
Dari kejauhan dia melihat Rizal yang sedang mencuci motornya di depan rumah. pikirannya kembali melayang dengan omongan orang-orang tadi seperti apa. Tanpa berpikir panjang, Nando menghampiri Rizal dengan segala amarahnya.
"Rizal!" teriaknya.
Rizal pun menoleh ke arah Nando. Dengan cepat Nando meraih kerah bajunya dan tinjuan tangannya mendarat ke perutnya berkali-kali.
"Mas!" teriak Rizal kala itu.
Seketika orang yang saat itu sedang melewati mereka, mencoba melerainya.
"Mas Nando, kenapa ini?" ujar Rizal dengan menahan rasa sakit di perutnya.
Sedangkan yang lain memanggil Ranti yang ada di rumahnya.
Tok! Tok!
"Ranti!" teriak tetangganya.
Ranti yang saat itu mendengarnya, bergegas menghampiri ke arah sumber suara.
"Kenapa?" tanya Ranti dengan raut wajah panik.
"Lihat itu." Tetangganya menunjuk ke arah rumah Rizal yang saat itu ramai. Mata Ranti menangkap sosok suaminya yang sedang dipegangi beberapa orang untuk melerai mereka.
Ranti pun melangkahkan menghampiri mereka. "Ya Allah, kenapa lagi?"
"Apa-apan ini, Yah? Kenapa lagi?" tanya Ranti kala berada di dekat suaminya.
"Kamu yang apa-apaan? Kenapa dengan Rizal? Tahu sendiri, dia dari dulu kuanggap sebagai saudara sendiri. Kenapa dia?" gertak suaminya.
Ranti kebingungan sebab tak paham dengan apa yang dilontarkan suaminya itu. Bu Sumi yang mendengar keributan itu sontak keluar dari rumah dan menghampiri mereka. Bu Sumi sengaja berdiri di dekat ibu-ibu yang sedang berkerumun.
"Eh, Bu. Memang pantes digituin kalau orang selingkuh, mah. Biar kapok mereka, orang sebaik Nando masih diselingkuhin. Ranti benar-benar nggak tahu diri." Bu Sumi membuat suasana semakin panas karena ucapannya itu.
"Maksudnya bagaimana, Yah? Aku nggak paham apa yang kamu bicarakan." Bu Ranti meminta penjelasan.
__ADS_1
"Jangan pura-pura polos kamu, Ranti! Kau tega main belakang sama Rizal, kan?" jawab Nando dengan nada tinggi. Sontak Ranti dan Rizal pun matanya terbelalak. Mereka tak menyangka jika Nando memiliki prasangka buruk terhadapnya.
Bu Sumi yang mendengar perkataan Nando pun menyeringai. Entah kenapa di dalam hatinya dia merasa senang kala mendengar pertikaian antara mereka.
"Iya Ranti, jangan pura-pura nggak ada apa-apa. Kalian memang selingkuhkan? Halah ngaku aja, kasihan Nando." Bu Sumi membuat hati Nando semakin panas karena ucapan yang ia lontarkan.
"Astagfirullah, Bu Sumi. Kenapa kamu tega mengatakan itu." Ranti pun menggenggam kedua tangan suaminya. "Aku dan Rizal tidak ada hubungan apa-apa, Yah. Kami berani bersumpah, kita tak ada hubungan spesial apapun."
"Uh, jangan percaya Nando. Nggak ada orang selingkuh mau ngaku. Kalau ngaku, nggak tahu diri namanya." Mulut Bu Sumi benar-benar menyakitkan. Bagai bisa ular, sedikit tapi efeknya luar biasa.
"Itu anak Rizalkan, bukan anakku? Maumu apa sih, Ranti. Kita memang bertahun-tahun tak punya anak, tapi jangan seperti ini kau memperlakukanku. Kurang sabar apa aku menghadapi kamu," ujad Nando.
Rizal berjalan mendekat ke arah mereka.
"Ya Allah, Mas. Aku menyentuh istri mas pun tak pernah. Kenapa sampai kamu punya pikiran sepicik itu kepada kami. Demi Allah, kami tak ada hubungan apapun, apa lagi sampai Mbak Ranti mengandung anakku. Mas, jangan kemakan omongan wanita busuk itu. Kenapa kamu lebih mendengar perkataan orang lain dari pada istrimu sendiri," cecar Rizal.
Ranti pun tak sanggup membendung tangisnya lagi. Dia nggak menyangka, suaminya memiliki pikiran sedangkal itu terhadapnya. Hatinya rapuh, bahkan ia merasa putus asa.
"Terserah, kamu mau percaya dengan siapa! Untuk apa gunanya aku selama ini berusaha berobat, terapi, bahkan minum apapun agar kita memiliki anak, jika saat ini anak ini kau pertanyakan keberadaannya. Silakan kau hidup dengan Bu Sumi jika kau lebih percaya dengannya. Oke, aku akan pergi dari hidupmu." Bu Ranti membalikkan badan dan pergi ke rumahnya.
Orang-orang yang melihat mereka, seketika menggunjing apa yang saat ini mereka alami.
"Kenapa kamu diam, Mas? Kejar istrimu. Dia nggak pernah salah, jangan pernah kamu bertindak dengan apa yang kamu dengar saja. Lihat dari mata kepala dan mata hatimu. Jangan kadi orang bodoh karena lebih percaya fitnah daripada kebenaran yang ada." Rizal tetap mengatakan dengan nada lembut.
"Halah, jangan sok bijak kamu, Rizal. Kamu sama Ranti sama saja. Tukang selingkuh!" Bu Sumi kembali mencemooh Rizal.
"Diam!" Nando melepaskan tangan orang-orang yang memeganginya sedari tadi. Dia berjalan menuju rumahnya.
Bu Heny dari kejauhan melihat keramaian yang ada di depan rumah Rizal, seketika hatinya bertanya-tanya. Dia menghentikan orang yang berjalan di dekatnya.
"Pak, ada apa? Kok di rumah Rizal rame-rame?" tanya Bu Heny.
"Itu, Bu. Si Nando lagi ngelabrak Rizal, sebab katanya si Ranti selingkuh sama Rizal dan Nando nggak terima," ujar bapak-bapak itu.
"Astagfirullah, makasih ya, Pak," ujar Bu Heny sembari tersenyum. Setelah itu, dia berjalan dengan cepat menuju ke sana, tapi dia dari kejauhan malah melihat Nando masuk ke halaman rumahnya sendiri.
__ADS_1
Begitu juga dengan ibu-ibu yang penasaran, sontak mengekor di belakang Nando. Terlibat Ibu Sumi beserta dengan mereka.
"Pasti ini kerjaan Bu Sumi. Ya Allah, mulutmu berbisa banget, Bu. Aku harus ke sana, kasihan Ranti. Dia lagi hamil muda, malah mendapatkan cobaan apa lagi," gumam Bu Heny.
Saat nando masuk ke dalam rumah, dia kembali mencari istrinya. Dia langsung ke arah kamarnya. Terlihat Ranti sedang mengemas pakaiannya sembari berlinang air mata.
"Kamu mau ke mana?" tanya Nando dengan nada tinggi.
"Aku mau pergi! Untuk apa aku di sini, jika suamiku tak mempercayaiku," jawab Ranti dengan tangis sesenggukkan.
"Jelaskan ke aku, kenapa kamu setega ini denganku?" Nando tetap kekeh dengan kecurigaannya itu.
Ranti berdiri tegak luruh, dia menatap suaminya dengan sorot mata yang sayu.
"Apa yang harus kujelaskan lagi. Demi Allah, Demi Rosullullah, aku tak pernah mengkhianatimu. Kamu boleh menuduhku, tapi jangan kamu bawa anakku yang ada di dalam kandungan ini terlibat." Deraian air mata Ranti tak membuat hati suaminya langsung percaya.
"Jangan percaya, Nando. Kemarin aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, jika Rizal perhatian dengan Ranti. Bahkan Ranti pingsan pun, dia yang bantu mengangkatnya. Lebih parahnya, dia mengambil minum seperti hafal seluk-beluk rumahmu ini." Lagi-lagi Bu Sumi membuat kisruh rumah tangga mereka.
Api yang disulut Bu Sumi dalam hati Nando semakin membara. Dia tak bisa membedakan letak kebenarannya. Bu Sumi mengatakan jika melihat dengan kepalanya sendiri. Ranti malas untuk menanggapi itu semua, lalu ia memutuskan untuk melangkahkan kaki sembari menenteng tas untuk pergi dari rumah ini.
"Berhenti!" teriak Bu Heny saat datang di rumah itu. Bu Ranti merengkuh tubuh Ranti dalam pelukannya. "Sabar, Nak. Allah sedang menguji kesabaranmu!"
"Nando, kenapa kamu lebih memilih percaya dengan ucapan mulut berbisa Bu Sumi? Saat Ranti pingsan, aku berada di sana. Akulah orang pertama yang melihat ia pingsan." Bu Heny mencoba menjelaskan.
Nando saat ini tak merespon perkataan Bu Heny sama sekali.
"Tahu nggak? Istrimu pingsan gara-gara Bu Sumi juga. Perutnya keram, aku sengaja meminta tolong, kebetulan yang rumahnya dekat si Rizal pasti dia yang mendengarnya terlebih dahulu," tambah Bu Heni.
"Pingsan? Kapan itu, Ranti?" tanya Nando.
"Saat kamu pergi ke kota waktu lalu!" jawab Ranti seadaanya.
"Rizal memang mengangkatnya sampai sofa, emang aku yang memintanya. Aku sendiri tak mampu untuk memindahkan istrimu. Bu Sumi yang buat gara-gara sama istrimu, hingga dia mengalami keram perut hebat. Untung anakmu tak keguguran," ujar Bu Sumi.
Nando pikirannya bingung. Dia tak tahu, harus lebih percaya dengan siapa. Dalam pikiran Nando, 'Lantas kenapa si Ranti menceritakan semua kepadanya jika ada masalah. Aku suaminya, kenapa nggak membagikan keluh-kesahnya terhadap dirinya.'
__ADS_1
Di sisi lain, ia mulai percaya dengan perkataan Bu Heny. Sebab jika Bu Heny yang pertama kali melihat Ranti pingsan, pasti tak bisa memindahkannya sendiri.