
Kami menunggu kedatangan sepupuku untuk menjemput. Cukup lama kami harus menunggunya, rasa capek dan sedikit lapar menerpaku.
"Ayah, laper," ucapku.
"Tunggu di sini ya, biar Ayah belikan makanan dulu di warung depan," ucap Ayah.
Aku menganggukkan kepalaku. Aku duduk menyenderkan kepalaku ke bahu ibu. Aku melihat-lihat di sekelilingku, tiba-tiba pandanganku terhenti ke seorang cewek yang sedang berdiri di dekat kursi, cewek itu adalah Esther teman gaibku.
Aku melihat Esther sedang menatapku sembari tersenyum. Aku pun menatapnya di batinku berkata, Ya elah, ini setan ngikut mulu, jadi penumpang ilegal pula.
"Halo Keyla, ucapnya ngeledek ke arahku," ucap Esther.
Mataku melotot ke arahnya, dia hanya tertawa melihat ke arahku. Tak berselang lama, ayahku pun datang dengan membawa kantong kresek berisikan makanan di tangannya.
"Ini Dek, adanya nasi rames," ucap Ayah sembari memberikan makanannya ke arahku.
Aku menerima pemberian ayah sembari mengejek Esther.
"Keyla kenapa?" tanya Ibu.
Tanpa ku sadari ternyata ibu memperhatikan aku sedari tadi.
"Noh, Esteh ngikut kita, dia jadi penumpang ilegal," ucapku sembari menunjuk ke arah Esther.
"Biarin saja, cepat makan keburu Kak Ega datang," ucap Ibu.
"Iya Bu, si Esteh di tinggal stasiun sini aja Bu, jadi nanti cocok nih di buat judul novel Si Cantik penunggu Stasiun," kataku.
"Kamu ada-ada saja Dek," sahut ayah.
Aku pun melahap makananku, sembari melihat ke arah Esther yang saat ini sedang cemberut setelah mendengar ucapanku.
Ketika hampir habis makananku dari kejauhan aku melihat Kak Ega berjalan menghampiri kami, dia berjalan beriringan dengan seorang gadis cantik.
"Ayah, itu Kak Ega," ucapku.
Karena masih jauh dan ramainya orang, jadi ayah tak memperhatikannya. Sampai Kak Ega berada di dekat kami, dia memanggil ayahku.
"Om Dimas," Kak Ega memanggil Ayah.
Ayah menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
"Ega," jawab Ayah.
Kak Ega dan cewek cantik yang berada di dekatnya pun menjabat tangan kami satu persatu.
"Ayo, Om, Tante, Keyla, Maaf telat menjemputnya soalnya jalanan lagi macet," kata Kak Ega.
"Iya, nggak apa-apa, Hmm Ini toh tunanganmu?" tanya Ayah.
"Iya Om, perkenalkan namanya Zahra," ucap Kak Ega memperkenalkan tunangannya kepada kami.
__ADS_1
"Halo Om, Tante, Keyla namaku Zahra," ucap Kakak cantik itu yang ternyata namanya Zahra, dia dengan nada kalem memperkenalkan dirinya.
"Maaf ya kemarin Om dan keluarga nggak bisa hadir," ucap Ayah lagi.
"Iya Om nggak apa-apa, mari Om soalnya Uti sudah nunggu di rumah," ajak Kak Ega.
Uti itu adalah panggilan untuk nenekku yang biasa digunakan oleh Kak Ega. Kami berjalan keluar dari stasiun menuju mobil Kak Ega yang sudah terparkir di depan stasiun.
Setelah sampai di samping mobil, kami pun segera memasuki mobil avanza putih milik Kak Ega yang cukup membawa kami semua dan barang-barang bawaan keluargaku.
"Kak Ega kok bawa mobil biasa sih? Setahu aku mobil Kakak sedan hitam," tanyaku saat di dalam mobil.
"Kalo Kakak bawa itu nanti nggak muat, kamu mau di tinggal di stasiun?" tanya Kak Ega sembari mengejekku.
"Kak Ega selalu ngeselin kalo jawab," ucapku mengerutu.
"Key, Itu tangan kamu kenapa?" tanya Kak Zahra.
"Nanti biar Ibu aja yang cerita ya, Kak. Aku takut kalau ingat kejadiannya," jawabku dengan wajah yang murung.
Kak Ega yang melihatku tampak murung, mencoba mencairkan suasana agar tidak terjadi kecanggungan. Selama perjalanan aku pun menceritakan kejadian yang aku alami selama berada di dalam kereta tadi.
Kak Zahra yang mendengarkanku bercerita terlihat ketakutan. Aku menatap tajam ke arahnya.
"Keyla, jangan gitu melihatnya, Kakak jadi takut," ucap Kak Zahra.
Aku pun tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi yang di perlihatkan Kak Zahra. Tanpa kami sadari kami pun sampai di rumah mewah Kak Ega.
Kami pun turun dari dalam mobil, Ayah dan Ibu menurunkan barang bawaannya. Kak Zahra dan Kak Ega pun ikut membantu.
Aku melangkahkan kaki terlebih dahulu masuk ke dalam rumah, aku ingin cepat merebahkan tubuhku di atas kasur yang empuk.
Tok tok tok....
"Assalamualaikum." Aku mengucapkan salam sembari mengetuk pintu rumah.
"Wa'alaikum salam." Terdengar suara dari dalam menjawab salamku.
Pintu mulai terbuka, terlihat sosok wanita tua yang masih terlihat anggun.
"Nenek," ucapku sembari memeluknya.
"Cucuku yang cantik, lama nggak berkunjung, Uti kangen," ucap Nenek.
"Aku manggilnya Nenek, bukan Uti kaya Kak Ega itu, Nek hehehe," ucapku sembari melihat ke arah Kak Ega.
"Sama saja Nduk," ucap Nenek.
"Iya, aku pengen berbaring Nek, capek," ucapku.
Kami pun mulai masuk ke dalam rumah. Aku langsung berjalan menuju ruang untuk menonton televisi. Aku pun menyalakan televisi, lalu merebahkan tubuhku di atas sofa.
__ADS_1
"Istirahat di kamar saja Nduk, biar capeknya hilang," ucap Nenek yang sedari tadi menemaniku.
"Di sini saja Nek, pengen nonton televisi," ucapku.
"Iya, Nenek tinggal dulu ya," ucap Nenek.
Aku pun dengan jurus handalanku yaitu hanya menganggukkan kepala tanpa menjawabnya. Aku mencari channel kesukaanku, aku tertawa melihat kartun yang sedang di putar.
"Dek, kamu nggak tidur lagi?" tanya Ibu.
"Nggak Bu, mau di sini dulu," jawabku.
Keluargaku pun dengan antusias ikut berkumpul menemaniku. Udara yang sejuk membuat perasaanku lebih tenang. Walaupun ini sudah sore hari, tapi udaranya tak sama seperti kota tempat tinggalku.
Kami mengobrol-ngobrol mulai dari bertanya kabar dan aktivitas yang sedang kita jalani, hingga Kak Zahra merekomendasikan beberapa tempat wisata yang perlu kami kunjungi ketika berada di kota malang.
Aku hanya mendengarkan obrolan mereka tanpa ikut menjawabnya. Yang ku ingat ketika berada di sini hanya buah apel yang menjadi ciri khas kota malang.
"Keyla, dari tadi diam saja," ucap Kak Zahra.
"Habisnya nggak tau mau ngomongin apa Kak, yang ku tahu buah apelnya, mau dong di beliin," ucapku sembari tersenyum
"Ni bocah makanan mulu," kata Kak Ega mencoba mengejekku.
"Kebiasaan, kalau nggak makan nanti aku pingsan," ucapku sembari cemberut melihat Kak Ega.
Mereka semua tertawa terbahak-bahak ketika mendengar ucapanku.
"Halah, alasan mulu ni bocah, makan banyak nggak gede-gede," ucap Kak Ega mencoba mengejekku lagi.
"Ibu, Kak Ega itu loh," ucapku.
Ibu hanya tersenyum ke arahku.
"Ega, sudah nanti adikmu menangis,"sahut Nenek.
Aku pun mengejek Kak Ega ketika mendengar nenek membelaku.
"Husss, kalian berdua sama saja, selalu saja ramai sendiri ketika berkumpul," ucap Nenek.
Aku melihat wajah nenek tampak bahagia ketika melihat kami sedang berkumpul. Suasana ini yang telah lama aku rindukan. Tapi karena jarak kota yang terlalu jauh, yang membuat keluargaku terpaksa jarang mengunjungi nenekku.
Bersambung....
Yuk sembari menunggu kisah dari cerita Author yang kece ini, silakan mampir ke beberapa cerita teman Author.
Cinta untuk Zahra by: Kiki rizki
Hello Presdir by: Sintapuji
__ADS_1