Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Hasil Rekaman


__ADS_3

Bi Asih dan Pak Joko tersenyum ke arah kami berdua.


"Maaf ya, Pak, Bu. Malah kami ngobrol sendiri," ujar Bi Asih.


"Iya, Nggak apa-apa. Kok Kevin lama, ya. Ada apa?" ayah bertanya-tanya.


"Biar saya panggilkan. Tunggu, ya," ujar Bi Asih sembari beranjak menghampiri Kevin.


Kami masih tetap di temani oleh Pak Joko, namun beliau enggan untuk berbicara kembali.


"Kenapa, Pak? Tenang saja, saya juga orang jawa jadi paham apa yang Kalian berdua tadi bicarakan," ujar ayah.


"Loh, beneran to, Pak. Maaf ya, soalnya Nyonya Candra memang begitu. Dengar-dengar sih dia sahabat dari Almarhumah Nyonya Nadin, tapi entah kenapa sampai-sampai tega mengambil suami sahabat sendiri," ujar Pak Joko sedikit berbisik.


Pak Joko celingukkan, mengawasi takut Bi Asih tiba-tiba datang menghampiri kami.


"Kami itu sebenarnya kasihan sama Den Kevin. Tapi kami nggak bisa apa-apa, Pak, Bu. Kalau melawan takut di pecat, malah kasihan si Den Kevin," ujar Pak Joko lagi.


Aku melihat Kevin dan Bi Asih jalan bersamaan mendekat ke arah kami. Aku melihat Pak Joko yang masih berbicara, sehingga aku dengan sengaja menepuk bahu Pak Joko agar beliau diam.


Pak Joko pun memahami maksudku sehingga dengan seketika beliau pun terdiam. Bi Asih dan Kak Kevin semakin mendekat ke arah kami.


"Maaf ya, lama," ujar Kevin saat sudah berada di dekat kami.


Dia sedari tadi menenteng tas hitam di tangannya, sehingga membuat kami bertanya-tanya saat melihatnya.


"Apa, Kak?" tanyaku sembari menunjuk ke arah tas itu.


Kevin pun mengangkat tas itu dan ditunjukan ke Kami.


"Oh, ini laptop. Aku tadi sudah mindahin semua rekaman dari card itu ke sini. Kita bisa lihat bersama-sama," ujar Kevin.


Kevin pun lantas duduk kursi yang berada di dekat kursi rodaku. Dia meletakkan tas itu di meja lalu mengambil laptop yang ada di dalamnya. Semua berkumpul jadi satu hanya untuk melihat rekaman itu.


Entah kenapa dadaku lagi-lagi berdetak lebih kencang, berharap apa yang ada di penglihatanku memang benar. Aku takut jika salah bisa membuat Kevin membenci kami.


Kevin pun menoleh dan melihatku sedikit gelisah.


"Kenapa, Key?" tanya Kevin.

__ADS_1


Aku pun terkejut mendengar suara Kak Kevin yang memecah keheningan diantara kami semua.


"En-nggak apa-apa, Kak. Semoga menemukan bukti yang kuat," ujarku memberi alasan.


Aku mencoba menyembunyikan kegugupanku. Sebab baru kali ini mencoba membantu menguak misteri dari pembunuhan orang yang sama sekali tak kukenal. Walaupun panik, aku mencoba untuk lebih tenang agar nggak menimbulkan kecurigaan kepada mereka semua.


Saat kita semua menunggu, tiba-tiba aku melihat sekelebat bayangan yang melesat cukup cepat di dekat kami semua. Sontak aku menoleh ke arah sosok itu pergi. Ternyata semua orang menyadarinya.


"Kenapa, Key?" tanta Kevin sembari memegang tanganku.


Aku pun menoleh ke arah Kevin sembari menatapnya.


"Ada yang lewat, Kak. Tapi tak tahu apa," ujarku.


"Mamaku lagi?" tanya Kak Kevin.


Aku menggelengkan kepala.


"Bukan?" tanya Kak Kevin lagi.


"Sepertinya bukan. Sudahlah, kita lanjut rekaman itu," jawabku ragu sebab aku tak tahu dan lebih baik mengalihkan pembicaraan.


"Banyak banget, Kak?" tanyaku.


"Sengaja pengen lihat rutinitas nenek lampir itu," ujar Kak Kevin.


Kak Kevin pun mulai memutar rekaman jauh sebelum kejadian itu. Tepatnya sebelum Mama Kevin di anggap gila, terlihat Candra menaburkan sesuatu ke minuman Papa Kevin.


"Langsung kejadian aja, Den. Kalau ini bisa di lihat nanti," ujar Bi Asih.


Kak Kevin pun mencari hasil rekaman sesuatu tanggal kejadian itu, lalu segera memutarnya. Terlihat pagi itu seperti biasa Papa Kevin belum berangkat kerja, Candra terlihat sedang menemani mengobrol. Terlihat Candra juga begitu nempel dengan Papa Kevin.


"Dasar pelakor!" cecar Kevin sembari menyenderkan badan ke sofa.


Entah kenapa dengan spontan aku memegang tangan Kak Kevin. Aku menggenggamnya dengan erat, aku tahu Kak Kevin perasaannya campur aduk, aku tahu rasa bencinya saat ini memuncak.


Kak Kevin lagi-lagi menatap ke arahku.


"Maaf, Kak. Kakak harus sabar, berdoa semoga terungkap. Biarkan saja tingkah laku wanita itu," ujarku sembari melepaskan tangan.

__ADS_1


Kak Kevin pun memutuskan mempercepat video itu. Terlihat Kevin menggandeng mamanya masuk ke dalam rumah, aku ingat itu sama seperti Kevin setelah menjemput mamanya.


"Itukan Kak Kevin setelah jemput Mamamu di rumah terpencil itu, kan?" tanyaku mencoba memastikan.


Terlihat Kak Kevin menganggukkan kepalanya sembari mata tetap terpaku ke arah laptop. Setelah itu terlihat Kevin kembali meninggalkan mamanya.


Kevin lagi-lagi mempercepat rekaman itu. Saat ini terlihat Candra sudah berada di rumah dan saat itu juga Mama Kevin menyambutnya.


Terlihat ekspresi tak suka Candra ke sahabat baiknya Nadin. Dia seperti komat-kamit entah tak tahu apa yang ia ucapkan, lalu Candra masuk ke kamarnya membawa semua barang belanjaan yang ia beli.


Setelah itu Kevin mempercepat rekaman itu, di rekaman melihat ada Candra yang sedang hendak pergi ke dapur dan Mama Kevin tetap berada di depan felevisi.


"Itu mau ke dapur, coba pindah rekaman yang ada di dapur, Kak. Soalnya aku melihat wanita itu memasukan bubuk apa itu ke minuman Mamanya Kak Kevin," ujarku.


Kak Kevin pun segera menuruti kemauanku, dan benar saja terpampang jelas si Candra memasukan sesuatu berupa obat bubuk ke dalam minuman. Lalu terlihat wanita itu berjalan ke arah Mama Kevin.


Kevin memutar rekaman itu sesuai ke mana pun wanita itu melangkah. Di rekaman terlihat jelas saat Candra menyeret Mama Kevin menuju kamarnya, aku melihat Kevin memendam amarahnya.


Bi Asih segera mengelus kepala Kevin.


"Den, maafkan Bibi. Andai saja Bibi nggak berangkat beli ketoprak itu, pasti nggak akan ada kejadian itu," ujar Bi Asih sembari meneteskan air mata.


"Wanita licik, bangs*at! Kenapa nggak dia aja yang tadi meminumnya, kenapa Mama percaya ke wanita jahat itu?" ujar Kevin suaranya sedikit bergemetar.


Aku tahu saat ini Kevin pasti menahan tangisnya. Ayah pun mencoba menenangkan Kevin.


"Dek Kevin, sabar ya. Kita sudah ada bukti, bisa buat memberatkan Mama tiri kamu," ujar ayah.


Terlihat lagi Wanita itu melangkah ke kamar belakang, tepatnya gudang yang tadi kami kunjungi. Wanita itu terlihat menggunakan penerangan senter ponsel untuk mencari sesuatu.


Wanita itu mengambil tali tambang, sembari terlihat tersenyum.


"Akan aku antar kamu ke alam baka, aku ini memang teman yang baik. Sudah waktunya kamu beri semua kebahagiaanmu ke aku," ujar wanita itu sebelum meninggalkan gudang.


Di kamar Mama Kevin kebetulan ada CCTV yang di pasang juga, sehingga terlihat detail Candra melakukan pembunuhan itu. Kevin tak sanggup membendung air matanya lagi, saat melihat leher mamanya di gantung dan hingga meronta-ronta saat tersendat napasnya sehingga ajal menjemputnya.


Kevin pun menggebrak mejanya.


"Sial*an! Wanita jal*ang, kamu harus menerima akibatnya," hardik Kevin.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2