
Aku ingin menikmati suasana di luar ruangan pun tak mampu. Sebab tak mungkin, jika orang tuaku mengajakku jalan-jalan menggunakan brankar ini. Memang payah hidupku saat ini.
_____________
Hari terus berganti, tepat hari ini dua puluh lima hari aku berada di sini. Lambat laun aku sudah mulai melihat perkembangan saraf-saraf yang ada dalam tubuhku. Mulai aku sudah mampu untuk berbicara walaupun belum lancar, tanganku sudah bergerak dan kepalaku sudah dapat menoleh ke kanan dan ke kiri.
Hari ini, dokter kembali memeriksaku. Aku sudah bisa diajak berinteraksi. Aku sudah dapat memegang sesuatu di tanganku walaupun belum erat, sudah bisa menjawab beberapa pertanyaan yang di lontarkan dokter untukku.
"Alhamdulillah, Keyla sudah banyak perkembangannya. Coba tidur menggeser ke kanan dan ke kiri ya, ingat jangan terlalu memaksa," ucap dokter.
"Baik, Dok," jawabku.
Pemeriksaan pun selesai, dokter berlalu meninggalkan ruangan ini. Aku sudah mulai terbiasa dengan keadaanku, aku juga sudah terbiasa pasrah jika ada makhluk yang sengaja menggangguku.
Ayah dan ibuku kembali duduk di kasur lantai yang mereka gunakan selama berada di sini. Mereka membeli beberapa peralatan untuk menunjang kebutuhan mereka selama ada di sini. Aku ingin segera kembali ke rumah, agar orang tuaku tak lagi mengeluarkan banyak uang untuk kebutuhan kami selama di sini.
Aku menatap ke atas kipas angin yang berada di ruangan ini. Esther duduk, dengan mengayunkan kedua kakinya secara bergantian. Dia tersenyum simpul ke arahku.
"Keyla, semangat," ucapnya sembari mengangkat sebelah tangannya.
Aku melambaikan tanganku ke Esther, agar dia mendekat ke arahku. Dia secepat kilat melesat menghampiri, saat ini dia sudah duduk di sampingku.
"Apa, Key?" tanya Esther.
"Pengen jalan," jawabku.
Aku yang berbicara dengan Esther, malah ayah dan ibuku yang merespon. Mereka berdiri secara bersamaan.
"Iya, Dek," ucap Ibu.
Aku tersenyum ke arah mereka berdua.
"Aku pengen belajar duduk, Bu," jawabku.
Setelah mendengar ucapanku, ayah bergegas membantuku untuk duduk. Saat ini, aku tak dapat bangun sendiri makanya harus dibantu. Kalau duduk pun sama, badanku harus di topang dengan tangan mereka.
Sungguh payah hidupku saat ini.
__ADS_1
"Ayah, aku turun. Mau jalan ya," ucapku.
"Jangan dulu, belajar satu-satu ya," jawab Ayah.
"Aku mohon, Yah. Aku bisa kok, tapi pegangin," ucapku memohon.
Ayah pun tanpa menjawab mencoba mengangkat tubuhku untuk turun, sebelum ayah menurunkan kedua kakiku, beliau kembali bertanya keseriusanku.
"Gimana, Dek? Serius mau jalan sekarang? Nggak boleh nangis dengan hasilnya," ujar Ayah.
Aku hanya mengangguk, yakin pada diri sendiri kalau aku bisa. Ayah pun menurunkan kakiku dari gendongannya. Saat aku mencoba berdiri, apa yang terjadi?
Kakiku terkulai, seakan-akan tak ada tulang di dalamnya. Tanganku memegang besi yang ada di pinggiran tempat tidur dengan kuat, aku tetap berusaha, sedangkan badanku di topang menggunakan kedua tangan ayah.. Tapi kenyataannya usahaku tak membuahkan hasil apapun, tetesan air mataku jatuh ke pipi.
"Ayolah, kaki! Jangan payah, kamu bisa," ucapku sembari menangis terisak.
Ibu mendekatiku, beliau mengelus kepalaku dengan lembut.
"Dek, jangan dipaksa. Mungkin belum waktunya, esok kamu pasti bisa," ucap ibu sembari meneteskan air matanya.
"Aku bisa, Bu. Kaki ayolah!" ujarku sedikit dengan nada tinggi.
"Aku lumpuh, Bu. Sudah nggak bisa jalan," ucapku.
Dengan perasaan emosi, aku memukul-mukul kakiku. Aku kecewa dengan usahaku, aku kecewa dengan kakiku saat ini. Air mata semakin deras menetes ke pipiku.
Ibu spontan menghentikan perbuatanku, ayah yang menopangku semakin erat memelukku.
"Dek, semua butuh proses. Jangan kau sakiti dirimu sendiri, Ayah dan Ibu sakit bila tak bisa berbuat apa-apa terhadap dirimu," ucap Ayah mencoba menenangkan aku.
Aku tetap terisak dalam tangisku.
"Apa gunannya kakiku, jika aku tak mampu berjalan. Butuh berapa lama lagi, aku capek Yah, aku capek hiks hiks!" ucapku tetap dengan nada tinggi.
Ibu kembali memelukku, beliau menciumi wajahku.
"Dedek, di dunia ini nggak ada yang sia-sia jika kamu terus berusaha. Dalam hatimu harus yakin, kamu bisa sembuh," ucap ibu.
__ADS_1
"Semua tetap butuh proses, Dek. Kamu anak hebat, nggak boleh putus asa. Ayah dan ibu selalu ada buat kamu, kamu harus yakin," sahut ayah.
Aku pun terdiam, walaupun tetap meneteskan air mata. Ayah membaringkan tubuhku kembali, perasaan sedih, emosi saat ini jadi satu.
Tanpa kusadari, aku memiringkan tubuhku ke sebelah kanan sembari memeluk guling yang ada di dekatku. Esther yang berada di sampingku pun, mencoba memberitahuku.
"Percaya gk sih, kalau Allah sangat menyayangimu?" ucap Esther.
Namun aku tak meresponnya walau aku mendengar, rasa kecewa yang terlalu mendalam sehingga aku tak ingin berbicara ke siapapun.
"Pasti hati kamu bilang percaya, ya kan?" ucap Esther lagi.
Lagi-lagi aku tek merespon Esther.
"Lihat Deh, kamu hari ini bisa apa? Kamu bisa memiringkan badanmu sendiri," tambah Esther.
Aku yang mendengarnya seketika melihat posisi tidurku. Aku tak mempercayai ini semua terjadi secepat itu.
"Bu, Ayah. Aku bisa tidur menghadap samping," ucapku dengan perasaan bahagia.
Mereka berdua pun membalas ucapanku dengan tersenyum dan mengangguk.
"Alhamdulillah, Ya Allah," ucapku.
"Dek, perlahan pasti kamu pulih. Nggak ada yang bisa menghindar jika Allah sudah berkehendak. Maka kamu saat ini harus percaya kehendak Allah yang terbaik untuk kita," ucap ibu.
Aku pun terdiam, memang terkadang saat hatiku sedih, kecewa, marah pasti dengan tak sengaja aku menghardik kuasa sang Maha Pencipta. Walaupun dengan ucapan spele tapi itu sangat berdosa, ucapan jika Allah tak adil, tak menyayangi, tak mengerti, memang seharusnya tak pantas untuk di ucapkan kepada sang Maha pencipta.
Aku harus banyak mengingat jika Allah Maha segalanya. Jika aku sebagai manusia tetap berpikir bahwa Allah tak menyayangiku, aku tak akan hidup sampai saat ini. Jika Allah tak adil, mungkin aku tak mendapatkan orang tua yang sangat baik denganku, jika Allah tak mengerti, mungkin tak ada pembelajaran yang aku petik dari musibah ini.
"Dek, kenapa diam?" tanya ibu.
"Aku berdosa, Bu. Mungkin di hatiku belum sepenuhnya bersyukur dengan Allah, maafkan aku, Bu," ucapku meneteska air mata.
"Mohon ampunan kepada Allah SWT, yang Maha pemurah dan mMaha pengampun. Jika hatimu berucap dengan tulus, pasti akan di dengarnya," nasihat ibu.
Aku menengadahkan tanganku, aku meminta ibu memelukku karena selama ini ayah dan ibuku yang selalu mengingatkanku, jika aku lalai atas segala nikmat yang diberikan.
__ADS_1
Aku tak sengaja menatap langit-langit ruangan ini. Aku melihat Esther melayang dan dia ikut menangis.
Bersambung ....