Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Sisir rambut tengah malam


__ADS_3

Kala penangkapan pegawai di hotel pun Om Boby berada di tempat kejadian. Kenapa selama ini tak pernah ketahuan pembunuhannya, karena aksi Om Boby selalu main dengan cantik.


Beliau sudah mempersiapkan sebelumnya secara matang. Seakan-akan sebelum kejadian adalah sebuah teror, sama halnya dengan waktu kami pertama kali berada di hotel itu. Om Boby mengetuk pintu ayah selama tiga kali, tapi jika ayah membukanya ketika ketukan ketiga, ya akhirlah hidup kami semua.


Untungnya ayah cepat membawa kami pergi siang itu, sebelum Om Boby menemukan kami.


***


"Maafkan aku, selama ini aku ternyata salah menilai kalian," ucap Om Boby setelah selesai bercerita.


"Kamu jahat, kamu tidak ada hati," ucap Tante Sita.


"Maafkan aku sayang, aku khilaf," ucap Om Boby sembari memegangi kaki Tante Sita.


"Nggak ada khilaf berkelanjutan, kamu kejam! Setan pun mungkin malu melihatmu lebih kejam dari mereka!" ucap Tante Sita dengan ketus sembari memalingkan wajahnya.


Polisi pun membawanya ke mobil, untuk kembali di masukkan ke penjara.


"Sita maafkan aku!" teriak Om Boby.


Tante Sita pun tak menoleh ke arah Om Boby sama sekali. Polisi dan Om Boby pun berlalu, Tante Sita saat itu memeluk Clara dengan cepat.


"Ra, aku nggak nyangka dia sekejam itu," ucapnya.


Clara hanya mengelus bahu sahabatnya, bertujuan untuk menenangkannya. Perasaan lega dan haru jadi satu. Akhirnya perjalanan yang rumit selama di sini akhirnya terselesaikan.


Sepertinya hari ini kami tidak bisa langsung pulang, sebab hari ini kami masih di perlukan polisi menjadi saksi saat perbuatan keji Om Boby ke Om Deni dan istrinya.


Satu persatu, dari Clara hingga keluarga Om Deni meninggalkan kami untuk pulang. Aku, ibu dan ayah tetap tinggal di rumah keluarga Tante Sita.


***


Malam pun tiba, rasa beban selama ini rasanya sudah musnah. Aku harap malam ini bisa tidur dengan nyenyak.


Malam ini, kami memilih bermalam di rumah Tante Sita. Keluarga Tante Sita sangat ramah terhadap kami.


Malam kian larut, aku dan ibu memutuskan tidur bersama Tante Sita, sedangkan ayah tidur di sofa. Tante Sita duduk di depan meja riasnya.


"Sita ngapain, jangan nyisir rambut tengah malam begini. Pamali?" tanya Ibu.


"Aku sudah biasa kok, Kak," jawab Tante Sita.


"Oh, yasudah," ucap Ibu.


Ibu pun berbaring di dekatku. Kami mulai memejamkan mata agar segera larut dalam mimpi indah, sedangkan Tante Sita masih menyisir rambutnya.


Malam yang dingin serasa menusuk sampai ketulangku. Aku mencoba tetap memejamkan mata, tetapi aku tak kunjung tertidur.


Tiba-tiba aku mendengar seperti orang sedang menyanyi lagu jawa. Aku coba mendengarnya, suara itu terasa begitu dekat denganku.


Aku buka mataku secara perlahan, tiba-tiba, " Aaaaaaaaa."



(sumber: google)

__ADS_1


Aku berteriak kala tepat di depan mataku ada perempuan sedang menatap mataku. Pandangan kami bertemu, bola mata yang terlihat membulat berwarna hitam, wajah yang pucat pasi, dan gigi bertaring membuatku takut.


Seketika aku menutup mataku dengan tangan, Ibu dan Tante Sita bergegas mendekatiku.


"Dek, kenapa?" tanya Ibu.


"Itu, Bu," ucapku sembari menunjuk tepat di depanku.


Aku masih dengan mata tertutup, bergegas memeluk ibuku. Aku merasa ketakutan


"Ada apa?" sahut Tante Sita.


"Kenapa, Dek. Kok teriak?" terdengar seperti suara Ayah.


Sepertinya teriakanku terdengar sampai ruangan diluar kamar ini, sehingga ayah menghampiri.


"Itu Yah," jawabku tetap dengan jari yang menunjuk kearah yang aku lihat tadi.


"Buka matamu, Nak. Di sini tidak ada apa-apa," ucap Ibu sembari mengelus kepalaku.


Secara perlahan aku membuka mata, memang sudah tak ku temui hantu wanita itu lagi.


"Bu, tadi aku mendengar ada orang menyanyi lagu jawa, tapi ketika aku membuka mata melihat hantu itu, Bu," ucapku.


"Aku yang menyanyi, entah kenapa setiap kali aku menyisir rambutku kala malam selalu ingin sambil bernyanyi," sahut Tante Sita.


Saat ini, ibu dan ayah Tante Sita berada bersama kami. Ibu Tante Sita bercerita, bahwa beliau sudah kerap kali menegur Tante Sita, tetapi sepertinya tak pernah dihiraukannya.


Tante Sita pun juga merasa, kala dia menyisir rambut dan bernyanyi itu seperti ada orang selain dia. Tapi selama ini beliau selalu menepis yang dirasakan itu itu, karena beliau yakin itu hanya perasaannya saja.


"Bu, kayanya masih ada di sini," ucapku sembari menenggelamkan wajahku ke badan ibu.


"Esther?" tanya Ibu.


"Bukan, Bu. Esteh sudah tak pernah muncul lagi," jawabku.


Aku perlahan melihat sekelilingku lagi. Aku melihat ada yang berdiri di depan kaca.



(Sumber: google)


"Bu, makhluk itu di depan kaca," ucapku.


Sontak semua yang berada di sini melihat ke arah yang aku ucapkan. Mereka tampak bingung.


"Apa, Dek?" tanya Ibu.


"Perempuan itu, Bu," ucapku.


Setelah mengucapkan itu, seperti terdengar suara tertawa yang menggema seluruh ruangan ini.


Tiba-tiba Tante Sita menunduk lalu tertawa.


"Ha-ha-ha," Tante Sita tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Aku semakin erat memeluk ibu. Makhluk itu, masuk ke dalam badan Tante Sita.


"Bu, Tante Sita," ucapku.


"Sita," ucap Ibunya sembari memegang tangannya.


Seketika pegangan ibunya dihempaskan hingga beliau tersungkur ke lantai.


"Kau mau main denganku anak manis," ucap Tante Sita dengan cepat menghampiriku.


Tante Sita saat ini memegang daguku, ibu mencoba menepis tangannya tetapi Tante Sita malah memandang dengan tajam ke arah ibu.


"Apa mau mu?" tanyaku.


"Kau mau main denganku? Badan ini sudah bersedia selalu memanggilku, jangan pernah mencoba menghalangiku," ucapnya.


"Ini bukan duniamu, pergi!" ucapku.


"Ha-ha-ha-ha," tawa Tante Sita.


Kala tangan Tante sita hendak memegangku lagi, tiba-tiba Tante Sita tersungkur tepat di atasku.


"Sita," ucap Ibunya dengan khawatir.


Sebelum Tante Sita tersungkur aku seperti melihat bayangan melesat dengan cepat, seakan-akan meraih tubuh tante Sita. Ternyata bayangan itu membawa hantu itu.


Tante Sita di baringkan tepat di sampingku, beliau secara perlahan membuka matanya.


"Bu, hilang," ucapku.


"Kok aku di sini?" tanya Tante Sita tampak bingung karena sudah terbaring di atas kasur.


"Tante, nggak tahu?" ucapku.


Beliau menggelengkan kepalanya.


"Sita, jangan pernah sisiran malam-malam ya. Apa lagi kamu sambil nembang lagu jawa," nasihat ibunya.


"Iya, Bu. Memang nggak hanya sekali, aku serasa nggak sadar loh ketika aku menembang, tahu-tahu kadang aku sudah tersungkur di lantai saat aku mulai sadar," ucap Tante Sita.


Tante Sita juga bercerita, pernah sengaja merekam dirinya sendiri kala menyisir. Beliau terkejut saat melihat hasil rekamannya. Saat itu kata Tante Sita dia sedang menyisir, lalu tiba-tiba menembang lagu jawa, waktu pertengahan lagu beliau melihat di rekaman itu dia sedang menari-nari dan bernyanyi seakan-akan beliau menguasai tarian itu dengan gerakan yang lues kata orang jawa.


Kami pun diperlihatkan rekaman itu, ibunya Tante Sita pun heran kala melihat rekaman itu. Beliau merasa bajwa Tante Sita tidak pernah pandai menari bahkan Tante Sita tak pernah menyukai yang namanya seni tari.


Saat kami sedang mendengarkan cerita Tante Sita, tiba-tiba aku seperti mendengar seseorang memanggilku.


"Keyla," terdengar suara memanggil namaku dari arah jendela.


Suara itu terdengar tidak asing bagiku. Suara yang sudah sekian lama aku kenal. Aku menoleh kearah sumber suara.


"Hai, Keyla," ucapnya.


Bersambung....


Hayoo, siapa ya yang manggil Keyla?

__ADS_1


__ADS_2