku selalu tidur lebih awal dari biasanya.


Aku memejamkan mataku dan tak butuh waktu lama aku pun terlelap dalam mimpiku. Entah berapa lama aku tertidur, kemudian aku terbangun. Terasa kering dan haus tenggorokan ini, aku memutuskan bangun dan mengambil segelas air ke dapur lalu kembali lagi ke kamar.


Aku mendengar Tante Rasni seperti malam sebelumnya. Berbicara sendiri dengan nada yang berat dan sedikit desa*han di sana. Namun, kali ini aku memutuskan tak menegornya karena ucapannya tadi sore membuatku segan.


Kejadian seperti itu selalu terulang-ulang di malam berikutnya, aku semakin curiga sebenarnya apa yang ia lakukan. Tak hanya itu saja, beliau pun tetap sepanjang hari di menghabiskan waktu duduk di pohon asem itu.


*******


Keyla PoV


Mbak Wulan pun terus bercerita, sedangkan kami yang berada di sini mendengarkan sembari beraktivitas.


"Loh Wulan, kenapa baru cerita? Jangan-jangan Tantemu digauli genderuwo?" ucap Bu Kokom dengan penuh praduga.


"Apa sih, Bu. Jangan gitu kasihan wulan," tegur Kak Anita.

__ADS_1


"Bener, loh. Genderuwo bisa merubah wujud seperti suaminya," tegas Bu Kokom dengan mulut nyinyirnya.


Bersambung ....


__ADS_2