
Ayah mulai melajukan mobilnya untuk pulang.
"Yah lapar, mampir makan dulu yuk," ajak ku.
"Iya, mau makan apa?" tanya Ayah.
"Pengen ayam penyet hehehe," jawabku sembari tertawa.
"Oke siap, cari yang dekat sini saja ya," ucap Ayah.
Ayah mengendarai mobilnya dengan pelan-pelan, sembari melihat kanan dan kiri untuk mencari makanan yang aku minta.
"Yah, di depan ada warung itu rame banget, kayanya makanannya enak banget kalau rame," ucapku.
"Iya Dek, putar balik dulu kita," kata Ayah.
Karena jalanan yang kita lalui satu arah dan warung yang aku lihat berada di seberang jalan beda arah sama kita.
Aku lihat warung itu ga terlalu besar, tetapi pengunjung ramai banget sampai antri di luar-luar.
Ayah mulai memarkirkan mobil di pinggir jalan. Terlalu ramai warung ini, hingga lahan parkiran pun penuh.
"Ramai banget, Ibu ngantri dulu ya Yah," ucap Ibu.
"Keyla ga ikut?" tanya Ibu.
"Tidak Bu, aku nunggu di sini saja," jawabku.
Ibu keluar dari mobil untuk mengantri, sedangkan aku, Ayah dan Dinar tetap berada di dalam mobil.
"Itu sampai kapan kira-kira antriannya, Yah?" ucapku.
"Kamu sendiri kan yang ngajak ke sini, ya tunggu dulu," jawab Ayah.
Ayahku keluar mobil, beliau duduk di pinggiran jalan.
Aku dan Dinar asyik becanda dan mengobrol di dalam mobil. Kami menunggu Ibu cukup lama, sampai aku merasa haus.
"Din, kamu ga haus?" tanyaku.
"Haus Key," jawabnya.
"Turun yuk, minta Ibu belikan air minum dulu," ajak ku.
Aku dan Dinar melangkahkan keluar mobil untuk menghampiri ibu.
"Kalian, mau ikut anti?" tanya Ayah.
"Ga Om, ini Keyla katanya haus, dia mau beli minum dulu," jawab Dinar.
"Oh iya, bawakan Ayah juga ya, Dek," pinta Ayah.
"Iya Yah, mau air putih atau teh kemasan?"aku balik bertanya.
"Air saja Dek," jawab Ayah.
Aku kembali menghampiri Ibu.
"Bu, beliin minum," ucapku.
"Minum apa Dek?" tanya Ibu.
"Air mineral aja Bu tiga, buat Ayah juga," jawabku.
Selesai aku mengobrol, aku melihat warung yang terlihat ramai. Hingga mataku melihat sosok yang menjijikan menurutku.
__ADS_1
Sosok itu meludahkan air liurnya ke makanan, para pembeli. Aku mencoba menahan rasa mual.
Sebelum ibu melangkahkan kaki lagi untuk antrian selanjutnya, aku mengajak ibu untuk pergi dari sana.
"Bu, cari makan di tempat lain yuk," ajak ku.
"Kenapa Dek? Ibu dah antri ini," tanya Ibu.
"Aku mual, Bu," ucapku berbisik ke telinga Ibu sembari menahan rasa mual.
Ibu dengan sikap spontan menggandengku menjauh dari antrian, sedangkan Dinar hanya mengekor di belakang kami.
"Kamu sakit, Nak?" tanya Ibu.
"Masuk mobil dulu Bu, baru aku cerita," jawabku.
Ayah dari kejauhan melihat ke arah kami. Lalu bergegas berdiri dan menghampiri.
"Keyla, kenapa Nak?" tanya Ayah.
"Pulang dulu saja Yah," jawabku.
Ayah pun bergegas memasuki mobil, sedangkan aku di gandeng ibu dan Dinar untuk masuk mobil.
Ayah kembali melajukan mobilnya.
"Kenapa kamu, Key? tadi gapapa, kok sekarang mendadak mual," tanya Dinar.
"Apa kamu masuk angin, Dek?" sahut Ayah.
"Aku gapapa kok, aku cuma mual lihat kejadian di warung tadi," jawabku.
"Mual karena apa, Dek? perasaan tadi warungnya bersih kok," ucap Ibu.
"Pantesan ramai Bu, mereka pakai jin penglaris," ucapku.
"Iya, aku melihat jin itu Din, mereka meludah ke makanan para pembeli,"
"Aku kalau ingat mual banget," jawabku.
"Alhamdulillah, untuk kita belum sampai membelinya," sahut Ibu.
Aku hanya mengangguk. Kami meneruskan jalan menuju arah pulang.
"Makan di dekat perumahan kita aja ya, Dek?" tanya Ibu.
"Iya Bu," jawabku.
Tak berselang lama, kami pun sampai di warung langganan yang tempatnya dekat dengan perumahan kami.
Ayah kembali memarkirkan mobilnya, aku, ibu dan Dinar turun terlebih dahulu.
Aku dan Dinar mencari tempat duduk yang kosong, sedangkan Ibuku memesan makanannya.
Sembari menunggu kami mengobrol.
"Aku masih penasaran sama ceritamu tadi Key," kata Dinar.
"Gini Din, misal kita itu duduk di sini ya lagi menyantap makanan, nah itu hantu di atas meja gitu, ngadepin tuh mulut ada liurnya ke piring makanan kiya," jelas ku.
"Ih, aku gak liat aja ngerasa jijik deh," ucap Dinar.
Ayah dan ibuku mulai ikut nimbrung dengan kami berdua.
"Terus, jin itu pindah satu persatu?" tanya Ibu.
"Aku lihatnya banyak Bu, tapi mereka dalam bentuk yang sama," jawabku.
__ADS_1
"Banyak? mereka sama?" Dinar bertanya-tanya.
"Iya Din, kaya Naruto gitu pakai jurus seribu bayangan hehehe," ucapku sembari tertawa.
"Nah, ni anak kebanyakan nonton kartun itu jadi menghayal hehehe," kata Ayahku yang ikut tertawa.
Makanan pesanan kami pun datang, kami langsung menyantap makanan yang kami pesan.
Kami sengaja tidak membahas, entah kenapa setiap kali membicarakannya, pikiranku melayang ke hal yang aku lihat.
Satu persatu makanan pun mulai habis. Mulai lamat-lamat kami mendengar dering telfon ayah berbunyi.
Ayah bergegas mengambilnya dari kantong celananya. Ayah melihat ke arah layar hpnya, di sana beliau melihat nama orang yang menelfon.
Adi Sasongko
Di layar telfon ayah tertera nama Om Adi.
"Siapa Yah?" tanya Ibu.
"Adi, Bu," jawab Ayah sembari mengangkat telfonnya.
"Hallo, ada apa Di?" Ayah bertanya.
Sinyal di sini lagi tidak bagus jadi ayah mengulang-ngulang yang di ucapkan.
"Hallo, hallo," ucap Ayah ke Om Adi.
Tak ada jawaban dari seberang telfon, tiba-tiba telfon putus.
"Kenapa Yah? gak ada jaringan?" tanyaku.
"Iya, setiap Om Adi berbicara ke putus suaranya.
Terdengar suara dering hp ayah lagi.
"Ayah, coba keluar dulu deh," Saran Ibu.
Ayah pun mengikuti saran ibu dan langsung berjalan menuju luar warung.
"Ada apa ya, Bu?" tanyaku.
"Ga tahu Nak, semoga tidak terjadi apa-apa sama si Sasa,"jawab Ibu.
"Iya Bu semoga, aku juga khawatir ke Kak Sasa," ucapku.
"Kalau kita merasa takut berlebihan ke hantu, katanya itu malah kesempatan si hantu buat nakutin kita Key," sahut Dinar.
"Iya juga sih, soalnya Kak Sasa terlihat banget dia tertekan karena hantu," ucapku.
Tak berselang lama, ayah menghampiri kami lagi
"Gimana Om?" tanya Dinar.
"Kalian habiskan dulu makanannya, nanti Dinar, Om anterin pulang dulu, sepertinya si Sasa di ganggu hantu lagi,"
"Masa hantu tadi balik lagi Yah?" tanyaku.
"Masih belum tahu, Nak! makanya tadi Om Adi minta tolong ke Ayah buat bawa kamu dan satu pak kyai buat nolongin Sasa," jawab Ayah.
"Aku ikut saja ya Om?" tanya Dinar.
"Kamu pulang dulu sayang, Nanti kalau sampai rumah coba izin dulu ke Ibu ya," jawab Ibu ke Dinar.
"Baik Tante, nanti langsung ke rumahku ya, jangan ninggalin Dinar, nanti aku coba izin ke Ibu terus ikut kalian semua," ucap Dinar.
"Baik, kita pulang dulu ya," jawab Ayah sembari mengangguk.
__ADS_1
Selepas membayar makanan, kami langsung ke arah rumah Dinar. Kami mencoba izin ke keluarga Dinar untuk mengajaknya ikut kami kembali