
Dokter terlihat menggelengkan kepalanya, lalu saat ini dokter menyuruhku untuk mencoba berbicara.
"Kamu coba bilang ... a-ku." Dokter mengajariku.
Saat itu juga aku mencoba mengeluarkan suaraku, tetapi apa daya hanya bibirku yang bergerak suaraku tak keluar.
"Ayo, Nak. Kamu pasti bisa," ucap nenek.
Aku terus mencobanya tetapi, hasilnya tetap sama. Setelah itu, aku melirik ke sebelahku, aku melihat Esther duduk di atas pembatas kamar ini. Aku berbicara dengannya dalam hati, aku lumpuh?
Dia menggelengkan kepalanya.
"Maaf, mungkin saat ini saraf di bagian otaknya belum sepenuhnya bekerja karena sudah cukup lama pasien ini mengalami koma," ujar dokter.
"Apa, dia akan seperti ini terus?" tanya ibu dengan penuh ke khawatiran.
"Nanti bisa di bantu dengan terapi untuk perkembangannya," jawab dokter.
"Baik, Dok," sahut ayah.
Aku yang mendengarnya merasa bingung, aku merasa tadi aku terbawa ke dunia itu belum melewati satu hari. Aku hanya melihat siang, tapi memang semua terasa lama. Kenapa dokter berbicara kalau aku sudah lama koma? Bukannya tadi ada makhluk yang masuk ke dalam ragaku?
Pertanyaan demi pertanyaan ingin aku lontarkan, tetapi apa daya dengan keadaanku yang seperti ini. Berasa tubuhku seperti bayi yang baru dilahirkan tapi ini lebih parah, untuk mengangkat tangan aja aku tak mampu.
Aku saat ini hanya mampu bersyukur karena masih diberikan hidup yang kedua, walaupun keadaanku berbeda. Yang paling penting aku dapat melihat senyuman dari kedua orang tuaku. Kalau ditanya apa aku sedih, ya aku sangat sedih, aku ingin menangis.
Entah ini hari ke berapa aku berada di sini, yang aku tahu baru sebentar. Tetapi berbeda dengan ucapan dokter yang menyebutnya aku sudah lama di sini.
Aku melihat kedua orang tuaku, mereka tersenyum. Aku pun tersenyum ke arah mereka, tetapi di belakangnya aku melihat sosok besar yang membelakangi. Aku ingin memberitahukan ke mereka, tetapi lagi-lagi mulutku hanya bergerak tapi tak dapat mengeluarkan suara.
Aku melihat ke arah Esther lagi, dia pun juga sedari tadi sudah menatapku.
"Esteh, itu siapa?" Tanyaku.
Esther tak menjawab, hanya mengisyratkan telunjuknya diletakkan tepat di depan mulut. Tetapi aku tak paham dengan isyarat itu, aku terus bertanya-tanya walaupun dalam hati.
"Esther, kenapa? Kok nggak jawab?" Tanyaku lagi.
Esther tetap dengan isyarat yang sama, tetapi saat ini terlihat penekanan dalam tangannya. Tiba-tiba sosok itu memutarkan kepalanya 180°, sehingga badannya dan kepalanya menghadap berlawanan.
__ADS_1
Aku terpaku menatap makhluk itu, secara perlahan badannya berbalik menghadap ke arah kepalanya. Aku hanya terdiam, terpaku tak bisa berbuat apa-apa.
(Sumber: google)
"Esteh, usir makhluk itu!" Perintahku.
Dia hanya menggeleng, dia pun juga tak beranjak dari tempatnya. Aku kembali menoleh ke makhluk itu, tiba-tiba dia tepat berada di depan mataku.
Aku ingin meronta namun tak bisa, berteriak pun tak ada yang mendengarnya.
"Hahahaha." Makhluk itu tertawa.
Suara itu terdengar seperti di lorong gelap itu, aku mencoba mengerakkan mulutku, aku mencoba mengisyaratkan kepada kedua orang tua dan nenekku.
Mereka paham dengan isyarat mulutku.
"Dedek mau ngomong apa?" Tanya ayah.
Mataku terbelalak, mulutku bergerak tanpa suara.
Lalu aku memejamkan mataku, dengan ekspresi ketakutan.
"Dedek takut?" Tanya ayah lagi.
Makhluk itu terasa mendekat dan kian mendekat, aku tetap memejamkan mataku. Aku berharap aku dapat mengeluarkan suaraku walau hanya saat ini saja. Aku ingin keluargaku tahu ketakutanku.
"Yah, Dedek sepertinya ketakutan. Mungkin dia melihat sesuatu," terdengar suara ibu.
Di saat kepanikanku, lamat-lamat aku mendengar suara orang membaca ayat suci alquran. Aku mencoba membuka mataku secara perlahan, aku melihat ke arah makhluk itu. Makhluk yan besar itu meronta-ronta seperti orang kesakitan, dia berteriak-teriak.
"Dasar manusia, kami bangsa iblis lebih pintar dari pada kalian. Kami lebih mulia dari pada kalian!" ujar makhluk itu.
Secara perlahan makhluk itu hilang, lalu aku melihat ke sumber suara, ternyata nenek yang sedang membaca ayat suci alquran itu.
Ayah dan ibu melihat ke arahku yang sudah lebih tenang dan membuka mata. Beliau kembali tersenyum, sembari mengelus kepalaku.
"Dek, maafkan kami yang saat ini tidak mengerti apa yang kamu maksud," ujar ibu lalu menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ibu, jangan pernah sedih lagi. Andai Ibu dan Ayah tahu, aku sudah merasa bahagia karena masih diberikan hidup untuk saat ini," ucapku dalam hati.
Nenek berjalan menghampiriku, lalu menggantikan posisi tempat duduk yang sebelumnya ditempati ibu. Beliau mengelus kepalaku, menciumku dan aku menyadari jika beliau juga meneteskan air matanya.
"Maafkan Nenek ya, Key. Mungkin jika Nenek lebih cepat ke sini, mungkin kamu sudah sadar dari komamu dari dulu," ujar nenek.
Beliau dengan cepat menyeka air matanya yang menetes, mungkin beliau tak ingin jika aku mengetahui rasa penyesalannya itu. Lalu beliau menatapku sembari menyunggingkan senyumannya.
"Nek, aku ingin memelukmu. Andai Nenek juga tahu, aku sudah merasa bahagia bisa berkumpul lagi dengan kalian. Aku tak ingin kalian merasa sedih atau pun merasa menyesal," ucapku.
Nenek beranjak menghampiri ayah dan ibu, lalu memegang pundak mereka.
"Al, Dimas, saat ini hanya alquran yang mampu menolong Keyla, dan juga dengan alquran bisa membuat dia merasa aman," nasihat nenek.
Beliau menarik napas lebih dalam, lalu kembali berbicara.
"Anak kalian tetap memiliki kemampuan yang sama, tetapi mungkin keadaannya saat ini yang membedakan. Mungkin kalian saat ini tak dapat mendengarnya juga, tetapi kalian bisa melihat dari ekspresinya," tambah nenek lagi.
"Iya, Bu." Ujar ayah dan ibu secara bersamaan.
Mereka bertiga melihat ke arahku. Mereka memberikan harapan yang cukup besar denganku, sebenarnya aku tak ingin mengecewakan. Aku yakin pada diri sendiri bahwa aku bisa sembuh, aku harus berusaha semampuku.
Aku mencoba mengangkat tanganku berkali-kali, tetapi tak bisa. Aku dengan kekeh mencoba menggerakan tubuhku yang lainnya tetapi tetap sama. Memiringkan badanku aja aku nggak sanggup, apa lagi aku harus mengangkatnya untuk duduk.
Tanpa ku sadari aku meneteskan air mata, mereka bertiga ternyata menyadarinya. Mereka dengan cepat menghampiriku.
"Keyla, kenapa? Ada yang ganggu ... atau ada yang sakit? Di mana, Dek?" tanya ibu merasa panik.
Aku bingung harus menjawab seperti apa. Lalu aku memutuskan untuk tersenyum agar mereka tahu bahwa aku sebenarnya baik-baik saja.
Mereka melihat senyumanku, sontak mereka membalasnya.
"Jangan menangis ya, Dek. Ayah dan Ibu selalu ada buat kamu, kami semua menyayangimu," ucapnya.
Aku tersenyum kembali, agar mereka tak pernah merasa putus asa dengan usahanya. Rasanya aku ingin sekali memeluknya lalu mengucapkan terimakasih.
Aku tak tahu harus membalas semua pengorbanan mereka dengan apa.
Tubuhku yang semula terasa baik-baik saja, tiba-tiba saat ini merasa aura lain datang kepadaku.
__ADS_1
Bersambung....