
Kevin pun di lempar oleh kedua pria tersebut. Dia terguling-guling hingga dasar jurang, saat terjatuh itu seluruh badannya dari terkena rerimbunan semak hingga terkena batu pun ia rasakan. Kevin hanya bisa pasrah antara hidup dan mati.
Dia terbaring di dasar jurang, namun kesadarannya masih penuh terjaga. Yang ia rasakan badannya terasa remuk, terasa sakit di mana-mana. Dia melihat dengan jelas kelakuan licik wanita tersebut, dengan mencoba membakar rerimbunan semak. Kalau pun dia berada di situ, mati atau hidup pasti hangus terbakar.
Dengan susah payah Kevin beranjak dari tempatnya, namun salah satu kakinya terasa berat dan sakit saat di gerakkan. Dia pun bertekad jika ingin tetap hidup, harus pergi menjauh dari kebakaran itu. Dia memaksakan diri untuk berjalan lebih jauh, namun apa mau di kata tubuhnya tak sanggup untuk itu.
Dia menyenderkan tubuhnya ke pohon yang paling dekat dengannya, lalu melihat ke arah semak belukar yang dengan cepat kebakar hampir sampai bawah.
"Bisa mati aku, kalau seperti ini," ujarnya dengan menepuk keningnya.
Saat itu, dia merasa bagian telapak tangannya terasa basah dan seketika dia melihat ke telapak tangannya yang penuh dengan darah. Tiba-tiba, dia teringat keluargaku dan memutuskan untuk segera menghubungi.
Beruntungnya Kevin, keluargaku merespon dengan baik dan segera menolongnya.
*********
"Kak, terus gimana ceritanya, sampai Bi Asih terluka itu?" tanyaku penasaran.
"Saat aku di perjalanan bersama Ayahmu itu, aku banyak bercerita kalau ada dua orang di rumahku yang takutnya juga dicelakai oleh mereka. Polisi itu pun menanyakan alamat rumah Kevin, dengan cepat dia menggerakan pasukannya untuk pergi ke rumah," jawab Kevin.
Saat sampai di rumah Kevin, polisi itu melihat mobil Candra keluar dari rumah itu. Sebagian dari mereka pun mengejar, sedangkan yang lain membantu Bi asih yang sudah terkapar di lantai dan di dapati darah banyak keluar dari perutnya.
Kevin mendengar pengakuan dari Pak Joko di telepon. Bahwa saat Candra di rumah, Bi Asih mencoba melawannya dengan mengambil laptop yang di letakkan Candra di atas meja. Bi asih ingin kabur, namun naas kedua pria itu berhasil menangkapnya.
Saat Bi Asih meronta, dengan cepat salah satu dari mereka menusukkan pisau ke perutnya.
"Bodoh banget kalian. Ayo, cepat pergi dari sini," ujar Candra dengan membawa laptop itu kembali.
Saat Candra pergi, secara bersamaan kepolisian datang membantu mereka untuk segera melarikan Bi Asih ke rumah sakit.
"Semoga Bi Asih cepat sadar, ya. Amin," ujarku.
"Amin, aku juga berharap perempuan ular itu segera tertangkap," ujar Kevin dengan wajah yang kesal.
Kami pun tetap bercerita-bercerita hingga menjelang magrib.
"Nanti selepas magrib, kami izin pulang, ya. Sebab besok kami harus bekerja," ujar Kak Andre.
Dan inilah momen kesedihan kembali terulang, aku harus kembali berpisah dengan Dinar.
"Kapan lagi, kita bisa bertemu?" ujarku sembari menahan air mata yang hendak menetes.
__ADS_1
Dinar menggelengkan kepala sembari berkata, "Semoga secepatnya dan saat itu aku sudah melihat kamu berjalan, ya."
Aku hanya menganggukkan kepala, lalu memeluk Dinar dengan erat.
"Jangan lupain aku, ya," ujar Dinar.
Aku pun tak sanggup membendung kembali air mataku. Saat itu juga mereka semua menenangkan kami kembali dan mengajak kami untuk segera salat berjamaah.
Setelah itu, Dinar, Kak Dita dan Kak Andre pun berpamitan untuk segera kembali pulang. Walaupun terasa berat, namun aku tak ingin egois dan hanya merelakan kepergiannya.
Saat itu, kembali aku melihat sosok wanita yang berada di lantai atas rumah itu. Aku melihat dengan seksama ke arahnya, namun saat ini aku melihat dengan jelas bahwa wanita itu sama dengan yang menghantuiku di toilet.
"Diakan ...," ujarku menggantung.
Kevin mendekat ke arahku.
"Kenapa?" tanya Kevin yang ternyata memperhatikan aku.
"Bu, aku di sini dulu ya dengan Kak Kevin," ujarku.
"Iya, nanti segera masuk untuk makan malam. Kevin juga istirahat ya, Nak," jawab ibu berlalu masuk ke dalam rumah.
Dan mereka semua pun mengekor di belakang ibu, tinggal aku dan Kevin yang berada di teras.
"Iya, kenapa kamu perhatiin rumah itu? Memang ada apa?" tanya Kevin.
"Perhatiin itu di jendela yang ada di lantai atas, di sana ada sosok perempuan yang sama dengan yang selama ini menakutiku," jawabku.
Kevin pun segera menatap ke arah jendela itu, namun dia tak mendapati apa pun di sana.
"Sayang ya aku nggak bisa lihat itu," ujarnya.
Aku pun bercerita seperti yang diberitahukan nenek, kalau wanita pemilik rumah itu hilang hingga saat ini belum diketemukan.
"Lalu keluarganya?" tanya Kevin penasaran.
"Asalku bukan sini, jadi nggak tahu itu. Aku saja dengar dari nenekku," jawabku.
"Lah, rumahmu bukan sini? Lalu, di mana?" tanya Kevin.
Aku menjelaskan asal rumahku dan aku memutuskan untuk bercerita hingga keadaanku menjadi seperti ini.
__ADS_1
"Mau kubantu berlatih berjalan?" tanya Kak Kevin.
Aku menggelengkan kepala, karena malu.
"Oh, iya. Apa hantu itu kira-kira pemilik rumah itu, ya?" Kevin mengernyitkan dahinya.
"Aku pernah berpikir seperti itu. Tapi sebelum dapat kabar itu, aku juga melihat ada sosok di sana," ujarku sembari melihat ke arah jendela rumah itu.
Kak Kevin, memutuskan duduk di samping kursi rodaku. Dia terlihat seksama menatap ke rumah itu dan memikirkan sesuatu.
"Kita, korek informasi, yuk," ajak Kevin, sembari menatap ke arahku.
"Caranya? Kakak aja kakinya lagi sakit," ujarku.
"Besok pagi kita jalan-jalan. Nah, kita tanya aja ke warga sekitar," ujarnya.
"Hah, aku nggak maulah. Takut," ujarku.
Kevin pun mencoba memikirkan cara yang lain, tapi begitu lama dia tak mengucapakan suatu hal lagi.
"Mikir apa, Kak? Nggak ketemu jalan, ya. Hahahaha," ejekku.
"Ish, kamu. Buntu otakku," ujar Kevin.
Namun itu malah membuatku tertawa terbahak-bahak. Dia terlihat cemberut dan memalingkan wajah dariku.
"Yaelah, ini orang. Ngapain mikirin hantu? Di kasih lihat bentukannya, aku yakin pasti mengurungkan niat," ujarku sembari menahan tawa.
"Enggak tahu, juga," ujarnya sembari tersenyum dan menggaruk kepala.
"Pernah lihat hantu, nggak?" tanyaku.
"Pernah, tapi itu pun sekali. Waktu aku hendak pergi mendaki bersama teman-teman, di perjalanan itu tengah malem lihat wanita menggunakan kebaya menggendong apa sih tempatnya jamu itu?" ujar Kevin.
"Ya itulah pokonya. Terus-terus," ujarku tampak penasaran.
"O'onnya temanku malah berpikir ngasih tumpangan ke wanita itu, dengan alasan kasihan. Nah, aku melarangnya dong. Masa iya, jualan jamu tengah malam, iya nggak?" ujar Kevin.
"Lalu?" ujarku.
"Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Pas waktu mau melewati wanita itu, iba-tiba dia berbalik arah dan dengan cepat melesat menempel di kaca depan mobilku. Tahu nggak, wanita itu wajahnya penuh darah, mata sebelah kirinya itu seperti hendak copot," cerita Kevin.
__ADS_1
Bersambung....