Apa Aku Berbeda?

Apa Aku Berbeda?
(S3) Hari pertama tidur di sana


__ADS_3

Bu RT tetap memilih untuk bungkam. Hari itu, hingga senja tiba akhirnya rumah ini sudah tertata rapi dan bersih. Listrik pun bisa dinyalakan hari itu juga.


"Alhamdulillah, makasih untuk semuanya," ujar Ayahnya Dinar.


"Sama-sama, Pak. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan-sungkan untuk meminta pertolongan ke kami,"jawab salah satu tetangganya.


Ayahnya Dinar memberikan satu amplop yang berisikan uang ke mereka. "Ini untuk tanda terima kasih kami ke kalian, sebab telah merepotkan."


"Ya Allah, Pak. Tidak perlu seperti ini, kami dengan suka rela membantu Bapak. Kita nggak tahu jika sewaktu-waktu pun memerlukan bantuan itu," jawab salah satu tetangganya lagi.


Setelah itu, mereka satu persatu pun pulang. Dinar beserta keluarganya tetap pergi ke masjid untuk menumpang mandi sekalian sholat. Tak ada gangguan lagi di rumah ini. Lantai atas sengaja di kosongkan terlebih dahulu sebelum pengajian diadakan.


Mereka memilih santai di depan televisi. Berbincang dan becanda di sana. Tetapi, terkadang mendengar suara anak kecil juga tertawa.


"Bu," ujar Dinar.


"Biarkan saja, mungkin ini rumah mereka. Kita berniat baik, kok." Ibunya paham apa yang di dengarkan oleh Dinar.


Dinar duduk semakin dekat dengan ibunya. Dia merasa ketakutan, tetapi tak ada pilihan lain.


"Aku nanti tidur ikut Ibu, ya," pinta Dinar.


"Adek apaan, sih? Tidur sendiri, udah gede juga," tegur Dita.


"Ikut kalian aja, deh. Tidur di sofa juga nggak apa-apa, kok." Dinar memaksa.


"Nggak, tidur di kamar kamu aja sana," ujar Dita.


"Bu," panggil Dinar merengek.


"Iya, nanti Ibu temenin," jawab ibunya.


Dinar tersenyum, lalu mengejek kakaknya. Mereka kira, gangguan hanya itu saja. Tetapi mereka salah, malam kian larut. Mereka memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri-sendiri. Tetapi Dinar di temani ibunya untuk tidur malam ini.


"Cepat tidur, biar nggak dengar yang aneh-aneh. Jangan lupa berdoa," nasihat ibunya.


"Iya, Bu." Dinar pun segera memejamkan mata.


Dia berharap segera terbang ke alam mimpinya. Dia berdoa dan bersholawat di dalam hati tiada henti, hingga dia benar-benar melayang ke alam mimpi.


Ibunya Dinar merasa tenang, kala melihat anaknya terlelap dalam tidurnya seperti ini. 'Dinar Sayang, semoga kau nyenyak dalam tidurmu, Nak.'


Namun, ketika beliau mencoba tidur, tiba-tiba kembali terdengar suara anak kecil.

__ADS_1


"Ayo, main. Kemarilah," terdengar suara itu.


Ibunya Dinar tak sedikit pun merasa panik, beliau sadar jika memang mereka juga perlu adaptasi ketika ada manusia di rumah ini. 'Aku tak akan menggangumu. Kami akan menjaga rumah ini dan merawatnya. Kita memang hidup berdampingan tapi jangan pernah ganggu kami.'


Perlahan suara itu mulai kembali menghilang. Jantung ibunya Dinar tak bisa di pungkiri jika berdegup dengan kencang. Rasa takut memang selalu ada, tetapi beliau memilih untuk tenang agar anaknya juga merasa ketakutan.


Beliau pun segera memejamkan mata. Tak perlu menunggu lama, beliau pun tertidur dengan nyenyak. Sedangkan Dita dan Andre yang berada di kamar lain. Mereka mengobrol dan becanda berdua.


Tiba-tiba terdengar seperti dua anak saling bermain. Mereka tertawa sahut-sahutan dan berbicara entah apa tak begitu jelas.


"Yang, dengar nggak?" tanya Dita.


"Kenapa, Yang?" Berbeda dengan Andre, dia malah sama sekali tak mendengar apapun.


"Kamu dengar ngga, Yang?" tanya Dita.


Andre tahu apa yang dimaksud oleh istrinya, meski ia tak mendengarnya. "Ya sudah, kita tidur sajalah. Jangan lupa berdoa."


Dita pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Kemudian, ia memilih untuk segera berbaring. "Aku nggak ganggu, kok. Kami di sini berniat baik untuk menjaga dan merawat rumah ini. Kita hidup berdampingan, tapi tak usah saling menggangu, ya."


Andre tertawa kala mendengar apa yang diucapkan istrinya.


"Kenapa sih, Yang?" tanya Dita merasa heran.


Setelah itu, Dita memejamkan matanya. Walaupun ia tetap sama mendengarkan hal itu. Namun, beberapa saat setelahnya. Suara itu pun menghilang entah ke mana dan di saat itupun Dita badu dapat tidur dengan nyenyak.


***


Keesokan harinya, mereka pagi-pagi buta sudah terbangun. Mereka bersiap-siap untuk pergi ke masjid untuk menumpang mandi dan sekalian sholah subuh.


"Bu, tunggu. Jangan tinggalin aku sendirian," ujar Dinar saat melihat ibunya hendak keluar kamar.


"Ayolah, Din. Nggak mungkin, kita terus-terusan untuk berdua terus. Ini rumah kamu, seharusnya juga adaptasilah. Semakin kau takut, akan semakin merasa terganggu dengan itu semua." Ibunya Dinar menasehatinya.


Dinar cemberut sembari menatap ibunya. "Tapi, Bu."


"Ayolah, Din. Kita numpang mandi, sekalian untuk sholat. Keburu orang banyak, kita nggak enak dong," ujar ibunya.


"Iya, Bu." Mau tidak mau, Dinar harus memberanikan diri beraktivitas di rumah ini.


Dinar merasa, mungkin karena rumah ini terlalu lama, sehingga hantu di sini menampakkan diri, ataupun interaksi tak kenal waktu. Sebab, dia siang haro selama di sini juga sering mendengar hal yang sama.


Ibunya Dinar memilih keluar kamar terlebih dahulu, sedangkan Dinar masih membereskan tempat tidurnya.

__ADS_1


"Key, ada kamu pasti menjadi petualangan buat kamu. Tapi, sayangnya kamu sudah nggak ada. Misteri akan menjadi misteri, hingga waktu yang akan menguaknya dengan sendiri," gumam Dinar.


Lalu, setelah itu Dinar keluar hendak menyusul keberadaan keluarganya Yang lain.


"Bu," panggil Dinar.


"Dapur," jawab ibunya.


Dapur di rumah ini, letaknya cukup jauh ke belakang. Rumah yang begitu luas, terasa sangat besar untuk lima orang ini.


"Ngapain, Bu?" tanya Dinar.


"Nggak apa-apa, cuma lihat persediaan yang ada. Nanti Ibu berpikir, pulang sholat jalan-jalan sekalian belanja," jawab ibunya.


"Nanti, ikut ya, Bu," pinta Dinar.


"Iya, lihat Kakak sudah bangun belum. Ayo, kita bersiap-siap untuk pergi ke masjid. Nggak enak nanti kalau orang-orang menunggu kita saat mandi," ujar ibunya.


"Baik, Bu. Dinar memilih untuk segera melaksanakan apa yang diperintahkan ibunya.


Serasa sepi dan hening, kala orang-orang di rumah ini belum melakukan aktivitasnya.


Tok! Tok! Dinar mengetuk pintu kamar kakaknya.


"Kak, sudah bangun belum?" tanta Dinar.


"Sudah, Dek," jawab Dita dari balik pintu kamarnya.


"Mau siap-siap pergi ke masjid, buruan keluar!" ujar Dinar dengan nada keras.


"Iya, Din." Dita pun di dalam sudah menyiapkan baju dirinya sendiri beserta milik suaminya.


Lalu, Dita dan Andre segera keluar kamar. Terlihat Dinar sedang duduk sembari memainkan ponselnya.


"Ponsel terus, bantuin Ibu sana. Sibuk pacaran terus," ejek Dita.


"Ih, apaan, sih. Siapa juga yang pacaran," jawab Dinar.


Ibunya Dinar pun berjalan menghampiri mereka. "Sudah siap?"


"Sudah, Bu," jawab mereka hampiri bersamaan.


"Ayo, berangkat," ajak ibunya.

__ADS_1


__ADS_2