
Pov Kevin.
Para pemuda itu pun beranjak berdiri dan mempersilahkan kami untuk mengikuti mereka.
"Kak, naik mobil kami saja," ajakku.
"Oh, nggak usah. Rumahnya dekat kok," ujar pemuda itu.
Keempat temanku memilih untuk ikut berjalan kaki dengan mereka, sedangkan aku mau tidak mau harus membawa mobil ini ke rumah itu. Aku pun memasuki mobil dengan menggerutu.
"Sial*an memang itu teman. kalau di makan hantu, apa harus aku?" celetukku.
Sesaat setelah menutup pintu, terdengar ketukan dari pintu kaca bagian belakang. Tanpa menengoknya, aku segera melajukan mobilku menyusul mereka yang sudah berada di depan rumah pemuda itu. Rumah itu hanya perlu menyeberang jalan dari pos ronda yang tadi kami singgahi.
Aku parkirkan mobilku di pekarangan rumah pemuda itu. Lalu, segera menyusul mereka yang hendak masuk ke dalam rumah. Aku berlari menghampiri, namun malah jadi bahan ejekan teman-temanku.
"Hahaha, kamu takut juga, Vin?" ejek Rizal.
"Enggak!" jawabku dengan ketus.
Kami masuk ke dalam rumah pemuda itu, lalu dia mempersilahkan untuk duduk.
"Silahkan duduk." Pemuda itu mempersilahkan.
Kami segera duduk dan di temani mereka.
"Oh, iya Kak. Perkenalkan, saya Kevin dan ini teman saya, Billy, Anton, Rizal dan David." Aku memperkenalkan diri.
"Iya, aku Hanif, ini Rendy dan Fauzan," ujar pemuda itu sembari menujuk temannya satu-persatu saat diperkenalkan.
Rumah ini milik keluarga Kak Hanif, mereka begitu ramah dengan kami. Setelah itu, aku kembali mengingat perkataan Kak Hanif sebelum kita semua ke sini, aku pun berinisiatif untuk kembali menanyakannya.
"Oh, iya Kak. Memangnya sebelum kami, tadi ada yang ditakuti hantu yang sama dengan kami?" tanyaku merasa penasaran.
Kak Hanif pun menganggukkan kepala lalu berkata, "Iya. Satu jam sebelum kalian, ada sepasang suami istri yang datang dari kota malah ditakuti hantu penjual jamu itu."
"Oh, memang di situ tempat hantu itu?" sahut Rizal.
"Iya, di sana itu sudah menjadi langganan hantu itu. Kalau warga sekita sudah nggak heran, namun para pendatang seperti kalian pasti merasa ketakutan," jawab Fauzan.
"Memangnya, apa ada kisah di balik hantu itu?" tanyaku lagi.
"Iya, dia korban tabrak lari tepat di tikungan tersebut. Wanita itu meninggal di tempat," jawab Kak Hanif.
__ADS_1
"Cerita dong, Kak," sahut David.
_______________
Cerita Hanif.
Kak Hanif menjelaskan, bahwa desa ini satu-satunya yang berada di tengah hutan. Penduduk di sini biasanya mencari nafkah dari hasil panen ladang dan berjualan.
Mereka jika ingin berjualan, harus pergi ke pasar yang cukup jauh dari desa ini. Salah satunya penjual jamu bernama Mbak Ratih. Dia biasa menjual jamu ke pasar dengan diantar suaminya mengendarai motor.
Saat pagi seperti biasa tidak terjadi apa-apa, namun saat perjalanan pulang, mereka berdua terlibat kecelakaan dengan mobil truk yang melaju kencang dari arah berlawanan.
Jalan yang menikung membatasi penglihatan mereka, sehingga kecelakaan itu tak terelakkan. Mbak Ratih meninggal di tempat dengan luka yang cukup parah di kepala dan matanya, namun sang suami terpental cukup jauh dan hanya mengalami patah tangan di sebelah kanan.
Karena minimnya orang lewat di daerah situ, sehingga mayat Mbak Ratih lama untuk di evakuasi. Sejak saat itu, kabar arwah Mbak Ratih masih penasaran hingga saat ini. Isu yang menyeruak di desa adalah tentang tuntut balas arwah Mbak Ratih ke sopir truk itu.
Orang desa di sini sudah biasa dan sudah dianggap lumrah saat melewati jalan di situ. Mereka percaya, jika hendak melewati jalan itu harus membunyikan klakson tanda permisi ke dunia mereka (Hantu).
Katanya, jika pengendara lupa harus siap-siap arwah Mbah Ratih menampakkan diri. Bahkan arwah Mbak Ratih mengikuti hingga tempat tujuan.
______________
"Awalnya aku menganggap hanya sebatas isu. Namun saat aku pulang kerja, sengaja tak membunyikan klakson. Dan benar saja, terlihat wanita menggendong bakul dan menggunakan kebaya seperti yang digunakan Mbak Ratih semasa hidupnya." ujar Kak Hanif.
Malam itu, kami memutuskan untuk menginap di rumah Kak Hanif. Saat setelah kejadian itu, paginya kita memutuskan untuk pulang karena Anton selalu merengek agar mengurungkan niat untuk mendaki.
__________________
Pov Keyla.
"Habis itu, nggak pernah lihat lagi?" tanyaku.
"Amit-amit. Nggak sudi, Key. Itu aja berasa jantung tiba-tiba ingin geser dari tempatnya," ujar Kevin.
Aku hanya tertawa terbahak-bahak kala melihat ekspresi Kevin.
"Dek, istirahat dulu, yuk," ajak ibu.
"Iya, Bu," jawabku.
"Jangan lupa berdoa, biar nggak di kunjungi Tante kunti," ujar Kevin dengan nada mengejek.
Aku mengernyitkan dahi ke arah Kevin.
__ADS_1
"Awas, kamu. Kudoain itu tante kunti nyasar ke kamar Kakak," ujarku.
Kak Kevin hanya mengejekku dengan menjulurkan lidahnya. Sedangkan aku, dibantu ibu untuk pergi ke kamar. Sesampainya di kamar, entak kenapa aku memikirkan ajakan Kevin untuk mengorek informasi sosok wanita itu.
Namun aku bingung, harus mencari celah yang pas saat bertanya. Aku tak ingin di anggap berbual saat mereka tak mempercayakanku.
"Dek, kok nggak bergegas tidur?" tanya ibu.
"Nggak ngantuk, Bu. Entah kok tumben belom ngantuk sama sekali saat ini," jawabku.
"Ya, sudah. Jangan tidur terlalu malam, jaga kesehatanmu," ujar ibu.
Aku hanya menganggukkan kepala, sembari mempertimbangkan ajakan Kevin. Dalam batinku berkata, ada benarnya juga, sih. Tapi aku mengawali bicara gimana?
Malam itu, terasa buntu tak memiliki angan-angan satu pun. Aku mencoba memejamkan mata, butuh waktu yang cukup lama akhirnya tertidur. Tak ada mimpi yang aneh atau pun yang seram malam ini.
**********
Hingga tak terasa, terdengar kembali adzan subuh. Aku perlahan kembali membuka mataku.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Masih kau berikan usia untukku hari ini, semoga menjadi lebih baik dari sebelumnya," Aku duduk di kasurku.
Melihat ke arah ayah dan ibu yang masih terbaring di sana. Hingga dalam batinku berkata, kok tumben belum bangun, Bu? Saat itu juga aku memutuskan untuk membangunkannya.
"Bu, bangun. Sudah waktunya subuh," ujarku.
"Apa, Dek?" tanya ibu.
"Ayo, bangun. Salat berjamaah, Bu," ujarku.
"Iya, Dek," jawab ibu.
Kembali ibu membantuku untuk pergi ke kamar mandi. Entah ini hanya perasaanku saja atau memang kenyataan, aku merasa kakiku lebih ringan saat mencoba untuk berjalan.
Aku terpaku melihat ke arah kedua kakiku.
"Kenapa, Dek? Ada apa?" tanya ibu tampak penasaran.
Aku mengalihkan pembicaraan, tanpa menjawab pertanyaan dari ibu. Lalu beliau segera membantuku mandi, selepas itu kami semua salat berjamaah.
Aku berpikir akan mengajak Kevin seperti apa yang dia rencanakan tadi sore, namun sayangnya aku masih belom memberitahukan soal kesiapanku.
Bersambung ....
__ADS_1