
"Kita putar balik aja, ya. Ayah sudah telepon pihak kepolisian, katanya segera ke sini," ujar ayah sembari kembali menyalakan mobilnya.
"Langsung balik ini, Yah?" tanya ibu.
Ayah mengangguk sembari berkata, "Iya, kasihan Dedek kalau lama-lama."
Ayah segera melajukan mobilnya, lalu putar balik. Mungkin kali ini perjalanan bakal jauh lagi.
"Bu, Dedek duduk lagi saja ya. Biar tahu pemandangan di luar," ujarku.
Karena terlalu lama aku di dalam rumah sakit itu, sehingga sudah keluar dari sana rasanya ingin sekali melihat suasana pemandangan di luar.
"Capek nanti kamu, Dek," ujar ibu.
"Ayolah, Bu." Ujarku.
"Iyain ajalah, Bu. Keyla kangen jalan-jalan dia," sahut ayah.
Tanpa banyak kata ibu segera membantuku untuk bangun. Lalu membantu menurunkan kakiku dari kursi. Aku memencet tombol untuk membuka jendela.
Angin terasa sejuk walaupun sudah siang hari. Pepohon masih terlihat asri di sini. Angin sepoi-sepoi membuat senyumku semakin merekah dibuatnya.
"Keyla senang?" tanya nenek.
"Banget, Nek. Lelah terasa hilang seketika," ujarku sembari menengok ke arah nenek.
Setelah itu aku kembali melihat pemandangan sekitar, rumah-rumah menjulang tinggi, namun terlihat tak membosankan kala pemandangan di sekitar rumah-rumah itu lebih membuat aku terpesona.
Ayah sengaja melajukan mobilnya dengan perlahan saat melihat aku tersenyum kembali, beliau mungkin sengaja agar terasa bahagia.
Tetapi saat melewati satu rumah di daerah sini, ada yang membuat aku tertarik dan meminta ayah untuk segera memberhentikan mobilnya.
"Yah, Stop ... stop!" suruhku.
Ayah terlihat bingung, tetapi tetap menuruti kemauanku.
"Kenapa, Nak?" tanya ayah.
Nenek dan ibu pun juga menanyakan hal sama seperti yang dilontarkan ayah.
"Lihat anak yang berdiri di dekat pagar," ujarku sembari menunjuk ke satu rumah.
Di depan pagar rumah itu ada pemuda yang sedang berdiri di sana, namun pemuda itu sudah masuk rumah saat pagar itu dibuka salah satu penghuninya, tepatnya asisten rumah tangganya.
__ADS_1
"Kenapa, Dek?" tanya ibu yang tampak penasaran.
"Itu Kevin sama asisten rumah tangganya. Haduh siapa sih namanya? Kok aku lupa sih namanya," ujarku sedikit kesal karena lupa dengan nama asisten rumah tangga Kevin.
"Kevin siapa, Dek? Kamu jangan ada-ada saja," ujar ayah.
Aku pun segera menjelaskan tentang Kevin dan rumah yang aku lihat di dekat rumah sakit waktu itu.
"Dek, pulang dulu, ya. Jangan ngurusin permasalahan orang lain dulu," tegur ibu.
"Tapi, Bu ...," ujarku.
Tak berselang lama, ada mobil yang berhenti tepat di depan rumah itu. Dia dengan tidak sabar terus membunyikan klakson mobilnya.
Kami yang berada di dalam mobil hanya melihat tanpa memberikan komentar. Mobil itu terus tanpa henti membunyikan klakson, hingga orang yang sama keluar untuk membukakan pintunya.
"Nggak sabaran banget," ujarku ketika melihat pengendara mobil dengan tidak sabar itu.
Saat pintu di buka, seseorang dari dalam mobil menyembulkan kepalanya keluar. Seorang wanita dengan rambut di kuncir seperti ekor kuda.
"Tuli ya telingamu!" hardik wanita itu ke sosok wanita paruh baya yang membukakan pintu.
"Maaf, Nyonya," ujar sosok wanita paruh bayu yang biasa di sebut Kevin dengan sebutan bibi.
"Astagfirullah." Ujar kami secara bersamaan, saat mendengar wanita judes itu menghardik bibi itu.
Wanita judes itu melajukan mobilnya ke dalam halaman rumahnya, lalu berhenti tepat di depan garasi. Wanita itu keluar dari dalam mobil, menoleh ke arah pintu gerbang, lalu melenggang menuju pintu utama rumah itu.
"Dia kan ...," ucapku menggantung.
"Keyla tahu, Nak?" tanya nenek.
"Dia pembunuh itu, Nek. Dia yang membunuh Mama Kevin dengan menggantungnya, iya benar itu dia, Yah, Bu," ujarku tampak panik kala mengingatnya.
Nenek malah terlihat bingung kala mendengar ucapanku.
"Pembunuh apa sih, Dim, Al?" tanya nenek ke ayah dam ibu.
"Nggak tahu, Bu," jawab ayah.
Aku kembali menjelaskan secara singkat perihal cerita tentang kilas balik yang diperbuat hantu korban pembunuhan itu. Tepatnya korbannya itu Tante Nadia Mamanya Kevin. Lebih parahnya, pelaku itu si Candra. Dia adalah istri kedua dari suaminya, bahkan dia sahabat dari Nadia korban pembunuhan itu sendiri. (Baca seutas tali hingga penyelesaian, kisah Kevin)
Mereka saling bertatapan saat aku menjelaskan semua tentang apa yang aku alami. Mereka terlihat ragu untuk berbicara saat aku dapat menjelaskan cerita itu walaupun singkat namun terdengar detail.
__ADS_1
"Keyla, lalu kamu maunya gimana? Ingat kondisimu, Nak. Kamu lagi sakit," ujar nenek.
"Kita bertamu aja, Yah. Siapa tahu bisa bantu Kevin untuk mengungkap kejahatan Mama tirinya," ajakku.
Mereka bertiga saling bertatapan secara bergantian.
"Terus kalau ditanya, kita siapa bagaimana? Mereka kan nggak ada yang mengenali kita, bahkan mereka juga belum tentu percaya sama hal mistis," ujar ibu.
Kami sejenak memikirkan sesuatu. Namun di otak terasa buntu untuk mencari alasan bertemu dengan orang yang sama sekali belum pernah bertemu sebelumnya.
Saat itu juga, aku kembali mengingat nama bibi asisten rumah tangga mereka.
"Bi Asih, coba kita mencari Bi Asih saja. Kevin kan Dekat dengan Bi Asih dan Sopirnya, si Pak joko kalau nggak salah," ujarku.
"Gimana, Yah? Aku khawatir dengan Dedek, kondisi dia kan kaya gini," ujar ibu.
"Nenek coba keluar saja, Ya. Nanti kalau yang keluar Bi Asih coba Nenek ajak ke sini untuk menemui kamu," ujar nenek sembari keluar dari mobil.
Aku melihat nenek yang mencoba untuk menyeberang jalan menuju rumah itu, lalu memencet tombol ben di dekat gerbang.
Tak berselang lama, terlihat Bi Asih keluar dari pintu utama menuju pintu gerbang. Ketika beliau berada di dekat gerbang, segera berbicara dengan Nenek. Entah apa yang mereka bicarakan, karena kami tak dapat mendengarnya.
Lalu mereka berdua, nenek dan Bi Asih berjalan bersamaan menuju mobil kami.
"Yah, mereka ke sini," ujarku.
Ayah hanya melemparkan senyumannya.
Nenek membuka pintu, lalu memperkenalkan Bi Asih ke aku.
"Ini Bu, yang mau bertemu dengan ibu," ujar nenek.
"Iya, Dek. Maaf saya ngga bisa lama-lama, takut majikan saya marah," ujar Bi Asih.
"Bagaimana kalau kami meminta nomor ponsel Bibi aja, nanti kita bisa menghubungi lain waktu kalau Bibi lagi senggang," usul ibu sembari memberikan ponselnya ke arah bibi.
Bi Asih dengan cepat segera meraihnya, lalu mencatat nomornya di ponsel ibu. Lalu beliau dengan terburu berpamitan ke kami.
"Maaf ya, Bu, Pak. Saya nggak bisa lama-lama, takut majikan saya marah," ujar Bi Asih sembari berlari menuju rumah.
"Makasih Bi," ujarku dengan nada tinggi karena Bi Asih keburu lari.
"Kita pulang dulu, nanti kita bisa menghubungi Bi Asih kalau sudah sampai rumah, ya," ucap ibu.
__ADS_1
Bersambung ....