
Aku berpikir, apa iya genderuwo bisa berubah wujud?. Saat itu juga hanya hanya bisa mengira-ngira apa benar ucapan yang di lontarkan mereka semua.
"Tante Rasni yang mana sih orangnya?" ujarku mencoba melongok ke luar rumah ini, namu tetap tak menjangkau ke Tante Rasni duduk.
Ibu menoleh ke arahku.
"Mau tahu, Dek?" tanya ibu sembari beranjak dari tempatnya duduk.
Aku pun menganggukkan kepala, lalu ibu membantuku mendorong ke arah pintu yang menuju belakang rumah ini. Terlihat seorang wanita duduk di bawah pohon, tetapi dia tak sendiri. Aku melihat ada orang lain di sana, tidur dengan kepala di pangkuannya.
"Sama siapa, Bu?" tanyaku dengan lirih.
"Kok sama siapa? Kan Tante Rasni sendirian," ujar ibu.
Aku menoleh ke ibu, lalu menggelengkan kepalaku. Saat itu juga ibu kembali mendorongku masuk ke dalam dapur lagi. Dan secara bersamaan datang sepasang suami istri paruh baya menghampiri.
"Wulan, ke mana Tantemu?" ucap wanita paruh baya itu.
"Itu, Nek. Tante Rasni di belakang," jawab Mbak Wulan.
Lalu mereka sepasang suami istri itu pun menghampiri Tante Rasni yang sedang duduk di belakang rumah.
"Ibunya, si Rasni?" tanya ibu.
"Iya, itu orang tua Tante Rasni," jawab Mbak Wulan.
Setelah mereka menghampiri, malah terdengar ribut-ribut di belakang rumah hingga menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di sini. Semua yang disembunyikan Kak Wulan saat ini diketahui banyak orang karena sikap Tante Rasni saat ini.
Orang-orang pada berhamburan menghampiri mereka yang ada di belakang rumah, sedangkan aku, ibu dan nenek masih berada di dapur.
"Pulang aja ya, Bu?" ucap ibu ke nenek.
Nenek menggelengkan kepala.
"Kita di sini saja, nggak perlu pulang dan nggak perlu menghampiri mereka," jawab Nek Rahma.
Suara teriakan mungkin dari Tante Rasni, Mbak Wulan pun berlari masuk ke dalam rumah mengambil sebotol air putih.
"Kenap Wulan?" tanya ibu.
"Itu, Tante Rasni kerasukan lagi," jawabnya, lalu berlalu pergi.
__ADS_1
"Lihat yuk, Bu," ujarku.
Ibu dan nenek tanpa menjawab menuruti kemauanku, mereka membawaku menuju halaman belakang. Terlihat orang berkerumun di dekat pohon asem yang terlihat rimbun itu.
Terlihat ada sosok hitam besar, bertaring dan bermata merah. Saat aku datang, mata makhluk yang merah itu menatapku dengan tajam.
"Kamu pergi!" terdengar suara wanita berteriak bersamaan dengan makhluk itu berbicara.
Kerumunan orang itu tersibak dengan wanita yang mungkin adalah Tante Rasni. Beliau berjalan di tengah-tengah mereka, menghampiri ke arahku. Beliau manatapku dengan mata yang berwarna merah menyala seperti makluk besar di belakangnya.
"Kamu mau apa? Jangan ganggu orang ini, kasihan," ujarku.
Mata orang yang berada di sana sontak menatap ke arahku dengan penih rasa heran.
"Aku tak mengganggu, aku menyukai wanita ini," ujar Tante Rasni dengan suara menggema.
Malah ibu-ibu yang berada di sini saling berbisik sembari memicingkan matanya.
"Jangan, kamu pergi," ujarku tetap dengan suara lembut.
Saat itu juga, aku melihat makhluk besar itu meronta seakan-akan kesakitan. Lalu aku menoleh kebelakang ternyata ada pak kyai dan salah satu orang lagi bersamanya. Mungkin mendengar kejadian ini salah satu dari mereka bergegas memanggil kyai itu.
Mulut kyai komat-kamit mungkin mencoba mengusir makhluk itu. Tiba-tiba badan Tante Rasni tersengkur ke tanah, beberapa dari mereka mencoba membantu untuk mengangkatnya ke dalam rumah.
"Ambilkan minyak angin, wulan. Biar cepat sadar," ujar Bu Kokom.
Mbak Wulan pun bergegas menuju kamar yang ada di sini, saat itu juga ada sepasang suami istri yang usianya tak jauh dari ibu.
"Loh, Rasni. Kenapa ini?" tanya perempuan itu sembari mendekat ke arah Tante Rasni.
"Di ganggu makhluk tak kasat mata, Kak Yola," jawab ibu.
Perempuan yang di sebut Yola itu pun menatap ke arah ibu.
"Eh, Al. Kok bisa? Wulan mana?" tanya Tante Yola terlihat panik.
Mbak Wulan pun datang sembari membawa minyak angin di tangannya. Kemudian minyak itu dihirupkan ke hidung Tante Rasni dan kemudian bangun.
Tante Rasni menoleh kebingungan dengan kerumunan orang-orang yang berada di sini.
"Kenapa?" tanya Tante Rasni dengan mata yang sayu.
__ADS_1
Kami semua enggan menjawab, termasuk Mbak Wulan. Saat itu juga bertepatan dengan pak kyai yang membantu kami masuk ke dalam rumah.
"Gimana, Pak?" tanya Mbak Wulan.
Pak kyai mengambil napas yang dalam.
"Sata bantu ruqyah, kalau bisa Mbak Rasni tidak tinggal di sini. Sebab melihat keadaan Mbak Rasni seperti ini, bisa buat mengundang makhluk tak kasat mata yang lainnya," jelas pak kyai.
Ibunya Mbak Wulan tambak kebingungan dengan apa yang terjadi. Ibu Tante Rasni hanya memeluk beliau, sembari mengajak bicara. Saat ini tante tak tampakkan wajahnya kala bersama Mbak Wulan katakan, beliau hanya terlihat sayu karena sedih.
Jika bersama Mbak Wulan katanya penuh dengan tatapan yang kosong dan amarah. Kami pun melanjutkan aktivitas masak-memasak lagi, sedangkan yang mengaji juga melanjutkannya.
Tante Rasni di ruqyah hanya didampingi kedua orang tuanya, beserta Mbak Wulan saja.
"Benerkan kata saya, si Rasni di gauli genderuwo. Kalian sih nggak percaya," ujar Bu Kokom dengan mulut pedasnya.
Aku melihat nenek menggelengkan kepala.
"Ya sudahlah Kom, mau gimana namanya orang lagi berduka jadi di manfaatkan sama makhluk tak kasat mata itu," ujar nenek.
"Iya, jangan di bahas. Nggak ada orang yang mau di posisi Mbak Rasni," sahut ibu.
Aku melihat Bu Kokom membenarkan cara duduknya, dengan sembari mulut komat-kamit ala-ala ibu nyinyir pada umumnya. Kami membantu keluarga Mbak Wulan hingga semua masakan selesai di masak dan di tata di tempatnya. Kami memutuskan untuk pulang terlebih dahulu, sebab jam sudah menunjukan pukyl 15.00 WiB.
"Wulan, saya pulang dulu, ya. Semoga lancar acaranya," ujar nenek.
Mbak Wulan yang sedang duduk mengobrol dengan ibunya pun nerdiri menghampiri kami.
"Makasih lo, Bu Rahma, Alifia dan anakny. Sudah bersedia membantu," ujar ibunya Mbak Wulan.
"Sama-sama, Mbak Yola. Semoga lancar," sahut ibu.
Kemudia setelah itu, kami berjalan menuju rumah nenek.
"Bu Kokom memang begitu ya, Nek?" tanyaku yang heran melihat tingkah dan ucapan Bu Kokom yang nyinyirnya minta ampun.
Ibu dan nenek tak lantas menjawabnya, hanya tertawa terbahak-bahak.
"Ya gitulah, Key. Namanya ibu-ibu di mana saja, ini kan rumahnya di pedesaanya jadi masih ramai orang berlalu dan saling bertegur sapa," ujar nenek.
"Iya beda sama rumahku, bahkan kami tetangga aja jarang yang kenal," ujarku.
__ADS_1
Saat hendak masuk ke pintu gerbang, mataku terfokus dari arah depanku.
Bersambung ....