Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Rumah Lama Kevin


__ADS_3

Kami pun dengan cepat melahap makanan ini hingga habis, kami tak sabar untuk mengungkap kasus wanita culas itu. Dalam hatiku jika bertemu berasa ingin menghardiknya, tapi apa mau di kata aku hanya akan kecil yang tak kenal dia sepenuhnya.


"Rumah kamu yang di sana sengaja di kosongkan?" tanya ayah ke Kevin.


"Iya, Pak. Bibi katanya pernah mimpi ketemu Mama di sana, sehingga Papa memutuskan untuk tidak menjualnya. Untuk kenangan kami, aku pun kadang kalau kangen Mama juga tidur di sana, sengaja buat kenangan, Pak," ujar Kevin lalu kembali melahap makanannya.


Aku tak habis pikir melihat sikap Kevin yang begitu sopan terhadap keluarga kami, tak seperti halnya saat kilas balik itu. Dia terlihat begitu menyebalkan dan terlalu kasar dengan orang tuanya. Mungkin juga karena amarahnya yang membuat dia bersikap seperti itu.


"Kak Kevin, kalau rumah itu di kosongkan. Apa ada yang merawatnya, jika Kakak sering tidur di sana?" tanyaku.


Kak Kevin pun menatap ke arahku, dia menganggukkan kepalanya sebab di mulutnya penuh dengan makanan.


"Kenapa kamu nggak tinggal di sana saja?" sahut ibu.


"Bukannya nggak mau, Bu. Takut wanita iblis itu nekat mencelakai aku dengan membakar rumah itu, aku nggak mau rumah kenanganku bersama Mama musnah begitu saja," jawab Kevin.


Kami pun mencoba mengerti dengan jawaban Kevin, sebab wanita itu bisa saja melakukan hal yang bisa mencelakai Kevin sama dengan yang dilakukan ke mamanya.


"Kak, memangnya pernah dicelakai Tante Candra seperti apa?" tanyaku lagi.


Kevin pun menoleh dengan ekspresi terkejut. Aku pun membalasnya dengan mengernyitkan dahi, sebab aku takut salah bicara.


"Kok tahu nama Nenek sihir itu?" tanya Kevin.


"Kan aku bilang, lihat semuanya pada kilas balik penampakan Mamamu," jawabku.


Kak Kevin seketika melemparkan senyumannya ke arahku, dia pun bercerita jika pernah waktu berangkat kuliah, tiba-tiba remnya blong padahal sebelumnya digunakan Papanya tidak terjadi apa-apa. Dia hanya bercerita sebatas itu sebab dia beralasan terlalu banyaknya hingga tak bisa diceritakan secara mendetail.


Kami pun satu persatu telah menghabiskan makanannya. Kevin pun tak lantas mengajak kami segera berangkat, sebab dia masih ingin berbincang dengan kami sebentar lagi.


"Pak, Bu kalau boleh tahu kenapa Keyla bisa seperti ini? Sakit?" tanya Kevin.


"Kami mengalami kecelakaan kereta, Keyla yang mengalami luka parah hingga membuat dia sampai koma cukup lama," jawab ibu.


"Innalillahi, Semoga cepat sembuh ya, Dek. Bersyukurlah kamu mempunyai orang tua lengkap dan begitu menyayangi kamu, banggakan mereka," ujar Kevin sembari memegang pergelangan tanganku.


Kevin melemparkan senyum ke arahku, aku pun membalasnya dengan senyuman yang sama. Tenyata perkiraanku salah, Kevin orangnya terlihat begitu sopan dan respect terhadap orang lain. Lagi-lagi terlihat begitu jauh dengan apa yang aku lihat waktu lalu di kilas balik.


"Kita berangkat sekarang gimana, Kak?" tanyaku.


"Oh, Oke sekarang saja. Aku takut kalian lelah, makanya aku tak terburu-buru," ujar dia memberi alasan.


Ternyata dia mengulur waktu hanya ingin kami istirahat sebentar. Kak Kevin membuat aku begitu kagum, bukan hanya wajahnya yang tampan ternyata hatinya pun sama.


Kami pun beranjak dari tempat duduk menuju mobil kita yang terparkir. Saat hendak masuk mobil, tiba-tiba Kevin berhenti dan kembali menatap kami.


"Kenapa, Dek Kevin?" tanya ayah.


"Aku atau kalian yang jalan dulu?" tanya Kevin.


Ayah malah menatap ke arah ibu dan aku.


"Biar Kevin dulu, Yah," jawab ibu yang mengerti maksud ayah.


Ternyata Kevin mendengar perkataan ibu.


"Baik, saya dulu ya yang jalan. Kalian pasti sudah tahu kan rumah lamaku," ujar Kevin.

__ADS_1


Kami pun mengiyakan ucapan Kevin. Lalu kami kembali masuk ke dalam mobil, Kevin terlihat menunggu kami. Kami cukup ribet untuk masuk di mobil sebab harus memindahku dahulu, lalu kembali menyimpan kursi roda itu ke bagasi mobil.


Setelah selesai, ayah segera menyalakan mobilnya. Saat itu aku melihat Kevin melajukan mobilnya secara perlahan, ayah pun melajukan mobilnya juga mengikuti Kevin.


Di sepanjang perjalan kami pun berbicara perihal keluarga Kevin yang kami dengar sebelumnya.


"Kasihan ya, Yah. Kok ada sesama wanita bisa setega itu, apa lagi mereka dulu bersahabat, nggak habis pikir aku," ujar ibu yang terlihat geregetan.


"Sama Kevin aja begitu tega, yang bodoh itu Papanya mungkin, Bu. Masa iya tingkah istri barunya tidak mengerti hingga saat ini," jawab ayah.


"Bisa jadi wanita ular itu pintar banget bersilat lidah, Yah. Bersikap baik gitu saat di hadapan Papa Kevin," ujar ibu lagi.


"Iya juga, sih," ujar ayah.


Karena perkataan sahabat entah kenapa pikiranku melayang ke Dinar. Apa iya persahabatanku ke Dinar bisa aja rusak begitu saja. Saat sekelebat pikiran itu datang, aku memutuskan untuk menggelengkan kepala dan ternyata tingkahku di lihat ibu.


"Kenapa, Dek. Kok geleng-geleng?" tanya ibu.


Aku pun tersenyum.


"Apa iya, Bu. Persahabatanku dengan Dinar bisa rusak gitu saja?" tanyaku.


"Kita orang itu tidak ada yang tahu, Dek. Berdoa saja semoga kalian tetap baik hingga akhir masa," jawab ayah.


"Iya, Yah," jawabku.


Ada benarnya saja, kita tidak ada yang tahu. Berharap saja semoga persahabatan ini tak pernah lekang oleh waktu. Walaupun saat ini kami berjauhan dan tak tahu kapan bertemu lagi, aku tetap berharap sahabatan ini sampai akhir usiaku nanti.


Perjalanan kami menuju rumah lama Kevin tak perlu waktu yang lama, sebab jarak dari restoran ini hanya beberapa kilo meter saja. Kami hanya perlu putar balik, sebab kita sebelumnya dari rumah Dokter yang menanganiku berjalan ke arah jalan pulang.


"Besar banget ternyata rumahnya," ujar ibu saat melihat rumah Kevin.


"Dari rumah sakit aja terlihat besar, Bu. Apalagi langsung masuk ke pekarangan rumahnya, rumah orang kaya," jawab ayah.


"Pantes saja wanita itu mau dijadikan kedua. Ngincar harta Papanya Kevin saja sepertinya," ujar ibu dengan nada sedikit ketus, mungkin ibu geregetan dengan wanita itu dari cerita Kevin.


Aku melihat ke arah jendela yang tak jauh dari pintu utama, terlihat wanita yang tak begitu asing bagiku. Mulutnya yang menjulur dan rambut acak-acakkan, dia adalah sosok dari Mama Kevin. Mungkin itu jendela adalah dari kamar Mama Kevin dan tepatnya itu tempat pembunuhan itu.


"Kak Kevin." Aku memanggil Kevin, sebab ingin memberitahu bahwa ada mamanya.


Kevin pun mendekat dan membantu papa untuk mengambilkan kursi rodaku. Dia memegang kursinya dan ayah menggendongku pindah ke kursi yang sudah di pegang Kevin.


"Ada apa, Keyla?" tanya Kevin.


Aku menunjuk ke arah sosok yang aku lihat.


"Aku lihat ada mamamu di sana, dia melihat ke arah kita," ujarku.


"Iya kah? Di mana? Ma, Kevin di sini, aku ingin bertemu Mama," ujar Kevin.


Seketika hatiku terenyuh kala mendengar perkataan Kevin, dia terlihat begitu menyayangi mamanya. Dia masih terpukul dengan kematian mamanya yang begitu tiba-tiba.


"Di mana, Key? Aku ingin bertemu Mamaku," ujar Kevin meninggalkan kami, dia melangkah menuju pintu utama hendak membuka kuncinya.


Kami hanya berdiri dan terpaku kala melihat tingkahnya, seolah-olah dia akan bertemu dengan orang yang lama hilang dari hidupnya. Dalam hatiku nggak yakin jika Kevin bisa melihat sosok mamanya, aku takut dia tambah kecewa dan terpukul.


Kevin menoleh ke arah kami yang masih tak melangkah walaupun hanya satu langkah.

__ADS_1


"Ayo, masuk," ajaknya.


Kami pun segera menghampirinya namun dengan susah payah sebab jalanan terasnya menggunakan tangga yang cukup tinggi. Kevin datang menghampiri, dia membantu ayah untuk mengangkat kursi rodaku. Walaupun dengan susah payah, akhirnya sampai di teras.


"Aku aja, Pak yang dorong," ujar Kevin meminta ayah untuk digantikannya.


Ibu yang terlebih dahulu berjalan untuk segera membuka pintu, kami bertiga mengekor di belakangnya.


Kedua pintu pun di buka oleh ibu, terlihat ruangan yang pernah ku lihat walaupun dari penglihatan kilas balik waktu itu. Tata letak ruangan ini tak ada yang berubah sekali pun, ruangan ini begitu persis dengan apa yang aku lihat.


"Besar banget rumahnya," ujar ibu sembari celingukan melihat ke seluruh ruangan ini.


"Iya, Bu. Alhamdulillah, namun apa gunanya kalau tak ada kebahagiaan di dalamnya," ujar Kevin.


Aku melihat ke arahnya, terlihat dia menunduk, saat dia masuk rumah ini seakan-akan mendorongnya kembali ke ingatan masa lalu dia.


"Kak, maafkan aku," ujarku sembari menatap ke arah Kevin.


Dia pun menatapku balik.


"Untuk apa?" tanya dia yang terlihat bingung.


"Maaf kalau aku membawa Kakak ke kisah masa lalunya, kalau Kakak merasa keberatan untuk mengulasnya, kita sampai sini saja. Aku tak ingin menambah luka hati Kakak," ujarku.


Tiba-tiba Kevin mengelus kepalaku, sembari tersenyum.


"Aku justru bahagia dan berterima kasih, kamu bisa membantu Mamaku untuk menyampaikan ini. Aku yakin Mamaku akan bahagia jika kasusnya terselesaikan, aku yakin juga Mamaku akan lebih bahagia kalau melihat wanita jahat itu mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya," ujar Kevin dengan tegas.


Aku pun membalas senyumannya.


"Aku kira Kakak akan nggak percaya dengan kami, sebab Kakak dari kalangan orang kaya. Bisa saja Kakak berpikir kami memanfaatkan Kakak dengan alasan ini," ujarku.


Kak Kevin justru tertawa terbahak-bahak kala mendengarkan ucapanku.


"Ya ampun, tak pernah terlintas sedikit pun itu di pikiranku. Toh kalian jahat untuk aku tak ada gunanya juga, sebab aku tak memiliki apa pun," jawab Kevin lagi.


Kami pun tertawa secara bersamaan, aku pikir-pikir ada benarnya. Kami berpikir, kalau berbuat jahat ke Kevin juga tak ada gunanya, nggak bakalan barokah.


"Kalian duduk dulu, aku ambil sesuatu," ujar Kevin meninggalkan kami di ruang tamu.


Ayah melihat pintu pagar masih terbuka lebar, sehingga ayah beranjak dari tempat duduknya.


"Mau ke mana, Yah?" tanyaku.


"Mau nutup pintu pagar, nggak enak juga kalau ke buka," jawab ayah.


Ayah pun segera keluar dari rumah dan berjalan menuju pagar. Dari kejauhan terlihat jelas rumah ini jarang di rawat sebab halaman sedikit kotor karena daun yang berjatuhan terbawa angin.


"Bu, rumah orang kaya besar, ya. Dua kali rumah kita ya besarnya," ujarku ke ibu.


Ibu hanya menganggukkan kepala. Dari kejauhan aku melihat ayah berjalan kembali ke arah kami, saat bersamaan Kevin juga kembali menghampiri sembari membawa sebuah kotak.


"Apa, Kak?" tanyaku.


Kevin tak lantas menjawabnya sebelum benar-benar dekat dengan kami.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2