Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Esther (Esteh)


__ADS_3

Oh iya, Aku mulai berteman sama si Esther setelah aku pulang dari rumah nenekku waktu itu. Ketika aku baru masuk ke kamarku hendak beristirahat aku hanya biasa saja memang belum terlihat si Esther.


Tetapi, ketika aku mulai baringkan tubuhku di atas kasur, aku terkejut melihat Esther di atas lemari. Awalnya aku takut dan tidak berani melihatnya.


"Hai, aku Esther, temenan yuk," ucapnya kala itu.


Aku yang merasa ketakutan masih tetap menutup mataku dengan telapak tangan.


"Pergi, aku tidak mau temenan sama kamu," jawabku.


"Aku baik kok, lihat saja aku cantik loh," ucapnya.



Aku memberanikan diri untuk melihat. Dia sangat cantik, bahkan tidak terlihat seperti hantu kalau bisa di lihat seperti orang biasa.


"Kamu ngapain di atas lemariku?" tanyaku.


"Aku ngikut kamu saja dari kemaren, cuma kamu tidak sadar kayanya," jawabnya.


"Kamu beneran hantu?" tanyaku.


"Sepertinya aku beneran hantu, soalnya aku bisa terbang," jawabnya konyol.


"Burung bisa terbang, walaupun bukan hantu," ucapku.


"Oh iya ya, maaf aku suka lupa hehehe," jawabnya sembari tertawa.


"Aku keyla, tadi namamu Esteh ya?" tanyaku.


"Esther namaku," ucapnya.


"Senter?" tanyaku lagi.


"Esther," jawabnya sedikit ketus.


"Esteh ajalah, bikin nama kok susah-susah," kataku.


"Bikinan orang tuaku, aku tinggal makai saja," jawabnya.


Mulai saat itu aku berteman dengan dia. Dari tubuhnya aku tidak takut untuk melihatnya. Dia seperti beda dengan hantu-hantu yang lain, dominan menyeramkan. Ini hantu cantik banget.


Dia selalu ceria, bahkan dia jadi hantu pun terlihat konyol. Umurnya jauh di atasku, tetapi wajahnya yang imut membuat dia terlihat awet muda.


Aku berteman ya hanya sebatas bicara ketika di ajaknya ngobrol, karena aku tidak mau terjebak akan dunianya.


***


Hari ini dia terlihat berbeda. Dibalik keceriaan dan kekonyolan yang di perlihatkan selama ini, ternyata terlihat luka yang membekas di hati. Tapi itu apa aku juga tidak tahu.


Aku merasa iba melihat Esther yang biasanya periang, berubah sedih seperti ini.


"Esteh, jangan menangis? Cerita dong, kamu kenapa?" tanyaku.


Dia menatapku dengan wajah yang sendu, air mata yang tidak ada hentinya jatuh ke pipi.


"Esteh, iya nanti aku mintain bunganya, jangan nangis," ucapku.


"Ngomong-ngomong, air matamu itu juga berupa air kaya manusia tidak?" tanyaku penasaran.


Aku mendekati Esther, aku melihatnya lebih dekat hanya untuk mengetahui air matanya saja.


"Keyla, aku sedih," ucapnya.


Aku duduk di kursi tepat di sampingnya.


"Cerita saja, aku dengerin," kataku.

__ADS_1


"Kita ke kamarmu yuk, Key," ajaknya.


Aku pun tanpa menjawab bergegas beranjak dari tempat dudukku, aku melangkahkan kaki menuju kamar. Aku sengaja mengejek dia, karena tidak biasanya dia sesedih ini.


Sesampainya di kamar, aku duduk di kursi tempat belajarku. Sedangkan si Esther seperti biasa, dia selalu nangkring di atas lemari.


"Esteh, duduk di dekatku," ucapku.


Dengan cepat dia melayang ke arahku. Sekarang dia duduk di atas kasurku.


"Aku kangen sama Bang Ismed," ucapnya.


"Bang Ismed? Apa itu nama tunangan mu?" tanyaku.


Dia mengangguk.


"Iya, Bang Ismed itu tunanganku, bahkan sebentar lagi akan menjadi suamiku," ucapnya dengan nada yang sedih.


"Kalian akan segera menikah?" tanyaku lagi.


"Iya, kemungkinan di tahun ini aku akan menikah dengannya, tetapi takdir berkata lain," jawabnya.


Air mata semakin deras jatuh ke pipinya.


"Kamu cerita ya Esteh, soal kisah mu sama bang Ismed sampai kamu meninggal," pintaku.


"Kenapa dari dulu kita berteman baru nyuruh aku cerita sekarang, Key?" tanya Esther.


"Kamu keliatan bahagia terus, ku kira enggak ada masalah sama sekali, buruan cerita mumpung aku lagi mood," ucapku.


"Pindah tempat kamu, aku mau dengerin ceritamu sambil rebahan," perintahku.


Dia hanya mengikuti perintahku, memang terdengar aneh kalau lihat hantu nurut saja. Tetapi memang seperti itu nyatanya, di kala hantu kehilangan popularitasnya di mata anak Indigo.


Si Esther mulai bercerita.


"Dia orang yang sangat perhatian denganku, sayang sekali takdir berkata lain tentang kami, aku memang bukan jodohnya," ucapnya lagi.


"Esteh, yang sabar, lihat kamu sedih aku tidak tega," ucapku.


"Tidak pengen peluk aku?" tanya Esther.


"Tidaaak," jawabku.


"Tega sekali kamu," ucapnya sembari mengusap air matanya dengan tangan.


"Lanjutin ceritanya!" perintahku.


"Aku selama di rumahmu, sering bermain ke halaman rumah tetanggamu karena aku melihat bunga matahari di sana, itu bunga kesukaanku," ucap Esther.


"Dulu, setiap bertemu denganku Bang Ismed selalu membawakan bunga itu untuk aku, bahkan dia juga menanam bunga matahari di sekitar rumahku, itu bunga yang sangat bermakna buat aku," ucapnya lagi.


***


Pov Esther


Pagi itu, Bang Ismed datang ke rumahku.


Tok tok tok...


Terdengar suara ketukan pintu, aku bergegas membukanya.


Ketika terbuka pintunya, nampak wajah orang yang sangat aku cintai. Dia bang Ismed.


"Pagi, kesayanganku," ucapnya.


"Pagi, Bang, mari masuk," ucapku.

__ADS_1


Kami sama-sama memasuki rumah, kami duduk di sofa ruang tamu.


"Jalan-jalan yuk sayang," ajak Bang Ismed.


"Ke mana, Bang?" tanyaku.


"Terserah kamu, mau kamu kita ke mana?" dia bertanya balik kepadaku.


Aku sejenak memikirkan, aku harus pergi ke mana. Aku berpikir, sudah lama kita tidak jalan-jalan ke pantai. Nanti kalau buat foto preweeding, aku juga kepikiran untuk mengajak Bang Ismed foto di sana.


"Bagaimana kalau kita ke pantai saja Bang? Kita sudah cukup lama tidak pernah ke sana," ajakku.


"Iya boleh, Abang nurut saja," jawabnya.


"Aku siap-siap dulu ya, Bang?" ucapku.


Dia hanya mengangguk dan memberikan senyumnya yang membuat aku semakin terpesona dengannya.


Aku bergegas untuk mengganti pakaianku. Tak butuh waktu lama,aku pun sudah siap. Aku memakai kaos yang simple, ku kepang dua rambutku.


"Ayo Bang," ucapku.


Bang Ismed seketika melihatku, dia tampak tertegun melihatku.


"Bang Ismed," aku memanggilnya.


"Oh iya sayang," jawabnya.


"Kamu terlihat cantik sekali," puji Bang Ismed.


"Bang Ismed apaan, sih," ucapku malu-malu.


Aku merasa tersanjung ketika mendengar Bang Ismed memujiku.


Setelah itu kami memutuskan untuk berangkat. Kami menaiki sepeda motor Bang Ismed menuju pantai yang terdekat di daerahku.


Di sepanjang jalan, kami tak henti-hentinya mengobrol.


"Bang, bagaimana kalau kita nanti foto Preweed di adakan di sekitar pantai, pasti kita terlihat romantis?" aku mencoba usul.


"Iya sayang, Abang nurut saja sama kamu," jawabnya.


Setelah ucapan itu, terdengar suara bergemuruh. Kami merasa bingung itu suara apa.


"Apa Bang?" tanyaku.


Sebelum Bang Ismed menjawab, kejadian naas itu terjadi. Bukit sekitar jalan yang kami lewati tiba-tiba longsor menghantam tubuh kami saat itu.


Bersambung...


***


Mau tahu kesedihan versi Bang Ismed, yuk baca ceritanya di novel teman author.


Balas Dendam Cowok Kampungan by : Linanda Anggen.


Genre: komedi, romantis, dan action.



Sinopsis : Zeno adalah pemuda norak dan kampungan dari desa umbul jaya, dia mempunyai dendam dengan keluarga kaya di kota Jakarta. Tapi seiring berjalannya waktu dia malah jatuh cinta dengan putri musuhnya yang bernama Jessie.


Apakah Zeno berhasil membalas dendamnya atau menyerah karena mencintai anak dari musuhnya?


***


Jangan lupa ikuti terus cerita Esther selanjutnya. Sebelumnya pencet tombol like ya, yang mau tahu cerita-cerita selanjutnya klik tombol love itu.

__ADS_1


Tunggu Next Episode >>>😊🤗


__ADS_2