Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Kereta (End~season 1)


__ADS_3

Kami mengemasi barang bawaan kami. Kami tidak bisa menunggu acara pengajian untuk kirim doa dilakukan, sebab ayah juga harus segera kembali bekerja.


"Ayah sudah pesan mobil dari Pak Budi lagi," ucap Ayah memberitahu.


Kami hanya mengiyakan ucapan ayah, aku hanya berpikir cepat ingin pulang saja. Ibu berjalan menghampiri Tante Sita yang tengah termenung di atas sofa.


"Sita, Kakak pulang, ya. Kamu wanita yang kuat kok," ucap Ibu ke Tante Sita.


"Makasih ya, Kak. Karena kalian semua sudah memberikan maaf untuk Mas Boby," ucap Tante Sita.


"Iya, Sita. Kamu yang kuat dan sabar, kami pulang dulu," ucap Ibu berpamitan.


Mobil Pak Budi pun sudah berhenti di depan rumah Tante Sita. Kami segera berpamitan kepada keluarga Tante Sita. Setelah itu, kami pun masuk mobil dan Pak Budi segera melajukannya.


"Ke stasiun, Pak?" tanya Pak Budi.


"Iya, Pak," jawab Ayah.


Kami di dalam mobil menyempatkan untuk saling mengobrol dengan Pak Budi. Beliau orang baik, bahkan saat mengetahui kami akan pulang, Pak Budi sengaja membawakan oleh-oleh makanan buatan istrinya.


"Maaf, Pak. Hanya makanan," ucap Pak Budi saat memberi makanan itu kepada kami.


"Ya Allah, Pak. Terima kasih banyak, Bapak dan istri sudah repot-repot memberikan ini ke kami," ucap Ayah.


"Sama-sama, Pak. bisa buat lauk di kala perjalanan," ucap Pak Budi.


"Sekali lagi terima kasih ya, Pak," sahut Ibu.


Aku segera membuka kotak makan itu. Baru di buka aroma semerbak makanan khas Minangkabau tercium.


"Hmmmm, rendang," ucapku dengan senyuman di wajah.


Aku mencicipi sepotong daging rendang ini, rasa yang lezat membuat aku tak ingin berhenti untuk memakannya.


"Ini enak banget lo, Bu. Cobain deh," ucapku sembari memberikan kotak makan ke Ibu.


Ibu dan ayah segera mencicipi masakan dari istri Pak Budi, masakan yang terasa lezat. Bahkan di rumah makan pun kalah enak dengan ini, seperti ada ciri khas asli masakan orang dari daerahnya sendiri.


"Ini kalau berada di kotaku pasti aku langganan deh sama masakan istri, Bapak," ucap Ibu.


"Makasih, Bu. Itu aja kalau nggak demi masakin keluarga Bapak dan Ibu pasti nggak akan masak daging," ucap Pak Budi.


"Wah, spesial banget dong ini," sahutku.


"Alhamdulillah iya, Dek," jawab Pak Budi.


Terkadang aku merasa iri, dengan orang yang mampu mementingkan orang lain dari pada diri sendiri. Aku tahu bagaimana keadaan keluarga Pak Budi saat ini dari ceritanya, tapi entah kenapa mereka sangat mengistimewakan kami saat ini.


Tak terasa kami sampai di depan stasiun. Pak Budi seperti biasa, tanpa di suruh sudah membantu kami untuk membantu membawakan barang.


"Ya Allah, Pak. Nggak perlu repot-repot, kami sudah banyak merepotkan Bapak selama di sini," ucap Ibu.


Pak Budi hanya tersenyum, beliau tampak tulus membantu kami.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan," ucap Pak Budi.


"Pak, tadi saya tinggalkan sesuatu di mobil Bapak, dan di sana ada kartu nama beserta nomor telepon saya. Jika nanti Bapak perlu bantuan, hubungi kami ya," ucap Ayah sembari mengajak kami masuk ke dalam stasiun.


"Loh, tapi Pak. Sebentar Pak, tunggu," ucap Pak Budi berlari ke depan hendak menuju mobilnya.


Ayah saat itu bergegas mengajak kami untuk segera masuk ke dalam stasiun, berhubung jam keberangkatan mepet, kami segera menaiki kereta tujuan kota kami.


Kami masuk ke gerbong kereta, entah kenapa setiap kali masuk kereta terasa trauma akan kejadian yang lalu. Aku menggandeng ibu menuju tempat dudukku.


"Dek, takut lagi?" tanya Ibu.


"Hehehe, iya Bu," jawabku.


****


Kereta terasa mulai bergerak, aku berharap cepat sampai tujuan kami.


"Kamu istirahat ya, Dek. Dari semalam kamu kurang tidurnya," ucap Ayah.


"Iya, Yah. Mana Esteh tadi?" tanyaku.


"Apa?" jawab Esteh yang sedang duduk melayang di atas.


Aku melihat kearah sumber suaranya, kala tatapan kami saling bertemu dia lemparkan senyuman manisnya itu.


"Hai, Keyla," ucapnya.


"Kenapa, Dek?" tanya Ibu.


"Tuh," ucapku sembari menunjuk kearah Esther.


"Biarin," jawab ibu.


Esther hanya cekikikan melihatku. Setelah itu, aku mencoba memejamkan mataku. Semalam tidurku tak nyenyak karena mimpi itu, aku berharap saat ini bisa tidur lebih nyenyak.


Ku sandarkan kepala ke bahu Ibu, dan beliau mengelus kepalaku secara perlahan. Aku ingin cepat tertidur dan menuju ke alam mimpiku yang indah. Perjalanan kami masih lama, karena jarak tempuh hampir tiga jam. Aku berharap dapat istirahat dengan tenang.


Aku pun terlelap dalam tidurku. Tak tahu seberapa jauh perjalanan yang sudah kami tempuh, akhirnya aku terbangun.


"Bu," panggilku.


"Iya, Dek," jawab ibu.


"Sudah sampai mana?" ucapku sembari mengucek mata.


"Bentar lagi sampai kok," jawab ibu.


Setelah mendengar ucapan ibu, aku minta tolong ke ibu untuk mengambilkan makanan yang diberikan Pak Budi tadi. Aku kembali melahapnya, rasanya tak ingin membagi ke siapa pun kalau sudah melahapnya.


"Dek, sejak kapan makanmu jadi banyak?" tanya Ibu.


"Sejak tadi," jawabku dengan mulut yang penuh makanan.

__ADS_1


Ayah dan ibu hanya tertawa kala melihat tingkahku. Mereka berdua secara bersamaan mengelus kepalaku karena aku duduk di tengah-tengah mereka.


"Jadi kangen Bapak dan Ibu," ucap Esther yang masih duduk di atas.


Aku yang mendengar sontak menjawab ucapannya.


"Sabar," ucapku.


Ayah dan ibu menatap kearahku, aku yang menyadarinya segera melihatnya. Mereka menatapku dengan mata yang terlihat penuh pertanyaan.


"Hehehe, Esteh di sana. Dia kangen orang tuanya," ucapku memberitahu.


Lalu mereka tersenyum. Di sepanjang perjalanan kami hanya bercanda dan tertawa bahagia. perjalanan yang kami tempuh masih cukup panjang.


Tapi hati terasa bahagia karena tidak ada gangguan sama sekali. Aku kembali menyandarkan kepala ke bahu ibu. Tiba-tiba terdengar suara klakson kereta berbunyi dengan keras.


Tuuuuuuuuuuut tuuuuuuuuut ....


"Kenapa?" tanyaku tampak bingung.


Orang yang berada di gerbong kami sudah panik, karena terdengar kabar ada kereta lain berada di jalur rel yang sama dengan kereta ini.


Kami bertiga hanya berpelukan, orang-orang yang lain semua menangis dan banyak juga yang sedang berdoa. Kami semua yang berada di dalam kereta ini berharap kami semua dapat selamat.


"Ya Allah gimana, Yah?" ucap ibu yang sudah tidak sanggup menahan air matanya.


"Ibu, Keyla kalian berdoa ya semoga kita diberi keselamatan," ucap Ayah.


Kami hanya sanggup berpelukan dan berdoa, kami hanya pasrah dengan takdir yang akan kami lewati saat ini.


Tuuuuuuuut tuuuuuuut ....


Terdengar kembali suara klakson kereta yang terdengar nyaring. Suara yang saat ini membuat kami semua ketakutan.


Kereta semakin mendekat lalu, Braaaaaaaaak!


Dentuman keras yang dihasilkan dari kereta yang saling bertabrakan. Kami terpontang-panting di dalamnya. Aku yang semula berpegangan dengan ayah dan ibuku saat ini terlepas tak tau ke mana. Badanku sat ini serasa patah, hanya sakit di sekujur tubuh yang aku rasakan. Berteriak pun serasa tak mampu, aku tak tahu di mana ayah dan ibuku saat ini.


Entah aku ini masih hidup atau sudah mati. Rasa sakit semakin terasa di dalam tubuhku, terasa kereta berhenti bergetar aku melihat di sekitarku. Banyak orang tergeletak di sana.


"Keyla, bangun," terdengar suara Esther memanggilku.


Aku hanya mampu mendengar tak mampu untuk menjawabnya. Mataku lambat laun kian berat untuk dibuka, lalu pandanganku berubah menjadi gelap dan aku tak tau lagi semua ini.


End


Aku end season 1 ya ....


Bye-bye... Tunggu Next Episode


Salam sayang


Lina Agustin😍😍🤗

__ADS_1


__ADS_2