Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S2) ~ Lentera Merah


__ADS_3

Lalu ayah beranjak dari tempat duduknya dan melenggang pergi keluar kamar. Merasa bersalah karena membentak ayah semakin aku rasakan.


"Bu." Aku menatap ibu sembari meneteskan air mata.


Ibu menghampiriku, lalu memeluk tubuhku. Tak pernah aku melihat ayah tampak marah seperti ini, rasa takut semakin dalam tertancap di hatiku.


"Al, kamu tenangkan Diman. Biar Keyla bersama Ibu dan Santi," ujar Nenek Rahmah.


Ibu menganggukan kepala, lalu melenggang pergi keluar kamar. Aku tak dapat membendung air mata, rasa sesak di dada kian membelenggu. Isak tangisku tak dapat merubah keadaan yang bagiku begitu fatal. Seseorang yang begitu sabar dan lembut, menjadi marah dan diam seribu bahasa.


"Sudah, Nak. Nanti biar Ibumu yang membantu meredam emosi Ayah, lain kali jangan diulangi lagi. Ayah dan Ibumu melarangmu karena mereka sayang denganmu," ujar nenek menasehati.


"Key, jangan nangis. Aku ikutan sedih," ujar Jeje degan wajah sendu.


Saat itu juga, aku melihat ayah dan ibu kembali masuk kamar secara bersamaan. Nenek yang melihatnya sontak, menepi menjauh dari sisiku untuk memberikan tempat ayah untuk duduk.


Ayah menatapku kembali, namun aku memalingkan wajahku dengan menunduk. Aku tak berani menatap ayah ketika beliau sedang marah, beliau bergegas memelukku.


Air mata kian banjir membasahi pipiku.


"Maafkan aku, Yah," ujarku.


"Iya, Dek. Ayah mohon, mengerti untuk saat ini. Jangan pernah bilang seakan-akan kami memiliki pikiran men- judge kamu seperti itu, ayah sedih dan terpukul kala mendengarnya," ujar ayah.


"Iya, Yah. Maafkan Dedek," ujarku lagi.


Ayah melepaskan pelukannya sembari menghapus air mata di pipiku.


"Anak Ayah nggak boleh sedih. Kamu penyemangat kami di sini, kita berjuang bersama-sama untuk kamu sembuh ya, Dek," kata ayah.


Aku menganggukan kepalaku. Lali ibu mendekat ke arah kami berdua, kemudian memeluk kami. Walaupun ayah sudah memaafkan aku, namun dalam hatiku yang terdalam masih merasa bersalah. Aku terlambat untuk menyadari bahwa ucapanku tak pantas aku lontarkan ke ayah.


Terlalu kasar dan menyakitkan, aku merasa sudah durhaka ke ayahku saat ini. Namun perasaanku sengaja aku pendam, aku tak mau merubah suasana yang sudah membaik menjadi runyam kembali.

__ADS_1


Satu persatu mulai dari nenek, tante dan Jeje keluar kama, lalu di susul dengan ibu. Saat ini tinggal aku dan ayah yang berada di sini.


"Kamu minum obatnya dulu, lalu segera tidur. Semoga waktu bangun ada mukjizat lagi ya, Dek." Ayah mengecup keningku, kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan kamar.


Aku pun menuruti perintah ayah, aku bergegas meminum obat lalu segera tidur. Aku baringkan tubuhku dalam posisi setengah duduk, dengan bertumpu banyak yang aku tata tinggi.


Ku pejamkan mataku, ku posisikan tubuhku senyaman-nyamannya. Tak perlu waktu lama aku pun terbuai ke alam mimpi.


______________


Aku membuka mata, melihat sekelilingku. Tak kutemui siapa pun di sini, aku beranjak dari tempatku terbaring. Aku berjalan menyusuri jalan setapak yang tak pernah ku lalui sebelumnya. Pohon yang rindang, suara burung berbunyi saling bersahutan.


Langit berwarna biru kemerahan menandakan senja telah datang. Aku berjalan cepat agar tak bermalam di jalanan yang tak tahu arah dan ujungnya ini. Aku berharap, kutemui rumah maupun seseorang yang membantuku.


"Ayah, Ibu." Aku berteriak memanggil.


Namun tak ada sahutan siapa pun di sini. Aku hanya ingat aku sebelum di sini, berbaring di tempat tidurku. Aku bingung kenapa bisa berada di sini.


Langit mulai gelap, sinar mentari bersembunyi. Suara jangkrik memecahkan keheningan malam, sang rembulan enggan menampakan sinarnya.


Jalan searah namun terasa tak berujung. Angin menghempaskan daun yang berserakan, membuat aku semakin takut. Rasa lelah, lapar kini juga menghampiriku.


"Ya Allah, berada di mana ini?" ujarku.


Aku melangkah menjauh dari tempatku berdiri, menuju satu pohon untuk beristirahat. Aku duduk, dan menyandarkan punggungku di batang pohon ini.


Aku tayamum, dengan keterbatasan pakaianku, sehingga aku beribadah mengenakan pakaianku saat ini. Aku berpasrah, berharap ada seseorang yang melewati jalan ini dan membantuku keluar dari hutan ini.


Tiba-tiba setelah aku berdoa, aku melihat dari kejauhan ada sinar merah. Saat aku fokus melihatnya, seperti lentera namun yang membuat janggal adalah warnanya yang merah menyala.


Tanpa berpikir panjang, aku berjalan menuju arah lentera merah itu. Namun, semakin jauh aku melangkah, lentera itu juga semakin jauh. Yang awalnya aku berjalan melewati jalan setapak, saat ini berjalan di dalam hutan.


"Aku di mana ini?" aku menatap sekelilingku, hanya pepohonan dan satu sinar lentera merah yang aku lihat.

__ADS_1


Dalam benakku ingin berhenti mengikuti sinar itu, namun aku juga tak tahu arah kejalan awal aku berada di sini. Aku duduk kembali di bawah pohon, namun sat melihat sinar merah itu terlihat sangat dekat dengan posisiku saat ini.


"Dimana ini?" celotehku sembari menatap sekelilingku.


Aku kembali beranjak dari tempatku duduk, lalu berjalan kembali menuju lentera itu. Tetapi kali ini, lentera itu tak menjauh namun berhenti di tempat.


Perasaan bahagia menyapaku, aku berharap orang yang membawa lentera itu dapat menolongku keluar dari sini. Aku berjalan semakin dekat dengan lentera itu.


Suara mengerang orang kesakitan terdengar dari arah lentera itu. Selain itu terdengar orang berteriak dan memaki-maki. Aku berjalan mengendap-ngendap, mencoba mengintip suara dan sumber lentera itu.


Aku melihat dua orang di sana. Yang satu pria membawa lentera merah itu dan tangan yang satunya membawa golok yang terlihat tajam. Orang yang satunya ada seorang wanita, di ikat di batang pohon dalam posisi duduk.


"Sadar, Ken. Aku Kakakmu, buang lentera itu," ujar wanita itu.


Kakinya wanita itu terlihat berdarah-darah, mungkin akibat goresan golok pria yang di sebut dengan nama Ken.


Gelapnya malam saat ini bukan satu-satunya menjadi alasan aku takut. Namun Pria bernama Ken lebih membuatku takut.


"Diam bangs*t, Kakak macam apa yang membunuh Ayahnya sendiri!" hardik pria itu dengan amarah.


"Kamu salah paham, bukan aku," ujar wanita itu lagi.


"Ha ha ha, aku bukan bayi yang bisa kamu bohongi. Pisau itu buktinya!" ujar Ken itu dengan nada tinggi.


Wanita itu terlihat ketakutan, namun dia tetap mencoba menjelaskan semuanya di Ken. Namun tampaknya Ken tak pernah menggubrisnya.


"Ken, dengerin Kakak. Letakkan lentera dan golok itu, aku ceritakan kesalah pahaman ini," ujar wanita itu.


"Diam!" teriak Ken.


Ken dengan membawa lentera dan golok itu mendekat ke arah wanita itu. Golok itu di dekatkan ke arah kaki wanita yang sudah terluka itu.


"Ken, jangan gila kamu," ujar wanita itu.

__ADS_1


"Yang gila aku apa kamu? Kamu pembunuh!" hardik Ken lagi.


Bersambung ....


__ADS_2