Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Rumah Kevin


__ADS_3

Ayah tetap melanjutkan mendorong kursi rodaku. Aku berharap kasus ini selesai seperti yang kita inginkan, sehingga Mama Kevin biar hidup tenang di alamnya.


Kami terlebih dahulu berjalan menuju mobil, sedangkan Kevin sembari menenteng kotak terlebih dahulu mengunci pintu rumahnya. Ayah membantuku untuk masuk ke dalam mobil, tiba-tiba mendengar Kevin berbicara.


"Mama ... apa itu, Mama? Ma, aku kangen," ujar Kevin sembari celingukkan.


Kami sontak menatap ke arah Kevin.


"Kenapa, Dek Kevin?" tanya ayah.


Aku melihat Kevin sembari memegang lehernya dan tetap menoleh ke kanan dan kiri.


"Aku mendengar bisikan seperti suara Mama, Pak. Aku yakin itu Mama," ujar Kevin dengan penuh keyakinan yang kuat.


"Memang, ada Mamamu di sampingmu. Dia seolah-olah ingin memelukmu, namun tak bisa," ujarku.


Aku melihat wajah Kevin yang sebelumnya terlihat bersemangat, saat ini berubah raut wajah yang sedih. Lalu melihat kak kevin perlahan dalam posisi bersimpuh.


Ibu yang melihatnya sontak menghampiri Kevin lalu memeluknya. Mungkin itu cara ibu untuk menenangkan Kevin sedangkan Kevin pun terlihat membalas pelukan ibu. Sosok Mama Kevin pun terlihat kemudian secara perlahan menghilang.


Aku sudah berhasil duduk di mobil, lalu ayah menghampiri mereka berdua.


"Kevin, ayo tuntaskan ini semua. Buat Mamamu tenang di sana, jangan berlarut dalam kesedihanmu. Kasihan Mamamu," ujar ayah.


Kevin menoleh ke arah ayah yang berbicara, terlihat dia menganggukkan kepala sembari tersenyum walaupun deraian air mata masih membasahi pipi.


Ayah dan ibu membantu Kevin untuk berdiri, kemudian mereka bertiga melangkah secara bersamaan menuju mobil.


"Yah, Kak Kevin nggak apa-apa naik mobil sendiri?" tanyaku.


Ayah pun kembali menoleh ke arah Kevin.


"Nggak apa-apa, aku bisa kok," jawab Kevin sembari berjalan menuju mobilnya.


Ayah pun segera masuk ke dalam mobil, sedangkan ibu memutuskan untuk kembali membuka pintu gerbang. Mobil Kevin jalan terlebih dahulu, setelah mobil kami keluar area rumah Kevin segera ibu kembali menutupnya dan memastikan gemboknya benar-benar terkunci dengan baik.

__ADS_1


Ibu masuk ke dalam mobil, tepatnya duduk di sampingku.


"Bu, kasihan ya Kevin. Aku nggak nyangka banget loh dia sikapnya beda dari penglihatanku," ujarku.


"Memangnya kenapa, Dek?" tanya ayah.


Aku menceritakan sikap Kevin terhadap orang tuanya, yang suka membentak dan kasar. Namun berbanding terbalik kepada Bi Asih dan sopirnya.


Ayah dan ibu pun hanya memaklumi dari usia Kevin yang masih labil. Apa lagi kemungkinan besar dia dalam posisi sedih dan amarah yang terlalu berlebihan sehingga tak mampu membendung apa yang ia rasakan.


Perjalanan kami cukup memakan waktu yang lama, sebab jarak rumah baru Kevin dan rumah lamanya cukup jauh. Aku pun sampai terlelap saat perjalanan sebab cukup lama dan lelah yang aku rasakan.


Entah berapa lama waktu perjalanan yang kita tempuh saat pulang, akhirnya ibu membangunkanku.


"Dek, bangun. Kita sudah sampai," ujar ibu.


Aku secara perlahan membuka mata dan benar saja kami sudah berada di area rumah yang sebelumnya aku lihat dari luar saja. Rumah ini tak kalah besar dengan rumah yang pertama, area laham yang cukup luas.


Kevin berjalan menghampiri kami, dia membuka pintu bagasi mobil dan mengeluarkan kursi rodaku lalu di bawa ke arahku.


Aku hanya melemparkan senyumku ke arahnya, perasaan tak karuan saat tatapan mata kita saling bertemu. Dalam hatiku hanya berkata, ya allah, kenapa lihat senyum Kak Kevin jantungku degdegan? Ah sudahlah, aku hanya kecil.


Aku pun memalingkan wajahku dari Kak Kevin. Tak jauh dari kami terlihat Pak Joko sopir Kak Kevin dan Bi Asih melihat ke arah kami.


"Kalian kan yang kemarin?" tanya Bi Asih.


"Iya, Bi. Tenang saja, kami bukan orang jahat," jawab ibu.


"Iya, Bi. Mereka akan membantuku mengusut kasus kematian, Mama," ujar Kevin mencoba meyakinkan Bi Asih.


"Tapi, Den. Kasus Nyonya sudah dianggap selesai," ujar bibi.


Kak Kevin tak lantas menjawabnya, namun malah mendorong kursi rodaku menuju rumah mewah yang saat ini ada di depan mata kami. Saat pintu rumah ini terbuka, mataku begitu tercengang melihatnya.


Dekorasi yang mewah dan barang-barang semua yang terlihat mewah. Mataku seakan-akan tak ingin melewatkan satu barang apa pun yang aku lihat, memang terdengar tak sopan tapi kami merasa spontan saat memasuki rumah ini.

__ADS_1


"Silahkan duduk," ujar Bi Asih sembari berjalan menuju ke rumah bagian belakang.


"Silahkan duduk, Pak, Bu," Kak Kevin pun menyuruh kami duduk.


Setelah itu Kak Kevin meninggalkan kami bersama Pak Joko di ruang tamu.


"Bapak dan Ibu kok bisa kenal Den Kevin?" telisik Pak Joko.


"Iya, Pak. Kebetulan dulu anak kami pasien dari rumah sakit sebelah rumah Den Kevin sebelumnya, dan anak kami dapat penglihatan tentang kasus pembunuhan Mama Kevin. Baru kali ini kami sempat menyampaikannya, kebetulan kami tadi ketemu Kevin di jalan saat hendak mengantar anak kami check up," jawab ayah.


"Iya, Pak. Sebelumnya sebenarnya kami sudah bertemu Bi Asih dan menghubunginya juga, tapi Bi Asih takut kami melukai Kevin sehingga tak dapat menyampaikan informasi ini ke beliau," sahut ibu.


Pak Joko menganggukkan kepala sembari menatap kami satu persatu secara bergantian.


"Maaf, bukannya kami berprasangka buruk. Tapi kami berjaga-jaga, sebab sudah beberapa kali Den Kevin selalu celaka sehingga kami sebisa mungkin untuk melindunginya," sahut Bi Asih sembari membawa minuman di nampan.


Kami menoleh saat mendengar ucapan Bi Asih.


"Nggak apa-apa, Bi. Kami maklumi kok," jawab ibu.


Bi Asih pun menyuguhkan minuman dan beberapa makanan ringan untuk kami, entah kenapa Kevin meninggalkan kami cukup lama. Sehingga kami memutuskan untuk sekedar ngobrol dengan orang terdekat dengan Kevin.


"Bibi dan Bapak sudah lama kerja dengan Kevin?" tanya ibu merasa penasaran.


"Ya begitulah, Bu. Kami bekerja semenjak Den Kevin masih kecil, dia hidup bahagia bersama Papa dan Mamanya, namun semua berubah saat Nyonya Candra datang mengusik kehidupan mereka," ujar Bi Asih.


"Iya, Bu, Pak. Nyonya Candra itu berbeda sikap saat berada di hadapan Tuan dan di hadapan Den Kevin. Di depan Tuan bilang A dan saat tak ada Tuan sudah bilang B," sahut Pak Joko.


Aku melihat Bi Asih tangannya mencubit tangan Pak Joko, sembari tersenyum ke arah kami.


"Maaf, Pak, Bu. Memang Pak Joko mulutnya suka ceplas-ceplos," ujar Bi Asih.


"Piye to, Sih. Lah wong Nyonya iki pancen koyo iku, mosok aku salah? (Bagaimana to, Sih. Nyonya ini memang seperti itu, apa aku salah?)," ujar Pak Joko menggunakan bahasa jawa, yang mana aku sama sekali tak paham.


"Ora salah, tapi mbok yo di jogo. Awak dewe gak kenal kok anggerto ngomong, (nggak salah, tapi ya di jaga. Kita nggak kenal kok asal ngomong)," ujar Bi Asih.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2