
Pagi hari seperti biasa, Dinar menyalakan televisi sembari menunggu ibunya memasak. Dalam sekilas berita, yang biasanya selalu ia lewatkan kali ini dia mencoba menyimaknya. Di televisi disiarkan foto rumah rusak setelah kebakaran dan terlihat pihak kepolisian mengevakuasi beberapa mayat yang ada di sana.
Dalam layar televisi di tuliskan "Pembunuhan Keji". Penyiar televisi menyebutkan pembunuhan itu dilakukan dengan cara membakar rumahnya, hingga semua korban yang ada di dalamnya terpanggang di dalamnya.
Namun, saat Dinar memperhatikan dengan seksama rumah itu tak asing di penglihatannya. Lalu, dia memutuskan untuk memanggil kedua kakaknya, Dita dan Andre.
"Kak Dita, Kak Andre!" teriak Dinar.
"Ya, Bentar," jawab Kak Dita.
Saat menunggu kedatangan kedua kakaknya, entah kenapa Dinar dadanya terasa sesak. Dia ingat betul, bahwa rumah itu milik neneknya Keyla. Dia berharap rumah itu sekilas mirip saja, bukan seperti yang ada di pikirannya.
"Ada apa, Din?" tanya Kak Andre.
"Kak lihat itu, seperti rumah neneknya Keyla, kan?" tanya Dinar mencoba memastikan.
Saat itu juga, Kak Dita pun datang menghampiri dan mencoba melihat dengan seksama rumah itu.
"Iya, sih. Bentar aku coba telepon ibunya Keyla," ujar Kak Dita sembari mengeluarkan ponselnya.
Kak Dita tampak gelisah kala mencoba menghubungi tetapi ponsel itu tidak aktif. Kak Dita beberapa kali mencobanya, namun lagi-lagi sama seperti semula.
"Gimana, Kak?" tanya Dinar.
"Nggak aktif, Din," jawab Kak Dita.
"Mungkin ponselnya lagi di charge, makanya nggak aktif. Sudahlah berpikir positif aja, Din," sahut Kak Andre mencoba menenangkan Dinar.
__ADS_1
Namun, saat semua baru saja selesai berhenti bicara, di televisi menyebutkan jumlah korban yang berada di sana.
"Korban kebakaran terdiri dari enam orang, yaitu lima orang berjenis kelamin perempuan dan satu orang berjenis kelamin laki-laki." Penyiar televisi menjelaskan.
Seketika Dinar mencoba menghitung jumlah orang yang berada di sana. Tetapi, Dinar menghitungnya ada tujuh orang yang berada di rumah neneknya Keyla karena Kevin pun dihitung di dalamnya.
"Mereka ada tujuh, ya. Kan di sana ada, Kevin," ujar Dinar.
Kala itu, Kak Dita dan Kak Andre berjalan menghampiri ibunya yang berada di dapur. Saat itu juga Dinar merasa sedikit lega, tetapi baru saja dia hendak berdiri. Tiba-tiba di televisi diperlihatkan tabel nama-nama korban. Saat tertera di tabel bertuliskan nama Ananda Keyla Anggraini, seketika Dinar yang sudah berdiri pun tersungkur kelantai.
Brak!!
Tubuh Dinar mengenai meja kaca yang berada di samping sofa di depan televisi. Kak Dita dan Kak Andre pun menoleh ke arah Dinar.
"Dinar!" teriak Kak Dita.
Dinar menangis sesenggukan, seakan-akan dunia terasa runtuh saat itu juga.
"Kenapa, Din? Ada apa dengan Keyla?" tanya Kak Dita terlihat panik.
Dinar menunjuk sekilas berita itu sembari berkata, "Yang kebakar rumah neneknya Keyla. Semua orang yang ada di sana meninggal, Kak."
Ibunya Dinar yang mendengarnya sontak menghampiri anak-anaknya.
"Benarkah? Innalillahi waina ilahi rojiun, sabar Din. Kita ke sana ya," ujar ibunya.
Dinar tak sanggup berkata apa-apa lagi. Dia hanya mengangguk dan terus menangis, bahkan dia juga sempat tak sadarkan diri karena kabar itu.
__ADS_1
Setelah Dinar sadarkan diri, mereka semua segera pergi ke rumah sakit yang tertera di sekilas berita itu tadi. Dan mereka berharap sanggup melihat mereka semua untuk yang terakhir kalinya.
Saat mereka sampai di sana, semua korban masih dilakukan visum. Cukup lama mereka menunggu, akhirnya siang hari semua korban siap di makamkan. Menurut kemauan pihak keluarga yaitu suami Santi, Tantenya Keyla dia meminta untuk di makamkan di desa tempat mereka tinggal.
Pihak kepolisian pun mengiyakan dan semua jenazah di bawa menggunakan tiga ambulance. Sesampainya di pemakaman, pihak tetangga dan semua kerabat sudah berada di sana. Termasuk teman sekolah dan guru-guru Keyla, ternyata mereka semua mendapat kabar dari ibunya Dinar.
Mereka semua ikut ke sini untuk mengantarkan Keyla ke peristirahatan terakhirnya. Prosesi pemakaman pun dilakukan, karena banyaknya orang sehingga pemakaman berjalan lebih cepat.
Saat sudah selesai, satu persatu dari mereka bergegas pergi, termasuk teman-teman dan gurunya, sebab mereka datang secara berombongan menggunakan bus yang mereka sewa. Terkecuali keluarga Dinar, Dinar terlihat begitu terpukul dan enggan untuk pergi.
"Key, kenapa kau cepat meninggalkan aku. Tahu nggak, sepulangnya dari ketemu kamu, Kak Dita check kehamilan ternyata dia mengandung. Aku bekum sempat mengabarkan ini, kenapa kamu pergi?" ujar Dinar menangis sesenggukan.
"Key, Kakak semalam bermimpi kamu. Kamu terlihat tersenyum dan menghampiri Kakak. Bahkan kamu bicara kalau ingin bermain dengan Kakak. Nggak tahunya seperti ini, semoga tenang di sana. Kami sayang kamu," ujar Kak Dita sembari memeluk Dinar.
Saat itu juga terlihat anak gadis tengah berdiri ikut bergabung di hadapan mereka. Dinar sama sekali tak mengenalinya, namun dia terlihat senyum ke arah Dinar.
"Key, aku datang. Kukira kita suatu hari bertemu dan berteman baik. Nggak tahunya kita bertemu dengan cara seperti ini, aku tadi sengaja cari-cari alamat yang ada di berita itu dan kata tetanggamu saat ini kamu dimakamkan," ujar gadis itu.
Dinar terlihat bingung dan ingin tahu siapa sebenarnya gadis itu.
"Kamu siapa? Kenal Keyla?" tanya Dinar.
"Aku Stevia, baru saja kenal dia saat di rumah sakit. Dia anak yang baik, aku yakin pasti dia mendapat tempat terindah," jawab gadis itu.
"Key, banyak orang menyayangimu. Kamu yang tenang," ujar Dinar.
Tiba-tiba Stevia menatap Kak Dita sembari tersenyum. Dia menganggukkan kepalanya, itu malah membuat Dinar semakin penasaran.
__ADS_1
"Aku lihat dia di sampingnya, dia tersenyum dan melambaikan tangan," ujar Stevia sembari menunjuk ke arah Kak Dita.
Cukup lama mereka di pusaran makam Keyla, lalu mereka memutuskan untuk pulang.