Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Dinar


__ADS_3

Sepanjang perjalanan kami pun hanya sanggup bertanya-tanya, sebab tak ada yang tahu pasti soal siapa tamu untuk kami.


Cukup lama perjalanan yang kami tempuh, akhirnya kami sampai di jalanan yang menghubungkan dengan rumah nenek.


"Akhirnya sampai sini juga, capek banget aku, Yah. Pengen rebahan," ujarku.


"Iya, Dek. Nanti langsung istirahat aja," jawab ibu.


Setelah kami sampai di depan rumah nenek, terlihat ada satu mobil yang nggak asing bagiku. Aku begitu hafal dan mengenali siapa pemilik mobil itu.


"Mobil Dinar? Dinar ke sini, Bu? Yee, Alhamdulillah," ujarku.


Perasaan bahagia pun seketika memenuhi hatiku, sebab sahabat yang selama ini aku rindukan berkunjung ke sini. Ibu turun terlebih dahulu untuk membuka pintu pagar, setelah terbuka ayah segera masuk dan memarkirkan mobilnya.


Saat kami sampai, semua orang yang berada di dalam rumah sontak keluar. Terlihat Dinar, Kak Dita dan Kak Andre yang berada di sana. Dinar berjalan menghampiri mobil yang kami kenakan, dia membuka pintu mobil ini.


"Key," ujarnya saat melihatku.


Dinar memelukku dengan erat, seakan-akan dia juga begitu merindukan aku.


"Dinar, aku kangen banget," ujarku.


"Sama, Key. Kenapa pindah ke sini, aku yang nemenin siapa?" kata Dinar.


Aku tak sanggup menjawab ucapan Dinar, sebab ini semua kehendak kedua orang tuaku. Banyak alasan yang telah mereka utarakan, namun masih belum ada satu pun hal yang membuat hatiku lega akan semua itu.


Ayah pun membantu aku turun tanpa menggunakan kursi roda, semua tercengang melihat perkembanganku yang sangat cepat.


"Alhamdulillah, biar bisa cepat jalan, Key," ujar nenek.


"Keyla bisa jalan lagi? Wah, nggak sabar main bareng lagi sama kamu, Key," sahut Jeje.


Aku menatap Dinar, dia tak mengucapkan suatu kata apa pun namun di wajahnya terlihat menitikkan air mata. Dia hanya tersenyum kala aku menatapnya. Ayah pun membantuku hingga aku masuk ke dalam rumah, setelah itu aku di taruh di sofa ruang tamu.


"Dinar, sudah lama nunggunya?" tanya ibu.

__ADS_1


"Belum, Tante. Kangen banget becanda sama, Keyla. Saat melihat Keyla sudah seperti ini perkembangannya, aku terharu. Sebab terakhir aku melihatnya dia masih tidur dan terbaring di rumah sakit," ujar Dinar dengan air mata yang membanjiri pipinya.


Dia melih duduk di dekatku, lalu memelukku dengan erat seolah-olah dia tak ingin melepaskan aku lagi.


"Din, aku juga kangen. Aku tahu saat kamu datang, tapi aku tak bisa melakukan apa pun. Aku pengen kita bisa sekolah bersama, bermain bersama," ujarku.


Kami berdua hanya sanggup menangis, hingga aku tak sengaja melihat ke arah ayah dan ibu pun sama. Mereka juga menitikkan air mata namun bergegas mereka hapus, mungkin gak ingin aku melihtnya.


"Tante, kenapa harus pindah ke sini?" tanya Dinar dengan suara bergemetar bertanya ke ibu.


Ibu menghampiri kami berdua, lalu mengelus kepala kami.


"Iya, Dinar. Banyak alasan kenapa harus ke sini, maafkan Tante sama Om karena harus memisahkan persahabatan kalian," ujar ibu.


"Tapi kalian bisa berhubungan dengan media ponselkan?" sahut Jeje.


"Iya, Bu. Kenapa harus pindah ke sini? Aku juga ingin pulang. Aku ingin tidur di rumah kita, aku kangen suasana rumah kita, Bu," ujarku.


Aku menatap ibu dengan wajah sedih dan memohon, sebab sejak dari malang belum pulang ke sana sama sekali. Apa kabar mobil ayah yang selama ini ada di stasiun?


"Kenapa, Bu, Yah? Apa yang kalian sembunyikan dari aku? Kenapa aku nggak boleh mengetahuinya?" pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam hatiku semua aku curahkan.


Entah mengapa aku tak sanggup membendung rasa sedihku saat melihat Dinar menangis di pelukanku. Ibu pun pergi masuk ke dalam kamar, lalu diikuti ayah dan nenek.


Tante Santi datang untuk memelukku dan mencoba menenangkanku, sedangkan Dinar di hampiri oleh Kak Dita untuk melakukan hal yang sama dengan Tante Santi.


"Je, ambilkan air putih," suruh Tante Santi.


Jeje tanpa menjawabnya lantas pergi seperti apa yang disuruh mamanya. Tak berselang lama, dia membawa dua gelas air putih yang di berikan ke Tante Santi dan Kak Dita.


"Kalian minum dulu, ya. Jangan bersedih dong, bersahabat bisa di mana pun dan kapan pun. Walaupun kalian berjauhan nggak ada penghalang untuk kalian bersahabat, saat ini kan sudah ada ponsel untuk kalian berhubungan," ujar Tante Santi.


"Nggak ada penghalang gimana, Tante? Jelas-jelas kami di pisahkan oleh jarak, walaupun kami bisa berhubungan melalu ponsel, tetapi nggak bisa bermain bareng atau pun bercerita bareng seperti sebelumnya," sanggahku tetap dengan tangisan.


Dinar tak mengucapkan sesuatu, dia hanya mampu menangis sehingga tak sanggup untuk berkata-kata. Cukup lama ayah, ibu dan nenek di kamar, entah apa yang mereka bicarakan sehingga tak kunjung keluar menghampiri kami.

__ADS_1


"Dinar, tadi janjinya ke sini mau main. Kok sekarang malah tangis-tangisan, yang semangat dong sudah ketemu sahabatnya," bujuk Kak Dita.


Lagi-lagi Dinar hanya sesegukan, tak menjawab perkataan siapa pun di sini. Tak berselang lama, dari kejauhan terlihat mereka bertiga yaitu ayah, nenek dan ibu berjalan menghampiri kami.


Namun ibu terlihat sembab seperti selesai menangis. Begitu pun dengan ayah, terlihat beliau juga menghapus sisa-sisa air mata yang menetes ke pipinya. Mereka duduk bersama kami, tapi enggan memulai pembicaraan.


"Keyla, Dinar. Tenang dulu ya, Nak. Kalian harus sabar, Dinar kan bisa sering-sering berkunjung, Keyla pun begitu kalau kangen bisa berkunjung ke rumah Dinar. Berdoalah untuk kesembuhan Keyla, agar kalian bisa bermain kembali seperti sedia kala," ujar nenek mencoba menenangkan kami semua.


"Ibu," ujarku sembari menatap ke arah ibu.


Ibu pun sama menatapku dengan wajah sendu, beliau terlihat sangat sedih. Ibu berpindah duduk di sampingku dan kembali memelukku.


"Dek, maafkan kami. Ini semua bukan kehendak kami untuk pindah ke sini, namun ini semua karena keadaan yang mengharuskan kita berada di sini untuk sekarang," ujar ibu.


Ayah pun datang mendekat menghampiri kami.


"Berdoalah, semua bisa seperti sedia kala. Agar Ayah diberi rejeki yang banyak, agar kita bisa menempati rumah kita kembali," ujar ayah.


Aku menoleh ke arah ayah yang berada di sampingku.


"Apa karena aku harus check up jadi mengharuskan kita berada di sini?" tanyaku, dengan sorot mata yang tajam menatap ke ayah.


"Ya, itulah salah satunya," jawab ibu.


Aku pun kembali menatap ibu dengan penuh tanda tanya.


"Lalu apa lagi, Bu. Tolong beri tahu aku, aku mohon," ujarku memohon ke ibu.


Lagi-lagi ibu kembali menatap ke arah ayah dan nenek secara bergantian.


"Kenapa, Bu?" tanyaku lagi.


Ibu pun menatap ke arahku.


"Sebenarnya ...," ucap ibu menggantung.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2