Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Diriku 2


__ADS_3

Aku ingin berteriak ke dokter yang berada di dalam ruangan ini, aku ingin mereka dengan cepat menutup tubuhku.


"Tolong panggil kedua orang tuanya untuk menemani kita memasang alat ini, sekarang!" Dokter memerintah salah satu perawatnya.


Perawat dengan cepat menuruti perintah dokter. Setelah itu aku menoleh ke arah pintu, aku melihat kedua orang tuaku melihat tubuhku yang tergeletak di atas kasur.


Aku yang tak mengenakan pakaian, di atas badanku banyak kabel yang di pasangkan entah aku tak tahu itu gunanya untuk apa, aku tak tahu.


"Bapak, tolong bantu kami. Kami akan memasang selang untuk saluran buang air kecil dan selang untuk memasukan asupan gizi berupa susu dari dalam tubuhnya," ucap Dokter.


"Baik," jawab ayah.


Awalnya aku masih mengenakan celana, saat ini penutup badanku satu-satunya pun di tanggalkan. Aku benar-benar tak mengenakan apapun saat ini.


Jika aku bisa bergerak, aku ingin mengambil selimut untuk menutupi auratku. Aku menangis melihatnya, aku malu dan aku takut kalau dosa karena ada yang melihat auratku seutuhnya.


Saat ini mereka memasang selang untuk saluran buang air kecilku, kemudian mereka mengambil sebuah selang lagi. Mula-mula mereka mengukur ke badanku, yang panjangnya mulai dari pusar sampai melewati atas kepalaku.


"Saya masukan selang ini, ini kegunaannya untuk membantu makan anak Bapak dan Ibu. Tetapi asupan gizi sementara hanya berupa cairan yaitu susu saja," ucap Dokter memberi tahu.


Ayah dan ibu mengangguk menurutinya, aku tahu mereka ingin yang terbaik untukku saat ini. Setelah pengukuran itu, selang yang dipegang dokter dimasukkan ke dalam hidungku.


Selang itu dimasukkan seakan-akan menancap di sana. Awal pemasangan, tubuhku memberikan respon batuk-batuk. Saat itu juga secara perlahan dokter pencabut selang itu kembali.


"Kenapa, Dok?" tanya ibu yang terlihat panik.


"Kalau pasien memberikan respon berupa batuk, berarti selang ini mengenai paru-parunya," ucap Dokter.


Dokter pun kembali memasukkan selang yang begitu panjang itu ke hidungku lagi. Tapi kali ini sepertinya lancar, selang itu dimasukkan ke dalam hidung sampai terlihat sedikit saja. Setelah itu, selang itu dieratkan menggunakan plester agar tak terlepas.


Di tubuhku terlihat seperti robot, menggunakan selang dan kabel di mana-mana kemudian mereka tak lagi memakaikan baju ke tubuhku, tetapi mereka hanya menutupinya menggunakan selimut saja. Lalu dokter dan perawat memastikan alat pendeteksi jantung benar-benar berfungsi. Ketika semua di rasa baik dokter pun berpamitan ke ibu dan ayahku.


"Anak Bapak dan Ibu saat ini mengalami koma, sehingga kami memakaikan peralatan untuk menunjang perawatannya. Mohon maaf, jika menunggu di ruang ICU ini hanya boleh satu orang saja, mohon kesadarannya salah satu bisa keluar," jelas dokter.


Ayah dan ibu hanya bisa bertatap mata.


"Nanti ada salah satu perawat yang stay di ruangan ini untuk menemani, nanti boleh secara bergantian untuk menjaganya," jelas dokter lagi.

__ADS_1


Ayah dan ibu tampak memikirkan sesuatu sebelum memberikan keputusan.


"Ayah saja dulu, saya menghubungi keluargaku dulu," ucap ibu dengan suara serak-serak.


Ayah hanya mengangguk, saat ini hanya ada ayah dan satu perawat di ruangan ini. Sedangkan ibuku keluar bersama dokter tadi.


"Sayang, yang kuat ya. Ayah yakin kamu anak hebat," ucap Ayah.


Saat ini aku hanya bisa menangis, sedih teramat sedih yang kurasakan.


"Keyla, lihat ke matamu," ucap Esther memberitahu.


Aku melihat dari sela-sela mata di ragaku mengalir air mata.


"Aku menangis? Ayah, lihat tubuhku. Aku bisa mendengarkan Ayah saat ini," teriakku.


Setelah itu aku pun terdiam, aku lupa jika ayahku saat ini tak lagi mendengarku.


"Esteh, semoga Ayah melihatnya ya," ucapku ke Esther.


Ayah yang semula menunduk sembari memegang tanganku, saat ini melihat ke arah wajahku dan mengelus kepalaku.


"Dedek, dengar Ayah? Kamu yang kuat, Nak," ucap ayah terlihat sedikit senyum dari wajahnya.


Ayahku terlihat tampak tegar saat ini, ketika melihat aku memberikan respon menangis. Setelah itu, ayah beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri perawat itu.


Ayah berjalan tertatih-tatih.


"Sus, titip anak saya dulu. Saya mau salat sebentar," ucap ayah.


"Baik, Pak," jawab perawat.


Ayah berjalan menuju pintu, lalu beliau keluar sembari menyunggingkan senyumnya ke ibu.


"Kenapa, Yah?" tanya ibu.


"Bu, aku melihat Keyla memberikan respon dengan meneteskan air mata. Mungkin dia mampu mendengar kita saat berbicara," ucap ayah memberitahu.

__ADS_1


"Subhanallah, semoga di berikan kesembuhan untuk Dedek," ujar ibu.


"Ibu tunggu Dedek, ya. Ayah hendak salat dulu," ujar ayah.


"Iya, Yah," jawab ibu sembari melangkahkan kaki menuju pintu ruang ICU.


Aku bingung harus ke mana saat ini. Kemudian aku memutuskan untuk mengikuti ayah menuju mushola rumah sakit ini. Aku menunggu ayah yang sedang berwudhu, setelah selesai aku hanya mampu melihat beliau beribadah.


Aku pun ingin melaksanakan kewajibanku, tetapi apa daya saat ini aku tak mampu. Ayah selesaikan salatnya, setelah itu beliau tak lupa berdoa untuk kesembuhanku dan memberikan aku umur panjang.


Beliau hanya membatin dalam hatinya, tetapi saat ini aku dapat mendengar ucapannya.


"Ya Allah, kau yang maha pemurah, maha pemberi kesembuhan dan maha pemberi kehidupan. Hamba mohon berikan semua itu kepada anak hamba," ucap ayah.


Aku saat ini hanya bisa pasrah sama yang maha pencipta, semoga aku diberikan kesempatan untuk hidup yang kedua kalinya. Tak banyak inginku, aku hanya ingin melihat kedua orang tuaku tersenyum karenaku.


Aku tak ingin orang yang aku sayangi menangis karenaku.


"Keyla," panggil Esther.


Aku hanya menoleh, aku tampakkan mata sayu ke arah Esther.


"Aku nggak ingin kamu sedih, ku anggap kau adikku sendiri. Walaupun kita dari dulu beda dunia, aku tak ingin saat ini kau sama denganku," ucap Esther sembari menundukkan kepalanya.


"Esteh, maafkan ucapanku selama ini. Aku saat ini tahu apa yang kau rasakan dahulu," ucapku.


Esther hanya mengangguk tanda mengiyakan ucapanku. Dia lemparkan senyuman manisnya ke arahku. Tak terasa ayahku pun beranjak dari tempatnya, beliau berjalan kembali menuju ruanganku di rawat.


"Kita ikut Ibumu, ya," ucap Esther.


Aku hanya mengangguk, dengan cepat Esther mengajakku melesat dan aku saat ini sudah berada dalam ruangan ICU. Aku kembali melihat tubuhku terbaring lemah, di ruangan ini hening hanya terdengar suara detakan jantungku di alat pendeteksi itu.


Di ruangan ini bukan hanya aku yang di rawat, tetapi ada dua orang lainnya. Kami hanya di pisah dengan sekat gorden satu sama lain.


Tetapi di ruangan ini yang terlihat terkulai lemah hanya aku, bahkan aku kehilangan kesadaranku.


Dua orang diantaranya yaitu nenek berusia renta yang ditunggui anaknya dan yang satu anak balita entah aku tak tahu usianya.

__ADS_1


Anak itu sadar, tetapi terkulai lemah tak berdaya. Ibu muda yang melihat anaknya mungkin tanpa ia sadari telah meneteskan air matanya.


Bersambung....


__ADS_2