Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
Kereta


__ADS_3

Kami mulai menata barang-barang yang kami perlukan ketika berada di sana. Aku pikir ini kesempatan yang bagus buat aku, untuk menghilangkan rasa traumaku akan kejadian yang baru ku alami. Selain itu, aku juga berkunjung ke keluarga besar ayahku sekaligus berlibur di sana.


Setelah semua siap, kami pun mulai berangkat ke tempat tujuan kami yaitu kota Malang. Perjalanan yang cukup jauh akan kami tempuh, aku baringkan tubuhku di kursi mobil bagian belakang. Aku menikmati perjalanan ini.


Aku pun merasa bahagia, di sana kesempatanku untuk menikmati udara segar dan bersih.


Aku pun sudah membayangkan betapa enaknya bangun tidur di pagi hari di sambut dengan udara yang sejuk, pasti membuat rasa trauma dan ketakutanku cepat hilang.


Hingga tak terasa lamunanku membuat aku terbawa dalam alam mimpi. Aku tertidur, dalam mimpi aku sedang jalan-jalan di beberapa tempat wisata yang ada di sana.


Saat aku menikmati keindahan kota Malang, tiba-tiba terdengar suara yang membuat aku terbangun.


"Dek bangun, kita sudah sampai stasiun," terdengar suara Ibu yang membangunkan ku.


"Hoaaaam, iya Bu, kita naik kereta?" tanyaku.


"Iya Dek," jawab Ibu.


Aku kira awalnya akan naik mobil sampai kota Malang, ternyata aku salah. Mungkin ayah terlalu capek jika harus menempuh jarak dari kotaku hingga kota malang.


Ayah memarkirkan mobilnya di tempat penitipan. Mungkin ayah hanya bisa beberapa hari saja tinggal di sana, karena masih harus bekerja.


Kami satu persatu menuruni mobil, lalu menenteng tas yang sudah kami bawa sedari tadi.


"Bentar Ibu sama Keyla, tunggu di sini," ucap Ayah.


"Mau ke mana Ayah, Bu? Beli tiket?" tanyaku.


"Tidak Dek, Ayahmu sudah membeli tiket lewat online, jadi sekarang Ayah tinggal cetak tiketnya itu," jawab Ibu.


Aku mengangguk-anggukan kepala, tanda mengerti. Walaupun sebenarnya kurang paham.


Tak berselang lama, ayah menghampiri kami.


"Ayo Bu, Dek kita berangkat," ucap Ayah.


Aku hanya menggandeng tangan ibuku, yang penting aku bisa naik kereta. Kami mulai menaiki kereta dengan gerbong yang tertera di tiket. Cukup lenggang di dalam gerbong yang aku tempati saat ini.


Aku duduk bersebelahan dengan Ibu, sedangkan Ayah mendapatkan kursi di seberang kami. Aku melihat ada penumpang lain tepat di sebelah ayah.


Dia tertunduk, tak merespon kedatangan ayah. Ayahku pun sama dia tak bertukar sapa dengan penumpang di sebelahnya.


Di benakku berkata, Oh, mungkin wanita itu kelelahan menempuh jarak jauh.


Aku tetap menatapnya, rambut lurus terurai yang menutupi wajahnya dari samping. Lama-kelamaan aku merasa aneh dengan wanita itu.


"Bu, Ayah nggak bisa duduk di sini ya bareng kita?" tanyaku ke Ibu.


"Tidak boleh Dek," jawab Ibu.


Tiba-tiba aku teringat dengan film Train to busan, aku takut perempuan itu ternyata zombi yang akan mengigit ayah.


"Dek, kenapa lihatin Ayah sampai kaya gitu?" tanya Ibu, mungkin beliau merasa aneh dengan tingkah lakuku.


"Enggak apa-apa Bu," jawabku.


Aku terus menerus melihat perempuan itu, tak ada pergerakan sekalipun darinya.


"Kalau kamu mengantuk, tidur saja Dek karena perjalanan masih jauh," ucap Ibu.


"Enggak Bu, aku nggak mau tidur," jawabku.

__ADS_1


"Kenapa? kamu mau duduk sama Ayah? Kalau begitu biar Ibu yang duduk di kursi tempat Ayah," ucap Ibu mulai beranjak berdiri.


"Jangan," ucapku sembari meraih tangan Ibu.


"Kenapa lagi?" tanya Ibu lagi.


"Nanti kalau aku tidur, tiba-tiba ada zombi gimana?" tanyaku.


"Jangan terlalu banyak nonton film horor biar tidak parnoan," ucap Ibu, sembari menutup matanya.


"Ibu, jangan tidur," ucapku.


Ibu tidak meresponku. Aku masih terus menerus memperhatikan pergerakan wanita itu, aku takut yang aku pikirkan terjadi.


Ketika aku fokus melihatnya, tiba-tiba wanita itu menoleh kearahku.



(sumber:google)


"Aaaa," aku pun sontak berteriak karena terkejut. Aku menutup mataku dengan telapak tangan.


"Apa sayang?" tanya Ayah yang menghampiriku.


Ibu yang berada di sampingku pun seketika memelukku.


"Wanita itu, Yah," ucapku sembari menunjuk ke kursi yang di tempati Ayah.


Ayah dan ibu menoleh ke arah yang aku tunjuk.


"Wanita yang mana?" tanya Ayah.


"Wanita yang berada di samping Ayah tadi," jawabku.


Ayah pun dari wajahnya terlihat bingung.


"Yang mana Dek? Sedari tadi Ayah duduk sendiri kok," sahut Ibu.


"Beneran ada wanita loh di sebelah Ayah," aku menekankan perkataanku.


Ayah dan Ibu pun saling bertatapan. Setelah itu, meraka secara bersamaan mengelus kepalaku.


"Di buat tidur Dek, biar tidak melihat hal-hal aneh," ucap Ayah.


Aku pun hanya mengangguk, mungkin benar kata Ayah lebih baik aku tidur. Aku memejamkan mataku berharap segera sampai ke alam mimpiku yang indah.


Aku tidur dalam pelukan Ibuku, dengan lembut beliau mengelus kepalaku.


"Tidur yang nyenyak ya sayang, aku harap kamu lebih kuat dari sebelumnya," ucap Ibu dengan nada yang lirih.


"Aku tahu, kamu berat menerima hidayah yang di berikan oleh sang mahakuasa, Ayah dan Ibu tidak dapat berbuat apa-apa, hanya mampu mendoakan semoga kamu selalu kuat," ucap Ibu lagi.


***


Aku pun terbawa ke alam mimpiku. Dalam mimpiku aku berada di lorong yang gelap, aku sendirian. Tak ada satupun orang yang menemaniku.


"Ayah, Ibu," aku memanggil kedua orang tuaku.


Tapi tak ada satu pun orang yang menyahutnya. Aku susuri di sepanjang lorong yang gelap, aku berharap di depan aku menemui jalan yang terang dan dapat menemui orang.


"Ayah, Ibu kalian di mana?" aku memanggil lagi.

__ADS_1


Serasa panjang lorong ini tanpa ada ujungnya, aku berjalan tertatih karena sudah terlalu jauh aku melangkah, tapi tetap tak ku temui siapa pun.


Aku terhenti langkahku, aku bersimpuh di lantai tanah di dalam lorong ini, kepalaku tertunduk. Aku takut, aku capek, aku merasa putus asa.


Di dalam keputusasaan ku, tiba-tiba ada yang memanggilku.


"Keyla," ucapnya dengan suara berdengung.


Sebelum aku mendongakkan kepalaku, aku pikir itu mungkin orang terdekatku karena dia tahu namaku.


Aku melihat ke arahnya, dia melangkah dari kejauhan. Tak terlihat dia itu siapa, tetapi dia semakin mendekat.


Tiba-tiba dengan cepat dia berada tepat di depanku dengan wajah yang mengerikan. Aku pun sontak berteriak.



(sumber:google)


"Aaaaaa," aku berteriak.


Wanita itu pun hanya tertawa menakutkan.


***


"Keyla, bangun Nak," ucap Ibu membangunkan aku dari mimpi burukku.


Dengan napas ngos-ngosan, keringat dingin bercucuran aku membuka mataku. Aku melihat di sekelilingku, aku masih berada di dalam kereta.


Ayah dengan sigap memberikan air putih kemasan untuk segera aku minum.


"Minum dulu Nak," ucap Ayah.


"Yah, bagaimana ini?" ucap Ibu tampak khawatir.


"Sudah sayang, kita duduk bertiga ya," ucap Ayah mencoba menenangkanku.


Sepanjang perjalanan aku terus memeluk ibuku, aku takut untuk tidur. Aku takut kejadian yang tak diingkan terjadi lagi.


Cukup jauh dan lama perjalananku, akhirnya kita pun sampai. Kami mulai menuruni kereta, aku melangkahkan kaki menuju kursi penunggu.


Sembari melangkahkan kaki, aku menengok kebelakang. Aku melihat wanita yang berada di samping Ayah tadi sedang melihatku dengan tatapan yang mengerikan.


Sampainya di tempat tunggu, aku duduk di samping ayah.


"Ayah kita nunggu siapa?" tanyaku.


"Kita nunggu Kak Ega, dek. Dia yang akan menjemput kami," jawab Ayah.


Kak Ega adalah sepupuku yang berada di malang. Dia anak dari Kakak ayahku, dia akan menjemput kami bersama tunangannya yang bernama Kak Zahra. Saat dia tunangan kemarin, kami tidak dapat datang karena ayah masih ada urusan pekerjaan yang harus di selesaikan.


Bersambung...


Sembari menunggu lanjutan cerita Keyla. Yuk teman-teman kunjungi cerita teman Author.


Cinta untuk Zahra by: Kiki rizki


genre: teen, romantis, fantasi.



tunggu next episode ku ya gaees🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2