Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Check up


__ADS_3

Tante Santi menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, lalu berlalu meninggalkan kami. Sedangkan ayah mendorong kursi rodaku lagi menuju luar rumah, sampainya di teras ayah membantuku untuk berdiri.


"Aku mau jalan ya, Yah?" tanyaku.


Ayah pun mengiyakan pertanyaanku, rasa bahagia lagi kurasakan saat aku bisa berdiri walaupun dengan dibantu ayah menopang tubuhku.


Beda halnya waktu aku berada di rumah sakit, walaupun ditopang tapi lututku terasa lemas bagai tak bertulang, aku terkulai saat itu juga. Saat ini dengan kaki yang sedikit bergemetar aku mencoba kembali untuk berjalan. Entah mengapa mata ini tetao menatap ke arah jendela, sebab aku begitu penasaran dengan sosik wanita yang ada di balik gorden kamar itu.


"Dek, jangan bengong. Ayo jalan," ujar ayah.


Saat kakiku menapak ke halaman rumah nenek yang diberi bebatuan terasa sedikit rileks tubuh ini. Begitu serasa di pijit telapak kaki ini, aku tersenyum merekah.


"Terasa, Dek?" tanya ayah.


aku menganggukkan kepalaku. Aku berjalan hanya bertahan lima sampai enam langkah, lalu ayah mengajakku untuk segera kembali ke kursi roda.


"Sedikit-dikit dulu ya, Dek. Setiap hari nanti kita belajar lagi," ujar ayah.


Aku pun mengiyakan ucapan ayah, lalu beliau mengajakku untuk masuk ke dalam rumah. Ayah mengangkatku untuk duduk di atas sofa ruang tamu.


"kakinya diluruskan, Dek. Tunggu sebentar ya, Ayah ambilkan minum," ujar ayah sembari berlalu pergi meninggalkan aku.


Tak berselang lama ayah kembali sembari membawa segelas air putih ditangannya, lalu diberikan kepadaku. Aku segera meneguknya, saat bersamaan ibu datang untuk segera mengajakku untuk mandi sebab kita harus berangkat lebih pagi ke rumah dokter yang biasa menanganiku.


Aku segera mandi dan bersiap-siap, tentunya dengan bantuan ibu. Setelah itu kami bertiga, ibu, ayah dan aku menaiki mobil, kemudian ayah segera melajukan mobilnya secara perlahan. Aku sengaja membuka kaca mobil agar udara segar saat pagi hari bisa masuk, pikiranku begitu terasa tenang dan nyaman.


Perjalananku cukup memerlukan waktu yang lama, hingga aku teringat jalan yang menghubungkan ke arah rumah Kevin.


"Yah, nanti pulang lewat jalan itu ya," ujarku sembari menunjuk ke arah jalanan rumah Kevin berada.


Saat bersamaan di pinggir jalan aku melihat cowok keluar dari mobilnya, dia begitu mirip dengan Kevin.


"Yah, itu Kevin. Berhenti!" ujarku.

__ADS_1


Aku pun segera meminta tolong ayah untuk menghampiri Kevin yang saat ini hendak masuk ke swalayan. Ayah pun mengiyakan dan segera turun dari mobil. Dari kejauhan terlihat ayah sedang berbincang ke Kevin, sesekali mereka berdua tampak melihat ke arah mobil ini terparkir.


Setelah itu terlihat ayah memberikan ponselnya ke Kevin dan Kevin entah menulis apa di ponsel ayah. Terlihat mereka saling berjabat tangan lalu ayah pergi menuju ke arah mobil kami. Aku melihat Kevin masih menatap ayah yang sedang berjalan menghampiri mobil.


"Gimana, Yah?" tanyaku.


"Kita ketemu nanti kalau sudah pulang check up," jawab ayah.


Kevin masih berdiri di depan swalayan itu, ayah memutuskan untuk kembali melajukan mobilnya. Saat itu juga ayah membuka kaca mobil dan melambaikan tangan ke Kevin, dan begitupun dengan Kevin.


"Kita ketemu di mana, Yah?" tanya ibu.


"Nanti kita ketemu di restoran itu," tunjuk ayah ke sebuah restoran yang tak jauh dari mobil kami terparkir tadi.


"Alhamdulillah, semoga lancar," ujarku.


Aku pun sedikit lega kala ayah sudah mengantongi nomor ponsel Kevin, walaupun perjalan yang cukup jauh dan membuatku jenuh tetapi rasa bahagiaku pun menghilangkan itu semua.


Aku melihat ke arah jam tangan yang ku kenakan, waktu baru menunjukan pukul 07.00 tetapi klinik ini sudah begitu padat dengan orang.


"Rame banget, Yah. Bakal pulang siang ini," ujarku.


Ayah hanya menganggukkan kepala sebelum pergi ketempat pendaftaran. Tak perlu waktu lama, ayah pun datang menghampiri kami yang duduk di ruang tunggu.


"Dapat antrian nomor berapa?" tanya ibu.


Ayah menunjukan kertas yang bertuliskan angka enam.


"Kok enam? Kan seramai ini, Yah?" tanyaku tampak bingung.


"Iya, ternyata yang sudah punya jadwal check up terlebih dahulu untuk masuk. Dan mereka yang mengantri nanti akan di tangani dokter yang lain, baru bisa check up menggunakan janji terlebih dahulu ke dokter spesialisnya," jawab ayah.


Aku hanya mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti. Aku melihat orang mengalami keluhan yang sama, tak bisa jalan bahkan yang lebih parahnya mereka belum berkembang pesat seperti yang kualami.

__ADS_1


Ayah pun mencoba ramah terhadap pasien yang berada di dekat kami, dia juga pemuda usianya jauh di atasku. Dia di temani mungkin oleh kedua orang tuanya juga, aku mencuri dengar ke ayah dan orang tua pemuda itu kala nerbicara.


"Anaknya sakit apa, Pak?" tanya ayah ke bapak-bapak yang menemaninya.


"Oh, ini keponakan saya, Pak. Dia mengalami kecelakaan bersama kedua orang tuanya dan adiknya. Dia masih diberi selamat Pak kala semua keluarganya meninggal," jawab Bapak itu.


"Innalillahi waina ilaihi rojiun, terus adik ini lumpuh, Pak?" tanya ayah.


"Dia koma sebulan lebih, Pak. Dokter bilang sarafnya masih belum meresponnya. Kejadiannya udah dua bulan yang lalu, Pak. Tapi belum ada perkembangan apapun," sahut ibu yang membawa pemuda itu.


"Lalu adiknya ini kenapa?" tanya bapak tadi.


Aku pun menjawab kalau mengalami kecelakaan kereta dan aku mengalami hal yang sama kalau koma hampir satu bulan. Tetapi aku mengucapkan syukur sudah bisa berkembang dengan baik. Kedua orang tadi pun mempertanyakan perihal kecelakaan kereta yang kami alami, ternyata mereka pun melihat waktu berita kecelakaan itu di siarkan. Mereka nggak nyangka kalau ada yang selamat, sebab dijelaskan banyak korban yang berjatuhan.


"Ananda Keyla Anggraini." Terdengar suara Suster memanggil namaku.


Ayah dan ibu berpamitan ke mereka, lalu mendorong kursi rodaku menuju ruang pemeriksaan. Di dalam terlihat Dokter spesialis yang biasa menanganiku, beliau terlihat tersenyum.


"Hai, Keyla," sapa Dokter.


"Hai, Dok," ucapku.


"Mau tahu dong kabar baik dari, Keyla," ujar dokter.


Aku pun menyampaikan kalau sudah bisa duduk sendiri, bahkan sudah bisa berdiri walaupun masih perlu di topang.


Lalu dokter menyuruhku untuk berbaring di kasur pemeriksaan, dokter saat itu terkejut karena dua hari pulang sudah melihatku mampu untuk melangkahkan kaki dengan dibantu ayah menopang tubuhku.


"Wah, apa yang diperiksa. Anaknya sudah hebat," ujar dokter.


Aku pun berbaring, sedangkan dokter seperti biasa mengambil alat kecil untuk mengetes kakiku. Beliau berikan ketukan kecil di lutut, yang sebelumnya tak merasakan apa pun saat ini sudah merasakan ketukan itu. Dokter pun tersenyum ke arahku, lalu menyuruhku untuk duduk kembali.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2