Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Teror part 2


__ADS_3

Kak Dita keluar dari dalam mobil, Kak Dita dan Ibunya mulai menghampiri kami yang tengah berdiri di depan pintu gerbang.


"Loh, kok banyak bunga? Ada apa, Dek?" tanya Kak Dita.


"Masuk dulu yuk Kak, aku takut di sini," jawab Dinar sembari celingukan ke kiri dan ke kanan.


Ibu Dinar pun mengajak kami berdua untuk segera masuk, karena beliau melihat anaknya sekarang merasa tidak nyaman dengan situasi saat ini.


Kami melangkahkan kaki menuju teras rumah keluarga ini, langkah kaki pun terhenti ketika Ibunya Dinar dan Kak Dita melihat kotak kayu berbentuk persegi.



(Sumber:Google)


"Ini apa lagi?" tanya Ibu Dinar.


Kak Dita pun bergegas mengambil kotak itu. Setelah kotak itu berada dalam pegangannya, Kak Dita segera mengajak kami semua untuk masuk ke dalam rumah.


Kami memasuki rumah, tidak lupa Dinar mengunci pintu dengan rapat. Ibu dan Kakaknya yang tidak paham apapun merasa bingung dengan kelakuan Dinar. Apalagi di tambah mereka melihat kaca yang pecah bekas di lempari batu tadi.


Kami semua duduk di sofa ruang tamu.


"Dinar, Keyla, ini sebenarnya ada apa? Lalu kenapa kaca bisa pecah seperti itu?" tanya Ibu Dinar.


Aku dan Dinar saling berpandangan, lalu aku beranjak dari tempat dudukku untuk mengambil batu yang di lemparkan ke rumah ini. Batu tadi sengaja aku taruh di atas meja di dekat telepon.


Dari arah sofa ruang tamu, Kak Dita dan Ibunya semakin dibuat bingung.


"Kok batu? Jelasin dong ada apa ini?" tanya Kak Dita penasaran.


Aku melangkah semakin mendekati mereka, tanganku menenteng batu yang terdapat tulisan. Ketika aku sudah berada di dekat Kak Dita, segera aku memberikan batu itu kepadanya.


"Ini Kak," ucapku sembari memberikan batu itu.


Kak Dita pun menerimanya, Ibunya yang berada di sampingnya segera melihat ke arah batu itu.


"Jauhi Andre?" ucap Kak Dita.


Kak Dita melihat ke arah Ibunya.


"Bu, ada yang sengaja meneror aku sepertinya," kata Kak Dita.


"Cepat segera hubungi Andre saat ini juga," perintah Ibunya.


Kak Dita pun dengan cepat mengambil handphone yang berada dalam tasnya. Kak Dita mencari nomor telepon kekasihnya.


Panggilan pertama dengan cepat tersambung ke nomor Kak Andre.


"Halo Sayang, kamu repot tidak?" tanya Kak Dita.


Kak Dita terlihat menunggu jawaban Kak Andre.


"Ini, sepertinya ada yang sengaja meneror ku untuk menjauhi kamu," kata Kak Dita lagi.

__ADS_1


"Dit, Loud speaker aja panggilannya," ucap Ibunya.


Kak Dita pun segera menurutinya.


"Teror bagaimana sayang? Kamu enggak kenapa-napa kan sama Ibu dan Adek?" tanya Kak Andre.


"Tadi yang di rumah kebetulan cuma Adek dan Keyla temennya yang waktu itu loh, mereka sekarang ketakutan," jawab Kak Dita.


"Oke.Tunggu di rumah saja, aku segera ke rumah mu," ucap Kak Andre dari seberang telepon.


"Iya hati-hati," ucap Kak Dita.


Kak Dita mematikan teleponnya. Kami merasa penasaran dengan isi di dalam kotak ini, tetapi kami harus menunggu Kak Andre untuk membukanya.


Takut hal-hal yang membahayakan kami, lebih baik kami mawas diri. Kak Dita kembali menatap batu yang berada dalam genggamannya.


"Apa Ini perbuatan Enzi? Lalu mau dia apa?" Kak Dita melontarkan pertanyaan.


Sontak kami semua menatap ke arah Kak Dita dengan penuh tanya. Sepertinya Kak Dita mengerti maksud tatapan kami.


"Enzi itu mantan pacarnya Andre, tetapi mereka putus bukan gara-gara aku loh, tapi memang si Enzi bertunangan dengan pria lain," jelas Kak Dita.


"Kalau begitu bukan Enzi deh Dit, soalnya mereka pisah kan karena perempuannya yang ingin pisah terlebih dahulu," kata Ibunya.


"Iya juga sih, terus siapa dong?" tanya Kak Dita lagi.


Kami bungkam tak menjawabnya. Kami hanya bisa menunggu kedatangan Kak Andre. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya terdengar suara klakson mobil di depan rumah.


Ibunya Dinar melangkahkan kaki menuju pintu rumah.


"Itu beneran Kak Andre kok," jawab Ibu.


Aku melihat ke arah Dinar, sepertinya ketakutan telah menguasai jiwanya. Seakan-akan dia trauma akan hal yang dialaminya saat ini.


Ibunya Dinar keluar rumah membukakan pintu Kak Andre. Setelah itu kami melihat Kak Andre dan Ibunya Dinar sedang berbicara sembari melangkah ke arah kami.


Kak Andre pun duduk di sofa. Dia melihat ke batu dan kotak yang berada di atas meja, lalu mengalihkan pandangannya ke arahku dan Dinar.


Kak Andre pun mengambil batu itu, dia tampak memikirkan sesuatu dan terus menatap batu yang sedang dipegang dan diputar-putar.


"Baru kali ini kan terornya?" tanya Kak Andre.


Aku dan Dinar pun mengangguk.


"Sayang, kamu tidak lihat bunga yang biasa di bawa ke pemakaman di tabur di depan gerbang barusan?" tanya Kak Dita.


"Aku melihatnya, terus kira-kira ini ulahnya siapa?" Kak Andre balik bertanya.


Kak Dita hanya merespon dengan menggelengkan kepalanya.


"Kotak ini isinya apa?" tanya Andre sembari melihat kami satu persatu.


"Kami sengaja belom membukanya Nak, kami semua takut jadi memutuskan untuk menunggu kedatangan mu," jawab Ibu Dinar.

__ADS_1


Kak Andre pun segera mengambil kotak itu di atas meja. perlahan dengan pasti Kak Andre membukanya.


"Sayang, pelan-pelan takut ada yang bahaya!" Kak Dita memperingati.


Kak Andre menganggukkan kepalanya. Setelah kotak itu terbuka, isinya terlebih dahulu di perlihatkan ke kami semua sebelum mengambilnya.


"Boneka?" ucap kami berempat hampir secara bersamaan.


Kak Andre menganggukkan kepalanya lagi.


"Boneka apa itu?" tanyaku.


Mendengar pertanyaan ku, Kak Andre segera mengambil boneka itu dari dalam kotak.



(Sumber:Pinterest)


"Boneka Chucky?" tanyaku.


Kami merasa heran maksud semua ini apa.


"Andre, Dita apa kalian di luar ada musuh?" tanya Ibu Dinar.


"Aku selama ini tidak merasa mempunyai musuh kok, Bu," ucap Kak Dita.


"Andre pun sama, jikalau ada yang benci terhadap Andre kenapa harus Dita yang mendapat teror ini Bu?" tanya Kak Andre.


Ibunya Dinar hanya diam seribu kata. Seperti ingin mengutarakan sesuatu tetapi tertahan di bagian tenggorokannya.


"Apa cuma itu Kak, isinya?" sahut Dinar.



Kak Andre kembali mengambil sesuatu dari dalam kotak itu. Kali ini kertas berisi ancaman.


"Sepertinya ada yang tidak suka terhadap hubungan kalian, mungkin ini orang yang tidak jauh hubungannya dengan Andre," Ibu Dinar mencoba menerka-nerka ucapannya.


"Apa ini ada hubungannya dengan mantan kamu?" tanya Kak Dita kepada Kak Andre.


Ketika mendengar pertanyaan Kak Dita sontak di benakku bertanya-tanya, Apa mantan itu begitu menakutkan? Manusia seperti apa itu mantan?


"Sepertinya bukan, terus tujuannya buat apa meneror kamu? Toh mantanku sudah menikah terlebih dahulu," ucap Kak Andre.


"Sudah-sudah, jangan dilanjut kalian berantem nanti tidak ada jalan keluarnya," Ibunya Dinar mencoba menengahi.


Mereka berdua seketika tak ada yang berbicara.


"Ibu mohon kesediaannya untuk mengizinkan aku mengajak jalan-jalan kalian semua," ucap Kak Andre meminta izin.


"Iya, kita jala-jalan sebentar untuk menghibur Keyla dan Dinar, yang masih terlihat shock," jawab Ibunya Dinar.


Aku hanya mengangguk tanda mengiyakan. Kami semua bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan.

__ADS_1


>>> Tunggu Next Episode ya😉


__ADS_2