
Aku terus mencoba memejamkan mataku. Tetapi rasa kantuk yang menerpa tak kunjung membawaku pergi ke alam mimpi. Aku kembali membuka mata, lalu aku melihat ke arah Kak Zahra.
Kak Zahra berbaring membelakangi aku, mungkin dia sudah terbawa ke alam mimpinya. Aku kembali memejamkan mata, tiba-tiba terdengar seperti orang mengobrol.
Dengan mataku yang tertutup, aku masih mencoba mendengarkan. Suara itu terdengar jelas, tetapi yang jadi topik pembicaraan apa tak satu pun aku bisa menangkapnya.
Rasa penasaran membuat aku ingin mengetahui sumber suaranya. Suara itu seperti anak-anak yang sedang saling tukar pertanyaan, tetapi entah mengapa aku tak bisa menangkap pembicaraan itu walupun hanya satu kata.
Aku ingin membangunkan Kak Zahra, tetapi aku takut mengganggunya. Jadi aku memberanikan diri untuk beranjak dari tempat tidur. Aku mencoba melangkahkan kaki secara perlahan ke arah jendela, untuk melihat sumber suara.
"Keyla," terdengar ada yang memanggilku.
Aku mengenali suara itu, suara itu bersumber dari atas lemari yang berada di kamar ini. Aku menoleh ke arah suara yang memanggilku, yang memanggilku adalah Esther.
"Esteh, apa ada orang?" tanyaku.
"Ada, itu kamu kan orang," jawab Esther.
Aku menatap tajam ke arahnya. Dia hanya tersenyum menggemaskan khas setan cantik itu.
"Aku mendengar suara seperti ada yang sedang mengobrol, tetapi aku tak bisa menangkap satu pun perkataan mereka," ucapku lagi.
"Frekuensi mereka tinggi Key, tapi kamu tak bisa menjangkaunya," jawab Esther.
"Maksudnya bagaimana?" tanyaku yang nampak bingung dengan jawaban yang di lontarkan Esther.
"Mereka yang berbicara dari alamku, jadi walaupun kamu mendengar pembicaran mereka tetapi tidak akan bisa menangkapnya dengan jelas," jawab Esther dengan wajah yang serius.
"Terus kenapa aku bisa berbicara sama kamu?" tanyaku penasaran.
"Keyla nggak paham kenapa kita bisa saling berbicara?" tanya Esther balik.
Aku hanya menggelengkan kepalaku, memang aku benar-benar tak mengerti dengan semua ini.
"Jadi, hantu bisa menampakan eksistensinya kepada orang biasa hingga dapat mengobrol itu perlu mengeluarkan tenaga yang banyak, jadi ada tingkatan level mereka untuk dapat menampakan diri mereka," jawab Esther.
Entah kenapa baru kali ini aku melihat wajah Esther se serius ini.
"Lalu kenapa aku setiap saat bisa melihat mereka?" tanyaku lagi.
"Memang kamu kan punya kelebihan khusus, makanya bisa melihat dari bangsa kami, tetapi kalau perihal suara itu mereka walaupun dengan kamu juga perlu energi yang kuat," jawab Esther lagi.
Aku mulai sedikit mengerti yang diucapkan oleh Esther. Tetapi rasa penasaranku kian tinggi, aku memutuskan untuk kembali berjalan ke arah jendela.
Aku ingin tahu sumber suara itu dari makhluk apa.
"Keyla, nggak usah dilihat, mending kamu istirahat saja," ucap Esther.
"Bentar, ini suara jauh nggak sih? Soalnya terdengar keras banget di telingaku," ucapku.
Esther pun tak menjawab pertanyaanku, aku type orang yang selalu mengeyel jika di tegur. semakin aku dilarang, semakin besar rasa penasaranku. Ketika aku sampai di dekat jendela, entah kenapa aku jadi ragu untuk menyingkap gorden yang menutupi jendela.
Aku kembali menoleh ke arah Esther, aku melihat dia duduk di atas lemari sembari mengayunkan kakinya secara bergantian.
"Esteh, aku buka ya?" tanyaku.
__ADS_1
"Terserah, jika kamu mau tahu ya silakan," jawabnya.
"Aku takut," ucapku lagi.
"Kalau takut mending nggak usah," jawab Esther lagi.
"Tapi aku penasaran, memangnya nyeremin ya?" tanyaku.
Esther hanya mengedikkan bahunya. Aku pun mencoba memberanikan diri untuk menyingkap gorden jendela.
Aku melihat ke arah rumah kosong tadi yang berada di belakang perumahan ini. Aku melihat sosok anak kecil sedang berdiri di sana. Tak begitu jelas jika sekilas melihatnya, aku mencoba fokus menatapnya dari kejauhan.
(sumber:google)
Tiba-tiba dalam pikiranku terbesit wajah gadis kecil itu tampak jelas di perlihatkan. Wajah yang pucat pasi tetapi tak kudapati bola mata di wajahnya.
Setelah dapat penglihatan itu, aku dengan segera menutup gorden lalu berjalan cepat ke arah kasur. Rasa merinding sekujur tubuhku.
"Kenapa Key? Takut?" tanya Esther sembari tersenyum.
"Esteh, kamu nggak bilang sih," jawabku
"Sudah ku bilang dari awalkan nggak usah di lihat, kamu aja yang ngeyel," ucap Esther.
Aku tak lagi menghiraukan Esther, aku segera menutupi sekujur tubuhku dengan selimut, termasuk kepalaku. Setelah itu terdengar suara tawa yang melengking kuat.
Aku tak ingin menghiraukan suara-suara itu, hari sudah terlalu larut malam. Aku takut sendirian menanggapi semua makhluk itu sendirian. Aku paksa mataku untuk segera tidur.
Akhirnya aku pun tertidur pergi ke alam mimpiku yang begitu indah, hingga aku terbangun karena mendengar suara orang membangunkanku.
"Keyla, ayo bangun," terdengar suara Kak Zahra.
"Iya Kak," jawabku dengan suara sedikit malas.
Aku kembali memejamkan mataku, karena semalam terlalu larut aku untuk tidur.
"Keyla, ayo bangun, buruan salat subuh keburu siang," ucap Kak Zahra lagi sembari menggoyangkan tubuhku.
Aku mencoba membuka mataku yang terlalu lengket untuk ku buka. Dengan rasa malas yang masih menerpa, aku pun pergi ke kamar mandi untuk segera mengambil wudhu.
Aku laksanakan kewajibanku pada sang maha pencipta. Setelah selesai salat Kak Zahra terlebih dahulu turun kelantai dasar untuk membantu di dapur.
"Kakak turun dulu ya, Key," ujar Kak Zahra.
"Iya Kak," jawabku sembari melipat mukenah yang habis aku pakai.
Kak Zahra pun berlalu meninggalkan aku, tak berselang lama setelah semua selesai aku hendak turun kebawah.
Dari atas aku melihat Kak Ega sedang menggoda Kak Zahra. Aku melangkahkan Kaki secara perlahan agar mereka tak menyadari kedatanganku.
Ketika aku sudah berada di dekat mereka, mereka masih tetap masih tak tahu aku berada didekatnya. Aku mendengarkan Kak Ega terus menerus menggoda Kak Zahra.
Dalam batinku berkata, Punya sepupu kerjaannya nge-gombalin anak orang terus.
__ADS_1
"Uhuk-uhuk, terkontaminasi mata dan telingaku pagi-pagi lihat orang pacaran," ucapku.
Kak Ega yang tak tahu kedatanganku pun sontak terperanjat kaget.
"Kaya setan saja datang ngagetin orang," kata Kak Ega terlihat kesal karena aku menggangunya ketika dia menggoda Kak Zahra.
"Mentang-mentang aku bisa lihat setan dikatain kayak setan!" kataku dengan nada kesal, aku pun dengan sekuat tenaga memukul pundak Kak Ega.
"Aduh!" seru Kak Ega yang benar-benar terlihat kesakitan.
Kak Ega dan Kak Zahra menatap kearahku yang sedang cemberut.
"Ayo, Key kita ke taman, Tadi ibu kamu nyuruh kita nyiram bunga sama nyapu di sana," ajak Kak Zahra.
"Masak rumah orang kaya kayak Kak Ega gak ada tukang kebunnya," keluhku.
"Enak aja kalo ngomong, banyak noh tukang kebun, Itu tuh perintah ibu kamu biar kamu gak malas," jawab Kak Ega.
Aku yang mendengarnya merasa geregetan. Setiap kali berkunjung dan bertemu Kak Ega pasti dia selalu menggodaku.
"Kalian kalau ketemu selalu saja saling debat gitu ya. Sudah Key, ayo jangan ladenin kakak kamu ini," kata Kak Zahra menarik tanganku menuju taman.
Setelah semua kerjaan selesai, kami pun segera cuci tangan lalu pergi untuk sarapan. Selesai sarapan satu persatu orang dewasa kembali kerutinitas biasaannya yaitu bekerja.
Aku yang di temani Kak Zahra hanya menonton channel televisi kesukaanku, hingga tak terasa sudah tengah hari. Kak Ega jemput Kak Zahra untuk pergi menjemput adik Kak Zahra.
Setelah kepergian mereka, aku merasa sendiri. Aku putuskan untuk mendatangi ibuku yang berada di dalam kamar.
Tok tok tok....
"Bu, aku boleh masuk?" ucapku.
Aku membuka pintu kamar yang ditempati ibu. Aku duduk di samping tempat tidur.
"Bu, ayo jalan-jalan sekitaran perumahan ini," ajakku.
"Ke mana to Dek?" tanya Ibu.
"Sekitaran sini saja Bu, aku pengen tahu rumah kosong yang di belakang itu," ucapku.
"Keyla, jangan mulai lagi Dek, tujuan kita ke sini buat cari hiburan Dek," ujar Ibu.
"Ayolah Bu," aku tetep kekeh mengeyel mengajak Ibuku ke rumah itu.
"Kebiasaan kamu ini," jawab Ibu sembari beranjak dari tempat duduknya.
Bersambung....
Yang kepo lanjutan cerita misteri gadis kecil ini, ikutin selalu ya ceritanya. tunggu Next Episode ya gaees.
yang mau tahu kisah zahra dan Ega cus baca karya Kiki rizki - Cinta untuk Zahra
Salam Sayang dari Author
Lina Agustin 🤗😍
__ADS_1