
"Gimana, Dek?" tanya ayah.
"Tapi, Yah ...," ucapku ragu untuk menjawabnya.
Aku takut ucapanku membuat nenek kecewa.
"Lalu sekolahku bagaimana?" tanyaku.
"Ayah sudah telepon dari pihak sekolah, selama kamu sudah mampu untuk bersekolah kamu bisa sekolah secara online," ujar ayah.
"Tapi, yah. Kan nggak kaya sekolah langsung di sekolahan," aku mencoba mencari alasan.
"Dek, mungkin saat ini Ayah dan Ibu juga belum mengizinkan kamu untuk berpikir terlalu sering perihal sekolah. Kami takut terjadi apa-apa dengan perkembanganmu, jika kamu terlalu memaksa," sahut ibu.
Aku hanya mengikuti kemauan mereka, mungkin ini semua yang terbaik untuk aku. Aku memutuskan untuk berbaring, lalu memejamkan mataku. Walaupun aku belum mengantuk, itu hanya caraku untuk menghentikan pembicaraan ini.
Mungkin saat ini aku hanya bisa menurut karena aku tahu ayah dan ibuku tak ingin jauh dan kehilangan aku lagi.
Tak terasa semaki lama aku terpejam, aku terbuai ke dalam alam mimpiku yang indah.
______________
Aku melihat diriku sendiri sudah beranjak dewasa, aku memakai baju lengan panjang berwarna pink, jilbab pink dan memakai celana jeans. Tote bag melingkar di bahuku, sepatu kets berwarna pink juga.
Aku melenggang memasuki ruangan, di mana semua orang terasa asing di penglihatanku. Seakan-akan memasuki dunia perkuliahan.
Namun entah kenapa di mimpiku itu, seakan-akan kami semua saling mengenal, bertukar sapa dan bercanda bersama.
Saat itu juga aku kira, aku berpamitan ke mereka hendak pergi entah ke mana. Aku berjalan sendiri sembari menenteng buku.
Hingga saat aku melewati suatu ruangan, aku menabrak seorang cewek yang keluar dari ruangan itu. Buku yang ia bawa pun terjatuh berserakan, begitu pun dengan bukuku. Tetapi yang aku lihat di mimpi, kami sibuk saling membantu mengambil barang bawaan kami yang terjatuh.
Hingga ada satu barang yang membuat aku terfokus ke itu. Aku menatap barang itu dengan seksama, lalu mencoba menatap ke wajah seorang cewek itu. Dia masih tertunduk.
______________
Sebelum aku benar-benar melihatnya, tiba-tiba terdengar suara yang memanggilku.
"Keyla ... Bangun, Nak." aku mendengar suara ibu yang memanggil.
Dengan rasa malas, aku secara perlahan membuka mata. Terlihat ibu sedang berdiri di samping kasurku.
"Iya, Bu," ucapku dengan suara malas, sembari mengucek kedua mataku.
"Ayo, bangun," ucap ibu dengan suara lembut.
Aku menatap ke arah jam dinding, di sana sudah menunjukkan pukul 04.45 WIB. Aku kembali menguap, berasa waktu berlalu lebih cepat dari biasanya.
"Cepat banget ya, Bu paginya," ucapku.
Ibu tertawa mendengar ucapanku.
"Alhamdulillah, berarti nyenyak tidurmu," ucap ibu.
__ADS_1
Namun saat aku bangun tak kutemui nene dan ayah di ruangan ini.
"Nenek, mana?" tanyaku.
"Nenek dan Ayah masih salat, soalnya tadi bergantian ibu terlebih dahulu," jawab ibu.
Ibu sibuk menata barang bawaan yang hendak kami bawa pulang, sedangkan aku terasa menggenggam sesuatu di tanganku. Aku mengangkat tanganku ke arah wajah, lalu melihat apa yang aku genggam.
Kalung berliontin Spongebob di sana. Aku tersenyum ke arah kalung itu.
"Kita akan bertemu suatu hari nanti," ujarku, lalu mendekap kalung itu di dadaku.
Tak berselang lama, nenek, ayah dan satu perawat datang menghampiri.
"Sudah bangun, Key," ucap nenek.
"Iya, Nek," jawabku.
Perawat itu, mulai melepas jarum infus dari tanganku. Aku merasa seperti ponsel yang sudah penuh saat dicharger. Aku tertawa terbahak-bahak saat memikirkan kekonyolanku itu.
"Kenapa, Dek?" tanya ibu.
Aku menatap ibu sembari menahan tawa.
"Enggak apa-apa, Bu," jawabku.
Nenek saat ini membantu ibu, sedangkan ayah tak tahu keluar ruang lagi entah mau ke mana. Hatiku terasa bahagia, akhirnya aku bisa keluar dari rumah sakit ini.
Hingga tak terasa aku tersenyum dan nenekku saat itu menyadarinya.
"Nggak apa-apa, Nek. Aku merasa bahagia, akhirnya bisa keluar dari rumah sakit ini," jawabku.
Pintu kembali terbuka, terlihat ayah mendorong kursi roda menuju ke arahku.
"Jalan-jalan kah, Yah?" tanyaku.
Ayah mengangguk sembari tersenyum. Ayah mengangkatku ke kursi roda.
"Kita pulang jam berapa, Yah?" tanyaku.
"Masih nanti, Dek. Kan belum jam operasional," jawab ayah.
Aku mencoba tetap melemparkan senyumanku, walaupu terasa sedih saat masih diulur nanti-nanti, karena rasa bosenku berada di sini sudah memuncak di benak.
"Bu, ayo." Ajak ayah.
"Ke mana?" tanyaku tampak bingung.
Mereka tak lantas menjawab, namun mereka hanya membawa bingkisan. Lalu mendorongku ke luar. Kami berempat menyusuri lorong hingga ke ujung ruangan ini.
"Nenek Pia?" tanyaku sembari menatap ayah yang sedang mendorong kursi roda.
Ayah hanya mengangguk.
__ADS_1
"Pia kan sekolah, Yah," ucapku lagi.
"Iya, kita menjenguk Neneknya. Mumpung kita belum pulang," sahut ibu.
Kami perlahan membuka pintu ruangan, terlihat wanita tua tergelak di sana dan di sampingnya duduk dua orang.
"Assalamualaikum." Ucap kami hampir bersamaan.
"Waalaikumsalam." jawab mereka.
Dua orang itu lantas berdiri menghampiri, lalu bersalaman ke kami. Sedangkan wanita tua yang terbaring hanya melihat ke arah kami. Beliau tak mengeluarkan suara sekalipun, mulut bagian bawahnya sedikit miring.
Salah satu yang menunggui menghampirinya.
"Bu, ini yang di bilang Kakak semalam," ucap wanita yang menungguinya.
Sedangan seorang pria yang menunggu Nenek Pia, mempersilahkan kami duduk.
"Silahkan duduk," ujar pria itu.
"Maaf kami hanya bisa membawa ini," ucap nenekku sembari memberikan bingkisan yang sedari tadi di bawa.
Pria itu menerima sembari melemparkan senyumannya.
"Makasih, kok jadi repot-repot," ucapnya.
"Enggak kok," sahut ibu.
Mereka pun segera duduk di tikar yang berada di sana. Sedangkan aku masih duduk di atas kursi roda, sebab aku masih belum bisa berpindah sendiri.
Mula-mula, di ruangan ini terasa hening kala tak ada satu pun dari kami yang enggan berbicara. Hingga suara nenek memecahkan suasana.
"Ibunya dari kapan di rawat, Dek?" tanya nenek, mengawali pembicaraan.
"Hampir satu mingguan ini, tapi entah ibu masih belum bisa bicara hingga saat ini," jawab wanita itu dengan wajah termenung.
"Yang sabar ya, rawat ibumu dengan baik selagi beliau masih ada," ujar nenek.
"Iya, Bu," jawab mereka berdua secara bersamaan.
Lalu mereka menatap ke arahku.
"Adeknya sakit apa?" tanya pria itu.
"Kecelakaan dan saat itu koma cukup lama, sehingga terkendala dengan sistem sarafnya," jawab ayah.
"Oh iya, perkenalkan saya Diana dan ini suami saya Adi," sahut wanita yang menyebutnya dengan nama Diana.
Ayah, ibu dan nenek pun memperkenalkan diri. Sedangkan aku hanya terdiam melihat ke arah wanita tua yang sedang berbaring di kasur itu. Di wajahnya seakan-akan ingin mengucapkan sesuatu.
"Nenek mau bicara apa?" tanyaku.
Sontak mereka semua juga menatap ke arah nenek yang terbaring. Lalu Tante Diana bercerita, awalnya nenek sudah memiliki gejala struk ringan. Entah saat itu apa yang membuat beliau kaget dan terjatuh tersungkur dari tangga, hingga beliau menjadi seperti ini.
__ADS_1
Bersambung ....