
Ibu Ranti berjalan sembari menyeka air mata yang terus mengalir ke pipinya. Walaupun hak seperti itu selalu ia dengarkan, tetapi tak dipungkiri jika sangat sakit mendengar itu semua. Sesampainya di rumah, Bu Ranti cukup keras kala membuka pintu dan kembali menutupnya dengan rapat.
Brak!!
Pintu terbanting.
"Apa salahku, Ya Allah. Kenapa kau uji aku dengan seperti ini." Ibu Ranti menyandarkan tubuhnya ke pintu, tetapi secara perlahan menjatuhkan tubuhnya dalam posisi bersimpuh. Terasa sakit hatinya seperti pisau menghujam dalam hatinya dengan keras.
"Kurang taat apa aku padamu? Semua selalu aku usahakan. Aku berikhtiar dan berusaha dengan cara apapun untuk mendapatkan keturunan. Tetapi kenapa, kau tak mengizinkan kami untuk mengasuh titipanmu? Apa kami seburuk itu, sehingga tak pantas untuk mendidik anak-anakku kelak," gumam Bu Ranti dengan deraian air mata.
Tanpa ia sadari, Ibu Ranti mengecam kuasa Allah. Dia tak tahu apa yang direncanakan sang Maha Kuasa. Rasa iri, cacian yang membuat ia kurang bersyukur atas kehidupan ini.
____
Kehidupan seperti itu terjadi selama sembilan tahun. Suaminya hanya mampu menguatkan istrinya tanpa mengeluh atas apa yang memang belum ditakdirkan untuk mereka.
"Ayah, apa kamu akan meninggalkan aku? Sembilan tahun kita bersama, tapu tak mampu memberikan apa yang kamu inginkan. Benar kata mereka, aku ini mandul. Aku bukan wanita sempurna sebab tak bisa memiliki keturunan. Aku rela, jika kamu meninggalkan aku." Bu Ranti kala itu duduk berdua dengan suaminya saat malam hari di ruang tamu.
"Ngomong apa sih, Bu? Nggak ada alasan untuk aku meninggalkanmu. Kalau masalah anak, kita bisa adopsi, kok. Kita ke panti ya, besok," ajak suaminya.
Ibu Ranti kala itu hanya menggelengkan kepala dan menitikkan air mata. Dia tak tahu lagi, seperti apa yang harus ia lakukan. pengobatan dokter, terapi bahkan minum jamu-jamuan seperti kata orang pun ia lakukan. Begitu pula dengan suaminya, beliau melakukan hal yang sama demi istrinya. Mereka berdua sosok orang yang saling menguatkan dengan segala kekurangan yang mereka miliki. Mereka saling mengingatkan, keinginan memiliki anak pun selalu menjadi hantu dalam hidupnya. Mereka menyempatkan ke panti untuk menyantuni mereka, walaupun padahal mereka ingin melihat senyum tulus dari anak-anak itu.
Entah kenapa, malam itu Bu Ranti tak seperti biasanya. Beliau yang selalu bersemangat kala diajak pergi ke panti, malam itu beliau dengan kekeh menolaknya dengan menggelengkan kepala.
_____
Pagi menyapa, Bu Ranti beranjak dari tempat duduknya. Ia melangkahkan kaki menuju jendela, untuk membuka tirai yang menutupinya. Mata menatap dengan jauh, hamparan pemandangan yang nyaman tak mampu menenangkan hatinya yang gundah.
"Ibu," sapa suaminya yang sudah bangun dari tidurnya.
Bu Ranti menoleh, memaksakan senyum untuk menyapanya kembali. Suaminya mengerti senyum itu, lalu beranjak menghampiri.
"Kenapa, sayang? Pagi ini, aku nggak kerja. Kita pergi ke panti, yuk. Beri sedikit kebahagiaan kita kepadanya," ujar suaminya.
"Kebahagiaan? Apa itu?" tanya Ibu Ranti.
"Banyak hal sumber kebahagiaan kita itu. Kamu, pasangan yang terbaik dalam hidupku, partner terhebatku yang tangguh. Harta yang kita miliki, kesabaran yang kita jaga adalah beberapa kebahagiaan kita. Jangan lupa bersyukur, yuk. Apa yang kita miliki, adalah salah satu yang diinginkan orang," ujar suami Ibu Ranti.
"Begitu pula dengan mereka yang di sana. Apa yang mereke miliki adalah apa yang aku inginkan sekarang. Harta bisa di cari, kesabaran bisa kita rasakan, bagaimana dengan anak? Dengan cara apa kita memilikinya?" hardik istrinya.
__ADS_1
"Kita harus tetap berikhtiar untuk itu, Bu. Selama ini, kita mengusahakan itu. Yang sabar, ya," kata suaminya setiap kali Bu Ranti bersedih.
Bu Ranti berbalik badan kembali menatap ke luar jendela. Gelak tawa anak-anak yang sudah keluar untuk bermain, membuat hatinya semakin teriris.
"Kurang sabar apa, aku selama ini? Sembilan tahun jadi cacian mereka di luaran sana. Omongan mereka selalu menyakiti hatiku." Isak tangis kembali tumpah pagi itu.
"Kenapa, harus mereka yang menjadi tolak ukur untuk bersabarmu? Selama dalam hatimu, selalu menyimpan perkataan mereka dan malah menimbulkan rasa iri, saat itu juga rasa bersyukurmu berkurang. Yakinlah, kita akan memilikinya walaupun nggak sekarang. Jadikan omongan mereka motivasi untuk hidupmu, bukan ajang iri untuk dirimu. Kita tak akan pernah merasakan segala nikmatnya, jika hatimu masih dipenuhi rasa iri sekecil apapun itu. Coba, mulai pagi ini pasrahkan hidupmu ke Maha Kuasa dan selalu berusaha. Entah kapan itu hasilnya, yang terpenting kita tak pernah berhenti untuk berusaha," nasihat suaminya.
Tiba-tiba perut Bu Ranti terasa mual. Beliau berlari pergi ke kamar mandi dan suaminya pun mengekor di belakangnya.
"Bu, kenapa?" tanya suaminya.
"Nggak tahu, Yah. Dari kemarin selalu begini tiap pagi. Mual, pusing yang aku rasakan. Mungkin masuk angin, nanti minta tolong kerokin, ya," ujar Bu Ranti.
"Kita ke dokter aja kalau begitu. Ayo, bersiap-siap dulu, nanti kita pergi ke dokter," ajak suaminya.
"Iya, Yah. Aku masak dulu, ya," ujar Bu Ranti sembari melangkahkan kaki hendak keluar kamar.
"Nggak usah masak, Bu. Kita beli aja nanti, kamu istirahat saja. Siap-siap aja, kita pergi ke dokter sekarang," pinta suaminya lagi.
Bu Ranti pun menganggukkan kepala dan segera bersiap-siap mandi untuk pergi ke dokter. Setelah itu, mereka berangkat menuju ke rumah dokter pagi-pagi. Di tempat mereka, dokter praktek setiap pagi di rumahnya sendiri, sebelum mereka berangkat kerja di rumah sakit.
"Masih mual?" tanya suaminya.
"Sudah mendingan, Yah," jawabnya.
Cukup lama menunggu, akhirnya nomor antrian mereka dipanggil. Dokter pun melakukan pemeriksaan.
"Ibu sudah coba tes kehamilan?" tanya dokter.
Bu Ranti hanya terbelalak, lalu menggelengkan kepala.
"Oke, kalau begitu kita tes dulu," ujar dokter.
Setelah itu, nunggu beberapa menit akhirnya hasilnya keluar.
"Bu Ranti, apa yang belakangan ini di rasakan?" tanya dokter.
"Mual dan pusing saja, dok," jawab Bu Ranti dengan raut wajah bingung.
__ADS_1
"Selamat, ya. Ibu Ranti sedang mengandung, tolong dijaga dengan baik, ya. Semoga sehat," ujar dokter.
Raut wajah bingung masih ditampakkan oleh Ibu Ranti.
"Kenapa, Bu?" tanya dokter lagi.
"Maaf Dok, sebelumnya. Saya bulan lalu masih haid, walaupun hanya flek kecoklatan saja. Tapi apa itu tanda hamil?" tanya Bu Ranti.
"Haid? Selama berapa hari? Oke, kita usg sekarang, ya. Biar tahu penyebabnya. Kalau awal kehamilan mungkin beberapa orang juga mengalaminya jika hanya dalam kurun satu sampai dua hari di bulan pertama mengandung. Tapi, lebih jelasnya kita lakukan pemeriksaan, ya," ujar Dokter.
Dokter melakukan pemeriksaan. Kantung janin terlihat jelas, meski janin itu belum terbentuk. Perasaan bahagia menjalar dalam hati Bu Ranti, sebab sembilan tahun yang ia impikan akhirnya tercapai. Tetapi, kebahagiaan itu masih mengganjal karena bercak darah itu.
"Gimana, Dok?" tanya Bu Ranti dengan perasaan cemas.
Dokter membereskan alat usg itu, lalu duduk kembali di meja kerjanya. Begitu pula dengan Bu Ranti beserta suaminya.
"Ini masih hal wajar kok, Bu. Kandungan Ibu sehat dan aman-aman saja. Ini yang dinamakan pendarahan implatansi. Keluarnya bercak darah di awal masa kehamilan sebenarnya cukup umum terjadi dan biasanya hanya dalam kurun waktu singkat, yaitu sekitar satu sampai dua hari. Kondisi yang disebut pendarahan implantasi ini terjadi saat sel telur yang telah dibuahi menempel pada dinding rahim. Berbeda dengan pendarahan saat menstruasi yang jumlahnya cukup banyak, jumlah pendarahan implantasi biasanya sedikit dan sering kali hanya berupa bercak darah atau bercak Kecokelatan." Dokter menjelaskan panjang lebar ke mereka.
"Lali, istri saya harus bagaimana, Dok?" tanya suami Ibu Ranti.
"Untuk sementara, Ibu harus mengurangi kegiatan yang berat kalau bisa malah hindari ini. Tunda dulu hubungan suami istri dulu, ya. Jangan stress juga, nanti juga bisa mempengaruhi kehamilan. Di trimester satu memang cukup rentan, mohon dijaga dengan baik," pesan dokter.
"Alhamdulillah, Baik, Dok. Saya akan jaga dengan baik," ujar Bu Ranti dengan senyum merekah di bibirnya.
Dokter menuliskan resep untuk menunjang kehamilan Bu Ranti agar tetap sehat. Perasaan bahagia tiada tara kala mendengar itu semua.
"Bu, ini hasil buah kesabaran dan usaha kamu. Jaga dia baik-baik, jangan dengarkan ocehan orang lain. Kasihan calon anakmu ini." Suaminya mencoba menasehati.
"Baik, Yah. Terima kasih, sudah mendukung aku dengan kesabaranmu juga," ujar Bu Ranti.
Setelah itu, mereka kembali menaiki sepeda motornya untuk sampai ke rumah. Tetangga menatap mereka dengan pandangan yang tak mengenakkan dan tersenyum sinis, bahkan tentunya gunjingan mereka lontarkan.
"Mari, Bu," sapa Bu Ranti ke ibu-ibu yang sedang berkumpul di tukang sayur.
Beberapa orang menyeringai dan melihat mereka hingga berlalu yang menimbulkan rasa penasaran di benak mereka.
"Dari mana itu, Ranti? Pagi-pagi, sudah dandan rapi dan naik motor," gumam ibu-ibu.
"Alah, si mandul palingan ya terapi lagi. Mandul ya tetap mandul, mau diobatin sampek ke eropa pun tetap mandul, Bu," cecar yang lain.
__ADS_1
Perkataan seperti itu selalu dilontarkan mereka, tanpa berpikir perasaan orang lain. Entah apa yang mendasari mereka, sehingga bertahun-tahun lamanya masih tetap suka membahas hal yang sama setiap harinya.