
Tak begitu lama sampailah di depan rumahku. Aku mengucapkan terima kasih kepada Dewi dan Mamanya, tidak lupa untuk meminta maaf yang kesekian kalinya.
Dewi beserta Mamanya langsung bergegas pulang dan menitip salam ke Ibuku. Aku masuk ke rumahku dan langsung untuk beristirahat.
Tok tok tok
suara ketukan pintu kamarku.
"Iya Bu," jawabku.
"Ibu masuk ya Dek?" tanya Ibu.
"Iya," aku mempersilahkan.
Ibu duduk di sampingku.
"Dek, Pakde Hadi tadi siang meninggal dunia, Ibu baru dapat kabar dari Budemu tadi," kata Ibu memberitahu kakak dari Ayahku meninggal.
"Innalillahiwainailaihi roji'un, kapan kita ke sana Bu?" tanyaku.
"Ini Ayahmu sudah perjalanan pulang, sesampainya Ayah kita langsung berangkat," Kata Ibu lagi.
"Iya Bu," jawabku.
Ibu berlalu pergi keluar kamar, aku hendak berkemas untuk pergi ke rumah Pakde ku.
Aku dan Ibu menunggu Ayah datang sembari menonton tv.
Dua jam berlalu Ayah pun datang.
Tok tok tok.
"Assalamualaikum," Ayah memberikan salam.
Ibu bergegas untuk membukakan pintu.
"Ibu sama Keyla bawa baju agak banyak ya, kemungkinan kita di rumah Bang Hadi lebih dari tiga hari," Ayah memberitahu.
"Keyla izin tidak masuk sekolah dulu ya Nak, kasian Budemu tidak ada yang menemani," kata Ayah lagi.
Kebetulan Almarhum Pakde dan Budeku tidak memiliki anak jadi kita pulang setelah 3 hari meninggalnya Pakde ku saja.
Aku pun mulai berkemas kembali, memasukan barang yang aku bawa ke dalam mobil.
Kami pun berangkat dengan sedikit terburu, kami mencemaskan keadaan Bude.
"Ayah, apa nanti Ayah juga kembali kerja setelah 3 hari meninggalnya Pakde?" tanyaku.
"Tidak dek, besok kemungkinan Ayah juga langsung kembali bekerja," jawab Ayah.
"Sama Ibu sama saja kan dek, mengapa memangnya?" Sahut Ibu.
"Tidak ada apa-apa kok, Bu," jawabku.
Jarak yang ditempuh kami kurang lebih hanya satu jam, sampailah kami di depan rumah Bude.
Keadaan rumah bude sudah ramai.
Ibu bergegas mendekati Bude dan memeluknya. Hari itu pemakaman Pakde pun sudah selesai.
Orang-orang mulai meninggalkan rumah Bude. Tinggal Aku, Ibu dan Ayah yang menemani Bude. Orang tua dari Ayahku kebetulan yang tersisa hanya ibunya, namun tinggalnya di kota yang jauh dari kami.
Hanya dengan kami, tempat tinggal Pakde yang lumayan dekat. Pakde anak kedua dan ayah anak terakhir, anak pertama tempat tinggal tak jauh dari rumah ibunya.
__ADS_1
*******
Hari pertama kita lalui dengan menenangkan Bude yang terkadang histeris dengan sendirinya. Pakde ku meninggal karena kecelakaan, kemungkinan Bude belum bisa menerima kenyataan ditinggal dengan secepat ini dengan mendadak.
Aku hanya diam duduk di sebelah mereka.
"Dedek tidur dulu ya sudah malam Ini," Ayah menyuruhku untuk tidur.
"Tidur di sofa sini saja Yah, nemenin Bude biar tidak kesepian," jawabku.
"Iya, terserah dedek yang penting cepat tidur, Ayah mau cari udara di luar rumah," suruh Ayah lagi.
Ayah berlalu pergi keluar rumah karena malam ini udara cukup panas. Dan aku bergegas untuk tidur.
Malam ku lewati dengan biasa saja.
Keesokan harinya aku melihat Bude sepertinya sudah mulai merelakan kepergian Pakde.
Aku lihat Ibu dan Bude memasak di dapur.
Di daerah Bude sudah biasa kalau ada orang meninggal sampai tujuh harinya diadakan tahlilan di rumah.
Satu persatu tetangga mulai datang untuk membantu menyiapkan keperluan pengajian nanti malam.
Aku pun ikut membantu, Aku lihat ada satu anak yang menarik perhatianku.
Aku hampiri dia.
"Hallo, Aku keyla," kataku sembari mengulurkan tanganku.
"Hallo Keyla, aku Desy," jawabnya.
"Rumah kamu jauh tidak dari sini? salam kenal ya, aku keponakan dari Almarhum Pakde Hadi," Ucapku lagi.
"Rumahku di sebelah pas ini, mari mampir nanti," Ucap Desy.
Dia juga bisa melihat makhluk tak kasat mata, tetapi yang membedakan dia dan aku adalah dia tidak bisa melihat hal lain di luar kemampuanku.
Aku mulai bertanya-tanya bagaimana teman di sekolahannya memperlakukan.
"Desy, kamu di anggap beda tidak sih ketika temanmu baru pertama kali tahu kalau kamu bisa melihat mereka (Hantu)?" tanyaku penasaran.
"Tidak kok, teman-temanku biasa saja, mengapa Keyla?" tanya Desy.
"Panggil aku Key saja biar mudah, tidak ada apa-apa sih cuma pengen tahu saja," jawabku tanpa memberitahu.
"Apa kamu di anggap beda Key sama temanmu?" tanya Desy.
"Ada sih yang bilang aku anak pembawa sial, anak aneh," jawabku.
"Tidak usah di hiraukan, mereka tidak akan pernah tahu rasanya seperti kita,"
"Tidak akan pernah paham bagaimana tersiksanya kita setiap waktu bisa melihat mereka(Hantu)," Ucap Desy.
"Iya sih ya," jawabku singkat.
"Apalagi kamu bisa lihat suatu kejadian, pasti itu membuat kamu ketakutan tanpa kamu bisa mengekspresikan ke orang lain," Ucap Desy.
"Iya Des, kejadian baik mah aku tidak apa-apa, kalau ini pasti kejadian buruk," jawabku.
Aku dan Desy tetap saling bertukar pikiran.
Hari mulai beranjak sore. Dia memutuskan berpamitan untuk pulang.
__ADS_1
Magrib pun tiba, setelah itu satu persatu tetangga mulai datang untuk melaksanakan pengajian. Acara demi acara terlewati.
Hari kedua tidak ada hal-hal aneh, aku masih biasa saja.
Keesokan harinya malam ketiga Pakde tidak ada, pengajian tetap dilaksanakan.
Selepas orang-orang pulang aku membantu Ibu untuk membereskan perabotan.
Betapa terkejutnya aku ketika aku memasuki dapur, tepat di hadapanku ada sosok seperti Pakde Ku.
Aku yang masih membawa piring bekas makan, langsung memutar arah menuju ke Ibuku yang lagi di ruang tamu sedang menyapu.
"Loh dek, kok piringnya di bawa ke sini lagi?" tanya Ibu.
"Takut Bu, temenin," jawabku.
"Ada apa dek? di rumah kok bisanya takut," tanya Ibu sembari mengantarkan aku ke dapur.
Aku tidak menjawab langsung menaruh piringnya.
"Bentar lagi Ayah pasti sampai, besok kita pamitan ke Bude mau pulang," Ibu memberitahu.
"Bude tidak apa-apa to Bu nanti kita tinggal pulang?" tanyaku
"Mau bagaimana lagi dek, kamu juga perlu sekolah sudah kelas 3," jawab Ibu.
Aku langsung tidur tanpa menunggu Ayah datang. Hari mulai berganti ke pagi.
Aku dan Ibu mulai berkemas untuk pulang.
"Bude aku pulang dulu ya, baik-baik ya Bude," Aku berpamitan.
"Iya Key, sering-sering berkunjung ya biar Bude tidak kesepian," Ucap Bude.
Ayah dan Ibu bergantian untuk berpamitan, kita pun mulai perjalanan pulang.
Diperjalanan Ayahku bercerita kalau semalam di datangi Pakde di mimpi.
"Cuma mimpi Yah, di doain saja biar tenang di alamnya," Ucap Ibu.
Aku yang merasa penasaran mencoba bertanya ke Ayah.
"Mimpinya kaya apa Yah?" tanyaku.
"Di mimpi sih kaya ada orang yang sengaja potong rem mobil Pakde, setelah itu Pakde baru naik mobil dan kecelakaan," jawab Ayah.
"Apa itu petunjuk ya Yah? Soalnya semalam Dedek juga di datangi Pakde waktu mau menaruh piring di dapur," Ucapku.
"Sudah-sudah, tidak baik ngomongin orang yang sudah meninggal, mendingan banyak-banyak kirim doa biar tenang," ucap Ibu.
Aku dan Ayah mulai diam.
Sesampainya di rumah aku duduk di sofa ruang tamu.
Tok tok tok
Ada yang mengetuk pintu rumahku.
"Siapa dek? Buka saja," Ucap Ibu dari dalam kamar.
Aku membukakan pintu. Ada Resi dan Mamanya yang langsung marah-marah dan memakiku. Resi itu adalah temanku yang selama ini menyebutku anak pembawa sial dan aneh.
Dia juga yang kapan hari menghentikan langkahku ketika hendak masuk kelas menemui Dinar.
__ADS_1
Ibuku dan Ayahku yang mendengar keributan langsung bergegas menghampiri.
"Ada apa ini Bu, silakan duduk terlebih dahulu, ngomong yang baik," Ucap Ayahku dengan sabar.