Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Baju Pengantin


__ADS_3

Sosok Kak Tari pun hilang, aku mulai melangkahkan kaki memasuki rumah. Ku hampiri Dinar dan ibu yang terlebih dahulu di dalam.


"Dinar sayang, ini uang buat kamu ya," Ibu memberi sebagian uang kepada Dinar.


"Tapi Tante, Dinar tidak melakukan apa-apa, cuma mengantar Keyla saja kok," jawab Dinar.


"Tidak apa-apa Din kamu ambil saja, itu hak kamu dari keluarga Kak Tari," ucapku.


"Ibu, punya Dedek buat anak yatim aja, Mungkin ini rezeki mereka melalui kita," ucapku lagi.


"Punyaku juga Tante, buat anak yatim! kurasa aku juga tidak berhak menerimanya Tante," ucap Dinar sambil mengembalikan uangnya ke Ibuku.


Ibu tersenyum ke arahku dan Dinar.


"Ibu bangga dengan kalian berdua sayang," kata Ibu dengan merengkuh tubuh kami berdua.


"Sudah sore Tante, Dinar pamit pulang dulu mau ikut Kakak fitting baju pengantin," ucap Dinar.


"Kakakmu mau menikah ya Din, maaf ya Tante sampai tidak mendengar kabar tentang Kakakmu," ucap Ibu.


"Ibu, Keyla nanti ikut Dinar ya?" tanyaku.


"Iya, nanti biar di jemput keluarga Dinar, sekarang kamu istirahat dulu ya," jawab Ibu.


"Pulang dulu Tante," kata Dinar sembari bersalaman dengan Ibu.


"Keyla, aku pulang ya! Nanti aku tunggu di depan rumahmu deh kalau kamu ikut," ucap Dinar lagi.


Aku hanya mengangguk, sedangkan Dinar berlalu pergi meninggalkan rumahku.


***


POV Dinar


Mulai ku kayuh sepedaku untuk pulang, tak begitu lama sampai di depan rumahku.


Aku berjalan menuju pintu rumahku.


Tok tok tok...


"Assalamualaikum," aku mengucapkan salam.


"Wa'alaikumussalam," terdengar dari dalam suara kakakku menjawab.


Pintu sudah terbuka, aku raih tangan kakak untuk bersalaman. Aku melangkahkan kaki memasuki rumahku dengan kakak yang mengekor dibelakang ku.


"Ada apa tadi Dek sama Keyla, kok sampai pulang sore?" tanya Kakakku.


"Aku ganti baju dulu ya Kak, nanti baru ku ceritain," ucapku berlalu pergi ke kamar.


Aku bergegas mengganti pakaianku, lalu hendak menghampiri keluargaku lagi. Aku hampiri mereka yaitu Ibu dan Kakakku.


"Hai Bu, Kak," ucapku.


"Sini Sayang, nanti malam kamu ikut kan?" tanya Ibu.


"Ikut dong Bu, Oh iya nanti si Keyla mau ikut, boleh ga Bu?" aku ganti bertanya.


"Boleh dong, Ibu dan Kakak tambah seneng kalau ada yang nemenin, biar ramai," jawab Ibu.


"Iya itu Din, nanti kita jemput Keyla ya Bu, kan si Keyla seneng becanda anaknya tambah ramai nanti," sahut Kakakku.

__ADS_1


"Oh iya Din, tadi kamu mau cerita apa soal Keyla?" tanya Kakakku.


Aku pun mulai cerita tentang kejadian tadi sore yang kita alami. Aku bercerita kejadian demi kejadian secara berurutan, sedangkan Kakak dan Ibu juga memberikan komentar mereka.


"Alhamdulillah ya Din, sekarang Keyla sepertinya sudah bisa menerima kelebihan dia," kata Ibuku.


"Iya Bu, aku juga seneng melihat Keyla seperti sekarang, makanya aku pasti ada buat dia Bu," kataku.


"Gitu dong, itu baru namanya sahabat bisa saling dukung," sahut kakakku dengan mata yang masih tertuju ke hpnya.


"Lihat apa sih kak, serius banget kelihatannya?" tanyaku.


"Ini Dek dari pihak Wedding Organizer, mengirim kan gambar gaun yang mungkin kakak suka," jawab Kakak.


"Coba lihat," ucapku dan Ibu berbarengan.



Aku dan ibu pun dibuat kagum melihat keindahan bajunya.


"Bagus ini Kak warnanya kalem, pakai ini aja Kak," ucapku.


"Nantilah Dek, kita datang ke sana saja siapa tahu lebih bagus lagi,"


"Beneran ini bagus Kak, tetapi yaitu belum tentu pas di pakai Kakak kalau kita belum datang ke sana" sahut Ibu.


Hari beranjak sore ke malam, kami pun bersiap untuk pergi ke tempat fitting baju pengantinnya.


"Oh iya Bu, jangan lupa jemput Keyla," ucapku mengingatkan.


Ibu pun melajukan mobil ke arah rumah Keyla, sesampainya di depan rumah Keyla, aku keluar mobil untuk memanggilnya.


***


Senja pun mulai menyinari, menandakan hari mulai berganti ke malam. Aku bersiap untuk nanti akan ikut keluarga Dinar.


Tok tok tok...


"Keyla," suara memanggil dari balik pintu depan rumahku.


"Itu kayanya Dinar sudah datang Bu, Keyla berangkat dulu ya, assalamualaikum," ucapku sambil bersalaman dengan Ibu.


"Waalaikumsalam, hati-hati ya Nak," jawab Ibu.


Aku buka pintu, dan benar keluarga Dinar sudah berada di depan untuk menjemput ku.


"Ayo berangkat Key," ajak Dinar.


Aku menaiki mobil, dan Ibu Dinar mulai melajukan mobil ke arah tempat yang akan kami tuju.


Baru beberapa meter mobil berjalan, Ibu Dinar bertanya kepadaku.


"Keyla sudah makan Nak?" tanya Ibu Dinar.


"Belum Tante," jawabku.


"Kita semua makan dulu ya,"ucap Ibu Dinar sambil memberhentikan mobilnya di depan salah satu restauran.


Kami semua turun dari mobil, dan berjalan menuju salah satu meja yang kosong di restauran ini.


__ADS_1


"Kalian pesan saja, Keyla jangan sungkan kamu pesan apa yang kamu mau," kata Ibu Dinar.


Pegawai restauran pun pergi dengan membawa menu makanan yang sudah kami pesan, tak begitu lama pesanan kami pun datang.


Aku hanya memesan spaghetti biar aku merasa kenyang.



"Kamu hanya memesan itu Key?" tanya Kakaknya Dinar.


"Iya Kak Dita, aku makan ini aja biar kenyang hehehe," ucapku ke Kakak Dinar.


"Nanti kalau mau nambah boleh kok," ucap Ibu Dinar.


kami semua melahap makanan kami, sambil sedikit mengobrol.


"Keyla, Tante bangga deh sama kamu," ucap Ibu Dinar.


"Kenapa Tante?" tanyaku.


"Aku tadi sudah mendengar dari cerita Dinar soal kalian berdua tadi siang, kamu mau menolong orang lain bahkan sama makhluk lain," jawab Ibu Dinar.


"Gitu dong Key, selama kelebihan kamu bisa menolong orang kamu juga harus bangga jangan merendahkan kamu sendiri kaya kemaren-kemaren," sahut Kak Dita.


"Hehehe iya, selain aku berterimakasih kepada Dinar, aku juga mau berterimakasih ke Kak Dita dan Tante karena sudah ngizinin Dinar berteman denganku," ucapku.


"Iya sayang, bersahabat dengan baik ya selama kita bisa menolong maka lakukanlah tanpa kalian meminta imbalan dari yang kalian tolong,"


"Dengan itu kalian bisa meringankan salah satu beban dari orang lain, jadi anak yang kuat ya buat kalian semua," kata Ibu Dinar dengan sedikit menasehati.


"Iya Tante, terima kasih," ucapku lagi.


Tidak terasa makanan kita satu persatu pun habis. Dan Ibu Dinar pergi ke kasir untuk membayar makanan yang telah kami makan.


Setelah itu, kami berjalan menuju mobil hendak melanjutkan perjalanan ke tempat fitting baju pengantin Kak Dita.


Ibunya Dinar perlahan melajukan mobilnya lagi.


"Makasih Tante makan malamnya, Oh iya Tante apa jauh tempatnya?" tanyaku.


"Tidak kok Key, kita di depan putar balik itu sebelah kanan jalan tempatnya," jawab Ibu Dinar dengan menunjuk ke salah satu tempat.


Kami pun sampai, Kami semua berjalan memasuki ruangannya.


"Baju pengantin semua ini Kak?" tanya Dinar.


"Bukan, ini baju pantai," jawab Kakak Dinar dengan mengejek.


"Kakak itu loh Bu," ucap Dinar dengan mulut yang cemberut.


"Lagian kamu Din tanya aneh banget, mau nikah ya baju pengantin lah," sahutku.


"Nanti Andre ke sini jam berapa Dit?" tanya Ibu Dinar ke Kak Dita.


Andre itu nama calon suami Kakaknya Dinar.


"Ini sudah di jalan sebentar lagi juga sampai Bu, kita pilih-pilih dulu ya," ucap Kak Dita.


Ketika Kakak dan Ibu Dinar sedang memilih baju, aku dan Dinar menunggu di tempat duduk di ruangan ini sembari menunggu calon Kak Dita Datang.


Dan di ruangan itu aku tertarik ke salah satu gaun yang ada di sana.

__ADS_1


NEXT~Part 2


__ADS_2